Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 214-224
E-ISSN: 3047-2474
Naskah dikirim: 24/06/2026–Selesai revisi: 13/07/2026–Disetujui: 26/07/2026–Diterbitkan: 31/08/2026
214
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA International License.
Pemanfaatan Lahan Sempit Menjadi Kebun Edukatif untuk Literasi
Lingkungan di SD Muhammadiyah Abepura
Anita Apriani
1
*, Midah Nurhidayah
2
, Pusmiati
3
, Wahyu Kumala Sari
4
, Enter
Yumahe
5
, Adhe Fawzah Hasanah
6
, Darlin Novallya Tabuni
7
, Jeni Asso
8
1,2,3,5,6,7,8
Universitas Muhammadiyah Papua, Kota Jayapura, Indonesia
4
Universitas Cenderawasih, Kota Jayapura, Indonesia
e-mail:
1*
anitajpr.56@gmail.com,
2
midahnurhidayahpsil@gmail.com,
3
pusmiati@gmail.com,
4
kumalasariwahyu3@gmail.com,
Abstrak
Keterbatasan lahan pada area sekolah merupakan salah satu rintangan yang
dihadapi oleh sekolah pada proses pengembangan pembelajaran berbasis
lingkungan, terutama dalam mengoptimalkan literasi lingkungan siswa sekolah
dasar. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukaan bertujuan untuk
meningkatkan pemanfaatan lahan yang sempit menjadi kebun edukatif sebagai
wadah dalam pembelajaran kontekstual di SD Muhammadiyah Abepura, Kota
Jayapura. Metode pelaksanaan adalah dengan menggunakan pendekatan partisipatif
melalui tiga tahapan utama, yakni tahapan sosialisasi, tahapan praktik menanam,
dan tahapan pemantauan berkelanjutan. Kegiatan diikuti oleh siswa kelas lima
dengan jumlah sebanyak 71 orang. Pada hasil kegiatan, siswa menunjukkan
peningkatan literasi lingkungan yang ditandai dengan wawasan perlunya menjaga
lingkungan, peningkatan keterampilan dalam praktik menanam, dan terbentuknya
sikap tanggung jawab serta kerja sama antar siswa. Pemanfaatan lahan yang
sebelumnya tidak dimaksimalkan dalam pemanfaatannya berubah menjadi kebun
edukatif yang memiliki nilai dan produktif. Selain itu, kegiatan ini juga terbukti
dapat meningkatkan peranan aktif siswa dalam proses pembelajaran berbasis
praktik. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah pemanfaatan lahan sempit menjadi
kebun edukatif menjadi strategi yang efektif dalam mengembangkan literasi
lingkungan siswa sekolah dasar melalui metode pembelajaran partisipatif dan
berbasis pengalaman nyata. Program ini juga mampu memberikan kontribusi
terhadap keberhasilan dari tujuan pembangunan yang berkelanjutan, terutama pada
aspek pendidikan bermutu dan kesadaran lingkungan.
Kata Kunci: literasi lingkungan; kebun edukatif; lahan sempit; sekolah dasar;
pembelajaran berbasis praktik
Abstract
Limited land in the school area is one of the obstacles faced by schools in the process of
developing environment-based learning, especially in optimizing the environmental literacy
of elementary school students. The community service activities carried out aim to increase
the use of narrow land into educational gardens as a forum for contextual learning at SD
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 214-224
E-ISSN: 3047-2474 (online) 215
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Muhammadiyah Abepura, Jayapura City. The implementation method is to use a
participatory approach through three main stages, namely the socialization stage, the planting
practice stage, and the continuous monitoring stage. The activity was attended by 51 fifth
grade students. In the results of the activity, students showed an increase in environmental
literacy which was characterized by insight into the need to protect the environment,
improved skills in planting practices, and the formation of an attitude of responsibility and
cooperation between students. Land use that was previously not maximized in its use turned
into an educational garden that has value and is productive. In addition, this activity has also
been proven to increase the active role of students in the practice-based learning process. The
conclusion of this activity is that the use of narrow land into educational gardens is an
effective strategy in developing environmental literacy of elementary school students through
participatory and real-experience learning methods. This program is also able to contribute to
the success of sustainable development goals, especially in the aspects of quality education and
environmental awareness.
