Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agutus 2026, page: 129-141
E-ISSN: 3047-2474
Naskah dikirim: 29/06/2026 Selesai revisi: 27/07/2026 Disetujui: 29/07/2026 Diterbitkan: 1/08/2026
129
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA
International License.
Edukasi Positive Parenting: Orang Tua Hadir, Anak Bertumbuh
Cahya Milia Tirta Safitri¹*, Hizkia Vista Revanaditya²,
Afina Ovita Maharani³, Firza Ilya Lutfina
1,2,3,4
Universitas Muria Kudus, Indonesia
e-mail: ¹*cahya.safitri@umk.ac.id,
2
202360183@std.umk.ac.id,
3
20230070@std.umk.ac.id,
4
202311523@umk.ac.id
Abstrak
Pengasuhan menjadi bagian penting dalam membentuk hubungan orang tua
dan anak, terutama ketika keluarga menghadapi perubahan sosial dan penggunaan
teknologi digital yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. Orang tua perlu
membangun hubungan yang hangat, tetapi tetap memberikan aturan dan batasan
yang jelas. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan ibu
anggota PKK Desa Kajar mengenai positive parenting, komunikasi yang menghargai
anak, disiplin tanpa kekerasan, konsistensi aturan, serta pendampingan anak dalam
aktivitas sosial dan digital. Kegiatan dilaksanakan pada 31 Juli 2026 di Balai Desa Kajar
dan diikuti oleh 18 peserta berusia 30-50 tahun. Metode yang digunakan adalah
edukasi partisipatif melalui penyampaian materi, contoh situasi keluarga, kuis,
diskusi, tanya jawab, dan refleksi pengalaman pengasuhan. Pengetahuan peserta
diukur menggunakan pretest dan posttest, kemudian dianalisis secara deskriptif dan
menggunakan uji Wilcoxon. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata skor meningkat dari
7,72 pada pretest menjadi 9,44 pada posttest. Sebanyak 16 peserta mengalami
peningkatan skor dan dua peserta memperoleh skor tetap. Uji Wilcoxon menunjukkan
adanya perbedaan skor sebelum dan sesudah edukasi (W = 0; p < 0,001). Hasil tersebut
menunjukkan bahwa kegiatan mampu meningkatkan pengetahuan peserta dalam
jangka pendek. Karena posttest dilakukan segera setelah kegiatan, hasil ini belum
dapat digunakan untuk menilai perubahan praktik pengasuhan di rumah. Kegiatan
lanjutan perlu disertai pemantauan penerapan materi dan evaluasi beberapa minggu
setelah edukasi.
Kata Kunci: edukasi partisipatif; positive parenting, komunikasi keluarga; orang tua;
PKK
Abstract
Parenting plays an important role in shaping parent-child relationships, particularly as
families face social change and the growing presence of digital technology in everyday life.
Parents need to build warm relationships while maintaining clear rules and boundaries. This
community service program aimed to improve the knowledge of women members of the Family
Welfare Movement in Kajar Village regarding positive parenting, respectful communication,
nonviolent discipline, consistent rules, and guidance for children's social and digital activities.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 129-141
E-ISSN: 3047-2474 (online) 130
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
The program was conducted on July 31, 2026, at Kajar Village Hall and involved 18
participants aged 30-50 years. Participatory education was delivered through presentations,
examples of family situations, quizzes, discussions, questions and answers, and reflection on
parenting experiences. Participants' knowledge was measured using a pretest and posttest, and
the scores were analyzed descriptively and with the Wilcoxon signed-rank test. The mean score
increased from 7.72 at pretest to 9.44 at posttest. Sixteen participants improved and two
maintained the same score. The Wilcoxon test showed a difference between scores before and
after the program (W = 0; p < 0.001). These findings indicate a short-term improvement in
participants' knowledge. Since the posttest was administered immediately after the activity, the
results cannot yet be used to assess changes in parenting practices at home. Follow-up activities
should monitor the application of the material and evaluate participants several weeks after the
educational session.
Keywords: family communication; parents; participatory education; positive parenting;
women organization
Pendahuluan
Keluarga adalah tempat pertama bagi anak untuk belajar soal kasih sayang,
aturan, tanggung jawab, dan cara bergaul dengan orang lain. Dari percakapan dan
kebiasaan sehari-hari itulah anak akhirnya tahu apakah rumah bisa jadi tempat aman
untuk bercerita, bertanya, bahkan berbuat salah. Pengasuhan sendiri sebenarnya
bukan cuma soal memenuhi kebutuhan fisik anak, tapi juga soal kehadiran orang tua,
komunikasi yang terbuka, keteladanan, dan batasan yang pas dengan usia serta tahap
perkembangan anak. Studi lintas budaya di 11 negara oleh Pastorelli et al. (2021)
memperlihatkan bahwa kehangatan orang tua konsisten berkaitan dengan perilaku
prososial anak dan remaja, apa pun latar belakang budaya keluarganya. Zietz et al.
