Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 142-154
E-ISSN: 3047-2474
Naskah dikirim: 29/06/2026 Selesai revisi: 27/07/2026 Disetujui: 29/07/2026 Diterbitkan: 1/08/2026
142
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA International License.
Penguatan Kapasitas Petani melalui Automatic Weather Station dan
Pengenalan Hama Penyakit Padi
Selvi Helina
1
, Ivayani
2
, Puji Lestari
3
, Luna Lukvitasari
4
, Ni Kadek Emi Shinta
Dewi
5
1,2,3,4,5
Jurusan Proteksi Tanaman, Universitas Lampung, Jalan Prof. Dr. Sumantri
Brojonegoro No. 1, Gedong Meneng, Kecamatan Rajabasa, Kota Bandar Lampung,
Provinsi Lampung
e-mail: *
1
selvi.helina@fp.unila.ac.id
Abstrak
Pemanfaatan teknologi smart farming dan peningkatan kapasitas petani diperlukan
untuk mendukung pengelolaan budidaya padi yang adaptif terhadap kondisi
lingkungan dan risiko organisme pengganggu tanaman. Kegiatan pengabdian
kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas Kelompok Tani Makmur
Bersama Geh (Mabes Geh), Desa Rejo Basuki, Kecamatan Seputih Raman, Kabupaten
Lampung Tengah, melalui penerapan smart farming berbasis Automatic Weather
Station (AWS) serta peningkatan pengetahuan mengenai hama dan penyakit
tanaman padi. Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif melalui tiga
kegiatan utama, yaitu sosialisasi dan identifikasi permasalahan kelompok, sosialisasi
dan pemasangan AWS pada lahan pertanaman padi, serta penyuluhan mengenai
hama dan penyakit tanaman padi beserta pengendaliannya. Peningkatan
pengetahuan dievaluasi terhadap 22 peserta menggunakan pre-test dan post-test. Data
dianalisis secara deskriptif dan menggunakan normalized gain (N-gain). Hasil
menunjukkan bahwa AWS telah terpasang dan dapat diakses secara daring untuk
memantau kondisi lingkungan secara real-time, meliputi peluang hujan, curah hujan,
suhu, kelembapan, tutupan awan, dan kecepatan angin. Penyuluhan meningkatkan
rata-rata pengetahuan peserta dari 51,36 pada pre-test menjadi 78,18 pada post-test,
dengan peningkatan sebesar 52,22%. Nilai N-gain sebesar 0,56 menunjukkan
peningkatan pengetahuan dalam kategori sedang. Kegiatan ini menunjukkan bahwa
penerapan AWS yang disertai penguatan kapasitas petani dapat mendukung
pemanfaatan informasi berbasis data serta meningkatkan pengetahuan petani dalam
mengenali dan mengelola hama dan penyakit tanaman padi.
Kata Kunci: Automatic Weather Station, smart farming, hama dan penyakit padi,
peningkatan pengetahuan, kelompok tani
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 142-154
E-ISSN: 3047-2474 (online) 143
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Abstract
The utilization of smart farming technology and strengthening farmers’ capacity are needed
to support rice cultivation management that is adaptive to environmental conditions and the
risks posed by plant pests and diseases. This community service activity aimed to strengthen
the capacity of the Makmur Bersama Geh Farmer Group (Mabes Geh), Rejo Basuki Village,
Seputih Raman District, Central Lampung Regency, through the implementation of smart
farming based on an Automatic Weather Station (AWS) and enhancement of farmers’
knowledge of rice pests and diseases. The activity was conducted using a participatory
approach through three main activities: program socialization and identification of group
needs, socialization and installation of an AWS in the rice field, and extension activities on
rice pests and diseases and their management. Knowledge improvement was evaluated among
22 participants using pre-test and post-test assessments. The data were analyzed descriptively
and using normalized gain (N-gain). The results showed that the AWS had been installed and
could be accessed online to monitor environmental conditions in real time, including rainfall
probability, rainfall, temperature, humidity, cloud cover, and wind speed. The extension
activities increased the participants’ mean knowledge score from 51.36 in the pre-test to 78.18
in the post-test, representing a 52.22% increase. The N-gain value of 0.56 indicated a
moderate level of knowledge improvement. These findings indicate that the implementation of
AWS accompanied by farmer capacity building can support the use of data-driven
information and improve farmers’ knowledge in identifying and managing rice pests and
diseases.
