Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 253-267
E-ISSN: 3047-2474
Naskah dikirim: 25/07/2026–Selesai revisi: 9/08/2026–Disetujui: 27/08/2026–Diterbitkan: 25/09/2026
253
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA
International License.
Pemberdayaan Petani Kakao Giripurwo Melalui Teknologi Tepat
Guna Pengolahan Limbah Kulit Kakao
Reo Sambodo
1*
, Nanda Mei Istiqomah
2
, Wafit Dinarto
3
1,2,3
Program Studi Agroteknologi, Fakultas Agroindustri, Universitas Mercu Buana
Yogyakarta, Indonesia
e-mail:
1*
reosambodo@mercubuana-yogya.ac.id,
2
Nandamei@mercubuana-
yogya.ac.id,
3
wafit@mercubuana-yogya.ac.id
Abstrak
Kelompok Tani Sido Dadi di Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Girimulyo,
Kabupaten Kulon Progo menghasilkan limbah kulit kakao dalam jumlah besar yang
selama ini hanya ditumpuk di sekitar kebun, sementara usahatani masih bergantung
pada pupuk kimia dan kelompok belum memiliki produk olahan, identitas produk,
legalitas usaha, maupun sarana pemasaran. Kegiatan pengabdian ini bertujuan
meningkatkan keberdayaan kelompok tani melalui penerapan teknologi tepat guna
pengolahan limbah kulit kakao menjadi kompos, pupuk organik cair (POC), dan
bioherbisida yang bernilai ekonomi. Pendekatan yang digunakan adalah
pemberdayaan partisipatif melalui tahap penyadaran, pengkapasitasan, dan
pendayaan, yang meliputi diskusi kelompok terpumpun, pelatihan budidaya kakao
sesuai praktik pertanian yang baik, pelatihan dan praktik produksi, bantuan alat
produksi, penyusunan desain kemasan, pendampingan Nomor Induk Berusaha
(NIB), pembuatan laman pemasaran, serta pelatihan strategi pemasaran. Evaluasi
dilakukan melalui uji laboratorium mutu produk dan kuesioner level keberdayaan
berskala Likert terhadap 25 anggota kelompok. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa
mitra mampu memproduksi tiga produk berbahan limbah kulit kakao; kompos yang
dihasilkan memiliki kandungan C-organik 25,04–27,07% dan rasio C/N 14,07–16,50.
Kelompok tani telah memiliki NIB dengan KBLI 20124, desain kemasan untuk tiga
produk, dan laman biokao.id sebagai media promosi. Proporsi anggota pada kategori
berdaya dan sangat berdaya mencapai 87%, sedangkan pada kondisi awal 52%
anggota berada pada kategori belum berdaya dan kurang berdaya. Program ini
menunjukkan bahwa teknologi tepat guna berbasis limbah lokal yang dipadukan
dengan penguatan kelembagaan dan pemasaran mampu mendorong kemandirian
kelompok tani secara berkelanjutan.
Kata Kunci: bioherbisida; kompos; limbah kulit kakao; pemberdayaan kelompok tani;
teknologi tepat guna
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 253-267
E-ISSN: 3047-2474 (online) 254
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Abstract
The Sido Dadi Farmer Group in Giripurwo Village, Girimulyo District, Kulon Progo Regency
generates a large amount of cocoa pod husk waste that has merely been piled around the
plantations, while farming still relies on chemical fertilizers and the group has no processed
products, product identity, business legality, or marketing channels. This community service
program aimed to empower the farmer group through the application of appropriate technology
for processing cocoa pod husk waste into compost, liquid organic fertilizer (LOF), and
bioherbicide with economic value. A participatory empowerment approach was implemented in
three stages, namely awareness, capacity building, and empowerment, comprising focus group
discussions, training on good agricultural practices for cocoa, production training and practice,
provision of production equipment, packaging design, assistance in obtaining a Business
Identification Number (NIB), development of a marketing website, and marketing strategy
training. Evaluation was carried out through laboratory testing of product quality and a Likert-
scale empowerment questionnaire administered to 25 group members. The results show that
the partner is able to produce three products from cocoa pod husk; the compost contains 25.04–
27.07% organic carbon with a C/N ratio of 14.07–16.50. The group now holds an NIB under
the Indonesian Standard Industrial Classification code 20124, packaging designs for three
products, and the biokao.id website as a promotional medium. The proportion of members in
the empowered and highly empowered categories reached 87%, whereas initially 52% of
members were in the not yet empowered and less empowered categories. The program
demonstrates that appropriate technology based on local waste, combined with institutional
and marketing strengthening, can foster sustainable farmer group independence.
Keywords: appropriate technology; bioherbicide; cocoa pod husk waste; compost; farmer group
empowerment
Pendahuluan
Kakao merupakan komoditas perkebunan strategis yang berperan sebagai sumber
pendapatan petani, penyedia lapangan kerja, dan penyumbang devisa nonmigas.