(2022) bahkan menemukan hal yang lebih luas yaitu pengasuhan positif juga terkait
dengan penyesuaian diri remaja dan kualitas pola makan yang lebih baik di sembilan
negara. Artinya, manfaat kehangatan orang tua tidak berhenti di soal perilaku saja,
tapi berdampak hingga ke kesehatan sehari-hari anak.
Perubahan sosial dan teknologi digital membuat tugas mengasuh anak jadi
semakin tidak sederhana. Gawai memang membantu anak belajar dan berkomunikasi,
tapi di saat yang sama juga membuka pintu ke konten dan aktivitas yang belum tentu
pantas untuk usianya. Salah satu risiko yang patut diwaspadai adalah perjudian
daring. Data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan mencatat sekitar 103,1
ribu anak dan remaja terhubung dengan transaksi judi online sepanjang tahun 2025
(CNN Indonesia, 2026). Angka ini memang tidak bisa langsung menggambarkan
kondisi tiap desa, tapi cukup untuk menegaskan bahwa pendampingan aktivitas
digital anak bukan lagi persoalan yang jauh dari kehidupan keluarga.
Tantangan pengasuhan juga tidak lepas dari lingkungan pergaulan remaja.
Liputan Kudus (22 Februari 2026) memberitakan Polsek Dawe mengamankan
sejumlah remaja yang pesta minuman keras di Desa Piji, sekaligus menggagalkan
rencana perang air antarkelompok yang sudah disiapkan sekitar 150 bungkus air.
Menurut informasi kepolisian, kegiatan itu semula direncanakan berlangsung di
wilayah Kajar, Colo, dan Piji, lalu berlanjut dengan kelompok remaja dari Desa Lau
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 129-141
E-ISSN: 3047-2474 (online) 131
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
(Liputan Kudus, 2026). Hal ini menunjukkan sinyal bahwa risiko pergaulan di
lingkungan ini nyata dan perlu diantisipasi lewat pengawasan, komunikasi, serta
kedekatan orang tua dengan anak.
Kondisi-kondisi di atas menunjukkan bahwa orang tua tidak bisa hanya
melarang atau sebaliknya membiarkan bebas. Anak tetap butuh penjelasan, dialog,
dan ruang untuk belajar mengendalikan diri sendiri. Livingstone et al. (2017)
menyebut pendampingan digital bisa dilakukan lewat cara-cara sederhana:
membahas konten bersama anak, sepakat soal batas waktu pemakaian, memantau
aktivitas daring, dan menyesuaikan aturan dengan usia serta kebutuhan anak. Pola
mediasi ini, menurut Nagy et al. (2023), juga perlu terus disesuaikan mengingat
teknologi mobile makin melekat dalam keseharian anak dan remaja. Sayangnya tidak
semua orang tua melakukan pendampingan dengan cara yang sama. Kutrovátz (2022)
mendapati praktik mediasi ini masih timpang, dipengaruhi oleh latar belakang sosial
ekonomi dan literasi digital orang tua sendiri. Di sisi lain, kedekatan orang tua dan
anak ternyata juga membantu anak lebih terbuka saat menghadapi masalah di media
sosial (Wang & Chen, 2022).
Salah satu pendekatan yang bisa menjawab kebutuhan ini adalah positive
parenting, atau pengasuhan positif. Seay et al. (2014) mendefinisikannya sebagai
hubungan berkelanjutan antara orang tua dan anak yang mencakup kepedulian,
pengajaran, pengarahan, komunikasi, dan pemenuhan kebutuhan anak secara
konsisten. Sanders (2008), lewat kerangka Triple P, menekankan pentingnya
lingkungan yang aman dan menarik, suasana belajar yang positif, disiplin yang asertif,
harapan yang realistis pada anak, sekaligus perhatian pada kebutuhan orang tua
sendiri.
Dalam positive parenting, kehangatan dan ketegasan berjalan berdampingan,
bukan memilih salah satu. Orang tua perlu mendengarkan dan menghargai anak, tapi
tetap harus menyampaikan aturan dan konsekuensi yang jelas. Jadi, positive
parenting bukan berarti menuruti semua keinginan anak. Pola asuh yang permisif
justru bisa membuat batasan jadi lemah dan tidak konsisten. Hal ini sejalan dengan
penelitian Anggraeni dan Rohmatun (2019) pada siswa kelas XI SMA 1 Mejobo Kudus,
yang menemukan hubungan positif antara pola asuh permisif dan kenakalan remaja,
dimana kebebasan tanpa pendampingan dan batasan yang jelas ternyata membawa
risiko tersendiri.
