Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 97-103
E-ISSN: 3047-2474
Naskah dikirim: 21/03/2026 Selesai revisi: 18/05/2026 Disetujui: 25/07/2026 Diterbitkan: 1/08/2026
97
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA International License.
Penerimaan Guru Sekolah Dasar Terhadap Aplikasi Schoolshare:
Analisis UTAUT
Teguh Trianung Djoko Susanto¹, Siti Zulaikha², Shinta Doriza
3
, Evitha Soraya
4
,
Easyah Theoloni
5
, Alfiya Farashati
6
1,2,3,4,5,6
Universitas Negeri Jakarta, Indonesia
e-mail:
1
teguhtrianungdjokos@unj.ac.id,
2
siti_zulaikha@unj.ac.id,
3
shintadoriza@unj.ac.id,
4
evitahsoraya@unj.ac.id,
5
theoline@mhs.unj.ac.id,
6
alfiya@mhs.ac.id
Abstrak
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini memperkenalkan SchoolShare,
aplikasi berbasis web untuk berbagi pengetahuan (knowledge sharing) di kalangan
guru sekolah dasar di wilayah/desa binaan, dan mengevaluasi penerimaan awal
teknologi tersebut menggunakan model Unified Theory of Acceptance and Use of
Technology (UTAUT) yang diperluas dengan konstruk Attitude (ATT) dan
Willingness to Make Payment (WMP). Pelatihan perdana dilaksanakan di SDN
Rawamangun 05, Jakarta Timur, dan kuesioner UTAUT (23 butir, 7 konstruk)
disebarkan kepada 107 guru pascapelatihan. Pada tahap pelaporan ini, data lengkap
dan siap analisis baru tersedia untuk tiga konstruk, yaitu Performance Expectancy
(PE, 4 butir), Behavioral Intention (BI, 3 butir), dan Willingness to
Maintain/Purchase (WMP, 2 butir), sehingga hasil yang disajikan bersifat deskriptif.
Seluruh indikator memiliki median 4 dari skala 1-5. Konstruk BI memperoleh mean
tertinggi (4,022; SD=0,487), diikuti WMP (4,009; SD=0,587), dan PE (3,937; SD=0,424).
Pola BI melebihi PE mengindikasikan niat penggunaan yang relatif kuat meski
persepsi manfaat performa belum sepenuhnya terkonfirmasi, pola yang lazim
ditemukan pada tahap awal implementasi teknologi (piloting). Pengujian model
struktural (PLS-SEM) atas 12 hipotesis (H1-H12) belum dapat dilakukan pada tahap
ini karena data pada konstruk lain belum memenuhi syarat analisis, dan menjadi
agenda utama tahap pengabdian selanjutnya.
Kata Kunci: Knowledge Sharing, Penerimaan Teknologi, UTAUT, SchoolShare,
Pengabdian Masyarakat
Abstract
This community service (PkM) activity introduced SchoolShare, a web-based knowledge-
sharing application for elementary school teachers in partner villages/regions, and evaluated
its initial technology acceptance using an extended Unified Theory of Acceptance and Use of
Technology (UTAUT) model with additional Attitude (ATT) and Willingness to Make
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Mounth 2026, page: 97-103
E-ISSN: 3047-2474 (online) 98
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Payment (WMP) constructs. The first training was held at SDN Rawamangun 05, East
Jakarta, and a 23-item, 7-construct UTAUT questionnaire was distributed to 107 teachers
after training. At this reporting stage, complete and analyzable data were available for three
constructs only: Performance Expectancy (PE, 4 items), Behavioral Intention (BI, 3 items),
and Willingness to Maintain/Purchase (WMP, 2 items); results reported here are therefore
descriptive. All indicators had a median of 4 on a 1-5 scale. BI obtained the highest construct
mean (4.022; SD=0.487), followed by WMP (4.009; SD=0.587) and PE (3.937; SD=0.424).
The pattern of BI exceeding PE suggests relatively strong usage intention despite
performance-benefit perceptions not yet being fully confirmed, a pattern common at the early
piloting stage of technology implementation. Structural model testing (PLS-SEM) of 12
hypotheses (H1-H12) could not yet be conducted because data for the remaining constructs
did not meet analysis requirements, and remains the main agenda for the next stage of the
program.