Keywords: Automatic Weather Station, smart farming, rice pests and diseases, knowledge
improvement, farmer group
Pendahuluan
Ketahanan pangan merupakan salah satu pilar utama pembangunan nasional
yang tidak hanya menekankan aspek ketersediaan pangan secara kuantitatif, tetapi
juga kualitas, keamanan, dan keberlanjutan sistem produksi pangan. Dalam lingkup
pedesaan, ketahanan pangan sangat bergantung pada kemampuan masyarakat
dalam mengelola sumber daya pertanian secara mandiri, efisien, dan ramah
lingkungan. Desa sebagai unit produksi pangan primer memiliki peran penting dan
strategis dalam menyediakan bahan pangan pokok yang aman dan sehat bagi
masyarakat, khususnya komoditas padi yang menjadi sumber karbohidrat utama
sebagian besar penduduk Indonesia (Bahari et al., 2024; Humaidi et al., 2020).
Kelompok tani memiliki peran penting sebagai pelaku utama usahatani sekaligus
sebagai wadah pembelajaran, penerapan teknologi, dan penguatan kapasitas petani
dalam mendukung ketahanan pangan di tingkat desa.
Kelompok Tani Makmur Bersama Geh (Mabes Geh) merupakan kelompok tani
yang beranggotakan petani muda dan aktif di Desa Rejo Basuki, Kecamatan Seputih
Raman, Kabupaten Lampung Tengah. Kelompok ini mengelola lahan pertanian,
khususnya padi dan hortikultura, dengan luas sekitar 72 ha dan telah menjadi mitra
dalam program pengabdian masyarakat sebelumnya yang berfokus pada penerapan
pertanian berbasis Internet of Things (IoT) serta pemanfaatan agens hayati sebagai
alternatif pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Hasil pelaksanaan
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 142-154
E-ISSN: 3047-2474 (online) 144
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
program sebelumnya menunjukkan adanya perubahan positif dalam praktik
budidaya ramah lingkungan, pengoperasian alat bantu pertanian modern, serta
penerapan biopestisida berbasis Trichoderma sp. Petani juga mulai mengurangi
ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida kimia serta menunjukkan
keterbukaan terhadap pemanfaatan teknologi digital dalam kegiatan budidaya.
Meskipun demikian, pemanfaatan teknologi pertanian pada tingkat kelompok
masih perlu diperkuat, terutama dalam hal pemanfaatan informasi hasil pemantauan
sebagai dasar pengambilan keputusan budidaya. Teknologi smart farming tidak
hanya berfungsi sebagai perangkat untuk memperoleh data, tetapi juga perlu diikuti
dengan kemampuan petani dalam membaca, memahami, dan memanfaatkan
informasi tersebut sesuai dengan kondisi pertanaman. Basis data pertanian yang
mencakup informasi cuaca, kelembaban tanah, suhu, pola hujan, riwayat penyakit,
dan hasil panen merupakan komponen penting dalam sistem smart farming untuk
mendukung identifikasi risiko dan pengambilan keputusan budidaya yang lebih
presisi, efisien, dan adaptif terhadap variabilitas iklim (Ajith et al., 2025; Pambudi et
al., 2025; Surmaini et al., 2016; WMO, 2024; Lee et al., 2023).
Salah satu teknologi smart farming yang dapat digunakan untuk mendukung
kebutuhan tersebut adalah Automatic Weather Station (AWS) (Saptomo et al., 2026).
AWS merupakan sistem pemantauan cuaca otomatis berbasis IoT yang dapat
menyediakan informasi kondisi lingkungan secara lebih cepat dan terukur (Sugiarto
et al., 2019; Saptomo et al., 2026; Millianda et al., 2025). Dalam bidang pertanian,
informasi yang dihasilkan AWS dapat dimanfaatkan sebagai data pendukung dalam
menentukan berbagai tindakan budidaya, termasuk penentuan waktu tanam,
pemupukan, dan panen, serta membantu mengidentifikasi kondisi lingkungan yang
berpotensi meningkatkan risiko serangan organisme pengganggu tanaman seperti
wereng coklat. Pemanfaatan informasi cuaca secara aktual juga dapat membantu
petani meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan kondisi lingkungan
(Surmaini, et al., 2006; Gitakarma et al., 2025) yang berhubungan dengan
perkembangan hama dan penyakit tanaman.
Selain pemanfaatan teknologi, kemampuan petani dalam mengenali hama dan
penyakit tanaman padi merupakan aspek penting dalam pengelolaan budidaya
(Pitriana et al., 2025). Pengenalan terhadap jenis hama dan penyakit, gejala atau
tanda serangan, serta prinsip pengendaliannya diperlukan agar petani dapat
menentukan tindakan pengelolaan secara tepat (Anwar et al., 2025). Oleh karena itu,
penerapan teknologi pemantauan lingkungan perlu diikuti dengan peningkatan
kapasitas petani dalam melakukan pengamatan dan mengenali organisme
pengganggu tanaman. Kombinasi antara informasi berbasis teknologi dan
kemampuan petani dalam melakukan pengamatan lapangan diharapkan dapat
mendukung pengambilan keputusan pengelolaan tanaman yang lebih tepat dan
responsif.