Dalam praktik sehari-hari, positive parenting bisa dimulai dari hal-hal sederhana
antara lain memuji anak saat berperilaku baik, menegur tanpa merendahkan, dan
memberi konsekuensi yang masuk akal ketika aturan dilanggar. Ini bukan sekadar
anjuran tanpa dasar. Leijten et al. (2019) menemukan bahwa pujian, penguatan positif,
serta konsekuensi alami dan logis memang jadi komponen penting dalam program
pengasuhan yang berhasil. Sementara Leijten et al. (2018) menambahkan bahwa
kehangatan hubungan dan pengelolaan perilaku memberi hasil terbaik justru ketika
keduanya diterapkan secara seimbang, bukan berat sebelah.
Berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara dengan perangkat Desa Kajar
serta pengurus PKK, terlihat bahwa persoalan pengasuhan yang dihadapi orang tua
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 129-141
E-ISSN: 3047-2474 (online) 132
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
cukup beragam. Mulai dari membangun komunikasi dengan anak, menyampaikan
aturan, menjaga konsistensi batasan, hingga mendampingi penggunaan gawai.
Perangkat desa dan PKK juga mengungkapkan kekhawatiran soal paparan aktivitas
digital dan pengaruh lingkungan pergaulan terhadap anak dan remaja. Dari sini jelas
bahwa mitra tidak butuh pembahasan pengasuhan yang berhenti di tataran konsep
saja, melainkan contoh respons yang dekat dengan situasi keluarga sehari-hari.
Kegiatan ini dirancang lebih sebagai langkah pencegahan dan ruang belajar bersama.
Edukasi pengasuhan bisa jadi langkah awal untuk memperkuat pengetahuan
dan keterampilan orang tua. Jeong et al. (2021), melakukan pengujian terhadap 102
anak pada program pengasuhan untuk orang tua dengan anak usia 0-3 tahun,
menemukan adanya peningkatan pengetahuan, praktik pengasuhan, dan kualitas
interaksi orang tua-anak. Memang usia anak dalam penelitian itu berbeda dengan
karakteristik keluarga peserta di Desa Kajar, namun hasil ini memberi gambaran
bahwa edukasi pengasuhan bisa bermanfaat. Hanya saja, perubahan praktik di rumah
tetap membutuhkan waktu, latihan, dan evaluasi lanjutan, bukan sesuatu yang instan.
Intervensi yang disertai umpan balik pun terbukti membantu orang tua jadi lebih peka
sekaligus lebih konsisten dalam memberi batasan (Runze et al., 2022; van IJzendoorn
et al., 2023).
Berdasarkan kondisi dan kebutuhan mitra tersebut, maka perlu dilaksanakan
Edukasi Positive Parenting: Orang Tua Hadir, Anak Bertumbuh bagi ibu anggota
PKK Desa Kajar. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan peserta mengenai
prinsip pengasuhan positif, komunikasi yang menghargai anak, disiplin tanpa
kekerasan, aturan yang konsisten, serta pendampingan anak dalam lingkungan sosial
dan digital. Perubahan pengetahuan peserta diukur melalui pretest dan posttest
sebagai bahan evaluasi kegiatan dan dasar untuk merancang tindak lanjut.
Metode
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada Jumat, 31 Juli
2026 di Balai Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Sasaran kegiatan
adalah ibu anggota PKK Desa Kajar. Kegiatan diikuti oleh 18 peserta berusia 30-50
tahun yang mengikuti seluruh rangkaian edukasi serta mengerjakan pretest dan
posttest. Tim pelaksana terdiri atas mahasiswa KKN dan dosen pembimbing lapangan
Universitas Muria Kudus yang bekerja sama dengan Pemerintah Desa Kajar serta
pengurus PKK dalam mempersiapkan dan melaksanakan kegiatan.
Tahap 1 (persiapan) diawali dengan koordinasi, observasi awal, serta wawancara
informal bersama perangkat Desa Kajar dan pengurus PKK untuk mengidentifikasi
kebutuhan mitra, menentukan waktu dan tempat, serta memilih materi yang sesuai
dengan persoalan pengasuhan sehari-hari. Hasil penggalian kebutuhan menunjukkan
perlunya pembahasan mengenai komunikasi yang tidak menghakimi, pemberian
aturan dan konsekuensi yang wajar, disiplin tanpa kekerasan, serta pendampingan
penggunaan gawai. Berdasarkan kebutuhan tersebut, tim menyusun materi edukasi,
contoh situasi keluarga, kuis, lembar pretest dan posttest, serta media pendukung
kegiatan.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 129-141
E-ISSN: 3047-2474 (online) 133
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Tabel 1. Materi Edukasi dan Tujuan Pembelajaran
Materi
Tujuan Pembelajaran
Konsep positive
parenting
Peserta memahami bahwa kehangatan perlu disertai
aturan dan batasan yang jelas.