Produk kakao Indonesia memiliki keunggulan komparatif di sejumlah negara tujuan
ekspor, sehingga peningkatan produktivitas dan mutu di tingkat petani menjadi kunci
keberlanjutan daya saingnya (Augustin et al., 2022). Pada skala petani, perbaikan
praktik budidaya melalui penyuluhan dan pendampingan terbukti mampu
meningkatkan produksi dan pendapatan rumah tangga petani kakao (Managanta &
Ridwan, 2024).
Pada tingkat lokal, kakao menjadi salah satu penopang ekonomi rumah tangga di
Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Produksi kakao di Kapanewon
Girimulyo pada tahun 2023 mencapai 281,42 ton, meningkat dibandingkan tahun 2019
sebesar 259,60 ton (Badan Pusat Statistik Kabupaten Kulon Progo, 2024). Petani kakao
di wilayah ini, termasuk anggota Kelompok Tani Sido Dadi, didominasi oleh petani
berusia 57–68 tahun (53,8%) dengan pendidikan mayoritas SMP (51,9%),
berpengalaman panjang (73,1% telah berusahatani kakao selama 23–32 tahun), dan
menguasai lahan sempit (61,5% seluas 1.000–2.000 m²). Usahatani kakao di wilayah
tersebut layak secara ekonomi dengan total penerimaan Rp14.824.615,00 dan
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 253-267
E-ISSN: 3047-2474 (online) 255
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
keuntungan Rp13.423.728,00 per musim (Resmianto et al., 2025). Karakteristik lahan
yang sempit menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan lebih realistis ditempuh
melalui intensifikasi dan efisiensi input dibandingkan perluasan lahan.
Permasalahan utama yang dihadapi mitra adalah belum dimanfaatkannya limbah
kulit kakao. Kulit buah kakao menyusun sekitar 67–76% bobot buah, dan setiap ton
biji kakao kering menghasilkan sekitar sepuluh ton kulit buah segar (Campos-Vega et
al., 2018). Limbah ini mengandung serat, lignin, dan senyawa bioaktif yang potensial
dimanfaatkan kembali (Anoraga et al., 2024), termasuk senyawa fenolik (Sartini et al.,
2017). Di Kelompok Tani Sido Dadi, kulit kakao hanya ditumpuk di sekitar kebun atau
dimanfaatkan secara terbatas sebagai pakan ternak (Gambar 1), sementara budidaya
masih mengandalkan pupuk kimia. Kondisi ini menimbulkan masalah lingkungan
sekaligus hilangnya nilai ekonomi sumber daya lokal. Berbagai kajian menunjukkan
bahwa kulit kakao dapat diolah menjadi kompos yang memenuhi standar mutu
(Haderiah et al., 2024) dan mendukung pertumbuhan bibit kakao (Hansen et al., 2017),
menjadi pupuk organik cair (Nurmayanti et al., 2025), serta menjadi bahan
bioherbisida alami (Juanda et al., 2019). Pupuk organik cair juga dapat menggantikan
sebagian pupuk kimia tanpa menurunkan hasil tanaman (Anggraeni et al., 2024),
sejalan dengan konsep pertanian berinput rendah sebagai wujud pertanian
berkelanjutan (Sambodo et al., 2025).
Gambar 1. Kondisi limbah kulit kakao di lokasi mitra: (a) limbah kulit kakao yang
ditumpuk di sekitar kebun; (b) kulit buah kakao hasil pemecahan buah
Pada aspek pemasaran, hasil olahan limbah kakao belum dikembangkan sebagai
produk bernilai ekonomi karena belum memiliki standar mutu, kemasan, identitas
produk, maupun legalitas usaha. Distribusi masih dilakukan secara individual dan
kelompok belum memiliki sarana pemasaran digital. Penguatan desain kemasan
terbukti meningkatkan daya tarik dan nilai jual produk pupuk organik kelompok tani
(Wijaya et al., 2023), legalitas usaha melalui Nomor Induk Berusaha (NIB) memperluas
akses pasar dan kepercayaan konsumen (Atmadja et al., 2025; Mulyati et al., 2025),
sedangkan pendampingan pemasaran digital meningkatkan daya saing usaha
pertanian skala mikro (Febrianti et al., 2026). Keberhasilan penguatan usaha tersebut
juga ditentukan oleh modal sosial dan kelembagaan kelompok tani (Hendrita &
Firnando, 2026) serta dukungan para pemangku kepentingan (Sambodo, 2021).
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 253-267
E-ISSN: 3047-2474 (online) 256
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Program pengabdian sejenis umumnya berfokus pada transfer teknologi pengolahan
limbah kakao (Nurmayanti et al., 2025; Yanti et al., 2025), sedangkan pemberdayaan
yang memadukan teknologi produksi, verifikasi mutu, legalitas usaha, dan
pemasaran digital dalam satu rangkaian masih jarang dilaporkan. Oleh karena itu,
kegiatan ini bertujuan meningkatkan keberdayaan Kelompok Tani Sido Dadi melalui
penerapan teknologi tepat guna pengolahan limbah kulit kakao menjadi kompos,
pupuk organik cair (POC), dan bioherbisida, disertai penguatan identitas produk,
legalitas, dan pemasaran. Kegiatan ini selaras dengan Tujuan Pembangunan
Berkelanjutan (TPB), khususnya TPB 12 tentang konsumsi dan produksi yang
bertanggung jawab, TPB 2 tentang tanpa kelaparan, dan TPB 1 tentang tanpa
kemiskinan.