Keywords: environmental literacy; educational gardens; narrow land; primary school;
practice-based learning
Pendahuluan
Perkembangan Kota Jayapura yang semakin pesat membawa dampak pada
berkurangnya ruang terbuka hijau termasuk di lingkungan sekolah. Sekolah Dasar
(SD) Muhammadiyah Kota Jayapura menghadapi tantangan keterbatasan lahan
yang membuat peserta didik kurang memiliki akses terhadap ruang belajar berbasis
alam. Sementara itu, ruang terbuka hijau berperan penting dalam mendukung
pembelajaran kontekstual, terutama yang berkaitan dengan literasi lingkungan.
Dengan kondisi tersebut, muncul kebutuhan untuk memanfaatkan lahan sempit
secara kreatif agar tetap mampu menyediakan sarana edukasi yang relevan. Inovasi
ini diharapkan dapat menjawab tantangan keterbatasan ruang sekaligus
memperkaya pengalaman belajar peserta didik.
Literasi lingkungan merupakan kemampuan memahami, mengkritisi, dan
bertindak bijak terhadap isu-isu lingkungan. Hal ini sejalan dengan pernyataan dari
(Rahmat et al., 2025) yang menyatakan bahwa kesadaran lingkungan harus
ditamankan sejak usia sekolah dasar untuk menghadapi tantangan perubahan iklim
dan degradasi lingkungan. Berdasarkan hal tersebut maka peserta didik perlu
dikenalkan dengan konsep menjaga kebersihan, mengelola sampah, serta memahami
ekosistem sederhana di sekitar mereka. Taman edukasi berbasis literasi lingkungan
dapat menjadi media pembelajaran yang menyenangkan sekaligus bermakna.
Dengan adanya ruang terbuka, peserta didik tidak hanya menerima teori di kelas,
tetapi juga berkesempatan berinteraksi langsung dengan alam. Hal ini akan
menumbuhkan kesadaran ekologis dan membentuk karakter peduli lingkungan
sejak usia dini.
Meskipun lahan yang tersedia sempit, taman edukasi tetap dapat diwujudkan
dengan desain sederhana namun fungsional. Konsep seperti kebun vertical, pot
gantung, dan sudut baca bertema lingkungan dapat diterapkan untuk
memaksimalkan ruang. Menurut Indrawan et al (Indrawan et al., 2022) penanaman
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 214-224
E-ISSN: 3047-2474 (online) 216
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
tanaman lokal yang mudah dirawat juga menjadi pilihan tepat agar peserta didik
dapat belajar mengenal flora khas daerah. Selain itu, taman dapat dilengkapi dengan
papan informasi interaktif yang menjelaskan siklus alam, daur ulang, dan
pentingnya menjaga kebersihan. Dengan pendekatan ini, taman tidak hanya
berfungsi sebagai ruang hijau, tetapi juga sebagai laboratorium mini yang
mendukung pembelajaran aktif dan kontekstual (Miterianifa & Mawarni, 2024).
Untuk mendukung keberhaasilan implementasi taman edukasi, diperlukan
keterlibatan aktif dari berbagai pihak, baik guru, peserta didik, maupun Masyarakat
sekitar. Guru berperan dalam merancang kegiatan pembelajaran yang relevan denga
tema lingkungan, sementara peserta didik dilibatkan secara langsung dalam
perawatan taman agar terbentuk rasa tanggung jawab terhadap alam. Di sisi lain,
Masyarakat dan orang tua dapat memberikan dukungan melalui penyediaan
tanaman lokal maupun berbagi pengetahuan tradisional tentang pengelolaan
lingkungan. Sinergi ini tidak hanya memperkuat fungsi taman sebagai sarana
belajar, tetapi juga menjadikannya pusat kolaborasi yang menumbuhkan kesadaran
ekologis secara berkelanjutan.
Berdasarkan latar belakang tersebut, pengembangan taman edukasi di SD
Muhammadiyah Kota Jayapura merupakan Langkah strategis dalam
mengintegrasikan literasi lingkungan ke dalam proses pembelajaran. Meskipun
keterbatasan lahan menjadi tantangan, kreativitas serta komitmen seluruh pihak
dapat mewujudkan ruang belajar inspiratif, ramah lingkungan, dan mendukung
pembentukan generasi yang peduli terhadap alam. Inisiatif ini sekaligus
menunjukkan bahwa keterbatasan dapat ditransformasikan menjadi peluang untuk
menciptakan inovasi Pendidikan yang berkelanjutan. Taman edukasi tidak hanya
berfungsi sebagai solusi praktis, melainkan juga menjadi symbol komitmen sekolah
dalam menanamkan nilai-nilai keberlanjutan. Dengan demikian, peserta didik
diharapkan tumbuh sebagai individu yang lebih sadar, peduli, serta
bertanggungjawab terhadap kelestarian lingkungan.