Komunikasi positif
Peserta mampu membedakan kalimat yang
menghakimi dan kalimat yang berfokus pada perilaku
anak.
Disiplin tanpa kekerasan
Peserta memahami penggunaan aturan dan
konsekuensi yang wajar tanpa ancaman atau
kekerasan.
Pendampingan digital
Peserta memahami pentingnya dialog, pengawasan,
kesepakatan, dan keteladanan penggunaan gawai.
Refleksi pengasuhan
Peserta dapat memilih satu perubahan sederhana yang
dapat dicoba dalam pengasuhan di rumah.
Tahap 2 (pelaksanaan) menggunakan pendekatan edukasi partisipatif. Sebelum
penyampaian materi, seluruh peserta mengerjakan pretest untuk mengukur
pengetahuan awal mengenai positive parenting. Setelah lembar pretest terkumpul,
fasilitator menyampaikan materi menggunakan presentasi dan contoh situasi yang
dekat dengan kehidupan keluarga. Materi meliputi konsep pengasuhan positif,
komunikasi orang tua dan anak, disiplin tanpa kekerasan, penerapan aturan dan
konsekuensi yang konsisten, serta pendampingan aktivitas sosial dan digital anak.
Pada tahap pelaksanaan, penyampaian materi dilanjutkan dengan kuis, diskusi
interaktif, tanya jawab, dan refleksi pengalaman pengasuhan. Peserta diberi
kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, menceritakan situasi yang pernah
dihadapi di rumah, serta membandingkan respons yang biasa digunakan dengan
alternatif komunikasi yang lebih hangat dan tegas.
Tahap 3 (evaluasi) dilakukan dengan meminta peserta mengerjakan posttest
menggunakan instrumen yang sama setelah seluruh rangkaian edukasi selesai.
Evaluasi dilakukan terhadap 18 pasangan skor pretest dan posttest. Data disajikan
dalam bentuk rata-rata, simpangan baku, median, rentang skor, serta jumlah peserta
yang mengalami peningkatan, memperoleh skor tetap, atau mengalami penurunan.
Perbedaan skor sebelum dan sesudah kegiatan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon
Signed-Rank dua arah karena skor bersifat berpasangan, diskrit, dan memiliki rentang
terbatas 0-10. Dua pasangan dengan selisih nol tidak dimasukkan dalam perhitungan
peringkat sehingga jumlah pasangan efektif dalam uji Wilcoxon adalah 16. Taraf
signifikansi ditetapkan sebesar 0,05.
Berdasarkan rekapitulasi pretest dan posttest kegiatan, data yang tersedia
berupa skor total dengan rentang empiris 0-10. Hasil evaluasi digunakan untuk
menggambarkan perubahan pengetahuan segera setelah edukasi, bukan untuk
menyimpulkan perubahan praktik pengasuhan di rumah.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 129-141
E-ISSN: 3047-2474 (online) 134
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Hasil dan Pembahasan
Kegiatan edukasi positive parenting melibatkan 18 ibu anggota PKK Desa Kajar
berusia 30-50 tahun. Semua peserta mengikuti kegiatan sampai selesai dan aktif
merespons contoh-contoh situasi pengasuhan yang disampaikan. Keterlibatan ini
terlihat dari perhatian mereka terhadap materi, keikutsertaan dalam diskusi, dan
kesediaan menyelesaikan lembar evaluasi tanpa perlu diminta berulang kali. Ini
menandakan bahwa topik positive parenting menyentuh persoalan yang mereka hadapi
sehari-hari di rumah.
Gambar 1. Penyampaian materi positive parenting kepada ibu anggota PKK Desa Kajar
Hasil pretest posttest menunjukkan adanya perubahan pengetahuan peserta
terlihat dari perbandingan skor. Rata-rata skor meningkat dari 7,72 pada pretest
menjadi 9,44 pada posttest, atau naik 1,72 poin. Peningkatan ini menunjukkan adanya
perubahan pengetahuan segera setelah peserta mengikuti edukasi positive parenting.
Seluruh peserta menyelesaikan lembar evaluasi secara mandiri sebagaimana
ditunjukkan pada Gambar 2. Kelengkapan 18 pasangan skor memungkinkan
perubahan pengetahuan dianalisis pada seluruh peserta, meskipun dua pasangan
dengan skor tetap tidak dimasukkan dalam perhitungan peringkat pada uji Wilcoxon.
Gambar 2. Peserta mengisi lembar evaluasi kegiatan secara mandiri
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 129-141
E-ISSN: 3047-2474 (online) 135
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Tabel 2. Hasil Analisis Deskriptif Skor Pretest dan Posttest (n = 18)
Variabel
Mean
Pretest
7,72
Posttest
9,44
Selisih
1,72
Simpangan baku skor menurun dari 1,23 pada pretest menjadi 0,70 pada posttest.