Metode
Kegiatan pengabdian dilaksanakan pada tahun 2026 di Kelompok Tani Sido Dadi,
Dusun Tompak, Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon
Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, melalui skema Pemberdayaan Berbasis
Masyarakat ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Program BIMA
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Tim pelaksana terdiri atas tiga
dosen Program Studi Agroteknologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta dengan
keahlian manajemen agribisnis, budidaya tanaman, dan ilmu tanah, dibantu
mahasiswa serta narasumber eksternal dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao
Indonesia (Puslitkoka).
Kegiatan menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat partisipatif yang
dilaksanakan melalui tiga tahap berkesinambungan, yaitu penyadaran,
pengkapasitasan, dan pendayaan (Wahyuni, 2018). Pendekatan ini telah diterapkan
tim pada pemberdayaan kelompok tani lain dengan hasil yang baik (Farida et al., 2022;
Sambodo & Astriani, 2023). Alur pelaksanaan kegiatan disajikan pada Gambar 2.
Gambar 2. Alur pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 253-267
E-ISSN: 3047-2474 (online) 257
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Tahap penyadaran diawali dengan diskusi kelompok terpumpun bersama pengurus
Kelompok Tani Sido Dadi dan pemangku kepentingan di Giripurwo untuk
mengidentifikasi masalah dan potensi lokal serta menyepakati rencana kegiatan
secara partisipatif. Pada tahap ini, mahasiswa Program Studi Agroteknologi
melakukan pemetaan potensi wilayah sebagai bagian dari praktikum komunikasi
pertanian.
Tahap pengkapasitasan meliputi (1) pelatihan budidaya kakao sesuai praktik
pertanian yang baik (GAP) yang disertai praktik pemangkasan; (2) pelatihan dan
praktik pembuatan kompos, POC, dan bioherbisida berbahan limbah kulit kakao; (3)
penyerahan bantuan alat produksi; (4) penyusunan nama, label, dan desain kemasan
produk; (5) pendampingan pengurusan NIB melalui sistem Online Single Submission
(OSS); (6) pembuatan laman profil kelompok dan produk; serta (7) pelatihan strategi
pemasaran yang mencakup penentuan harga, segmentasi pasar, pemasaran berbasis
kelompok, dan pemasaran digital. Mitra berperan menyediakan bahan baku,
mengikuti pelatihan, mempraktikkan produksi, menguji aplikasi produk di lahan, dan
memberi masukan terhadap desain kemasan.
Teknologi yang diterapkan dirancang sederhana, murah, dan mudah direplikasi
(Gambar 3). Kompos dibuat dengan mencacah kulit kakao, mencampurnya dengan
kotoran ternak atau jerami sebagai penyeimbang rasio C/N serta aktivator mikroba
(EM4 atau mikroorganisme lokal/MOL), lalu mengomposkannya secara aerob
dengan pengaturan kelembapan dan pembalikan berkala selama 30–45 hari dengan
kapasitas sekitar 100 kg per siklus. POC dibuat dengan memfermentasi cacahan kulit
kakao, air, molase, dan aktivator mikroba dalam wadah tertutup selama 10–14 hari,
kemudian disaring dan dikemas dengan kapasitas sekitar 50 liter per siklus.
Bioherbisida dibuat melalui ekstraksi senyawa aktif kulit kakao dengan cara
perendaman atau fermentasi, kemudian larutan disaring dan diuji pada gulma dengan
dosis 5–10% (50–100 ml per liter air).
Gambar 3. Skema teknologi pengolahan limbah kulit kakao: (a) kompos; (b)
pupuk organik cair; (c) bioherbisida
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 253-267
E-ISSN: 3047-2474 (online) 258
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Tahap pendayaan diarahkan agar kelompok mampu berproduksi dan memasarkan
produk secara mandiri, disertai pendampingan dan evaluasi berkala. Mutu kompos
dan POC diverifikasi melalui analisis kimia di Laboratorium Kimia dan Kesuburan
Tanah, Program Studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret,
dengan parameter kadar air, pH, C-organik, N total, P, rasio C/N, dan K. Level
keberdayaan mitra diukur menggunakan kuesioner tertutup 18 butir berskala Likert
1–5 yang diisi secara retrospektif oleh 25 anggota kelompok untuk kondisi sebelum
dan sesudah program. Kisi-kisi instrumen disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Kisi-kisi instrumen level keberdayaan mitra
No
Dimensi
Indikator
Butir
Jumlah
1
Pengetahuan teknis
Pemahaman pemanfaatan limbah kulit
kakao dan budidaya kakao sesuai GAP
1–4
4
2
Keterampilan
produksi
Kemampuan mempraktikkan
pembuatan kompos, POC, dan
bioherbisida
5–8
4
3
Kemandirian
produksi
Kemampuan menggunakan alat
bantuan dan melanjutkan produksi
tanpa pendampingan intensif
9–11
3
4
Kelembagaan dan
legalitas usaha
Pemahaman NIB, standar mutu produk,
dan penguatan kelompok sebagai unit
usaha
12–14
3
5
Pemasaran
Kemampuan mengemas,
mempromosikan, menentukan harga,
dan memasarkan produk
15–18
4
Skor total setiap responden (rentang 18–90) dikategorikan menjadi lima level, yaitu
belum berdaya (18–32), kurang berdaya (33–46), cukup berdaya (47–60), berdaya (61–
74), dan sangat berdaya (75–90). Data dianalisis secara deskriptif dengan menghitung
persentase responden pada setiap kategori menggunakan persamaan berikut.