Metode
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dilaksanakan menggunakan
pendekatan partisipatif dengan melibatkan pihak sekolah dan siswa secara aktif
dalam setiap tahapan kegiatan. Metode ini bertujuan untuk mengintegrasikan aspek
edukasi dan praktik guna meningkatkan pemahaman serta kesadaran lingkungan
siswa (Saputra et al., 2025). Pelaksanaan kegiatan diawali dengan tahap koordinasi
bersama pihak sekolah yang melibatkan kepala sekolah dan guru terkait. Pada tahap
ini dilakukan identifikasi kondisi awal lingkungan sekolah, khususnya pemanfaatan
lahan sempit yang belum optimal, serta penentuan lokasi kegiatan. Selain itu,
disusun rencana pelaksanaan kegiatan dan dilakukan persiapan alat dan bahan yang
dibutuhkan (Krisnaningsih, 2019).
Tahap berikutnya adalah sosialisasi yang dilaksanakan kepada siswa melalui
metode ceramah interaktif dan diskusi. Materi yang disampaikan meliputi
pentingnya menjaga lingkungan, konsep literasi lingkungan, serta pemanfaatan
lahan sempit sebagai media edukasi. Siswa juga diperkenalkan pada jenis-jenis
tanaman sayuran yang mudah dibudidayakan menggunakan media polybag.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 214-224
E-ISSN: 3047-2474 (online) 217
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman awal sekaligus
meningkatkan motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan (Nurhidayah et al., 2024).
Selanjutnya, dilakukan tahap pelaksanaan kegiatan berupa praktik penanaman bibit
sayuran. Kegiatan ini melibatkan siswa secara langsung mulai dari proses persiapan
media tanam, penanaman bibit ke dalam polybag, hingga penataan tanaman di area
yang telah ditentukan. Pendekatan praktik langsung ini diharapkan dapat
memberikan pengalaman belajar yang kontekstual dan bermakna bagi siswa.
Tahap pemeliharaan dilakukan setelah proses penanaman dengan melibatkan
siswa secara berkelanjutan. Kegiatan pemeliharaan meliputi penyiraman tanaman
secara rutin, serta pembersihan gulma. Untuk mendukung keberlanjutan program,
dilakukan pembagian jadwal piket kepada siswa sehingga tercipta rasa tanggung
jawab terhadap tanaman yang dikelola (Nurhidayah et al., 2025). Selanjutnya,
dilakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pertumbuhan tanaman serta
partisipasi siswa selama kegiatan berlangsung. Pemantauan dilakukan secara
berkala untuk mengidentifikasi perkembangan tanaman dan kendala yang dihadapi
(Apriani et al., 2023). Hasil evaluasi digunakan sebagai dasar perbaikan dalam
pelaksanaan kegiatan selanjutnya. Tahap akhir kegiatan adalah panen hasil tanaman
yang dilakukan bersama siswa. Kegiatan ini tidak hanya menjadi indikator
keberhasilan program, tetapi juga sebagai media pembelajaran lanjutan dalam
memahami manfaat pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.
Hasil dan Pembahasan
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) yang berkaitan dengan
edukasi pemanfaatan lahan sempit ini dilaksanakan pada SD Muhammadiyah
Abepura yang berlokasi tepat pada Jalan Sarmi Nomor 3, Kota Baru, Distrik
Abepura, Kota Jayapura, Provinsi Papua. Sasaran peserta kegiatan ini adalah murid-
murid kelas V (lima) sekolah dasar di SD Muhammadiyah Abepura dengan total
siswa sebanyak 71 orang. Pada pengamatan awal yang dilakukan, menunjukkan
bahwa pemahaman yang dimiliki oleh murid-murid SD Muhammadiyah Abepura
terkait dengan pemanfaatan lahan sempit menjadi kebun edukatif masih tergolong
rendah. Hal ini kerap kali menjadi salah satu permasalahan yang sering ditemui
dalam pendidikan lingkungan sekolah. Siswa cenderung memandang lahan kosong
yang berada pada lingkungan sekolah maupun yang ada dirumah hanya suatu area
kosong yang tidak memiliki nilai guna dan tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.
