PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 1, Maret 2025, page: 24-32
E-ISSN: 3047-2288
24
Mia Lusy Ananda et.al (Kajian Etnosains Dalam Proses....)
Kajian Etnosains Dalam Proses Pembuatan Tempe
Gembus Dalam Pembelajaran IPA
Mia Lisy Ananda
a,1
, Wahono Widodo
b,2
, Nurul Istiq’faroh
c,3
abc
Universitas Negeri Surabaya, Jalan Ledah Wetan, Surabaya, Indonesia
1
24010855040@mhs.unesa.ac.id;
2
wahonowidodo@unesa.ac.id;
3
nurulistiqfaroh@unesa.ac.id
*
24010855040@mhs.unesa.ac.id
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 15 Januari
Direvisi: 4 Februari 2025
Disetujui: 20 Februari 2025
Tersedia Daring: 1 Maret 2025
Kearifan lokal yang berkembang di masyarakat kaya akan pengetahuan
sains asli (indigenous science). Namun rekonstruksi sains asli dalam
masyarakat menjadi sains ilmiah masih sangat terbatas. Penelitian ini
didasari dengan masih terbatasnya rekonstruksi sains asli yang
berkembang dalam masyarakat menjadi sains ilmiah yang dapat digunakan
oleh siswa sebagai sumber belajar secara mandiri. Penelitian mengenai
Kajian Etnosains dalam Proses Pembuatan Tempe Gembus dalam
Pembelajaran IPA ini krusial untuk dilakukan, mengingat belum ada yang
menganalisis mengenai topik tersebut secara komprehensif. Penelitian ini
penting untuk dilakukan agar potensi penelitian dapat diketahui
kebenarannya serta dapat dijadikan sebagai pertimbangan dalam
menyusun desain pembelajaran selanjutnya. Tujuan penelitian ini yaitu
merekonstruksi sains asli masyarakat mengenai proses pembuatan tempe
gembus menjadi sains ilmiah, serta menjelaskan materi IPA yang terkait
dengan rekonstruksi sains asli pada proses pembuatan tempe gembus.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data dalam
penelitian ini didapatkan dari hasil wawancara, observasi, dokumentasi,
dan studi pustaka untuk mengetahui proses pembuatan tempe gembus.
Data penelitian yang didapatkan kemudian di analisis dengan beberapa
tahap, yaitu reduksi data, data display, dan penarikan kesimpulan atau
verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembuatan tempe
gembus yang dilakukan masyarakat dapat diinterpretasikan ke dalam
pengetahuan sains dan diimplementasikan dalam pembelajaran IPA.
Dampaknya, hasil penelitian ini memperkaya literatur dan praktik
pembelajaran IPA di Sekolah Dasar.
Kata Kunci:
Etnosains
IPA
Tempe Gembus
ABSTRACT
Keywords:
Ethnoscience
Science
Tempe Gembus
Local wisdom in society is rich in indigenous scientific knowledge.
However, the reconstruction of original science in society into scientific
science is still very limited. This research is based on the limited
reconstruction of original science that developed in society into scientific
science that can be used by students as an independent learning resource.
Research on "Ethnoscientific Studies in the Process of Making Gembus
Tempe in Science Learning" is crucial to carry out, considering that no one
has yet done a comprehensive analysis of this topic. It is important to carry
out this research so that the truth of the research potential can be known
and can be used as a consideration in preparing further learning designs.
The aim of this research is to reconstruct the original science of the
community regarding the process of making tempe gembus into scientific
science, as well as explaining the science material related to the
reconstruction of original science in the process of making tempe gembus.
This research uses a qualitative descriptive method. The data in this
research was obtained from interviews, observations, documentation, and
literature review to find out the process of making tempe gembus. The
research data obtained was then analyzed in several stages, namely data
reduction, data display, and drawing conclusions or verification. The
results of the research show that the process of making tempeh gembus
carried out by the community can be interpreted into scientific knowledge
and implemented in science learning.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 1, Maret 2025, page: 24-32
E-ISSN: 3047-2288
25
Mia Lusy Ananda et.al (Kajian Etnosains Dalam Proses....)