Berdasarkan kondisi tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini
difokuskan pada penguatan kapasitas Kelompok Tani Makmur Bersama Geh melalui
tiga kegiatan utama, yaitu sosialisasi program dan identifikasi permasalahan
kelompok, sosialisasi serta pemasangan Automatic Weather Station (AWS) pada lahan
pertanaman padi, dan penyuluhan mengenai hama dan penyakit tanaman padi
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 142-154
E-ISSN: 3047-2474 (online) 145
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
beserta pengendaliannya. Pemanfaatan AWS diarahkan untuk memperkenalkan
informasi kondisi cuaca dan potensi risiko organisme pengganggu tanaman yang
dapat dipantau melalui sistem berbasis internet, sedangkan penyuluhan hama dan
penyakit ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan petani. Keberhasilan
peningkatan pengetahuan dievaluasi melalui pre-test dan post-test sehingga
perubahan pemahaman peserta setelah mengikuti kegiatan dapat diukur secara
kuantitatif.
Melalui kegiatan tersebut, diharapkan Kelompok Tani Makmur Bersama Geh
tidak hanya mampu menggunakan teknologi AWS, tetapi juga memahami informasi
yang dihasilkan dan menghubungkannya dengan hasil pengamatan kondisi
pertanaman. Dengan demikian, penerapan smart farming dapat berkembang dari
sekadar penggunaan perangkat menjadi pemanfaatan informasi berbasis data yang
mendukung pengelolaan budidaya padi dan pengendalian organisme pengganggu
tanaman secara lebih tepat dan berkelanjutan.
Metode
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan pada Kelompok Tani
Makmur Bersama Geh (Mabes Geh) dengan pendekatan partisipatif yang melibatkan
petani secara aktif dalam setiap kegiatan. Pelaksanaan kegiatan difokuskan pada
pengenalan dan pemanfaatan teknologi smart farming, khususnya Automatic Weather
Station (AWS), serta peningkatan pengetahuan petani mengenai hama dan penyakit
tanaman padi. Kegiatan juga diawali dengan sosialisasi program dan identifikasi
permasalahan yang dihadapi kelompok tani sebagai dasar dalam menentukan
bentuk kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan mitra. Pengumpulan informasi awal
dilakukan melalui diskusi, wawancara, dan observasi lapangan bersama pengurus
kelompok tani. Kegiatan tersebut digunakan untuk mengidentifikasi kondisi dan
permasalahan yang dihadapi petani dalam kegiatan budidaya padi, khususnya
terkait pemanfaatan teknologi pertanian dan pengelolaan hama dan penyakit
tanaman. Tahapan kegiatan yang telah dilaksanakan meliputi tiga kegiatan utama,
yaitu (1) sosialisasi program dan identifikasi permasalahan kelompok tani; (2)
sosialisasi Automatic Weather Station (AWS) dan pemasangan alat di lapangan; serta
(3) penyuluhan dan pengenalan hama dan penyakit tanaman padi beserta
pengendaliannya (Gambar 1).
Gambar 1. Tahapan kegiatan pengabdian di kelompok tani Makmur Bersama Geh
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 142-154
E-ISSN: 3047-2474 (online) 146
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
1. Sosialisasi Program dan Identifikasi Permasalahan
Kegiatan diawali dengan sosialisasi program kepada pengurus Kelompok
Tani Makmur Bersama Geh (Mabes Geh). Sosialisasi dilakukan untuk
menyampaikan tujuan dan rencana kegiatan pengabdian serta membangun
kesepahaman antara tim pengabdi dan kelompok tani. Pada tahap ini juga dilakukan
diskusi dan identifikasi permasalahan yang dihadapi petani dalam kegiatan
budidaya padi. Informasi yang diperoleh dari diskusi dan observasi lapangan
digunakan sebagai dasar untuk menentukan materi dan bentuk kegiatan yang
diberikan pada tahap berikutnya.
2. Sosialisasi dan Pemasangan Automatic Weather Station (AWS)
Kegiatan selanjutnya berupa sosialisasi Automatic Weather Station (AWS)
sebagai teknologi pendukung smart farming. Sosialisasi diberikan untuk
memperkenalkan fungsi AWS, informasi yang dapat diperoleh dari sistem, serta
manfaat data cuaca dan lingkungan bagi kegiatan budidaya tanaman padi. Setelah
sosialisasi, dilakukan pemasangan AWS pada lahan pertanaman padi kelompok tani.
AWS digunakan untuk memperoleh informasi kondisi cuaca dan lingkungan secara
otomatis yang dapat dipantau melalui sistem berbasis internet.
