PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 1, Maret 2025, page: 33-39
E-ISSN: 3047-2288
33
Abdullah Thahir et.al (Pengaruh Tradisi Mappacci ....)
Pengaruh Tradisi Mappacci Terhadap Kehidupan
Sosial dan Keluarga Dalam Adat Bugis
Abdullah Thahir
a,1
, Nurhamdiah
b,2
a,b
Institut Agama Islam Negeri Parepare, Bukit Harapan, Soreang, Parepare, Sulawesi Selatan, 91131, Indonesia
1
abdullahthahir@iainpare.ac.id;
2
nrhamdiah04@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 12 Januari 2025
Direvisi: 4 Februari 2025
Disetujui: 20 Februari 2025
Tersedia Daring: 1 Maret 2025
Tradisi Mappacci merupakan salah satu ritual adat yang paling penting
dalam budaya Bugis, dilaksanakan menjelang pernikahan sebagai simbol
penyucian diri dan persiapan memasuki kehidupan rumah tangga. Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis makna simbolik elemen-elemen dalam
tradisi Mappacci serta nilai-nilai sosial dan budaya yang terkandung di
dalamnya. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif dan metode semiotika
Charles Sanders Peirce, penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bone,
Sulawesi Selatan, dengan melibatkan tokoh adat, pemuka agama, dan
masyarakat setempat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa elemen-elemen
seperti daun pacci, lilin, bantal, dan sarung sutra dalam Mappacci memiliki
makna filosofis yang mendalam, mencerminkan nilai kesucian, kejujuran,
kehormatan, dan harapan akan kehidupan rumah tangga yang harmonis.
Ritual ini juga memperkuat hubungan kekeluargaan dan kekerabatan,
sekaligus menjadi media untuk memupuk solidaritas sosial. Nilai-nilai
keislaman yang tercermin dalam doa dan restu menjadikan tradisi ini
sebagai pedoman moral yang relevan di tengah arus modernisasi. Kajian ini
diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pelestarian budaya lokal
serta penguatan nilai-nilai tradisi bercorak keislaman sebagai landasan
moral bagi generasi mendatang.
Kata Kunci:
Mappacci
Adat Bugis
Kehidupan Sosial
Kehidupan Keluarga
Tradisi
ABSTRACT
Keywords:
Mappacci
Bugis Customs
Social Life
Family Life
Tradition
The Mappacci tradition is one of the most important traditional rituals in
Bugis culture, carried out ahead of marriage as a symbol of self-purification
and preparation for entering domestic life. This research aims to analyze the
symbolic meaning of the elements in the Mappacci tradition as well as the
social and cultural values contained in it. With a descriptive qualitative
approach and Charles Sanders Peirce's semiotic method, this research was
conducted in Bone Regency, South Sulawesi, involving traditional leaders,
religious leaders, and local communities. The results of the study show that
elements such as pacci leaves, candles, pillows, and silk sarongs in Mappacci
have a deep philosophical meaning, reflecting the values of purity, honesty,
honor, and the hope of a harmonious domestic life. This study is expected to
contribute to the preservation of local culture and the strengthening of
traditional values with Islamic characteristics as a moral foundation.
©2025, Abdullah Thahir, Nurhamdiah
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Mappacci adalah kata kerja dari mapaccing yang berarti bersih atau suci. Terkadang,
dibeberapa daerah Bugis, mappacci dikenal dengan sebutan mappepaccing. Dalam bahasa
Bugis mappacci/mappepacing merupakan rangkaian suatu kegiatan atau aktifitas yang
bertujuan untuk membersihkan segala sesuatu. Kata mapacing atau mappacci merupakan dua
kata yang berbeda. Yang pertama merupakan kata sifat dan yang kedua kata kerja. Kita sering
mendengarkan penggunaan kedua kata ini dalam kehidupan sehari-hari khususnya di
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 1, Maret 2025, page: 33-39
E-ISSN: 3047-2288
34
Abdullah Thahir et.al (Pengaruh Tradisi Mappacci ....)