Median skor meningkat dari 8 menjadi 10. Skor pretest berada pada rentang 5-10,
sedangkan skor posttest berada pada rentang 8-10. Hasil tersebut menunjukkan
bahwa peningkatan tidak hanya terlihat pada nilai rata-rata, tetapi juga pada skor
minimum dan median peserta. Analisis terhadap perubahan skor setiap peserta
menunjukkan bahwa sebagian besar peserta mengalami peningkatan setelah
mengikuti edukasi. Sebanyak 16 peserta (88,9%) mengalami peningkatan skor, dua
peserta (11,1%) memperoleh skor yang sama, dan tidak ada peserta yang mengalami
penurunan skor.
Tabel 3. Distribusi Perubahan Skor Pengetahuan Peserta (n = 18)
Perubahan Skor
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Meningkat
16
88,9
Tetap
2
11,1
Menurun
0
0
Total
18
100
Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan skor pengetahuan sebelum dan
sesudah edukasi, dilakukan analisis menggunakan Wilcoxon Signed-Rank Test dua
arah. Dua selisih bernilai nol tidak dimasukkan dalam perhitungan peringkat. Hasil
analisis menunjukkan W = 0 dan p < 0,001. Nilai p yang lebih kecil dari 0,05
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antara skor
pretest dan posttest.
Tabel 4. Hasil Uji Wilcoxon Signed-Rank Test Skor Pretest dan Posttest (n = 18)
Variabel
p-value
Keterangan
Skor pretest dan posttest
<0,001
Bermakna (p < 0,05)
Peningkatan skor ini menunjukkan bahwa materi edukasi cukup sesuai dengan
persoalan pengasuhan yang dihadapi peserta sehari-hari. Contoh percakapan,
pemberian aturan, dan konsekuensi yang dipakai dalam kegiatan tampaknya
membuat konsep positive parenting jadi lebih mudah dikaitkan dengan situasi nyata
di keluarga masing-masing, dan ini kemungkinan besar yang mendorong pemahaman
peserta ikut naik. Hasil ini sejalan dengan Leijten et al. (2019), yang juga menempatkan
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 129-141
E-ISSN: 3047-2474 (online) 136
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
pujian, penguatan positif, serta konsekuensi alami dan logis sebagai komponen
penting dalam program pengasuhan yang efektif.
Hanya saja, respons awal peserta saat diskusi memperlihatkan bahwa positive
parenting masih sering disalahpahami sebagai pola asuh yang serba longgar. Padahal
kehangatan itu harus tetap diikutii aturan dan batasan yang jelas, bukan berarti
menuruti semua keinginan anak, melainkan memadukan kepekaan orang tua dengan
disiplin yang tegas tanpa kekerasan. Leijten et al. (2018) menemukan bahwa
kehangatan hubungan dan pengelolaan perilaku memberi hasil terbaik justru ketika
keduanya diterapkan seimbang, dan IJzendoorn et al. (2023) memperkuat hal tersebut,
dimana intervensi berbasis umpan balik video terbukti meningkatkan kepekaan orang
tua sekaligus mendorong disiplin yang tegas tanpa kekerasan. Manfaatnya pun tidak
berhenti di perilaku anak saja. Namun Palacios et al. (2022) melaporkan bahwa gaya
pengasuhan positif berkaitan dengan kesehatan psikologis yang lebih baik dan
perlindungan terhadap kerentanan emosional, baik pada remaja maupun anak yang
sudah dewasa.
Selain itu, komunikasi jadi isu yang paling terasa dekat dengan pengalaman
peserta. Dari diskusi, terlihat bahwa banyak orang tua belum terbiasa membedakan
antara menolak perilaku anak dan menolak pribadi anak itu sendiri. Padahal kalimat
yang fokus pada perilaku, alasan, dan aturan justru memungkinkan orang tua tetap
tegas tanpa harus merendahkan anak. Li et al. (2023) menunjukkan bahwa
keterbukaan semacam ini berperan penting menjaga kualitas hubungan orang tua dan
remaja. Penggunaan gawai juga jadi persoalan pengasuhan tersendiri, yang butuh
aturan, dialog, dan peninjauan berkala. Sekadar melarang tanpa penjelasan biasanya
tidak cukup, apalagi ketika usia dan kebutuhan anak terus berubah. Livingstone et al.
(2017) dan Steinfeld (2021) sama-sama menekankan bahwa pendampingan yang
memadukan kesepakatan, penjelasan risiko, dan peninjauan aturan secara berkala
justru lebih efektif membangun kesadaran, otonomi, dan kemampuan anak mengatur
diri sendiri.
Temuan soal gawai ini juga menegaskan satu hal penting tentang keteladanan
orang tua. Aturan akan sulit dijalankan kalau hanya berlaku untuk anak, sementara
orang tua sendiri tetap sibuk dengan ponsel saat sedang berinteraksi dengan keluarga.