3. Pengenalan Hama dan Penyakit Tanaman Padi serta Pengendaliannya
Kegiatan berikutnya berupa penyuluhan mengenai hama dan penyakit
penting pada tanaman padi serta teknik pengendaliannya. Materi disampaikan oleh
tim pengabdi melalui pemaparan dan diskusi interaktif dengan petani. Materi
mencakup pengenalan hama penting, penyakit penting pada tanaman padi, serta
teknik pengendaliannya. Setelah penyampaian materi dilakukan diskusi mengenai
permasalahan hama dan penyakit yang dihadapi petani pada pertanaman padi.
Untuk mengevaluasi perubahan pengetahuan peserta, dilakukan pengukuran
menggunakan kuesioner pre-test dan post-test. Pre-test diberikan sebelum
penyampaian materi untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal peserta mengenai
hama dan penyakit tanaman padi serta pengendaliannya. Setelah seluruh materi dan
diskusi selesai, peserta diberikan post-test dengan materi evaluasi yang sama untuk
mengetahui tingkat pemahaman peserta setelah mengikuti kegiatan. Sebanyak 22
peserta mengikuti evaluasi pre-test dan post-test.
Data hasil pre-test dan post-test terlebih dahulu diolah secara deskriptif dengan
menghitung nilai minimum, maksimum, rata-rata, dan perubahan nilai rata-rata
peserta. Persentase peningkatan nilai dihitung berdasarkan perubahan nilai rata-rata
pre-test terhadap nilai rata-rata post-test. Peningkatan pengetahuan selanjutnya
dianalisis menggunakan nilai normalized gain (N-gain) untuk mengetahui tingkat
peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti penyuluhan. Nilai N-gain
dihitung menggunakan persamaan (Bao, 2006):
Hasil N-gain kemudian digunakan untuk menginterpretasikan tingkat
peningkatan pengetahuan peserta. Selain analisis N-gain, perbedaan skor pre-test dan
post-test dianalisis menggunakan paired t-test untuk mengetahui signifikansi
perubahan skor sebelum dan sesudah kegiatan. Sebagai analisis pembanding,
digunakan pula uji Wilcoxon signed-rank untuk mengevaluasi perbedaan skor
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 142-154
E-ISSN: 3047-2474 (online) 147
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
berpasangan secara nonparametrik. Nilai p < 0,05 digunakan sebagai batas
signifikansi statistik.
Hasil dan Pembahasan
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat pada Kelompok Tani Makmur Bersama
Geh (Mabes Geh) telah dilaksanakan melalui tiga kegiatan utama, yaitu sosialisasi
program dan identifikasi permasalahan kelompok, sosialisasi dan pemasangan
Automatic Weather Station (AWS), serta penyuluhan mengenai hama dan penyakit
tanaman padi beserta pengendaliannya. Hasil kegiatan menunjukkan adanya
pemanfaatan teknologi AWS sebagai sumber informasi kondisi cuaca dan potensi
organisme pengganggu tanaman serta peningkatan pengetahuan petani mengenai
hama dan penyakit tanaman padi.
Sosialisasi Program dan Identifikasi Permasalahan Kelompok
Kegiatan diawali dengan sosialisasi program kepada pengurus Kelompok Tani
Makmur Bersama Geh (Mabes Geh). Kegiatan dilakukan melalui diskusi dan
wawancara untuk menggali kondisi, kebutuhan, serta permasalahan yang dihadapi
petani dalam budidaya padi. Identifikasi juga dilakukan melalui observasi lapangan
sehingga permasalahan yang dibahas tidak hanya berdasarkan informasi dari petani,
tetapi juga mempertimbangkan kondisi pertanaman. Kegiatan ini menjadi dasar
dalam menentukan teknologi dan materi yang diberikan pada tahap berikutnya.
Salah satu kebutuhan yang teridentifikasi adalah penguatan pemanfaatan teknologi
pertanian untuk memperoleh informasi kondisi lingkungan dan risiko organisme
pengganggu tanaman. Oleh karena itu, kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan dan
pemasangan AWS sebagai salah satu komponen smart farming yang dapat
menyediakan informasi kondisi cuaca secara otomatis.
Sosialisasi dan Pemasangan Automatic Weather Station (AWS)
Sosialisasi AWS diberikan kepada petani untuk memperkenalkan fungsi,
informasi yang dihasilkan, dan manfaat teknologi tersebut dalam mendukung
budidaya tanaman padi. Kegiatan disampaikan oleh tim teknisi dari Departemen
Geofisika dan Meteorologi FMIPA serta Fakultas Pertanian IPB, yaitu Asep dan Fikri.