masyarakat Bugis (Andi Youshand, 2009). Menurut Susan Bolyard Millar (2009), mappacci
adalah upacara penyucian atau sebuah upacara pembersihan untuk kedua calon mempelai yang
berlangsung sebelum pesta perkawinan (dilakukan pada waktu malam dengan menggunakan
daun pacci). Upacara adat mappacci dilaksanakan pada waktu malam hari, menjelang acara
akad nikah atau ijab Kabul keesokan harinya. Upacara mappacci adalah salah satu upacara
(Susan Bolyard Millar, 2009) dan (Suparman and Muhammad Nuruahmad 2023).
Mappacci berasal dari kata pacci yaitu daun yang dihaluskan untuk penghias kuku. kata
paccing artinya bersih atau suci, melambangkan kesucian hati calon pengantin menghadapi
hari esok, khususnya memasuki bahtera rumah tangga meninggalkan masa gadis sekaligus
merupakan malam yang berisi doa. Dalam kesusastraan Bugis terdapat pantun yang berbunyi:
Duwa Kuala sappo unganna panasae nabelo kanukue: Penjelasan pada kalimat ini adalah ada
dua dijadikan pegangan, yaitu unganna panasae dan belo nakanukue. Unganna Panase itu
disimbolkan lempu yang berarti jujur. Sedangkan belo nakanukue disimbolkan pacci artinya
bersih, suci. Jadi kesucian dan kejujuran merupakan benteng dalam kehidupan, karena
kesucian adalah pancaran kalbu yang menjelma dalam kejujuran.(Rondius 2012)
Mapacci itu sendiri dilaksanakan pada saat tudangpenni/wenni (pada malam hari).
mappaci merupakan adat upacara yang sangat kental dengan nuansa batin. Dengan keyakinan
bahwa segala sesuatu yang baik harus didasari oleh niat dan upayah yang baik pula. Upacara
adat mappacci melibatkan kerabat dan keluarga untuk direstui kepada calon mempelai dalam
menempuh kehidupan selanjutnya sebagai suami istri serta mendapatkan keberkahan dari
Allah SWT (Nuruddin and Nahar 2022).
Budaya mappacci lebih dikenal oleh masyarakat suku Bugis sebagai salah satu syarat
yang harus dilakukan oleh calon mempelai baik laki-laki maupun perempuan tepatnya sehari
sebelum pesta pernikahan dilaksanakan. Upacara ini merupakan ritual pemakaian daun
paccing ke tangan si calon mempelai. Menjelang pernikahan biasanya diadakan tudang penni
atau wenni mappacci (bahasa Bugis) yang artinya malam mensucikan diri dengan meletakan
tumbuhan daun paccing ke tangan calon mempelai. Orang-orang yang diminta meletakan daun
paccing adalah mereka yang memiliki kedudukan sosial di masyarakat, memiliki rumah tangga
yang harmonis. Upacara ini dilakukan di rumah masing-masing calon mempelai dengan
dihadiri oleh seluruh anak keluarga dan undangan. Rosdalina (2016) menyatakan bahwa:
Terdapat nilai-nilai dalam pelaksananaan budaya mappacci pada suku Bugis diantaranya: (1)
dalam pelaksanaan mappacci memiliki nilai kebersihan raga dan kesucian jiwa: (2) nilai
religius nilai ini terlihat pada saat pelaksanaan berbagai ritual-rituals khusus seperti, mandi
tolak bala, pembacaan barzanji, dan lain sebagainya; (3) nilai penghargaan terhadap kaum
perempuan; (4) nilai sosial. Tolib Setiady (2013) menulis bahwa "nilai dalam perkawinan adat
mappacci pada suku Bugis adalah adanya nilai hidup dan kekerabatan untuk dapat meneruskan
keturunan, mempertahankan silsilah dan kedudukan keluarga yang bersangkutan sehingga
dapat memperbaiki hubungan kekerabatan dan mempererat tali anggota masyarakat yang
terlibat dalam pelaksanaan tradisi mappacci. silahturahim antar masyarakat yang bersangkutan
pemuka agama, pelaku budaya, serta anggota masyarakat yang terlibat dalam pelaksanaan
tradisi mappacci.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode kajian
semiotika menurut teori Charles Sanders Peirce. Pendekatan ini bertujuan untuk menggali
makna simbolik dari elemen-elemen dalam tradisi mappacci serta nilai-nilai yang
terkandung di dalamnya. Penelitian dilakukan di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, sebagai
salah satu daerah yang masih mempraktikkan tradisi mappacci secara aktif. Partisipan
penelitian terdiri dari tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuka agama, pelaku budaya, serta
anggota masyarakat yang terlibat dalam pelaksanaan tradisi mappacci. Data dikumpulkan
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 1, Maret 2025, page: 33-39
E-ISSN: 3047-2288
35
Abdullah Thahir et.al (Pengaruh Tradisi Mappacci ....)
