Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Mounth 2026, page: 97-103
E-ISSN: 3047-2474 (online) 98
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Payment (WMP) constructs. The first training was held at SDN Rawamangun 05, East
Jakarta, and a 23-item, 7-construct UTAUT questionnaire was distributed to 107 teachers
after training. At this reporting stage, complete and analyzable data were available for three
constructs only: Performance Expectancy (PE, 4 items), Behavioral Intention (BI, 3 items),
and Willingness to Maintain/Purchase (WMP, 2 items); results reported here are therefore
descriptive. All indicators had a median of 4 on a 1-5 scale. BI obtained the highest construct
mean (4.022; SD=0.487), followed by WMP (4.009; SD=0.587) and PE (3.937; SD=0.424).
The pattern of BI exceeding PE suggests relatively strong usage intention despite
performance-benefit perceptions not yet being fully confirmed, a pattern common at the early
piloting stage of technology implementation. Structural model testing (PLS-SEM) of 12
hypotheses (H1-H12) could not yet be conducted because data for the remaining constructs
did not meet analysis requirements, and remains the main agenda for the next stage of the
program.
Keywords: Knowledge Sharing, Technology Acceptance, UTAUT, SchoolShare, Community
Service
Pendahuluan
Guru sekolah dasar umumnya mengembangkan banyak praktik baik
pembelajaran melalui pengalaman mengajar sehari-hari. Namun, pengetahuan
tersebut umumnya tersimpan sebagai pengetahuan individual (tacit knowledge) dan
jarang didokumentasikan atau dibagikan secara sistematis kepada rekan sejawat
maupun sekolah lain, termasuk pada sekolah-sekolah di wilayah/desa binaan
Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Keterbatasan waktu, belum terbiasanya guru
memanfaatkan platform digital untuk berbagi pengalaman, serta rasa sungkan
membagikan praktik mengajar kepada rekan sejawat turut memperlambat
terbentuknya budaya berbagi pengetahuan (knowledge sharing) di lingkungan
sekolah. Berbagai platform digital telah dikembangkan untuk memfasilitasi
knowledge sharing di lingkungan pendidikan, namun ketersediaan teknologi semata
tidak menjamin keterlibatan guru dalam berbagi pengetahuan; faktor psikologis,
sosial, dan penerimaan individual terhadap teknologi turut menentukan
keberhasilan adopsi (Hew & Hara, 2007b, 2007a).
Di sisi lain, penelitian mengenai penerimaan teknologi pendidikan di
Indonesia, misalnya pada platform Merdeka Mengajar, menunjukkan bahwa
performance expectancy, effort expectancy, dan pengaruh sosial berperan penting
dalam membentuk niat penggunaan guru (Aminah et al., 2024). Sejauh ini, kajian
penerimaan teknologi pada aplikasi knowledge sharing yang dikembangkan khusus
melalui program pengabdian kepada masyarakat, dengan sasaran guru sekolah
dasar di wilayah/desa binaan, masih terbatas. Sebagian besar studi UTAUT pada
guru berfokus pada platform pembelajaran (learning management system, aplikasi
mengajar), bukan pada platform berbagi pengetahuan antarguru itu sendiri,
sehingga terdapat celah (research gap) mengenai bagaimana guru menerima aplikasi
yang secara khusus dirancang untuk mendokumentasikan dan mendistribusikan
praktik baik pembelajaran.
Berdasarkan celah tersebut, tim pengabdian mengembangkan dan
memperkenalkan SchoolShare, aplikasi berbasis web yang berfungsi sebagai