Setelah kegiatan sosialisasi, perangkat AWS dipasang pada lahan pertanaman padi
kelompok tani dan sistem monitoring dapat diakses melalui jaringan internet
(Gambar 2). Hasil pemasangan tersebut menunjukkan bahwa kelompok tani telah
memiliki sarana untuk memperoleh informasi lingkungan secara otomatis dan
memantau kondisi pertanian melalui sistem digital (Gambar 3).
Gambar 2. Sosialisai dan pemasangan Automatic Weather Station (AWS) pada lahan pertanaman padi
Kelompok Tani Makmur Bersama Geh
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 142-154
E-ISSN: 3047-2474 (online) 148
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Gambar 3. Tampilan akses Automatic Weather Station (AWS) yang telah terintegrasi
dengan sistem pemantauan berbasis internet secara real-time
Berdasarkan tampilan hasil monitoring AWS, sistem menyediakan beberapa
parameter lingkungan, antara lain peluang hujan, curah hujan, tutupan awan, suhu
udara, kelembapan, dan kecepatan angin. Pada tampilan pemantauan yang
terdokumentasi, peluang hujan berada pada tingkat rendah, yaitu sekitar 67%,
dengan informasi curah hujan yang menunjukkan kondisi tidak terjadi hujan pada
waktu pengamatan. Suhu udara pada grafik berada pada kisaran sekitar 2434 °C,
sedangkan kelembapan udara berfluktuasi sekitar 5095%. Kecepatan angin berada
pada kisaran sekitar 15 m/s dan tutupan awan menunjukkan fluktuasi sekitar 10
65%. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa AWS mampu memberikan informasi
lingkungan secara lebih rinci dan dinamis dibandingkan pengamatan cuaca secara
manual (Gambar 4).
Gambar 4. Hasil pemantauan dan prediksi kondisi cuaca pada lahan Kelompok Tani
Makmur Bersama Geh menggunakan Automatic Weather Station (AWS)
Informasi tersebut penting bagi petani karena kondisi cuaca dan lingkungan
merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kegiatan budidaya serta
perkembangan organisme pengganggu tanaman. Dengan adanya informasi suhu,
kelembapan, peluang hujan, dan parameter cuaca lainnya, petani dapat
menggunakan data tersebut sebagai informasi pendukung dalam menentukan
tindakan budidaya. Namun, data AWS sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-
satunya dasar pengambilan keputusan, melainkan dikombinasikan dengan
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 142-154
E-ISSN: 3047-2474 (online) 149
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
pengamatan langsung terhadap kondisi tanaman dan keberadaan organisme
pengganggu tanaman di lapangan.
Selain informasi cuaca, sistem yang diperkenalkan kepada kelompok juga
menampilkan informasi potensi risiko hama dan penyakit tanaman (HPT). Pada
hasil pemantauan yang terdokumentasi, potensi risiko wereng mencapai nilai 8,8
dengan kategori sangat tinggi, sedangkan penggerek mencapai 6,6 dengan kategori
tinggi. Sementara itu, potensi risiko busuk bulir (BGR) sebesar 4,0 dengan kategori
sedang, dan bias sebesar 3,9 dengan kategori rendah (Gambar 5). Informasi tersebut
memberikan gambaran bahwa risiko organisme pengganggu tanaman tidak sama
untuk setiap jenis HPT sehingga tindakan pengamatan dan pengelolaan dapat
diprioritaskan berdasarkan tingkat risiko yang ditampilkan sistem.
Gambar 5. Hasil pemantauan dan prediksi potensi hama dan penyakit tanaman
padi berdasarkan sistem Automatic Weather Station (AWS) pada Kelompok Tani
Makmur Bersama Geh
Hasil pemantauan tersebut memberikan nilai tambah dari penerapan AWS
karena petani tidak hanya memperoleh data cuaca, tetapi juga informasi prediksi
potensi HPT yang dapat digunakan sebagai peringatan awal. Dalam konteks
budidaya padi, informasi mengenai tingginya potensi risiko wereng dan penggerek
dapat menjadi dasar bagi petani untuk meningkatkan intensitas pengamatan
tanaman dan melakukan tindakan pengelolaan apabila ditemukan gejala atau
populasi organisme pengganggu yang sesuai di lapangan.
Dengan demikian, pemasangan AWS pada kelompok tani tidak berhenti pada
penyediaan perangkat teknologi, tetapi mulai memperkenalkan pola pengelolaan
pertanian berbasis informasi. Petani dapat menghubungkan kondisi lingkungan
yang terpantau dengan hasil pengamatan pertanaman sehingga keputusan budidaya
dapat dilakukan secara lebih terarah. Meskipun demikian, informasi prediksi HPT
perlu dipahami sebagai indikator risiko dan bukan sebagai bukti bahwa serangan
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 142-154
E-ISSN: 3047-2474 (online) 150
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
pasti terjadi. Verifikasi melalui pengamatan langsung di lapangan tetap diperlukan
sebelum tindakan pengendalian dilakukan.