melalui wawancara mendalam dengan tokoh adat dan masyarakat, observasi partisipatif
terhadap pelaksanaan ritual, dokumentasi berupa foto, video, dan catatan lapangan, serta
kajian pustaka yang menggunakan literatur dan penelitian terdahulu tentang mappacci.
Data dianalisis dengan menggunakan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce,
yang membagi simbol menjadi ikon, indeks, dan simbol. Elemen-elemen mappacci seperti
bantal, sarung sutra, daun pacci, dan lainnya dianalisis berdasarkan kategori ini untuk
memahami hubungan antara tanda (penanda) dan makna (petanda) dalam konteks budaya
Bugis. Hasil analisis menunjukkan bahwa setiap elemen dalam tradisi mappacci memiliki
makna simbolik yang mendalam, seperti daun pacci yang melambangkan kesucian dan
kebersihan calon mempelai, beras yang mencerminkan kemakmuran dan harapan akan
keturunan yang baik, sarung sutra yang menunjukkan harga diri dan keistiqamahan dalam
membina rumah tangga, lilin yang melambangkan penerangan dan panduan hidup, serta
bantal yang mengandung makna saling menghormati dalam keluarga
3. Hasil dan Pembahasan
Secara, umum kita dapat ke memahami kearifan lokalan yaitu pengetahuan yang yang
dikembangkan pemimpin para untuk untuk lokal lokal perayu hidup mereka. Pertimbangkan
pengetahuan ini sebagai bagian dari budaya dan mewarilkannya dari satu generasi ke generasi
berikutnya. jenis jenis pengetahuan Beberapa tradisional termasuk cerita, legenda, ritual,
nyanyian, dan hukum setempat (Kasmawati et al. 2021).
Perayaan lokal lokal karena meria-maya ke dapat keharmonisan keharmonisan manusia
manusia dan lingkungan. Di menis, sisi-sanya, teknologi. Dari hasil krai perkembangan fisik
spiritualitas yang ditemukan dalam teks-keta agama agama,, dan kesenian, gagal
meningkatkan per-abadi akan menjadi satu-sama yang akan umat kualitas. Idealnya, nilai-
nilai, norma, dan etika yang ditemukan dalam adat istiadat dan hukum setempat berfungsi
sebagai referensi yang berguna di era global (Budi Setyaningrum.2018).
Suku Bugis adalah salah satu suku yang paling kuat mendukung budaya dan adat istiadat
Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan. Kekerabatan adalah aspek terpenting dari
masyarakat Bugis. Hal ini penting bagi anggota masyarakat, bahkan jika itu berfungsi sebagai
struktur fundamental dalam suatu negara. Memahami dasar-dasar kekerabatan sangat penting
bagi orang Bugis untuk mengembangkan keterampilan sosial mereka.