Padahal, lahan sempit memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi sebuah
kebun edukatif sekaligus menjadi media pembelajaran yang kontekstual (Indrawan
et al., 2022) Melalui pembelajaran memanfaatkan lahan sempit, siswa dapat belajar
secara langsung mengenai seperti apa proses menanam, kemudian merawat
tanaman, serta menyadari pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan. Oleh
sebab itu, diperlukan pembelajaran edukatif yang sistematis dan berbasis praktik
agar dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna (Ayomi, 2024).
Kegiatan PKM dilaksanakan melalui beberapa tahapan utama selama periode
waktu dari bulan Januari hingga Mei 2026. Tahapan pertama yakni sosialisasi, yang
bertujuan untuk mengenalkan siswa mengenai pentingnya pemanfaatan lahan
sempit menjadi kebun edukatif. Kemudian tahapan kedua, yaitu melakukan praktik
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 214-224
E-ISSN: 3047-2474 (online) 218
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
menanam, siswa terjun langsung ke lapangan guna melaksanakan proses menaman
hingga perawatannya, dan tahapan terakhir yaitu pemantauan lanjutan dari praktik
yang telah diselesaikan. Setiap tahapan mampu memberikan peran yang saling
berkelanjutan dalam meningkatkan pengetahuan siswa pada konteks lingkungan,
baik dari segi pengetahuan, kompetensi dan karakter.
Tahapan Pelaksanaan Sosialisasi
Pada tahapan awal kegiatan program pengabdian ini dilaksanakan pada hari
Jumat, 06 Februari 2026 dengan agenda sosialisasi atau pembekalan mengenai
pentingnya literasi lingkungan dan pemberdayaan lahan sempit menjadi sebuah
kebun edukatif. Materi disampaikan oleh tim PKM yang terdiri dari para dosen dan
mahasiswa yang terlibat. Pada tahap ini, para siswa diberikan pengetahuan dasar
yang berkaitan dengan konsep lingkungan, peran manusia dalam menjaga
kelestarian lingkungan, dan keberlanjutan dari kepedulian terhadap lingkungan itu
sendiri. Serta persiapan yang perlu dilakukan oleh para siswa untuk agenda
pelaksanaan praktik menanam pada pertemuan berikutnya. Materi yang
disampaikan dilakukan secara interaktif melalui diskusi dan tanya jawab antara tim
PKM dan para siswa, serta pemberian contoh-contoh yang nyata dengan kehidupan
sehari-hari para siswa. Hasil sosialisasi menunjukkan bahwa adanya peningkatan
pemahaman dasar para siswa mengenai pentingnya peduli dan menjaga lingkungan.
Siswa menyadari lingkungan yang ada disekitaran mereka baik di sekolah maupun
di rumah dapat dimanfaatkan secara produktif, bukan hanya tujuan penghijauan
melainkan dapat diberdayakan sebagai sumber pangan sederhana. Penemuan ini
searah dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa aktivitas edukasi
lingkungan yang dikelola secara kontekstual dapat meningkatkan pemahaman
lingkungan siswa secara signifikan (Ambasari & Wibowo, 2026). Selain itu,
pendidikan lingkungan terpadu yang diberikan kepada siswa sejak dini terbukti
efektif dalam membentuk sikap dan pengetahuan siswa terkait kepedulian terhadap
lingkungan (Saputra et al., 2025). Sehingga demikian, tahap sosialisasi ini menjadi
landasan penting dalam membangun pemahaman awal sebelum siswa bergerak ke
tahap berikutnya yaitu kegiatan praktik menanam.
Gambar 1. Tahapan Sosialisasi
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 214-224
E-ISSN: 3047-2474 (online) 219
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Tahapan Pelaksanaan Praktik Menanam
Tahap selanjutnya yang dilaksanakan pada hari Jumat, 13 Februari 2026 adalah
para siswa melaksanakan praktik menanam secara langsung. Kegiatan ini terdiri dari
mempersiapkan media tanam (polybag/botol, tanah, bibit, pupuk), penanaman
bibit, serta memperkenalkan metode merawat tanaman secara sederhana. Para siswa
dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok berdasarkan jenis bibitnya guna untuk
meningkatkan kerja sama dan berperan aktif dalam kegiatan. Bibit yang digunakan
pada program pengadian ini adalah sawi, bayam merah dan kangkung. Proses
penananam dimulai dengan para dosen, mahasiswa dan para siswa menyiapkan
beberapa media tanam, seperti polybag dan tanah yang telah dicampurkan pupuk
kotoran kambing. Setelah tanah dimasukkan ke dalam polybag, kemudian diberikan
bibit yang disesuaikan dengan kelompoknya. Setiap kelompok selanjutnya
menyiram tanaman yang telah diberi bibit sebagai langkah awal dari proses merawat
tanaman. Terakhir, untuk meningkatkan rasa tanggung jawab dan hak kepemilikan,
setiap tanaman oleh siswa diberikan label nama sesuai dengan bibit kelompoknya.