𝑃 =
𝑓
𝑛
× 100%
Keterangan: P adalah persentase responden pada kategori tertentu, f adalah jumlah
responden pada kategori tersebut, dan n adalah jumlah seluruh responden. Data
kualitatif dari observasi, dokumentasi, dan testimoni mitra digunakan untuk
memperkuat interpretasi hasil.
Hasil dan Pembahasan
Seluruh kegiatan pada aspek produksi dan pemasaran yang direncanakan telah
terlaksana. Ringkasan target luaran dan capaiannya disajikan pada Tabel 2.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 253-267
E-ISSN: 3047-2474 (online) 259
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Tabel 2. Target luaran dan capaian kegiatan
Aspek
Kegiatan
Capaian
Produksi
Pelatihan pembuatan
bioherbisida, kompos,
dan POC
Terlaksana untuk
ketiga produk
Produksi
Praktik produksi
hingga siap jual
Tiga produk telah
diproduksi
Produksi
Bantuan sarana
produksi
Alat telah
diserahterimakan
Pemasaran
Desain dan identitas
produk
Desain kemasan 3
produk selesai
Pemasaran
Pendampingan
legalitas usaha
NIB terbit 17
Agustus 2026
Pemasaran
Media pemasaran
digital
Laman biokao.id
aktif
Pemasaran
Pelatihan strategi
pemasaran
Terlaksana bagi
pemuda kelompok
tani
Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Budidaya Kakao
Pelatihan budidaya kakao sesuai GAP dilaksanakan pada 24 Mei 2026 di kediaman
ketua Kelompok Tani Sido Dadi dengan narasumber Fakhrusy Zakariyya, S.P., M.Sc.
dari Puslitkoka. Materi mencakup penggunaan bibit unggul, pemeliharaan tanaman,
pengendalian hama dan penyakit terpadu, serta penanganan panen, fermentasi, dan
pengeringan biji. Materi ditindaklanjuti dengan praktik pemangkasan di kebun
anggota, yaitu pemangkasan produksi yang menyisakan tiga cabang utama untuk
memaksimalkan pembentukan buah dan pemangkasan bentuk untuk menjaga tajuk
agar mudah dirawat dan dipanen (Gambar 4). Peserta aktif mengikuti demonstrasi
dan mencoba langsung teknik pemangkasan.
Gambar 4. Pelatihan budidaya kakao: (a) penyampaian materi GAP oleh
narasumber Puslitkoka; (b) praktik pemangkasan di kebun anggota
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 253-267
E-ISSN: 3047-2474 (online) 260
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Penguatan keterampilan pemeliharaan tanaman ini penting karena mayoritas petani
mitra berusia lanjut dan masih menerapkan budidaya konvensional. Pemangkasan
yang dipadukan dengan pemupukan, panen sering, dan sanitasi berpengaruh positif
terhadap pendapatan usahatani kakao (Hasram et al., 2023), dan pelatihan GAP yang
disertai praktik lapangan terbukti meningkatkan keberhasilan budidaya kakao rakyat
(Rahman et al., 2025). Pelatihan budidaya sekaligus menjadi pintu masuk untuk
memperkenalkan pemanfaatan limbah kulit kakao sebagai input produksi, sehingga
petani memandang pengelolaan kebun dan pengolahan limbah sebagai satu sistem
usahatani berinput rendah.
Keterampilan Produksi Olahan Limbah Kulit Kakao
Pelatihan dan praktik produksi menghasilkan keterampilan teknis baru bagi mitra
yang sebelumnya belum pernah dikuasai, mulai dari pencacahan bahan, pengaturan
rasio bahan dan aktivator, pengendalian proses pengomposan dan fermentasi, hingga
pengemasan produk jadi (Gambar 5). Anggota kelompok berperan aktif menyediakan
limbah kulit kakao, melakukan pengadukan dan pemantauan kompos,
mempraktikkan fermentasi POC, serta menguji aplikasi bioherbisida dan POC di
lahan untuk mengamati respons tanaman dan gulma.