Keywords: Knowledge Sharing, Technology Acceptance, UTAUT, SchoolShare, Community
Service
Pendahuluan
Guru sekolah dasar umumnya mengembangkan banyak praktik baik
pembelajaran melalui pengalaman mengajar sehari-hari. Namun, pengetahuan
tersebut umumnya tersimpan sebagai pengetahuan individual (tacit knowledge) dan
jarang didokumentasikan atau dibagikan secara sistematis kepada rekan sejawat
maupun sekolah lain, termasuk pada sekolah-sekolah di wilayah/desa binaan
Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Keterbatasan waktu, belum terbiasanya guru
memanfaatkan platform digital untuk berbagi pengalaman, serta rasa sungkan
membagikan praktik mengajar kepada rekan sejawat turut memperlambat
terbentuknya budaya berbagi pengetahuan (knowledge sharing) di lingkungan
sekolah. Berbagai platform digital telah dikembangkan untuk memfasilitasi
knowledge sharing di lingkungan pendidikan, namun ketersediaan teknologi semata
tidak menjamin keterlibatan guru dalam berbagi pengetahuan; faktor psikologis,
sosial, dan penerimaan individual terhadap teknologi turut menentukan
keberhasilan adopsi (Hew & Hara, 2007b, 2007a).
Di sisi lain, penelitian mengenai penerimaan teknologi pendidikan di
Indonesia, misalnya pada platform Merdeka Mengajar, menunjukkan bahwa
performance expectancy, effort expectancy, dan pengaruh sosial berperan penting
dalam membentuk niat penggunaan guru (Aminah et al., 2024). Sejauh ini, kajian
penerimaan teknologi pada aplikasi knowledge sharing yang dikembangkan khusus
melalui program pengabdian kepada masyarakat, dengan sasaran guru sekolah
dasar di wilayah/desa binaan, masih terbatas. Sebagian besar studi UTAUT pada
guru berfokus pada platform pembelajaran (learning management system, aplikasi
mengajar), bukan pada platform berbagi pengetahuan antarguru itu sendiri,
sehingga terdapat celah (research gap) mengenai bagaimana guru menerima aplikasi
yang secara khusus dirancang untuk mendokumentasikan dan mendistribusikan
praktik baik pembelajaran.
Berdasarkan celah tersebut, tim pengabdian mengembangkan dan
memperkenalkan SchoolShare, aplikasi berbasis web yang berfungsi sebagai
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Mounth 2026, page: 97-103
E-ISSN: 3047-2474 (online) 99
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
repositori digital untuk berbagi pengetahuan dan praktik baik pembelajaran
antarguru, kepada guru-guru di SDN Rawamangun 05 dan sekolah wilayah/desa
binaan lainnya. Artikel ini bertujuan (1) mendeskripsikan pelaksanaan pelatihan dan
pendampingan penggunaan SchoolShare, dan (2) mendeskripsikan profil
penerimaan teknologi awal para guru terhadap SchoolShare pada tiga konstruk
UTAUT yang datanya telah lengkap dianalisis, yaitu Performance Expectancy,
Behavioral Intention, dan Willingness to Maintain/Purchase, sebagai dasar
perbaikan strategi pendampingan pada tahap pengabdian selanjutnya.
Metode
Kegiatan ini menggunakan pendekatan pengabdian partisipatif (participatory
action) yang dikombinasikan dengan evaluasi kuantitatif penerimaan teknologi.
Pelatihan perdana dilaksanakan di SDN Rawamangun 05, Jalan Rawamangun,
Jakarta Timur, pada Senin, 20 Juli 2026, meliputi koordinasi dengan Kepala Sekolah,
sosialisasi pentingnya budaya berbagi pengetahuan, pemaparan manfaat knowledge
sharing, praktik langsung penggunaan aplikasi SchoolShare yang dipandu tim dan
mahasiswa, serta sesi diskusi dan identifikasi tantangan berbagi pengetahuan
bersama peserta.
Evaluasi penerimaan teknologi dirancang menggunakan model Unified
Theory of Acceptance and Use of Technology (Venkatesh et al., 2003a, 2012) yang
diperluas dengan konstruk Attitude (ATT) dan Willingness to Make
Payment/Maintain (WMP), menghasilkan instrumen kuesioner tertutup skala Likert
1-5 (1 = sangat tidak setuju, 5 = sangat setuju) yang terdiri atas 23 butir pernyataan
pada 7 konstruk. Kuesioner disebarkan secara daring melalui Google Form kepada
peserta segera setelah sesi pelatihan berakhir. Analisis inferensial yang direncanakan
pada rancangan awal adalah Partial Least Squares Structural Equation Modeling
(PLS-SEM) untuk menguji 12 hipotesis jalur (H1-H12) antarkonstruk model UTAUT
yang diperluas, mengikuti prosedur evaluasi outer model dan inner model (Hair &
Alamer, 2022).