Salah satu aspek dari masalah ini adalah pernikahan atau upacara pernikahan. Karena itu,
dianggap sebagai kegiatan manusia yang erat dengan cara hidup rumah tangga. Perkawainan
dalam Bugis adat adalah salah satu aspek terpenting dalam kehidupan manusia. Sebuah tidak
hanya jenis peristiwa yang dialami oleh dua individu dari berbagai jenis; itu juga melibatkan
berbagai organisasi. Entah itu kelompok atau pasangan, pelajari lebih lanjut di masa depan.
Melalui kareaktri yang dianggap sebagai penpangkuan masyarakatnya yang bersatu dua orang
individu dalam yang sai-angsa idak, pernikahan elicit kesaksian dari anggota masyarakat,
yaitu, pernikahan atau pernikahan (Suparman 2024).
Setiap wilayah memiliki kebiasaan uniknya sendiri, seperti kinerja dan ketaatan tradisi
Mappacci. Karena itu, penulis menggunakan penelitian ini untuk menganalisis dan
memperdalam pemahaman tentang pentingnya liburan Mappacci dalam budaya komunitas
Bugis, terutama di wilayah Tulang, dengan menggambar pada penelitian semiotik oleh Charles
Sanders Peirce yang membahas sejumlah ide yang berkaitan dengan objek yang mewakili
mereka, seperti lambang atau simbol. menunjukkan bahwa ada hubungan antara satu simbol
dan simbol lain dalam proses pemetaan. Karena itu, penulis sangat ingin menjelaskan lebih
lanjut tentang makna yang terkandung dalam simbol yang digunakan dalam mappacci
tradisional menggunakan teori Charles Sanders Peirce (Aminah 2021).
Pada penelitian di atas memang terdapat kesamaan pada penelitian tentang mappacci
merupakan tradisi perkawinan suku Bugis. Namun secara spesifik penelitian ini lebih kepada
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 1, Maret 2025, page: 33-39
E-ISSN: 3047-2288
36
Abdullah Thahir et.al (Pengaruh Tradisi Mappacci ....)
hakikat tradisi mappacci dengan menampilkan makna yang terkandung dalam nilai-nilai
mappacci bercorak keislaman yang menjadi pondasi keutuhan rumah tangga dan juga sebagai
norma sosial.
Hasil analisis data ada sepuluh simbol-simbol dalam mappacci yang ditemukan dan
terkandung makna di dalamnya oleh karena itu makna simbolik dari tradisi mappacci
pernikahan adat Bugis di Makassar tersebut sebagai berikut:
a. Bantal (gulung) memiliki sebuah sipakatau makna, dan diyakini bahwa kena akan
membantu mempelai yang tidak ada untuk menjaga semua orang tetap aman. Di dalam
rumah tangga yang disebutkan sebelumnya, tidak diragukan lagi akan dapat mendukung
keluarga dan anak-anak mereka. Menurut teori Charles Sanders Pierce, simbol adalah tanda
yang terhubung ke kedua penand dan petandas. Penam dan petanda dari are bantalkatau
dan; demi kehormatan ini mirip dengan apa yang dikatakan Charles Sanders Pierce, yaitu
bahwa segala sesuatu yang dilambangkan dengan tanda yang disiapkan dengan penanda
sebagai penanda.
b. Sarung sutera (lipa sabbe) memiliki ketekunan, istiqohmah, dan seorang tanda-maksar diri.
Salah satu hal terpenting yang dimiliki orang, terutama di rumah tangga mereka, adalah
harga diri mereka. Terutama untuk mendidik wanita yang harus mengikuti hukum dan
akhirnya menjadi seorang istri. Menurut teori Charles Sanders Pierce, ikon adalah simbol
yang menunjukkan adanya hubungan yang dekat dan bersahabat antara seorang pes dan
pedannya. Ini juga merupakan kasus dengan sutera makna yang penandanya menyatakan
bahwa sutera memilliki sarung petandas sebagai aurat /harga diri untuk calon yang akan
menjadi pengantin.