Peningkatan Pengetahuan Petani tentang Hama dan Penyakit Tanaman Padi
Kegiatan selanjutnya berupa penyuluhan mengenai hama dan penyakit penting
pada tanaman padi serta teknik pengendaliannya. Materi disampaikan oleh tim
pengabdi, yaitu Dr. Ivayani, S.P., M.Si., Selvi Helina, S.P., M.Sc., dan Luna
Lukvitasari, S.Si., M.Si. Materi mencakup pengenalan hama dan penyakit penting
pada tanaman padi serta teknik pengendaliannya. Setelah penyampaian materi,
kegiatan dilanjutkan dengan diskusi mengenai permasalahan hama dan penyakit
yang dihadapi petani pada pertanaman padi. Kegiatan berlangsung secara aktif
dengan adanya interaksi antara petani dan tim pengabdi.
Berdasarkan diskusi yang dilakukan, hama utama yang menyerang tanaman
padi salah satunya adalah werng coklat, sementara untuk penyakit adalah penyakit
blas padi. Wereng coklat merupakan penyakit yang menyebabkan tanaman padi
seperti terbakar dan berakhir gagal panen (Helina et al., 2019). Helina et al. (2020)
juga melaporkan bahwa wereng coklat juga menjadi vektor dari penyakit kerdil
padi. Penyakit utama yang menyerang tanaman padi di lahan kelompok tani Mabes
Geh adalah penyakit Blas. Penyakit ini disebabkan oleh Pyricularia grisea (Tasliah et
al. 2015; Salimah et al., 2021). Sejauh ini pengendalian yang dilakukan oleh para
petani adalah penggunaan pestisida.
Evaluasi pengetahuan dilakukan menggunakan pre-test dan post-test. Sebanyak
22 peserta mengikuti kedua evaluasi tersebut. Nilai rata-rata pre-test sebesar 51,36
meningkat menjadi 78,18 pada post-test, sehingga terjadi peningkatan sebesar 26,82
poin atau sekitar 52,22% dari nilai awal. Nilai minimum meningkat dari 30 menjadi
60, sedangkan nilai maksimum meningkat dari 80 menjadi 100. Seluruh peserta
(100%) mengalami peningkatan nilai setelah mengikuti penyuluhan, dengan
peningkatan individu berkisar antara 1050 poin (Tabel 1; Gambar 6).
Tabel 1. Nilai individu pre-test dan post-test serta perubahan pengetahuan peserta
mengenai hama dan penyakit tanaman padi
No
Nama
Pretest
Post test
1
Tohari
30
70
2
Rohadi
60
70
3
Hudi
50
80
4
Makrus
40
70
5
Yasoleh
80
90
6
Lasiran
40
60
7
Toha
40
70
8
Suhardi
50
70
9
Nur Rohman
40
70
10
Farel
40
80
11
Aris
70
80
12
Gini
40
70
13
Warjoyo
60
80
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 142-154
E-ISSN: 3047-2474 (online) 151
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
14
Suradi
30
70
15
Somadi
50
80
16
Triman
50
70
17
Dedi
60
80
18
Ivayani
80
100
19
Luna
60
80
20
Yeni
50
80
21
Asep
60
100
22
Fikri
50
100
Rata-rata
51,36
78,18
Median
50
75
Nilai minimum
30
60
Nilai maksimum
80
100
Peningkatan rata-rata
Gambar 6. Perbandingan nilai pre-test dan post-test pengetahuan peserta
mengenai hama dan penyakit tanaman padi.
Peningkatan tersebut menunjukkan adanya perubahan pengetahuan peserta
setelah memperoleh materi dan mengikuti diskusi. Analisis N-gain menghasilkan
nilai rata-rata sebesar 0,56, yang termasuk kategori sedang. Dengan demikian,
peningkatan skor yang terjadi bukan hanya berupa perubahan nilai secara deskriptif,
tetapi juga menunjukkan perubahan yang signifikan secara statistik.
Peningkatan pengetahuan tersebut menunjukkan bahwa penyuluhan dan
diskusi interaktif dapat meningkatkan pemahaman petani mengenai pengenalan
serta pengelolaan hama dan penyakit tanaman padi. Nilai N-gain yang berada pada
kategori sedang juga menunjukkan bahwa masih terdapat ruang untuk
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 142-154
E-ISSN: 3047-2474 (online) 152
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
meningkatkan pemahaman petani melalui kegiatan pendampingan dan pelatihan
lanjutan. Hal ini penting karena kemampuan mengenali organisme pengganggu
tanaman merupakan tahap awal dalam menentukan tindakan pengendalian yang
tepat.