Dari 107 respons yang terkumpul, pemeriksaan kelengkapan dan konsistensi
data menemukan bahwa data pada sebagian konstruk (di luar PE, BI, dan WMP)
belum memenuhi syarat minimum untuk diproses dalam PLS-SEM. Oleh karena itu,
laporan kemajuan pada tahap ini membatasi analisis pada tiga konstruk dengan data
lengkap dan valid untuk diproses, yaitu Performance Expectancy (PE1-PE4),
Behavioral Intention (BI1-BI3), dan Willingness to Maintain/Purchase (WMP1-
WMP2), dengan N=107 untuk setiap indikator. Data dianalisis menggunakan
statistik deskriptif (mean, simpangan baku, median, nilai minimum-maksimum, dan
distribusi frekuensi jawaban) pada level indikator maupun level konstruk (rata-rata
skor butir penyusun konstruk), dihitung menggunakan Python. Prosedur ini dapat
direplikasi dengan mengulangi pengumpulan data melalui instrumen yang sama
pada populasi guru sekolah desa binaan lain, dilanjutkan perhitungan statistik
deskriptif yang identik sebelum melanjutkan ke tahap pengujian model struktural.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Mounth 2026, page: 97-103
E-ISSN: 3047-2474 (online) 100
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Hasil dan Pembahasan
Sebanyak 107 guru sekolah dasar berpartisipasi dalam pelatihan dan mengisi
kuesioner evaluasi penerimaan aplikasi SchoolShare. Statistik deskriptif pada level
indikator disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Statistik Deskriptif per Indikator (N=107)
Konstruk
Indikator
Mean
SD
Median
Min
Max
Performance
Expectancy
PE1
3,972
0,841
4
3
5
Performance
Expectancy
PE2
3,907
0,842
4
3
5
Performance
Expectancy
PE3
3,897
0,788
4
3
5
Performance
Expectancy
PE4
3,972
0,783
4
3
5
Behavioral Intention
BI1
4,000
0,801
4
3
5
Behavioral Intention
BI2
3,981
0,835
4
3
5
Behavioral Intention
BI3
4,084
0,848
4
3
5
Willingness to
Maintain/Purchase
WMP1
4,009
0,874
4
3
5
Willingness to
Maintain/Purchase
WMP2
4,009
0,818
4
3
5
Tabel 2. Statistik Deskriptif per Konstruk (N=107)
Jml.
Item
Mean
SD
Median
Min
Max
4
3,937
0,424
4
3,00
5,00
3
4,022
0,487
4
3,00
5,00
2
4,009
0,587
4
3,00
5,00
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Mounth 2026, page: 97-103
E-ISSN: 3047-2474 (online) 101
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Tabel 3. Distribusi Jawaban Responden
Indikator
Skor 1
Skor 2
Skor 3
Skor 4
Skor 5
PE1
0 (0,0%)
0 (0,0%)
39 (36,4%)
32 (29,9%)
36 (33,6%)
PE2
0 (0,0%)
0 (0,0%)
43 (40,2%)
31 (29,0%)
33 (30,8%)
PE3
0 (0,0%)
0 (0,0%)
39 (36,4%)
40 (37,4%)
28 (26,2%)
PE4
0 (0,0%)
0 (0,0%)
34 (31,8%)
42 (39,3%)
31 (29,0%)
BI1
0 (0,0%)
0 (0,0%)
34 (31,8%)
39 (36,4%)
34 (31,8%)
BI2
0 (0,0%)
0 (0,0%)
38 (35,5%)
33 (30,8%)
36 (33,6%)
BI3
0 (0,0%)
0 (0,0%)
34 (31,8%)
30 (28,0%)
43 (40,2%)
WMP1
0 (0,0%)
0 (0,0%)
40 (37,4%)
26 (24,3%)
41 (38,3%)
WMP2
0 (0,0%)
0 (0,0%)
35 (32,7%)
36 (33,6%)
36 (33,6%)
Seluruh indikator memiliki rentang skor 3-5 (tidak ada responden yang
memilih skor 1 atau 2) dan median 4. Pada level konstruk, urutan mean dari tertinggi
ke terendah adalah Behavioral Intention (4,022; SD=0,487), Willingness to
Maintain/Purchase (4,009; SD=0,587), dan Performance Expectancy (3,937; SD=0,424).