Gambar 5. Praktik pembuatan produk: (a) pencacahan kulit kakao menggunakan
mesin pencacah; (b) penyiapan bahan oleh anggota kelompok
Keberlanjutan produksi didukung oleh bantuan paket alat produksi kompos, POC,
bioherbisida, dan pengemasan yang telah diserahterimakan kepada kelompok
(Gambar 6). Ketersediaan alat mengubah posisi kelompok dari penerima pelatihan
menjadi unit produksi yang dapat bekerja secara mandiri dengan kualitas produk
yang lebih konsisten. Temuan ini sejalan dengan pelatihan partisipatif pengolahan
limbah kulit kakao di Sumatera Barat yang berhasil menjadikan 80% peserta mampu
memproduksi pupuk padat, pupuk cair, dan pakan fermentasi secara mandiri (Yanti
et al., 2025), serta pelatihan POC kulit kakao yang meningkatkan pemahaman dan
keterampilan petani secara nyata (Nurmayanti et al., 2025).
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 253-267
E-ISSN: 3047-2474 (online) 261
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Gambar 6. Penyerahan bantuan alat produksi: (a) paket alat produksi di lokasi
mitra; (b) pengantaran alat kepada kelompok tani
Mutu Produk Hasil Implementasi Teknologi
Mutu kompos dan POC yang dihasilkan mitra diverifikasi melalui analisis
laboratorium dengan Surat Hasil Analisis Nomor 327/UN27.07.3.1/TA.00.01/2026
tanggal 7 Juli 2026. Hasil analisis disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil analisis kimia kompos dan POC berbahan limbah kulit kakao
Sampel
Kadar
Air (%)
pH
C-Organik
(%)
N Total
(%)
P (%)
Rasio
C/N
K (%)
POC MOL
–
4,51
0,32
0,25
0,36
–
0,12
POC EM4
–
4,50
0,46
0,28
0,36
–
0,22
Kompos B41
55,12
8,65
25,04
1,78
0,78
14,07
0,99
Kompos 1.1.1
57,34
8,48
27,07
1,64
0,86
16,50
0,81
Kedua varian kompos memiliki kandungan C-organik tinggi (25,04–27,07%) dengan
rasio C/N 14,07–16,50, kandungan N total 1,64–1,78%, P 0,78–0,86%, dan K 0,81–
0,99%. Nilai C-organik, rasio C/N, dan kandungan hara makro tersebut telah berada
dalam kisaran standar mutu kompos SNI 19-7030-2004 yang juga menjadi acuan pada
kajian pengomposan kulit kakao sebelumnya (Haderiah et al., 2024). Rasio C/N yang
rendah menunjukkan bahan organik telah terdekomposisi dengan baik sehingga hara
lebih mudah tersedia bagi tanaman. Namun, kadar air kompos (55,12–57,34%) dan pH
yang alkalis (8,48–8,65) masih melebihi batas standar tersebut, sehingga proses
pengeringan (kering angin) dan pengaturan bahan pencampur perlu disempurnakan
sebelum produk dikemas untuk dipasarkan.
Kedua varian POC bersifat asam (pH 4,50–4,51) sebagai hasil fermentasi anaerob
dengan kandungan N 0,25–0,28%, P 0,36%, dan K 0,12–0,22%. Varian POC EM4
menunjukkan kandungan C-organik dan K yang lebih tinggi dibandingkan POC
MOL, sehingga lebih disarankan untuk produksi lanjutan. Kandungan hara POC yang
relatif rendah menunjukkan bahwa produk ini lebih tepat diposisikan sebagai pupuk
pelengkap yang mengurangi, bukan menggantikan sepenuhnya, penggunaan pupuk
kimia, sebagaimana kombinasi POC dan pupuk kimia dosis rendah yang terbukti
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 253-267
E-ISSN: 3047-2474 (online) 262
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
optimal pada tanaman kedelai (Anggraeni et al., 2024). Pengayaan bahan POC perlu
dilakukan pada tahap berikutnya. Adapun bioherbisida belum diuji secara laboratoris;
potensinya didukung oleh kandungan senyawa fenolik kulit kakao (Sartini et al., 2017)
dan asam organik hasil fermentasi bahan kakao yang terbukti meracuni gulma
(Juanda et al., 2019), sehingga efektivitasnya perlu dikuantifikasi melalui uji lapangan
terkontrol.
Penguatan Kelembagaan, Legalitas, dan Pemasaran
Ketiga produk telah memiliki nama, label, dan desain kemasan dengan identitas
BIOKAO yang disusun bersama mitra (Gambar 7). Identitas produk yang seragam
membedakan produk kelompok dari pupuk curah tanpa merek dan memperkuat citra
kelompok tani sebagai produsen input pertanian berkelanjutan. Penguatan desain
kemasan serupa pada produk pupuk organik kelompok tani lain terbukti
meningkatkan daya tarik dan nilai jual produk (Wijaya et al., 2023).
Gambar 7. Produk bioherbisida, kompos, dan pupuk organik cair berbahan
limbah kulit kakao dengan identitas BIOKAO
Pendampingan legalitas menghasilkan terbitnya NIB 1708260020995 atas nama
Rahardjo yang mewakili Kelompok Tani Sido Dadi pada 17 Agustus 2026 melalui
sistem OSS, dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 20124 tentang
industri pupuk organik, pupuk hayati, dan media tanam, skala usaha mikro, dan
tingkat risiko menengah rendah, disertai Sertifikat Standar yang terbit secara otomatis.