Pada hasil kegiatan menunjukkan bahwa para siswa sangat antusias saat
mengikuti dan menyelesaikan praktik menanam. Mereka tidak hanya mendapatkan
pengalaman baru, melainkan juga mampu menumbuhkan keterampilan dalam
bercocok tanam. Selain itu, siswa dapat menunjukkan rasa tanggung jawab terhadap
tanaman yang mereka tanam masing-masing dengan berkomitmen untuk merawat
hingga tanaman itu tumbuh dengan baik.
Kegiatan praktik ini terbukti nyata efektif dalam meningkatkan keterlibatan
dan keterampilan para siswa, dan ini searah dengan penelitian yang menunjukkan
bahwa proses pembelajaran berbasis praktik seperti berkebun mampu
menumbuhkan tanggung jawab, kreativitas, dan rasa antusias belajar siswa (Abidin
et al., 2025). Strategi ini juga dapat meningkatkan konsep experiental learning, di mana
para siswa belajar melalui pengalaman langsung (Bakar, 2020). Selain itu,
pemanfaatan lahan sempit sebagai kebun edukatif juga mampu memberikan
dampak ekologis dan edukatif yang bermanfaat. Lahan sempit yang sebelumnya
tidak digunakan dan tidak dimanfaatkan dapat diubah menjadi ruang hijau yang
bernilai guna mendukung proses pembelajaran kontekstual (Syakur et al., 2026).
Gambar 2. Tahapan pelaksanaan proses penanaman
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 214-224
E-ISSN: 3047-2474 (online) 220
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Tahapan Pemantauan Lanjutan
Tahap terakhir pada kegiatan PKM ini adalah dilakukannya pemantauan
lanjutan guna memastikan perkembangan program PKM. Kegiatan pemantauan
dilakukan selama periode masa tanaman dimulai dari februari hingga maret. Pada
tahapan ini, para siswa di dampingi secara berkelanjutan dalam merawat tanaman
yang dilakukan secara rutin, seperti menyiram, memastikan area kebun selalu
bersih, serta memantau pertumbuhan dari tanaman yang menjadi tanggung jawab
siswa (Setyowati et al., 2024). Hasil pemantauan memperlihatkan perkembangan
perilaku siswa yang menjadi lebih peduli terhadap lingkungan, menjadi karakter
yang lebih teratur dan konsisten dalam merawat tanaman, serta memiliki rasa
tanggung jawab dan memiliki terhadap tanaman yang telah ditanam. Selain itu,
program ini juga mampu meningkatkan sikap kerja sama antar siswa dalam
memberdayakan kebun secara berkelanjutan (Kusnilawati et al., 2022). Metode
dengan pemantauan berkelanjutan ini sesuai dengan sistem partisipatif yang
menekankan pentingnya keaktifan peserta yang terlibat dalam seluruh rangkaian
kegiatan. Pendekatan seperti Participatory Action Research dapat mengembangkan
kesadaran lingkungan dari siswa serta membentuk kemandirian siswa secara
kontinu (Abidin et al., 2025). Selanjutnya, membentuk kebiasaan melalui kegiatan
teratur seperti merawat kebun terbukti menjadi cara yang tepat dalam membentuk
tabiat ekologis siswa, seperti yang dikemukakan pada penelitian mengenai
implementasi pendidikan lingkungan pada sekolah dasar (Hartanti et al., 2025).