Penerapan AWS dan penyuluhan hama dan penyakit memiliki keterkaitan
yang penting dalam mendukung penerapan smart farming pada kelompok tani. AWS
menyediakan informasi kondisi lingkungan dan potensi risiko HPT, sedangkan
pengamatan langsung dan peningkatan pengetahuan petani memberikan
kemampuan untuk melakukan verifikasi terhadap kondisi pertanaman.
Sebagai contoh, hasil monitoring menunjukkan potensi risiko wereng berada
pada kategori sangat tinggi dan penggerek pada kategori tinggi. Informasi tersebut
dapat digunakan sebagai sinyal awal bagi petani untuk meningkatkan pengamatan
terhadap pertanaman padi, terutama terhadap keberadaan wereng dan gejala atau
tanda yang berkaitan dengan serangan penggerek. Apabila hasil pengamatan
lapangan menunjukkan keberadaan organisme tersebut, petani dapat
mempertimbangkan tindakan pengelolaan sesuai prinsip pengendalian yang tepat
dan berdasarkan tingkat serangan.
Integrasi antara data AWS dan kemampuan petani dalam mengenali organisme
pengganggu tanaman menjadi salah satu capaian penting kegiatan ini. Teknologi
tidak ditempatkan sebagai pengganti pengamatan petani, tetapi sebagai alat bantu
untuk menyediakan informasi tambahan yang dapat memperkuat proses
pengambilan keputusan. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu petani
beralih dari keputusan budidaya yang hanya berdasarkan pengalaman menuju
keputusan yang didukung oleh data lingkungan dan hasil pengamatan lapangan.
Secara keseluruhan, kegiatan yang telah dilaksanakan menghasilkan dua
capaian utama. Pertama, kelompok tani telah memiliki dan dapat mengakses AWS
untuk memperoleh informasi kondisi cuaca serta potensi risiko hama dan penyakit
tanaman padi. Kedua, terjadi peningkatan pengetahuan petani mengenai hama dan
penyakit tanaman padi, yang ditunjukkan oleh peningkatan rata-rata nilai dari 51,36
menjadi 78,18, N-gain sebesar 0,56, serta perbedaan yang signifikan antara hasil pre-
test dan post-test. Kedua capaian tersebut menjadi dasar awal dalam pengembangan
sistem budidaya padi yang memadukan teknologi informasi lingkungan dengan
peningkatan kapasitas petani dalam pengelolaan organisme pengganggu tanaman.
Simpulan dan Rekomendasi
Kegiatan pengabdian melalui penerapan Automatic Weather Station dan
penyuluhan hama dan penyakit tanaman padi telah mendukung penguatan
kapasitas Kelompok Tani Makmur Bersama Geh dalam memanfaatkan informasi
berbasis teknologi untuk pengelolaan budidaya padi. Automatic Weather Station
memberikan akses terhadap informasi kondisi cuaca dan potensi risiko hama dan
penyakit yang dapat menjadi informasi pendukung dalam pengamatan pertanaman.
Penyuluhan juga meningkatkan pemahaman petani dalam mengenali hama dan
penyakit serta prinsip pengelolaannya. Ke depan, diperlukan pendampingan berkala
untuk meningkatkan kemampuan petani dalam menginterpretasikan informasi
Automatic Weather Station dan menghubungkannya dengan hasil pengamatan
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 142-154
E-ISSN: 3047-2474 (online) 153
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
lapangan. Informasi risiko hama dan penyakit perlu tetap diverifikasi melalui
pengamatan langsung sebelum menentukan tindakan pengendalian agar
pengelolaannya lebih tepat dan berkelanjutan.
Penghargaan
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dibiayai oleh Direktorat Penelitian
dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Tahun 2026 melalui Program
Pengabdian kepada Masyarakat, Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Ruang
Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan
Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Daftar Pustaka
Ajith, S., Vijayakumar, S., & Elakkiya, N. (2025). Yield prediction, pest and disease
diagnosis, soil fertility mapping, precision irrigation scheduling, and food quality
assessment using machine learning and deep learning algorithms. Discover
Food, 5, 67. https://doi.org/10.1007/s44187-025-00338-1
Anwar, A., Adrianus, A., Sembiring, J., Limbongan, A. A., Mendes, J. A., Yusuf, M.,
& Rizal, A. (2025). Penyuluhan dan pengenalan jenis hama dan penyakit tanaman
padi serta teknik pengendaliannya di Kampung Sumber Mulya Distrik Kurik.
Lebah, 18(2).
Bahari, D. I., Lubis, M. M., Apriyanti, E., Affandi, M. R., & Perlambang, R. (2024).