c. Pucuk daun pisang memiliki keinginan yang kuat untuk menjadi nyambung atau
berkesinambungan; hal ini dilakukan sehingga mempelai tidak diragukan lagi akan
memimpin rumah tangga melahirkan berkembang dengan yang baik dan berguna bagi
lingkungan sekitarnya. Menurut teori Charles Sanders Pierce, sebuah pucuk daun dari
pisang adalah penanda dan petanda dari pikusnya yang telah ditentukan oleh dia untuk
menjadi pisang pikusa daun yang sangat ramah bagi berhambanambungan. Hal ini
dilakukan sehingga calon pengantin tidak diragukan lagi akan menyebabkan tangga rumah
berkembang berkesinambungan.
d. Daun Nangka (daung panasa) memiliki sejumlah kutipan untuk mendukung klaim mereka.
Diharapkan bahwa mempelai akan memiliki kutipan dan ketekunan untuk membangun
seorang anak tangga dalam sejahtera dan cara. Menurut teori Charles Sanders Pierce,
simbol adalah tanda yang terkait dengan dia dan juga petanda yang menyatakan bahwa
semuanya diwakili oleh tanda yang ditulis oleh penanda sebagai penanda. Dalam penjelasan
yang disebutkan di atas, dinyatakan bahwa daun nangka adalah penanda, dan petanda dari
nutangka yang menakutkan adalah dan cita-cita. Pensangga yang dimaksud telah ditulis
oleh penanda, yaitu komunitas Bugis.
e. Daun pacar, juga dikenal sebagai cadar pacci, memiliki sebuah makna dan bersih. Ke Kean
adalah upaya manusia untuk melindungi diri sendiri dan lingkungan seseorang dari segala
sesuatu yang kosor Adanya Parasi Berusaha dan memelihara dan sehat. Akibatnya, ada
banyak calon pengantin mempelai mungkin dari aspek negatif, sehingga dalam tangga
rahmat dari Allah akan menjadi anggota setia. Menurut teori Charles Sanders Pierce, indeks
adalah fenomena atau elemen yang ada yang memiliki hubungan karena sejumlah faktor.
Peristiwa Mappacci ditunjukkan oleh daun pacci.
f. Beras (berre) diyakini bahwa ketika beras (berre) menjalankan kapal rumah tangga, ia akan
dapat berkembang dan memiliki keturunan yang lebih dekat dengan perdamaian dan
kemakmuran. Beras (berre) juga memiliki arti berkembang dengan baik, mekar, dan
makmur. teorinya Menurut Charles Sanders Pierce, tanda-tanda adalah simbol yang
terhubung Pena dan dan petanda. Beras, dan petandas petandas yangnya berkembang
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 1, Maret 2025, page: 33-39
E-ISSN: 3047-2288
37
Abdullah Thahir et.al (Pengaruh Tradisi Mappacci ....)
berkembang, pe dihasilkan dari pekar, dan makmur. Ini menunjukkan bahwa/Indikasis
konsep tanda dan sifatnya ada yang adalah yang dapat dapat diberspesiasi pada pada
dikarplekan yang efektif dan dan bermanfaati pemisah dani-dikaniskan dengan para
pemetas karampasan dan karpet.
g. Lilin untuk melayani sebagai penerang atau memberi pada jalur yang ditunjuk dijelaskan
sehingga, di hadapan suami dan istri, dapat berfungsi sebagai penaeng bagi masyarakat
sekitarnya. Menurut teori Charles Sanders Pierce, simbol adalah tanda yang terhubung ke
kedua penand dan petandas. Dalam hal ini, sebagai lilin penanda dan pestandar adalah (sulo
kehidupan) dari teori Charles Sanders Pierce. Penanda dan petandasa dari lilin terkait
dengan apa yang dikatakan Charles Sanders Pierce. Tempat atau wadah pacci memiliki
makna kesatuan yang mana ini dimaksudkan agar calon pengantin nantinya akan bersatu
dalam membina rumah tangga. Sesuai dari teori Charles Sanders Pierce yang mengatakan
bahwa indeks adalah keterkaitan fenomenal atau eksistensial diantaranya ada hubungan
sebab akibat. Wadah pacci menunjukkan adanya acara mappacci.