©2025, Mia Lusy Ananda, Wahono Widodo, Nurul Istiq’faroh
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Hakikat pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah sebuah perjalanan pembentukan
karakter dan kearifan lokal yang ditanamkan ke dalam batin anak-anak secara mendalam,
menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki nilai-nilai budaya yang
kuat (Noventue et al., 2024). Muatan nilai-nilai budaya yang digali dari masyarakat
digabungkan untuk menghasilkan insan Indonesia yang cerdas, kompetitif dan mampu
menghadapi persaingan global (Subiyakto & Mutiani, 2019). Nilai-nilai dan tradisi dalam
masyarakat tersebut tidak hanya mencerminkan identitas budaya tetapi juga memiliki peran
penting dalam pembentukan karakter dan moral generasi muda (Januardi et al., 2024).
Pandangan di atas mencerminkan bahwa pendidikan bukan hanya sekadar transfer
pengetahuan, tetapi juga merupakan proses pewarisan nilai, budaya dan kearifan lokal dari
satu generasi ke generasi berikutnya.
Berbagai macam budaya yang ada di dalam suatu masyarakat dikenal sebagai kearifan
lokal (Nurhadi et al., 2024). Pengetahuan sains asli (indigenous science) pada setiap kearifan
lokal perlu digali dan dikaji serta disosialisaikan, salah satunya melalui pembelajaran di
sekolah. Kearifan lokal dapat digunakan sebagai sumber belajar bagi guru dan siswa
(Rikizaputra et al, 2022). Pemanfaatan kearifan lokal merupakan salah satu pendekatan yang
cocok digunakan dalam pendidikan di Indonesia (Suryanti et al., 2021). Penelitian lain
mengungkap bahwa integrasi budaya dapat menjadi salah satu alternatif solusi terhadap
beberapa masalah dalam pembelajaran sains (Syazali & Umar, 2022). Artinya, kearifan lokal
yang berkembang di masyarakat dapat dijadikan sumber belajar dengan menggali dan
mengkaji pengetahuan sains asli yang ada di dalamnya.
Upaya mengkaji pengetahuan sains asli dalam kearifan lokal di daerah masih terbatas.
Keterbatasan ini dibuktikan melalui hasil penelitian yang menyatakan bahwa meskipun
terdapat beberapa upaya untuk mengintegrasikan etnosains dalam pembelajaran Fisika,
aplikasinya pada buku ajar zat padat di tingkat pendidikan tinggi masih terbatas (Pangga et al.,
2023). Hasil penelitian lain mengungkap bahwa pendekatan etnosains belum banyak
digunakan guru dalam pelaksanaan pembelajaran kimia baik pembelajaran di kelas maupun di
laboratorium (Andayani et al., 2021). Selain itu, tidak ditemukan hasil penelitian terkait
penggunaan modul IPA berbasis etnosains yang dapat meningkatkan literasi sains pada siswa
SD (Abdul Muizz et al., 2023). Beberapa penyebab permasalahan tersebut antara lain karena
tidak semua materi IPA bisa diajarkan dengan berbasis etnosains, alokasi waktu pembelajaran
yang kurang dan siswa yang belum terbiasa dengan pembelajaran berbasis etnosains (Hirawan,
2023).
Dusun Glonggong merupakan salah satu wilayah yang ada di Desa Tempursari,
Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun. Di Dusun Glonggong terdapat beberapa industri
pembuatan tempe rumahan, yang tidak hanya memproduksi tempe kedelai tetapi juga tempe
gembus. Industri rumahan tempe gembus muncul sebagai upaya masyarakat mengatasi
melimpahnya limbah ampas tahu yang dihasilkan oleh pabrik tahu setempat. Keberadaan
industri tempe gembus ini dapat menjadi peluang tersendiri untuk mengintegrasikan etnosains
dalam pembelajaran sains.