Fitzpatrick et al. (2024) mencatat bahwa kebiasaan layar orang tua berhubungan
dengan perkembangan anak, dan Wang serta Chen (2022) maupun Zaman et al. (2016)
sama-sama menyoroti bahwa pengelolaan gawai idealnya jadi komitmen bersama
seluruh anggota keluarga, bukan cuma aturan sepihak untuk anak. Tercapainya
peningkatan pengetahuan jangka pendek yang terlihat di sini sejalan dengan temuan
Jeong et al. (2021) soal manfaat program pengasuhan, meski penelitian mereka fokus
pada orang tua dengan anak usia 0-3 tahun. Carroll (2022) pun melaporkan hal serupa
bahwa ada perubahan pola pengasuhan setelah mengikuti program disiplin positif.
Kesamaan arah temuan ini cukup meyakinkan bahwa edukasi di Desa Kajar bisa jadi
langkah awal memperkenalkan cara mengasuh yang lebih positif . Namun, perlu
digarisbawahi, bahwa perlu adanya tindak lanjut untuk membuktikan adanya
perubahan perilaku pengasuhan yang sesungguhnya.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 129-141
E-ISSN: 3047-2474 (online) 137
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Meski skor meningkat, hasil posttest ini belum bisa dijadikan bukti bahwa
praktik pengasuhan peserta benar-benar sudah berubah. Posttest dilakukan segera
setelah kegiatan, jadi yang terlihat baru peningkatan pengetahuan jangka pendek.
Penerapan di rumah tentu perlu latihan, dukungan keluarga, konsistensi, dan umpan
balik, bukan proses yang selesai dalam sehari. Runze et al. (2022) melaporkan bahwa
intervensi dengan umpan balik bisa mendukung penerapan pengasuhan positif,
meski Leijten et al. (2020) mengingatkan bahwa hasilnya bisa berbeda-beda
tergantung kondisi anak dan keadaan psikologis orang tua masing-masing.
Selain peningkatan skor pengetahuan, kegiatan menghasilkan materi edukasi,
kuis, data pretest-posttest, dan terjalinnya kerja sama antara mahasiswa KKN, dosen
pembimbing lapangan, Pemerintah Desa Kajar, serta PKK Desa Kajar. Capaian ini
menunjukkan bahwa kegiatan tidak hanya menghasilkan luaran pembelajaran, tetapi
juga memperkuat dukungan komunitas terhadap edukasi pengasuhan. Kolaborasi
antara tim pelaksana dan peserta terlihat pada Gambar 3. Kerja sama berbasis
komunitas seperti ini penting agar pengetahuan psikologi tidak berhenti di ranah
akademik, tapi benar-benar bisa diterjemahkan jadi layanan yang sesuai kebutuhan
masyarakat setempat (Cluver et al., 2018).
Gambar 3. Tim pelaksana bersama peserta kegiatan edukasi positive parenting
Secara metodologis, kegiatan ini masih memiliki beberapa keterbatasan. Jumlah
peserta hanya 18 orang dan tidak terdapat kelompok pembanding. Data karakteristik
peserta juga terbatas pada jenis kelamin dan rentang usia, sedangkan pendidikan,
pekerjaan, serta usia anak tidak terdokumentasi. Selain itu, hasil tidak dapat
digeneralisasikan dan hanya menggambarkan perubahan pengetahuan pada peserta
kegiatan. Temuan ini menunjukkan perlunya tindak lanjut yang menilai penerapan
materi dalam kehidupan keluarga. Evaluasi dapat dilakukan beberapa minggu setelah
kegiatan melalui pengukuran retensi pengetahuan, catatan refleksi, atau observasi
sederhana terhadap praktik komunikasi dan penerapan aturan di rumah. Pertemuan
lanjutan juga dapat digunakan untuk membahas pengalaman peserta dalam mencoba
perubahan pengasuhan serta menyesuaikan strategi yang belum berhasil.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 129-141
E-ISSN: 3047-2474 (online) 138
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Simpulan dan Rekomendasi
Kegiatan edukasi positive parenting bagi ibu anggota PKK Desa Kajar telah
dilaksanakan melalui penyampaian materi, contoh situasi keluarga, kuis, diskusi,
tanya jawab, dan refleksi. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan
pengetahuan peserta secara nyata setelah mengikuti kegiatan, dengan hampir seluruh
peserta mengalami perubahan ke arah yang lebih baik. Hasil tersebut menunjukkan
bahwa edukasi mampu meningkatkan pengetahuan peserta dalam jangka pendek,
terutama mengenai komunikasi yang menghargai anak, disiplin tanpa kekerasan,
aturan yang konsisten, dan pendampingan penggunaan gawai. Ke depan, kegiatan
semacam ini sebaiknya tidak berhenti pada satu kali pertemuan saja. Peserta perlu
diberi ruang untuk mempraktikkan materi di rumah, lalu menceritakan kembali
pengalamannya pada sesi tindak lanjut. Melibatkan ayah atau pengasuh lain juga
penting supaya aturan dan komunikasi keluarga bisa diterapkan lebih konsisten,
bukan hanya oleh ibu. Evaluasi berikutnya idealnya memakai instrumen yang
terdokumentasi dengan baik, dilakukan beberapa minggu setelah edukasi, dan
dilengkapi indikator praktik pengasuhan supaya manfaat programnya bisa dinilai
lebih menyeluruh.