h. Dalam tradisi Bugis, gula dan kelapa digunakan untuk menggambarkan muda kelapa, yang
agak lebih panjang dari gula. Akibatnya, kelapa sudah diidentifikasi muda dengan gula
merah yang menonjolkan. Menikmati pahit dia duniawi duniawisi melengkapi dan rasa
satu rasa dari padarasi. Menurut teori Charles Sanders Pierce, petanda adalah gula dan
kelapa, sedangkan dari gula kelapa dan merupakan cara yang bagus untuk menangkap
masing-masing individu.
i. Air digunakan untuk membersihkan tangan dari pacci dan air merupakan pelengkap yang
digunakan dalam tradisi mappacci (Kajian, Charles, and Pierce 2023).
Adapun Makna Ritual Upacara Mappacci:
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi mappaci dilaksanakan oleh kedua
mempelai botting di rumah masing-masing, dalam artian kedua mempelai mappaci
sendirisendiri. Mappaci berlangsung di malam menjelang hari “H” perkawinan. Proses
mappaci harus dilakukan sesuai adat yang diturunkan, di mulai dengan penjemputan (paddupa)
mempelai dipersilahkan duduk di pelaminan.Berdasarkan hasil wawancara dengan seorang ibu
Hj. Hajerah (63):
1. Makna utamanya adalah kesucian hati calon mempelai Menghadapihari esok memasuki
bahtera rumah tangga,untuk melepas masa gadisnya masa remajanya (masa lajangnya)
begitu pun dengan laki-lakinya.
2. Pacci sebelum pewarnaan yang ditempelkan di kuku atau telapak, yang memaknai
tangan,maka pacci tersebut berubah menjadi warna merah pada kuku dan sangat
sukar/sulit untuk menghilangkannya.Pewarnaan kuku suatu yang melambangkan harapan
semoga pernikahan nanti akan berlangsung dengan langgeng (selamanya) menyatu antara
keduanya, serta kekal bahagia seumur hidupnya.
3. Malam mappacci ini merupakan acara hidmat, penuh doa dan restu dari para keluarga dan
undangan calon mempelai.Semoga doa restu para keluarga dan undangan dapat mengukir
kebahagiaan kedua pasangan suami istri kelak dalam membina rumah tangga yang
sakinah, mawaddah,dan warahmah. Rumah tangga yang bahagia penuh rasa cinta kasih
sayang, sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw “baetti jannati” yang artinya rumahku
adalah surgaku.
4. Di dalam pelaksanaan upacara ritual mappacci akan melibatkan pasangan tujuh atau
sembilan pasang. Dalam bahasa Bugis pitu atau duakkaserra yang maksudnya sembilan
orang dari keluarga ayah, sudah termasuk ayah sendiri dansembilan dari keluarga ibu
sudah termasuk ibu sendiri.Satu persatu mereka dimintai mengambil sedikit daun pacci
yang telah dihaluskan dan diletakkan di telapak tangan calon mempelai perempuan
maupun calon mempelai laki-laki, tentu dengan disertai dengan doa dan restu untuk calon
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 1, Maret 2025, page: 33-39
E-ISSN: 3047-2288
38
Abdullah Thahir et.al (Pengaruh Tradisi Mappacci ....)
pengantin. Keluarga dan tamu yang diminta untuk meletakkan pacci adalah orang-orang
yang mempunyai kedudukan sosial yang baik dan mempunyai kehidupanrumah tangga
yang bahagia. Semua ini mengandung makna agar calon mempelai kelak di kemudian hari
dapat hidup bahagia seperti mereka yang meletakkan pacci diatas tangannya.(Aminah
2021).