Penelitian mengenai“Kajian Etnosains dalam Proses Pembuatan Tempe Gembus dalam
Pembelajaran IPA” ini krusial untuk dilakukan mengingat belum ada yang menganalisis secara
komprehensif mengenai topik tersebut. Penelitian ini penting untuk dilakukan agar potensi
penelitian dapat diketahui kebenarannya serta dapat dijadikan sebagai pertimbangan dalam
menyusun desain pembelajaran selanjutnya. Tujuan penelitian ini yaitu merekonstruksi sains
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 1, Maret 2025, page: 24-32
E-ISSN: 3047-2288
26
Mia Lusy Ananda et.al (Kajian Etnosains Dalam Proses....)
asli masyarakat mengenai proses pembuatan tempe gembus menjadi sains ilmiah, serta
menjelaskan materi IPA yang terkait dengan rekonstruksi sains asli pada proses pembuatan
tempe gembus.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Subyek penelitian adalah
Bapak Paryono, seorang pengusaha tempe di Dusun Glonggong dan beberapa buku serta
artikel penelitian terkait. Metode pengumpulan data akan dilakukan melalui wawancara,
observasi partisipatif, dokumentasi dan studi kepustakaan. Wawancara dilakukan untuk
menggali pengetahuan yang dimiliki oleh pemilik usaha dalam proses pembuatan tempe
gembus, sedangkan observasi partisipatif memungkinkan peneliti untuk mengamati secara
langsung proses pembuatan. Dokumentasi akan mencakup catatan lapangan dan foto-foto
kegiatan, sehingga memberikan gambaran yang lebih komprehensif. Sedangkan, studi
kepustakaan digunakan untuk menggali informasi sains ilmiah yang dapat ditemukan untuk
menjelaskan setiap proses pembuatan tempe gembus.
Analisis data, dilakukan melalui 3 tahapan yaitu (1) Kondensasi data, langkah ini
dilakukan dengan memfokuskan data pada hal penting dari data yang telah diperoleh. Proses
ini berlangsung sejak observasi dan wawancara hingga data terkumpul (2) Tampilan data atau
data display, penyajian data berupa kalimat dan dibuat tabel sehingga lebih mudah untuk
dipahami (3) Penarikan Kesimpulan atau verifikasi, kesimpulan ini merupakan temuan baru
berupa deskripsi maupun gambaran dari objek yang sebelumnya masih kurang jelas menjadi
lebih jelas (Miles et al, 2014). Langkah analisis data merujuk pada gambar dibawah ini:
Gambar 1. Langkah Analisi Data (Miles et al, 2014)
3. Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara kepada pengusaha tempe gembus diperoleh
informasi bahwa proses produksi tempe gembus terdiri dari beberapa tahapan. Tahapan proses
pembuatan tempe gembus disajikan dalam gambar berikut ini
Gambar 2. Tahapan Proses Pembuatan Tempe Gembus
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 1, Maret 2025, page: 24-32
E-ISSN: 3047-2288
27
Mia Lusy Ananda et.al (Kajian Etnosains Dalam Proses....)
Tabel 1. Proses Pembuatan Tempe Gembus
Pengetahuan Asli Masyarakat
Sains Ilmiah
Bahasa Asli
Bahasa Indonesia
Tempe gembus iki bahane
saka ampas tahu
Tempe gembus ini bahannya
dari ampas tahu
Tempe gembus merupakan
salah satu sumber protein
nabati yang terbuat dari
ampas tahu. Kandungan gizi
dalam tempe gembus
meliputi karbohidrat,
protein, lemak, serat,
vitamin B12, dan mineral
(Wijaya & Yunianta, 2015).
Ampas tahu adalah residu
hasil perasan kedelai yang
mengandung karbohidrat
tinggi (Sari et al., 2017).
Iki ampas tahu sing lagi
teko. Terus diinepne
sewengi, sesuk lagi iso
digawe
Ini ampas tahu yang baru
datang (baru dikirim dari
pabrik tahu). Besok baru
bisa diolah
Melunakkan ampas tahu
supaya menyerap asam.