Penghargaan
Tim menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Desa Kajar, pengurus dan
anggota PKK Desa Kajar, mahasiswa KKN Universitas Muria Kudus, serta seluruh
pihak yang mendukung koordinasi, pelaksanaan, dan dokumentasi kegiatan
pengabdian kepada masyarakat ini.
Daftar Pustaka
Anggraeni, T. P., & Rohmatun. (2019). Hubungan antara pola asuh permisif dengan
kenakalan remaja (juvenile delinquency) kelas XI di SMA 1 Mejobo Kudus.
PSISULA: Prosiding Berkala Psikologi, 1, 205-219.
https://doi.org/10.30659/psisula.v1i0.7705
Carroll, P. (2022). Effectiveness of positive discipline parenting program on parenting
style, and child adaptive behavior. Child Psychiatry & Human Development,
53(6), 1349-1358. https://doi.org/10.1007/s10578-021-01201-x
CNN Indonesia. (2026, 23 Juli). PPATK beber 103 ribu anak-remaja terhubung
transaksi judi online.
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260723091346-92-1383923/ppatk-
beber-103-ribu-anak-remaja-terhubung-transaksi-judi-online
Cluver, L. D., Meinck, F., Steinert, J. I., Shenderovich, Y., Doubt, J., Herrero Romero,
R., Lombard, C. J., Redfern, A., Ward, C. L., Tsoanyane, S., Nzima, D., Sibanda,
N., Wittesaele, C., De Stone, S., Boyes, M. E., Nocuza, M., & Gardner, F. (2018).
Parenting for lifelong health: A pragmatic cluster randomised controlled trial of
a non-commercialised parenting programme for adolescents and their families in
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 129-141
E-ISSN: 3047-2474 (online) 139
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
South Africa. BMJ Global Health, 3(1), e000539. https://doi.org/10.1136/bmjgh-
2017-000539
Fitzpatrick, C., Johnson, A., Laurent, A., Bégin, M., & Harvey, E. (2024). Do parent
media habits contribute to child global development? Frontiers in Psychology,
14, 1279893. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2023.1279893
Jeong, J., Franchett, E. E., Ramos de Oliveira, C. V., Rehmani, K., & Yousafzai, A. K.
(2021). Parenting interventions to promote early child development in the first
three years of life: A global systematic review and meta-analysis. PLOS Medicine,
18(5), e1003602. https://doi.org/10.1371/journal.pmed.1003602
Kutrovátz, K. (2022). Parental mediation of adolescents' technology use: Unequal
parenting practices. Intersections: East European Journal of Society and Politics,
8(3), 99-117. https://doi.org/10.17356/ieejsp.v8i3.864
Leijten, P., Gardner, F., Melendez-Torres, G. J., van Aar, J., Hutchings, J., Schulz, S.,
Knerr, W., & Overbeek, G. (2019). Meta-analyses: Key parenting program
components for disruptive child behavior. Journal of the American Academy of
Child & Adolescent Psychiatry, 58(2), 180-190.
https://doi.org/10.1016/j.jaac.2018.07.900
Leijten, P., Melendez-Torres, G. J., Gardner, F., van Aar, J., Schulz, S., & Overbeek, G.
(2018). Are relationship enhancement and behavior management 'the golden
couple' for disruptive child behavior? Two meta-analyses. Child Development,
89(6), 1970-1982. https://doi.org/10.1111/cdev.13051
Leijten, P., Scott, S., Landau, S., Harris, V., Mann, J., Hutchings, J., Beecham, J., &
Gardner, F. (2020). Individual participant data meta-analysis: Impact of conduct
problem severity, comorbid attention-deficit/hyperactivity disorder and
emotional problems, and maternal depression on parenting program effects.
Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry, 59(8), 933-
943. https://doi.org/10.1016/j.jaac.2020.01.023
Li, M., Lan, R., Ma, P., & Gong, H. (2023). The effect of positive parenting on adolescent
life satisfaction: The mediating role of parent-adolescent attachment. Frontiers in
Psychology, 14, 1183546. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2023.1183546
Liputan Kudus. (2026, 22 Februari). Polsek Dawe amankan remaja pesta miras dan
gagalkan perang air di Kudus. https://www.liputankudus.id/2026/02/polsek-
dawe-amankan-remaja-pesta-miras.html
Livingstone, S., Ólafsson, K., Helsper, E. J., Lupiáñez-Villanueva, F., Veltri, G. A., &
Folkvord, F. (2017). Maximizing opportunities and minimizing risks for children
online: The role of digital skills in emerging strategies of parental mediation.