Gambar 3. Tahapan Lanjutan Pemantauan
Tabel 1. Hasil Kegiatan
Aspek yang Dinilai
Kondisi Awal
Hasil Setelah Kegiatan
Literasi lingkungan
Rendah, siswa belum
memahami konsep
menjaga lingkungan
Meningkat, siswa memahami
penting peduli dan menjaga
lingkungan)
Keterampilan
Kurangnya
pemahaman bercocok
tanam
Meningkat, siswa mampu
menanam dan merawat tanaman
Pemanfaatan lahan
Lahan kurang
Menjadi kebun edukatif yang
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 214-224
E-ISSN: 3047-2474 (online) 221
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
dimanfaatkan
produktif
Karakter siswa
Kurang disiplin dan
kurang bertanggung
jawab terhadap
lingkungan
Meningkat, siswa mampu kerja
sama dan peduli terhadap
lingkungan
Keterlibatan siswa
Pasif dalam
pembelajaran
Aktif dalam seluruh proses
kegiatan
Berdasarkan tabel hasil kegiatan diatas, terlihat bahwa program pengabdian
kepada masyarakat dengan tema pemanfaatan lahan sempit menjadi kebun edukatif
yang dilaksanakan selama periode bulan Maret hingga April pada SD
Muhammadiyah Abepura mampu memberikan pengaruh yang relevan terhadap
peningkatan literasi lingkungan siswa. Pada aspek pengetahuan, diperoleh
perubahan yang meningkat dari sebelumnya yang terbilang masih rendah.
Perubahan ini ditandai dengan kemampuan siswa dalam menguasai konsep dasar
lingkungan dan memberdayakan lahan secara produktif. Hal ini searah dengan
(Ayomi, 2024), yang mengemukakan bahwa kegiatan belajar berbasis praktik seperti
menanam dapat mengembangkan literasi lingkungan siswa baik dari segi
pengetahuan, sikap serta perilaku.
Pada aspek keterampilan, siswa yang sebelumnya belum atau kurang memiliki
pemahaman dan pengalaman dalam menanam kini dapat melakukannya dengan
terlihat dari kemampuan dalam menanam dan merawat tanaman. Seperti
pemaparan diatas, kegiatan berbasis praktik dapat memberikan pengalaman yang
nyata dan memperkuat pemahaman siswa, serta metode experiential learning terbukti
efektif dalam pembelajaran lingkungan (Mawardi et al., 2023). Selanjutnya, lahan
yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal kini dapat menjadi kebun
edukatif yang produktif serta menunjukkan perubahan area lingkungan fisik
sekolah. Perubahan ini bukan hanya memberikan keindahan pemandangan,
melainkan juga menjadi media pembelajaran kontekstual yang sesuai dengan
kehidupan siswa (Pusmiati et al., 2025). Lahan sempit yang dimanfaatkan secara
optimal menjadi ruang hijau yang menguntungkan dan memiliki nilai edukatif
(Ambasari & Wibowo, 2026).
Dari aspek karakter, adanya peningkatan dari sikap kerja sama, tanggung
jawab, serta kesadaran peduli lingkungan. Perihal ini dapat dilihat dari keaktifan
siswa yang terlibat dalam merawat dan menjaga tanaman. Kebiasaan yang dibentuk
dari kegiatan rutin terbukti tepat dalam menciptakan perilaku ekologis siswa sejak
dini (Yulianti & Kusumaningrum, 2021). Secara teoritis, jika dikaitkan dengan SDGs
(Sustainable Development Goals), kegiatan pengabdian ini berkontribusi pada tujuan
SDGs poin ke 4 (Quality Education) yaitu pembelajaran berbasis praktik yang mampu
mengembangkan pendidikan yang berkualitas dan meningkatkan literasi
lingkungan siswa (Rasaili et al., 2021). Maka demikian, kegiatan ini tidak hanya
mendeskripsikan keberhasilan program dari segi pendidika, melainkan juga
menggambarkan kontribusi nyata atas tercapainya tujuan pembangunan
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 214-224
E-ISSN: 3047-2474 (online) 222
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
berkelanjutan. Program ini dapat menjadi acuan penerapan pendidikan lingkungan
yang terpadu, dapat diimplementasikan, dan berkelanjutan di tingkat sekolah dasar.