Legalitas ini menjadi dasar kelompok untuk beroperasi secara resmi, membangun
kepercayaan konsumen, dan melanjutkan pendaftaran izin produk pupuk. Hal ini
sejalan dengan temuan bahwa NIB menjadi fondasi keberlanjutan dan perluasan akses
pasar usaha mikro (Atmadja et al., 2025; Mulyati et al., 2025).
Sebagai media promosi, kelompok kini memiliki laman biokao.id yang memuat profil
kelompok, foto, dan deskripsi produk (Gambar 8). Pelatihan strategi pemasaran yang
diikuti pemuda kelompok tani membekali mitra dengan pemahaman penentuan
harga, segmentasi pasar, pemasaran berbasis kelompok, dan pemasaran digital.
Keterlibatan pemuda penting mengingat regenerasi petani muda di wilayah ini masih
rendah, sementara pemasaran digital menuntut keterampilan yang lebih mudah
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 253-267
E-ISSN: 3047-2474 (online) 263
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
dikuasai generasi muda (Febrianti et al., 2026). Kegiatan ini juga telah didiseminasikan
melalui laman resmi UMBY, LLDikti Wilayah V, dan media daring, serta kanal video
UMBY.
Gambar 8. Tampilan laman biokao.id sebagai media promosi Kelompok Tani Sido
Dadi
Penguatan kelembagaan ini mendapat respons positif dari mitra. Salah satu anggota,
Hariyono, menyampaikan harapan agar pendampingan terus berlanjut sehingga
kelompok semakin mandiri, terutama dalam keterampilan budidaya kakao. Respons
ini menunjukkan tumbuhnya kepercayaan dan kohesi kelompok yang merupakan
modal sosial penting bagi keberlanjutan kelembagaan kelompok tani (Hendrita &
Firnando, 2026).
Peningkatan Level Keberdayaan Mitra
Hasil pengukuran level keberdayaan terhadap 25 responden disajikan pada Tabel 4.
Pada kondisi sebelum program, 52% responden berada pada kategori belum berdaya
dan kurang berdaya, dengan kelemahan paling menonjol pada dimensi keterampilan
produksi (31%) dan pemasaran (21%). Kondisi ini sejalan dengan situasi awal mitra,
yaitu limbah kulit kakao hanya ditumpuk, anggota belum pernah mengolahnya
menjadi kompos, POC, maupun bioherbisida, dan kelompok belum memiliki identitas
produk maupun legalitas usaha.
Tabel 4. Sebaran level keberdayaan mitra sebelum dan sesudah program (n = 25)
Kondisi
Kelompok Kategori Keberdayaan
Persentase
Responden (%)
Sebelum program
Belum berdaya dan kurang berdaya
52
Cukup berdaya, berdaya, dan sangat
berdaya
48
Sesudah program
Belum berdaya, kurang berdaya, dan
cukup berdaya
13
Berdaya dan sangat berdaya
87
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 253-267
E-ISSN: 3047-2474 (online) 264
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Setelah rangkaian pelatihan, praktik produksi, penyerahan alat, penyusunan
kemasan, penerbitan NIB, dan peluncuran laman biokao.id, 87% responden berada
pada kategori berdaya dan sangat berdaya. Peningkatan ini mencerminkan perubahan
mitra dari petani konvensional menjadi kelompok usaha yang memiliki keterampilan
produksi, sarana produksi, legalitas, dan identitas produk. Pola peningkatan tersebut
konsisten dengan pemberdayaan berinput rendah di Kelompok Tani Sumber Rejeki
yang meningkatkan kesadaran dan minat petani terhadap pertanian berkelanjutan
dari 20% menjadi 80% (Sambodo et al., 2025), serta pemberdayaan kelompok wanita
tani melalui tahapan penyadaran, pengkapasitasan, dan pendayaan (Farida et al.,
2022). Pengukuran yang bersifat penilaian diri secara retrospektif memiliki
keterbatasan, sehingga pemantauan kinerja produksi dan penjualan secara aktual
perlu dilakukan untuk memastikan keberlanjutan hasil program.
Simpulan dan Rekomendasi
Penerapan teknologi tepat guna pengolahan limbah kulit kakao melalui pendekatan
pemberdayaan partisipatif telah meningkatkan keberdayaan Kelompok Tani Sido
Dadi. Mitra kini mampu mengolah limbah kulit kakao yang sebelumnya terbuang
menjadi kompos, pupuk organik cair, dan bioherbisida, memiliki sarana produksi,
serta memiliki identitas produk, legalitas usaha, dan media promosi digital. Mutu
kompos telah memenuhi sebagian besar kriteria standar, sehingga produk berpotensi
menjadi input pertanian berinput rendah bagi anggota sekaligus sumber pendapatan
baru bagi kelompok. Perubahan tersebut menunjukkan pergeseran mitra dari petani
konvensional menjadi kelompok usaha yang mampu memproduksi dan memasarkan
produk pertanian berkelanjutan.