4. Kesimpulan
Analisis tradisi Mappacci dalam budaya Bugis menunjukkan bahwa tradisi ini memiliki
nilai-nilai luhur yang mendalam, berfungsi sebagai simbol penyucian diri dan sarana
mempererat hubungan sosial serta kekeluargaan. Dengan menggunakan teori semiotika
Charles Sanders Peirce, setiap elemen ritual Mappacci memiliki makna yang relevan dalam
membangun pondasi keutuhan rumah tangga, baik secara spiritual maupun sosial, serta
mengintegrasikan nilai religius dan budaya untuk menciptakan tatanan kehidupan yang
seimbang. Pelestarian tradisi ini tidak hanya menjaga identitas budaya masyarakat Bugis,
tetapi juga menyampaikan kearifan lokal sebagai panduan moral di tengah modernisasi.
Penelitian ini bertujuan memperdalam pemahaman tentang makna simbolik dalam Mappacci
dan relevansi nilai-nilai tersebut sebagai norma sosial yang dapat dijadikan teladan dalam
kehidupan bermasyarakat dan berumah tangga, serta memberikan kontribusi akademik dan
praktis dalam pelestarian budaya lokal dan penguatan nilai-nilai tradisi yang bercorak
keislaman sebagai landasan membangun keluarga dan masyarakat yang berkualitas.
Kesimpulan dari analisis tradisi Mappacci dalam budaya Bugis menunjukkan bahwa tradisi
ini memiliki nilai-nilai luhur yang mendalam, berfungsi sebagai simbol penyucian diri dan
sarana mempererat hubungan sosial serta kekeluargaan. Dengan menggunakan teori semiotika
Charles Sanders Peirce, setiap elemen ritual Mappacci memiliki makna yang relevan dalam
membangun pondasi keutuhan rumah tangga, baik secara spiritual maupun sosial, serta
mengintegrasikan nilai religius dan budaya untuk menciptakan tatanan kehidupan yang
seimbang.
5. Daftar Pustaka
Aminah, Sitti. 2021. “Analisis Makna Simbolik Pada Prosesi Mappacci Pernikahan Suku
Bugis Di Kecamatan Wawotobi Kabupaten Konawe.” Jurnal Ilmiah Dikdaya 11(2):176.
doi: 10.33087/dikdaya.v11i2.213.
Kajian, Bone, Semiotika Charles, and Sanders Pierce. 2023. “Makna Simbolik Mappacci
Pada Masyarakat Bugis Di Kabupaten.” 3(2):260–68.
Kasmawati, Kasmawati, Indarwati Indarwati, Haryeni Tamin, and Hasan Hasan. 2021.
“Bentuk Dan Makna Ritual Mappacci Pada Pernikahan Bangsawan Bugis (Studi Kasus Di
Desa Benteng Gantarang Kabupaten Bulukumba).” Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa,
Dan Sastra 7(2):72129. doi: 10.30605/onoma.v7i2.1414.
Nuruddin, Nuruddin, and Nur Nahar. 2022. “Nilai-Nilai Budaya Upacara Mappacci Dalam
Proses Pernikahan Adat Suku Bugis Di Desa Labuahan Aji Kecamatan Trano Kabupaten
Sumbawa.” Jurnal Ilmiah Mandala Education 8(2):137279. doi:
10.58258/jime.v8i2.3122.
Rondius, Bayu &. 2012. “No TitleФормирование Парадигмальной Теории Региональной
Экономики.” Экономика Региона 111.
Suparman. 2024. “Konteks Budaya Perkawinan Masyarakat Bugis Luwu (Kajian).” Jurnal
Pendidikan Bahasa Dan Sastra, 4(3):23338.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 1, Maret 2025, page: 33-39
E-ISSN: 3047-2288
39
Abdullah Thahir et.al (Pengaruh Tradisi Mappacci ....)
Suparman, Suparman, and Muhammad Nuruahmad. 2023. “Budaya Mappacci Dan
Rangkaian Pelaksanaan Perkawinan Orang Bugis.” DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa
Dan Sastra 3(4):21925. doi: 10.53769/deiktis.v3i4.559.