Journal of Communication, 67(1), 82-105. https://doi.org/10.1111/jcom.12277
Nagy, B., Kutrovátz, K., Király, G., & Rakovics, M. (2023). Parental mediation in the
age of mobile technology. Children & Society, 37(2), 424-451.
https://doi.org/10.1111/chso.12599
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 129-141
E-ISSN: 3047-2474 (online) 140
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Palacios, I., Garcia, O. F., Alcaide, M., & Garcia, F. (2022). Positive parenting style and
positive health beyond the authoritative: Self, universalism values, and
protection against emotional vulnerability from Spanish adolescents and adult
children. Frontiers in Psychology, 13, 1066282.
https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.1066282
Pastorelli, C., Zuffianò, A., Lansford, J. E., Thartori, E., Bornstein, M. H., Chang, L.,
Deater-Deckard, K., Di Giunta, L., Dodge, K. A., Gurdal, S., Liu, Q., Long, Q.,
Oburu, P., Skinner, A. T., Sorbring, E., Steinberg, L., Tapanya, S., Uribe Tirado, L.
M., Yotanyamaneewong, S., ... Bacchini, D. (2021). Positive youth development:
Parental warmth, values, and prosocial behavior in 11 cultural groups. Journal of
Youth Development, 16(2-3), 379-401. https://doi.org/10.5195/jyd.2021.1026
Prinz, R. J., Metzler, C. W., Sanders, M. R., Rusby, J. C., & Cai, C. (2022). Online-
delivered parenting intervention for young children with disruptive behavior
problems: A noninferiority trial focused on child and parent outcomes. Journal
of Child Psychology and Psychiatry, 63(2), 199-209.
https://doi.org/10.1111/jcpp.13426
Runze, J., van IJzendoorn, M. H., Vrijhof, C. I., & Bakermans-Kranenburg, M. J. (2022).
Replicating a randomized trial with video-feedback to promote positive
parenting in parents of school-aged twins. Journal of Family Psychology, 36(4),
490-501. https://doi.org/10.1037/fam0000961
Sanders, M. R. (2008). Triple P-Positive Parenting Program as a public health approach
to strengthening parenting. Journal of Family Psychology, 22(3), 506-517.
https://doi.org/10.1037/0893-3200.22.3.506
Seay, A., Freysteinson, W. M., & McFarlane, J. (2014). Positive parenting. Nursing
Forum, 49(3), 200-208. https://doi.org/10.1111/nuf.12093
Steinfeld, N. (2021). Parental mediation of adolescent Internet use: Combining
strategies to promote awareness, autonomy and self-regulation in preparing
youth for life on the web. Education and Information Technologies, 26(2), 1897-
1920. https://doi.org/10.1007/s10639-020-10342-w
van IJzendoorn, M. H., Schuengel, C., Wang, Q., & Bakermans-Kranenburg, M. J.
(2023). Improving parenting, child attachment, and externalizing behaviors:
Meta-analysis of the first 25 randomized controlled trials on the effects of Video-
feedback Intervention to promote Positive Parenting and Sensitive Discipline.
Development and Psychopathology, 35(1), 241-256.
https://doi.org/10.1017/S0954579421001462
Wang, B., & Chen, J. (2022). Parental intervention strategies and operating mechanism
on adolescent social media use - The concept of literacy improvement based on
interaction. Frontiers in Psychology, 13, 1043850.
https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.1043850
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 129-141
E-ISSN: 3047-2474 (online) 141
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Zaman, B., Nouwen, M., Vanattenhoven, J., de Ferrerre, E., & Van Looy, J. (2016). A
qualitative inquiry into the contextualized parental mediation practices of young
children's digital media use at home. Journal of Broadcasting & Electronic Media,
60(1), 1-22. https://doi.org/10.1080/08838151.2015.1127240
Zietz, S., Cheng, E., Lansford, J. E., Deater-Deckard, K., Di Giunta, L., Dodge, K. A.,
Gurdal, S., Liu, Q., Long, Q., Oburu, P., Pastorelli, C., Skinner, A. T., Sorbring, E.,
Steinberg, L., Tapanya, S., Uribe Tirado, L. M., Yotanyamaneewong, S., Alampay,
L. P., Al-Hassan, S. M., ... Bornstein, M. H. (2022). Positive parenting, adolescent
adjustment, and quality of adolescent diet in nine countries. Journal of
Adolescence, 94(8), 1130-1141. https://doi.org/10.1002/jad.12089