Analisis pengaruh pertanian berkelanjutan terhadap ketahanan pangan di daerah
perdesaan. Jurnal Kolaboratif Sains, 8(2), 12311238.
https://doi.org/10.56338/jks.v8i2.7073
Bao, L. (2006). Theoritical comparison of average normalized gain calculations.
Physics Education Research, 74(10), 917922.
Dewi, P., Haryanto, H., & Kisman, K. (2025). Evaluasi penerapan pengendalian hama
terpadu petani padi (Oryza sativa) dalam program P4 di Kabupaten Lombok Barat.
Jurnal Ilmiah Mahasiswa AGROKOMPLEK, 4(1), 146154.
Gitakarma, M. S., Ariawan, K. U., Indrawan, G., & Pracasitaram, I. G. M. S. B. (2025).
Pemantauan lingkungan pertanian dengan menggunakan weather station berbasis
IoT: Solusi efektif untuk petani di era digital. Jurnal Komputer dan Teknologi Sains
(KOMTEKS), 4(1), 3540.
Helina, S., Aeny, T. N., & Ivayani. (2021). Simultaneous detection of virus infecting
tobacco plant using multiplex-PCR in Klaten, Indonesia. Archives of Phytopathology
and Plant Protection, 54(1920), 18381847.
Helina, S., Sulandari, S., Hartono, S., & Trisyono, Y. A. (2019). Detection and analysis
of protein profile on rice infected by stunting virus with different severity on
Ciherang and Situ Bagendit varieties. Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan
Tropika, 23(1), 116124.
Helina, S., Sulandari, S., Trisyono, Y. A., & Hartono, S. (2020). Assessments of yield
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 142-154
E-ISSN: 3047-2474 (online) 154
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
losses due to double infection of Rice ragged stunt virus and Rice grassy stunt virus
at different severity in the field, Yogyakarta, Indonesia. Jurnal Hama dan
Penyakit Tumbuhan Tropika, 32(2), 129136.
Humaidi, E., Unteawati, B., & Analianasari. (2020). Pemetaan komoditas sayur
unggulan di Provinsi Lampung. Jurnal Agribisnis Indonesia, 8(2), 106114.
Lee, S., & Yun, C. M. (2023). A deep learning model for predicting risks of crop pests
and diseases from sequential environmental data. Plant Methods, 19, 145.
https://doi.org/10.1186/s13007-023-01122-x
Millianda, M. E., Furqon, M., & Niagara, R. G. (2025). Rancangan automatic weather
station (AWS) menggunakan Arduino Mega pada bandara unit yang tidak tersedia
AWS. Jurnal TNI Angkatan Udara, 4(3), 18.
Pambudi, A., & Amelia, D. (2025). Agri Cuaca: Aplikasi Android untuk rekomendasi
kegiatan pertanian padi berbasis data cuaca dan analisis AI. Jurnal Pustaka Data, 5(2),
403411. https://doi.org/10.55382/jurnalpustakadata.v5i2.1441
Salimah, N. A., Kuswinanti, T., & Nasruddin, A. (2021). Eksplorasi dan penentuan
ras penyebab penyakit blas padi di Kabupaten Maros. Jurnal Fitopatologi Indonesia,
17(2), 4148. https://doi.org/10.14692/jfi.17.2.41-48
Saptomo, S. K., Junaedi, A., Arif, C., Taufik, M., & Julianto, B. T. (2026). Pengenalan
teknologi Automatic Weather Station dan identifikasi sumber air dalam mendukung
pertanian padi cerdas iklim di Kabupaten Sukabumi. Agrokreatif: Jurnal Ilmiah
Pengabdian kepada Masyarakat, 12(2), 268276.
https://doi.org/10.29244/agrokreatif.12.2.268-276
Sugiarto, S., Putra, M., & Dharmawan, G. S. B. (2019). Pengembangan stasiun
pengamatan cuaca maritim otomatis berbasis webserver. SENTER 2019, 6876.
Surmaini, E. (2016). Pemantauan dan peringatan dini kekeringan pertanian di
Indonesia. Jurnal Sumberdaya Lahan, 10(1), 3750.
Surmaini, E., et al. (2006). Applying climate information for supporting farming
system of food crop. Indonesian Soil and Climate Journal, (24).
https://doi.org/10.2017/jti.v0n24.2006.%p
Tasliah, T., Prasetiyono, J., Suhartini, T., & Soemantri, I. H. (2015). Ketahanan galur-
galur padi Pup1 terhadap penyakit blas. Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan,
34(1), 2936.
World Meteorological Organization. (2024). Agrometeorological information for
climate resilient agriculture in Bangladesh. Bulletin of the World Meteorological
Organization, 73(2).