Pada konstruk PE, indikator PE1 dan PE4 memiliki mean tertinggi (3,972),
sedangkan PE3 memiliki mean terendah (3,897). Pada konstruk BI, indikator BI3
memiliki mean tertinggi (4,084) dengan proporsi skor 5 sebesar 40,2%. Pada konstruk
WMP, indikator WMP1 dan WMP2 memiliki mean yang identik (4,009)
Temuan deskriptif menunjukkan bahwa konsentrasi jawaban responden
berada pada kategori tengah-atas hingga tinggi (skor 3-5, median 4) untuk seluruh
indikator PE, BI, dan WMP, yang mengindikasikan penerimaan awal yang
cenderung positif terhadap SchoolShare segera setelah pelatihan. Pola yang menarik
adalah mean konstruk Behavioral Intention (4,022) justru lebih tinggi daripada
Performance Expectancy (3,937), padahal dalam model UTAUT klasik, performance
expectancy umumnya menjadi salah satu prediktor utama dan biasanya berkorelasi
searah dengan behavioral intention (Venkatesh, 2021; Venkatesh et al., 2003b, 2012;
Venkatesh & Davis, 1996). Pola BI melampaui PE pada tahap ini dapat dipahami
sebagai efek antusiasme awal (novelty effect) yang lazim terjadi pada piloting suatu
teknologi baru, artinya niat mencoba dan melanjutkan penggunaan terbentuk lebih
cepat daripada keyakinan penuh atas manfaat performa, yang biasanya baru
terbentuk setelah penggunaan berulang dan pengalaman nyata memperoleh manfaat
dari aplikasi.
Temuan ini sejalan sebagian dengan studi penerimaan platform Merdeka
Mengajar oleh guru di Indonesia, yang menemukan bahwa performance expectancy,
effort expectancy, pengaruh sosial, motivasi hedonis, dan price value secara signifikan
memengaruhi behavioral intention melalui pengujian model struktural (Aminah et al.,
2024). Berbeda dengan studi tersebut, penelitian ini belum dapat menguji hubungan
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Mounth 2026, page: 97-103
E-ISSN: 3047-2474 (online) 102
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
antarkonstruk secara statistik karena keterbatasan data pada konstruk selain PE, BI,
dan WMP, sehingga pola BI yang melebihi PE pada level deskriptif ini baru bersifat
indikatif dan belum dapat dimaknai sebagai bukti bahwa PE bukan prediktor
penting bagi BI pada konteks SchoolShare. Dari perspektif berbagi pengetahuan di
kalangan guru, tingginya WMP (kesediaan mempertahankan/mengeluarkan biaya
untuk penggunaan) turut mengindikasikan adanya motivasi intrinsik para guru,
sejalan dengan temuan Hew & Hara (2007a) bahwa motif kolektivisme dan
prinsipisme menjadi pendorong utama guru berbagi pengetahuan secara daring,
meski studi tersebut juga mengingatkan bahwa keterbatasan waktu dan prioritas
kerja yang bersaing tetap menjadi penghambat utama keberlanjutan partisipasi.
Kajian ini memiliki sejumlah keterbatasan. Pertama, dan yang paling
mendasar, pengujian model struktural (PLS-SEM) atas 12 hipotesis (H1-H12) yang
dirancang pada tahap awal belum dapat dilakukan karena data pada konstruk selain
PE, BI, dan WMP belum memenuhi syarat kelengkapan dan konsistensi untuk
diproses, sehingga hasil pada artikel ini terbatas pada gambaran deskriptif dan
belum dapat mengonfirmasi hubungan sebab-akibat antarkonstruk sebagaimana
dihipotesiskan dalam model UTAUT yang diperluas. Kedua, pengukuran dilakukan
pada satu titik waktu segera setelah pelatihan (cross-sectional), sehingga skor yang
diperoleh berisiko dipengaruhi oleh efek antusiasme sesaat (novelty effect) dan
kecenderungan menja wab secara sosial diinginkan (social desirability), bukan
semata mencerminkan niat penggunaan jangka panjang. Ketiga, pengambilan
sampel bersifat non-probabilitas (peserta pelatihan), sehingga generalisasi ke
populasi guru yang lebih luas perlu dilakukan secara hati-hati. Sebagai tindak lanjut,
tim pengabdian melakukan perbaikan instrumen dan prosedur pengumpulan data,
termasuk verifikasi keterhubungan setiap respons dengan identitas responden, agar
data seluruh 7 konstruk dapat diproses secara lengkap. Selain itu, akan dilakukan
pengulangan pengukuran secara longitudinal untuk menguji apakah pola BI tinggi
tetap bertahan setelah efek antusiasme awal mereda.