Kegiatan selanjutnya direkomendasikan untuk menyempurnakan proses pengeringan
dan pengaturan pH kompos, memperkaya kandungan hara pupuk organik cair, serta
menguji efektivitas bioherbisida melalui percobaan lapangan terkontrol. Kelompok
juga perlu didampingi dalam pendaftaran izin edar pupuk, penerapan pemasaran
kolektif dan digital secara konsisten, serta pelibatan petani muda agar usaha dapat
berjalan mandiri dan berkelanjutan. Pemerintah kalurahan dan dinas terkait dapat
menjadikan model ini sebagai acuan pengelolaan limbah kakao di sentra kakao lain di
Kabupaten Kulon Progo.
Penghargaan
Tim pengabdian menyampaikan terima kasih kepada Direktorat Penelitian dan
Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan,
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi atas pendanaan Program BIMA
Tahun Anggaran 2026; Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Universitas Mercu Buana Yogyakarta; Kelompok Tani Sido Dadi beserta Bapak
Rahardjo selaku penanggung jawab mitra; Fakhrusy Zakariyya, S.P., M.Sc. dari Pusat
Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia; Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah,
Program Studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret; serta
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 253-267
E-ISSN: 3047-2474 (online) 265
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
mahasiswa Program Studi Agroteknologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta yang
terlibat dalam kegiatan ini.
Daftar Pustaka
Anggraeni, L., Anwar, N. A., Damanhuri, Robi'in, & Zubaidi, T. (2024). Pengaruh
pupuk organik cair dari limbah kulit buah dan daun sebagai substitusi pupuk
kimia terhadap pertumbuhan dan produksi kedelai. Vegetalika, 13(2), 145–157.
https://doi.org/10.22146/veg.84697
Anoraga, S. B., Shamsudin, R., Hamzah, M. H., Sharif, S., & Saputro, A. D. (2024).
Cocoa by-products: A comprehensive review on potential uses, waste
management, and emerging green technologies for cocoa pod husk utilization.
Heliyon, 10(16), e35537. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2024.e35537
Atmadja, F. S., Utari, E. D., Rabbaniyah, L., Nida, R. R., Widarum, C. A., & Ayyun, D.
R. Q. (2025). Legalitas sebagai fondasi keberlanjutan UMKM di Indramayu:
Sosialisasi dan pendampingan NIB menggunakan OSS. Social Engagement: Jurnal
Pengabdian Kepada Masyarakat, 3(3), 131–145.
https://doi.org/10.37253/se.v3i3.10603
Augustin, N. P., Prasetyo, E., & Santoso, S. (2022). Analisis daya saing dan trend ekspor
kakao Indonesia ke lima negara tujuan tahun 2010-2019. Jurnal Ekonomi Pertanian
dan Agribisnis, 6(2), 442–455. https://doi.org/10.21776/ub.jepa.2022.006.02.10
Badan Pusat Statistik Kabupaten Kulon Progo. (2024). Produksi kakao menurut kecamatan
di Kabupaten Kulon Progo tahun 2019-2023. BPS Kabupaten Kulon Progo.
Campos-Vega, R., Nieto-Figueroa, K. H., & Oomah, B. D. (2018). Cocoa (Theobroma
cacao L.) pod husk: Renewable source of bioactive compounds. Trends in Food
Science & Technology, 81, 172–184. https://doi.org/10.1016/j.tifs.2018.09.022
Farida, A. N., Sambodo, R., Astriani, D., & Dinarto, W. (2022). Analisis pemberdayaan
Kelompok Wanita Tani Guyub Rukun melalui program pengembangan taman
koleksi biodiversitas tanaman potensi obat di Dusun Sundi Kidul, Desa Argorejo,
Sedayu, Bantul. Media Agribisnis, 6(2), 243–249.
https://doi.org/10.35326/agribisnis.v6i2.2861
Febrianti, B., Setyana Putra, R. L., Rizkiawan, I. K., & Utomo, F. H. (2026). Optimisasi
pendampingan strategi digital marketing untuk peningkatan daya saing UMKM
pertanian di Sukoharjo. Empowerment Journal, 6(1), 54–61.
https://doi.org/10.30787/empowerment.v6i1.2662
Haderiah, Taha, L., & Rahayu, S. (2024). Pemanfaatan limbah kulit kakao sebagai
pupuk organik. Sulolipu: Media Komunikasi Sivitas Akademika dan Masyarakat,
24(1), 148–156. https://doi.org/10.32382/sulo.v24i1.480
Hansen, I. J., Nelvia, & Amri, A. I. (2017). Pengaruh pemberian dosis kompos kulit
buah kakao dan dolomit terhadap pertumbuhan bibit kakao (Theobroma cacao L.)
di media ultisol. Jurnal Agroteknologi, 8(1), 29–34.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 253-267
E-ISSN: 3047-2474 (online) 266
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Hasram, F., Nurdin, N., & Junais, I. (2023). Pengaruh kegiatan pengendalian P3S
(pemangkasan, pemupukan, panen sering dan sanitasi) terhadap pendapatan
usaha tani kakao di Desa Tarobok Luwu Utara. Jurnal Sains Agribisnis, 3(2), 54–
63. https://doi.org/10.55678/jsa.v3i2.861
Hendrita, V., & Firnando, E. (2026). Modal sosial dalam penguatan kelembagaan
kelompok tani: Tinjauan literatur sistematis dan pemetaan bibliometrik. Agrifo:
Jurnal Agribisnis Universitas Malikussaleh, 11(1), 21–32.