Proses ini membiarkan
terjadinya fermentasi asam
laktat agar diperoleh
keasaman yang dibutuhkan
untuk pertumbuhan fungi.
Fermentasi asam laktat dan
pengasaman bermanfaat
meningkatkan nilai gizi dan
menghilangkan bakteri
beracun.
sing iki wek e dik ingi, iki
mau wis diumbah, iyo ben ra
mambu. Lha sing kae lagi
bar diperes ben asat banyu
ne
Yang ini (ampas tahu) punya
kemarin. Ini tadi sudah
dicuci, ya biar tidak berbau.
Lha yang itu baru selesai
diperas supaya hilang kadar
airnya
Menghilangkan kotoran
yang dibentuk oleh bakteri
asam laktat selama proses
fermentasi dan agar ampas
tahu tidak terlalu asam.
sak iki digiling ben ra
gembel, ben alus
sekarang digiling supayan
tidak menggumpal, biar
halus atau lembut
Agar miselium fungi dapat
menembus ampas tahu
selama proses fermentasi.
nek wis di dang yo kiro-kiro
1,5 jam nganti panas, ancen
suwi mbak, mergo ngenteni
banyune umop barang
kalau sudah dikukus ya kira-
kira 1,5 jam sampai panas,
emang lama mbak, karena
menunggu airnya mendidih
juga
Sebagai proses hidrasi yaitu
agar ampas tahu menyerap
air sebanyak mungkin, untuk
lebih melunakkan ampas
tahu.
lha ngko nek wis panas,
dientas, terus diperes neh
ben san soyo asat.
lha nanti kalau sudah panas,
ditiriskan, terus diperas lagi
supaya makin hilang kadar
airnya.
Mengurangi kadar air pada
ampas tahu setelah proses
hidrasi.
Lagi engko jam 4 sore kui
Baru nanti jam 4 sore mulai
Inokulum dapat berupa
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 1, Maret 2025, page: 24-32
E-ISSN: 3047-2288
28
Mia Lusy Ananda et.al (Kajian Etnosains Dalam Proses....)
mbunteli kiro-kiro yo
sampek jam 8 bengi pas arep
dibunteli kuwi ojo lali
dicarup karo ragi, ben iso
dadi tempe
dibungkus, kira-kira ya
sampai jam 8 malam pas
mau dibungkusi iti jangan
lupa dicampur dengan ragi,
supaya bisa jadi tempe
kapang yang tumbuh dan
dikeringkan pada daun waru
atau daun jati (disebut usar;
digunakan secara
tradisional), spora kapang
tempe dalam medium
tepung (terigu, beras, atau
tapioka; banyak dijual di
pasaran), dan kultur
Rhizopus oligosporus murni
(umum digunakan oleh
pembuat tempe di luar
Indonesia) (Atmojo, 2018)
tau gak dadi iku biasa,
makane suhune ngene ki
kudu pas, panasen yo emoh,
adem yo emoh, makane iki
mau tak tutup terus
Pernah tidak jadi (gagal)
biasa, makanya suhu (ruang)
nya harus pas, panas tidak
mau, dingin juga tidak mau,
makanya ini tadi (pintunya)
tak tutup terus
kapang tumbuh pada
permukaan dan menembus
ampas tahu menyatukannya
menjadi tempe. Fermentasi
dapat dilakukan pada suhu
2037°C selama 1836 jam.
biasane sewengi wae wis
dadi, lha iki ketok, sing wis
meh dadi
biasanya semalam saja
sudah jadi, lha ini kelihatan,
yang sudah mau jadi.
Waktu fermentasi yang lebih
singkat biasanya untuk
tempe yang menggunakan
banyak inokulum dan suhu
yang lebih tinggi, sementara
proses tradisional
menggunakan laru
(merupakan sejenis ragi
yang digunakan dalam
pembuatan tempe. Laru
berisi spora jamur (kapang)
Rhizopus oligosporus yang
juga dikenal sebagai jamur
tempe) dari daun biasanya
membutuhkan waktu
fermentasi sampai 36 jam.