Simpulan dan Rekomendasi
Kegiatan pengabdian ini berhasil memperkenalkan dan mendampingi
penggunaan aplikasi SchoolShare kepada guru-guru sekolah dasar di wilayah/desa
binaan, ditandai dengan pelatihan perdana yang terlaksana di SDN Rawamangun
05. Hasil deskriptif atas konstruk-konstruk UTAUT yang datanya lengkap
menunjukkan penerimaan awal yang positif terhadap aplikasi, dengan niat
keberlanjutan penggunaan (behavioral intention) tercatat lebih tinggi dibandingkan
persepsi manfaat performa (performance expectancy), pola yang lazim ditemukan
pada tahap awal implementasi (piloting) suatu teknologi baru. Pengujian model
struktural atas seluruh hipotesis penerimaan teknologi yang dirancang pada tahap
awal belum dapat dilakukan karena keterbatasan kelengkapan data pada sebagian
konstruk. Sebagai tindak lanjut, tim aan perbaikan instrumen dan prosedur
pengumpulan data agar seluruh konstruk dapat diproses secara lengkap,
pengulangan pengukuran secara longitudinal untuk menguji konsistensi niat
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Mounth 2026, page: 97-103
E-ISSN: 3047-2474 (online) 103
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
penggunaan setelah efek antusiasme awal mereda, serta pelaksanaan pengujian
model struktural secara utuh pada tahap pengabdian berikutnya yang disertai
perluasan pelatihan ke sekolah lain di wilayah binaan.
Daftar Pustaka
Aminah, S., Aditya, A., & Kanthi, Y. A. (2024). The Role of UTAUT2 in
Understanding Technology Adoption: A Study of the Merdeka Mengajar
Platform Among Indonesian Teachers. Teknika, 13(3), 460470.
https://doi.org/10.34148/TEKNIKA.V13I3.1082
Hair, J., & Alamer, A. (2022). Partial Least Squares Structural Equation Modeling
(PLS-SEM) in second language and education research: Guidelines using an
applied example. Research Methods in Applied Linguistics, 1(3), 100027.
https://doi.org/10.1016/J.RMAL.2022.100027
Hew, K. F., & Hara, N. (2007a). Empirical study of motivators and barriers of teacher
online knowledge sharing. Educational Technology Research and Development
2007 55:6, 55(6), 573595. https://doi.org/10.1007/S11423-007-9049-2
Hew, K. F., & Hara, N. (2007b). Knowledge sharing in online environments: A
qualitative case study. Journal of the American Society for Information Science
and Technology, 58(14), 23102324.
https://doi.org/10.1002/ASI.20698;REQUESTEDJOURNAL:JOURNAL:153228
90;PAGE:STRING:ARTICLE/CHAPTER
Venkatesh, V. (2021). Adoption and use of AI tools: a research agenda grounded in
UTAUT. Annals of Operations Research 2021 308:1, 308(1), 641652.
https://doi.org/10.1007/S10479-020-03918-9
Venkatesh, V., & Davis, F. D. (1996). A model of the antecedents of perceived ease of
use: Development and test. Decision Sciences, 27(3), 451481.
https://doi.org/10.1111/J.1540-
5915.1996.TB00860.X;WGROUP:STRING:PUBLICATION
Venkatesh, V., Morris, M. G., Davis, G. B., & Davis, F. D. (2003a). User acceptance of
information technology: Toward a unified view. Management Information
Systems Quarterly, 27(3), 425478. https://doi.org/10.2307/30036540
Venkatesh, V., Morris, M. G., Davis, G. B., & Davis, F. D. (2003b). User acceptance of
information technology: Toward a unified view. Management Information
Systems Quarterly, 27(3), 425478. https://doi.org/10.2307/30036540
Venkatesh, V., Thong, J. Y. L., & Xu, X. (2012). Consumer acceptance and use of
information technology: Extending the unified theory of acceptance and use of
technology. Management Information Systems Quarterly, 36(1), 157178.
https://doi.org/10.2307/41410412