Simpulan dan Rekomendasi
Program pengabdian kepada masyarakat (PKM) yang dilaksanakan melalui
pemanfaatan lahan sempit menjadi kebun edukatif pada SD Muhammadiyah
Abepura Kota Jayapura Papua, telah teruji mampu meningkatkan literasi lingkungan
siswa sekolah dasar. Penyelesaian kegiatan yang dilaksanakan terdiri dari beberapa
tahapan yakni tahapan sosialisasi, proses praktik menanam, serta pemantauan
lanjutan. Kegiatan ini dinilai memberikan pengaruh yang relevan terhadap
peningkatan pengetahuan, keterampilan, serta pembentukan karakter siswa dalam
memelihara lingkungan. Pada tahapan sosialisasi, siswa mendapatkan pengetahuan
dasar mengenai pentingnya literasi lingkungan dan optimalisasi lahan kosong secara
produktif. Selanjutnya, pada tahapan praktik menanam, siswa tidak hanya
memperoleh pengalaman secara langsung dalam proses bercocok tanam, melainkan
juga mampu menunjukkan keterampilan yang berkembang serta rasa tanggung
jawab terhadap tanaman yang dikelola. Dan terakhir pada tahapan pemantauan
lanjutan memperkuat kebiasaan siswa siswa untuk peduli pada lingkungan melalui
tindakan merawat tanaman yang direalisasikan secara teratur dan berkelanjutan.
Selain itu, lahan sempit yang sebelumnya kurang optimal dimanfaatkan kini
berhasil dimodifikasi menjadi kebun edukatif yang efektif dan memiliki nilai guna.
Transformasi ini tidak hanya memberikan dampak ekologis, melainkan juga dapat
menjadi media pembelajaran kontekstual guna mendukung kegiatan pembelajaran
pada lingkungan sekolah. Dari segi karakter, siswa memperlihatkan perkembangan
dalam hal kerja sama, kepatuhan, dan tumbuh rasa peduli terhadap lingkungan.
Secara keseluruhan, program pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa
proses pembelajaran dengan pendekatan mendidik berbasis praktik dan kolaboratif
dapat memberikan pengalaman belajar yang bermanfaat serta mendukung dalam
membentuk pemahaman ekologis siswa SD Muhammadiyah Abepura sejak dini.
Kegiatan ini juga dinilai relevan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs),
terkhusus pada kategori pendidikan yang berkualitas dan pemhaman lingkungan.
Oleh karenanya, program pengabdian kepada masyarakat ini mempunyai peluang
untuk dikembangkan dan dilaksanakan pada area sokolah lain, terutama lingkungan
sekolah yang lahannya terbatas.
Penghargaan
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah
melalui Program Hibah RisetMu Gelombang IX Tahun 2025 atas kesempatan,
kepercayaan dan dukungan pendanaan yang telah diberikan, sehingga kegiatan
pengabdian kepada masyarakat ini dapat terlaksana secara optimal dan memberikan
dampak nyata dalam peningkatan literasi lingkungan mahasiswa.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 214-224
E-ISSN: 3047-2474 (online) 223
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Daftar Pustaka
Abidin, A. A., Sulaiman, M., Prasetiyo, N. T., Sariyani, Amri, M. F., Syafi’i, I.,
Puryanto, S., Yani, A., & Firmansyah, J. (2025). BERBASIS KEBUN MINI
HIDROPONIK SEBAGAI UPAYA. BHAKTI: Jurnal Pengabdian Dan
Pemberdayaan Masyarakat, 4(02), 521–531.
Ambasari, B. T., & Wibowo, G. A. (2026). Sekolah Hijau , Anak Cerdas : Gerakan
Menanam Sayuran untuk Membangun Literasi Lingkungan Siswa SD. Jurnal
Pengabdian Masyarakat Dan Riset Pendidikan, 4(3), 17634–17638.
Apriani, A., Gani, Z. B., Rery, S., & Diana, Y. (2023). The Dissemination of Development
of Economic Potential in the Perspective of Community Empowerment-Based
Entrepreneurship in Mosso Village the Papua-PNG Border. 01(04), 175–182.
https://doi.org/10.37253/madani.v1i4.7728
Ayomi, G. R. S. (2024). Indonesian Research Journal on Education. Indonesian Research
Journal on Education, 4, 372–378.
Bakar, A. (2020). Keluarga sebagai pondasi lingkungan pendidikan. Equalita, 2(2).
Hartanti, D. A. S., Satiti, W. S., Agustina, U. W., Prihatiningtyas, S., Putra, I. A.,
Pramusari, D. A., Hidayah, L., & Assyukri, M. A. (2025). Pendampingan
Pembuatan Mini Gardening dalam Upaya Meningkatkan Kreativitas Siswa.
Pendidikan: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 6(3).
Indrawan, I. P. O., Lepiyanto, A., Juniari, N. W. M., Intaran, I. N., & Sri, A. A. I. R.