https://doi.org/10.29103/ag.v11i1.26239
Juanda, A., Manurung, S., & Ginting, Y. S. (2019). Efektivitas bio herbisida pulp kakao
(Theobroma cacao L) dengan beberapa tingkat kematangan fermentasi terhadap
pengendalian gulma di perkebunan kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq). BEST
Journal (Biology Education, Sains and Technology), 2(1), 1–8.
https://doi.org/10.30743/best.v2i1.1769
Managanta, A. A., & Ridwan, R. (2024). Peningkatan produksi dan pendapatan
melalui penyuluhan pada petani kakao. Darmabakti: Jurnal Pengabdian dan
Pemberdayaan Masyarakat, 5(2), 222–228.
https://doi.org/10.31102/darmabakti.2024.5.02.222-228
Mulyati, S., Albari, A., Fauziah, N., & Suhartini. (2025). Meningkatkan daya saing
usaha mikro kecil menengah melalui legalitas usaha di Kelurahan Ngestiharjo,
Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Jurnal Pengabdian Masyarakat Borneo, 9(3), 133–
139. https://doi.org/10.35334/4wm5zh62
Nurmayanti, S., Tahir, M., Erfandari, O., Zulfikar, G., Novitasari, A., & Sari, S. (2025).
Pemanfaatan limbah kulit kakao sebagai pupuk organik cair di Desa Wiyono
Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran. Jurnal Abimana, 2(1), 49–56.
https://doi.org/10.25181/abimana.v2i1.4065
Rahman, R. Y., Rosyady, M. G., Ibanah, I., & Savitri, D. A. (2025). Optimalisasi
produktivitas kakao rakyat melalui penanganan bahan tanam PCC dan
penerapan GAP di Desa Wonorejo. JATIMAS: Jurnal Pertanian dan Pengabdian
Masyarakat, 5(2), 212–224. https://doi.org/10.30737/jatimas.v5i2.6931
Resmianto, A. H., Sambodo, R., & Mildaryani, W. (2025). Pengaruh tingkat
pendidikan, pengalaman bertani dan luas lahan terhadap pendapatan petani
kakao di Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Proceedings Series on
Physical & Formal Sciences, 8, 235–242. https://doi.org/10.30595/pspfs.v8i.1500
Sambodo, R. (2021). Peran dan dukungan stakeholder dalam program usaha produktif
(studi kasus Kelompok Tani “Tani Manunggal” Kelurahan Sorosutan). Agricore:
Jurnal Agribisnis dan Sosial Ekonomi Pertanian Unpad, 6(1).
https://doi.org/10.24198/agricore.v6i1.32297
Sambodo, R., & Astriani, D. (2023). Analisis strategi pemberdayaan kelompok tani
melalui pengembangan agribisnis budidaya jambu mete. Musamus Journal of
Public Administration, 5(2), 256–266. https://doi.org/10.35724/mjpa.v5i2.5012
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 253-267
E-ISSN: 3047-2474 (online) 267
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Sambodo, R., Astriani, D., & Dinarto, W. (2025). Low input sebagai implementasi
sustainable agriculture di Kelompok Tani Sumber Rejeki, Kapanewon Tempel,
Kabupaten Sleman. Reswara: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 6(2), 1169–
1178. https://doi.org/10.46576/rjpkm.v6i2.3842
Sartini, S., Asri, R. M., & Ismail, I. (2017). Pengaruh pra perlakuan sebelum
pengeringan sinar matahari dari kulit buah kakao terhadap kadar komponen
fenolik dalam ekstrak. BIOMA: Jurnal Biologi Makassar, 2(1), 15–20.
https://doi.org/10.20956/bioma.v2i1.1491
Wahyuni, D. (2018). Strategi pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan desa
wisata Nglanggeran. Aspirasi: Jurnal Masalah-Masalah Sosial, 9(1), 85–102.
https://doi.org/10.46807/aspirasi.v9i1.994
Wijaya, M. B. R., Damayanti, A., Kurniawan, A., Wibowo, M. Y., Ar Rasyid, M. R.,
Salwa, D. F., & Fitri, A. (2023). Penguatan desain kemasan pupuk kotoran sapi
dalam upaya pemberdayaan Kelompok Tani “Dewi Sri”. PengabdianMu: Jurnal
Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat, 8(6), 865–872.
https://doi.org/10.33084/pengabdianmu.v8i6.5590
Yanti, Y., Suhendra, D., Dwipa, I., Hamid, H., Fiana, R. M., Naspendra, Z., & Raffi, L.
F. (2025). Pengembangan produk berbasis limbah kulit kakao melalui pelatihan
partisipatif sebagai strategi pemberdayaan Kelompok Tani Inovasi, Nagari
Sungai Talang, Sumatera Barat. Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia, 5(5), 2087–2094.
https://doi.org/10.54082/jamsi.2091