(2022). Penumbuhan Literasi Lingkungan di Sekolah Dasar. Jurnal Ilmiah
Pendidikan Profesi Guru, 5, 21–31.
Krisnaningsih, E. (2019). Peningkatan Produktivitas Masyarakat Melalui Teknologi
Tepat Guna Bagi Peningkatan Ekonomi Masyarakat Berdasarkan Kearifan
Budaya Lokal Di Desa Kadubereum Kecamatan Padarincang. ABDIKARYA:
Jurnal Pengabdian Dan Pemberdayaan Masyarakat, 1(1), 74–82.
https://doi.org/10.47080/abdikarya.v1i1.1067
Kusnilawati, N., Kuswardani, D. C., & Nurhidayati, N. (2022). Menanamkan Jiwa
Wirausaha Di Kelurahan Purwoyoso Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang.
Tematik, 2(2), 99–117. https://doi.org/10.26623/tmt.v2i2.5405
Mawardi, P., Veriansyah, I., & Nurhakim, I. (2023). Pengembangan Modul Literasi
Lingkungan melalui Program Sekolah di Sekolah Dasar. Jurnal Obsesi: Jurnal
Pendidikan Anak Usia Dini, 7(6), 6609–6619.
https://doi.org/10.31004/obsesi.v7i6.5351
Miterianifa, & Mawarni, M. F. (2024). Penerapan Model Pembelajaran Literasi
Lingkungan dalam Meningkatkan Pengetahuan dan Kesadaran Lingkungan.
Jurnal Sains Dan Edukasi Sains, 7(1), 68–73. https://doi.org/10.24246
Nurhidayah, M., Kelana, A. H., Masawoy, S., & Listianingrum, F. (2024). Pengelolaan
Sampah Sayuran Menjadi Pupuk Kompos di SMA Muhammadiyah Kota
Jayapura. -Abdi: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(7), 1125–1134.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 214-224
E-ISSN: 3047-2474 (online) 224
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Nurhidayah, M., Kelana, A. H., Masawoy, S., & Listianingrum, F. (2025). Gerakan
Menanam Pohon untuk Mengatasi Penurunan Debit Air di Kali Kampwolker
Kota Jayapura. J-Abdi: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(8), 1233–1244.
Pusmiati, Nurhidayah, M., Mubarak, T., Diana, Y., & Kelana, A. H. (2025). Hubungan
Tingkat Pengetahuan dengan Perilaku Pengelolaan Sampah di Kampung
Yaturaharja Arso X. SCIENCE: Jurnal Inovasi Pendidikan Dan IPA, 5(2), 493–500.
Rahmat, H. K., Niazi, H. A., & Oktaviani, R. F. (2025). Peningkatan Literasi
Lingkungan pada Siswa di Sekolah Dasar Guna Membangun Generasi Cerdas
Iklim Pendahuluan. Indonesian Journal of Emerging Trends in Community
Empowerment, 3(1), 25–32.
Rasaili, W., Dafik, D., Hidayat, R., & Prayitno, H. (2021). Analysis of the Influence of
Local Politics on Implementation SDGs 4 Policy for Quality Education. SAR
Journal, 4(4), 196–204. https://doi.org/10.18421/SAR44
Saputra, T. A., Baharudin, & Afriyadi, M. (2025). Implementasi Pendidikan
Lingkungan Di Sekolah Dasar Dalam Membangun Kesadaran Ekologis Siswa
Sejak Dini : Studi Kasus SD Alam Lampung. Muallimun: Jurnal Kajian Pendidikan
Dan Keguruan, 5, 1–21.
Setyowati, R., Edy, S., Juariah, S., & Ainulyaqin, M. H. (2024). Pengembangan
Ekonomi Kreatif UMKM Berbasis Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Alam.
Lentera Pengabdian, 2(01), 99–103. https://doi.org/10.59422/lp.v2i01.292
Syakur, A., Ilmayanti, A. R., Ramadhani, A. P., As, A., Amsis, N., Mulyani, R., &
Nadhifah, Y. (2026). Jurnal abdimas patikala. Jurnal Abdimas Patikala, 5(3), 4023–
4028.
Yulianti, V., & Kusumaningrum, D. (2021). Analisis Keterampilan Literasi
Lingkungan Siswa SD di Kecamatan Turen Tahun Pelajaran 2019/2020. Primary
Education Journal, 1(1), 10–20.