Dari tabel 1 dapat di dilihat bahwa proses pembuatan tempe gembus dapat dikaitkan dengan
capaian pembelajaran di Sekolah Dasar berdasarkan kurikulum merdeka antara lain:
Tabel 2. Capaian Pembelajaran Sekolah dasar
Capaian Pembelajaran
Konsep Sains dalam Pembuatan Tempe
Gembus
Fase B
Pemahaman IPAS
Peserta didik mendeskripsikan
keanekaragaman hayati,
keragaman budaya, kearifan
lokal, dan upaya pelestariannya.
Proses pembuatan tempe gembus dapat
dihubungkan dengan kearifan lokal dalam
menggunakan bahan-bahan tradisional dan
menjaga keanekaragaman budaya kuliner.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 1, Maret 2025, page: 24-32
E-ISSN: 3047-2288
29
Mia Lusy Ananda et.al (Kajian Etnosains Dalam Proses....)
Peserta didik mengidentifikasi
proses perubahan wujud zat dan
perubahan bentuk energi dalam
kehidupan sehari-hari.
Proses pembuatan tempe gembus melibatkan
perubahan bentuk zat (kedelai menjadi tempe)
dan energi (proses fermentasi menghasilkan
energi dari mikroorganisme).
Keterampilan Proses
Peserta didik mengamati
fenomena dan peristiwa secara
sederhana dengan menggunakan
pancaindra dan dapat mencatat
hasil pengamatannya
Mengamati fenomena fermentasi saat
pembuatan tempe gembus, seperti perubahan
bentuk dan tekstur kedelai, serta mencatat
hasil pengamatannya.
Peserta didik mengidentifikasi
pertanyaan yang dapat diselidiki
secara ilmiah dan membuat
prediksi berdasarkan
pengetahuan yang dimiliki
sebelumnya.
Mengajukan pertanyaan tentang proses
fermentasi dan memprediksi hasil yang akan
terjadi setelah kedelai difermentasi.
Peserta didik membuat rencana
dan melakukan langkah-langkah
operasional untuk menjawab
pertanyaan yang diajukan.
Menggunakan alat dan bahan
yang sesuai dengan
mengutamakan keselamatan.
Peserta didik menggunakan alat
bantu pengukuran untuk
mendapatkan data yang akurat.
Merencanakan langkah-langkah dalam
pembuatan tempe gembus, termasuk memilih
alat dan bahan yang diperlukan serta langkah-
langkah untuk menjaga keselamatan.
Peserta didik membandingkan
antara hasil pengamatan dengan
prediksi dan memberikan alasan
yang bersifat ilmiah.
Mengorganisir data hasil pengamatan, seperti
waktu fermentasi dan perubahan yang terjadi,
dalam bentuk tabel atau grafik.
Peserta didik mengevaluasi
kesimpulan melalui
perbandingan dengan teori yang
ada, menunjukkan kelebihan
dan kekurangan proses
penyelidikan.
Mengevaluasi hasil pembuatan tempe gembus
dengan membandingkan hasilnya dengan
teori tentang fermentasi dan menyimpulkan
efektivitas proses yang dilakukan.
Peserta didik
mengomunikasikan hasil
penyelidikan secara Lisan dan
tertulis dalam berbagai format.
Mengomunikasikan hasil penyelidikan
tentang pembuatan tempe gembus secara lisan
atau tertulis, misalnya dalam bentuk laporan
atau presentasi.
Fase C
Pemahaman IPAS
Peserta didik menyelidiki
bagaimana hubungan saling
ketergantungan antar komponen
biotik-abiotik dapat
memengaruhi kestabilan suatu
ekosistem di lingkungan
sekitarnya.
Proses pembuatan tempe gembus dapat
digunakan untuk membahas interaksi antara
kedelai (komponen biotik) dan faktor
lingkungan (komponen abiotik) yang
mendukung pertumbuhan mikroorganisme
yang digunakan dalam fermentasi.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 1, Maret 2025, page: 24-32
E-ISSN: 3047-2288
30
Mia Lusy Ananda et.al (Kajian Etnosains Dalam Proses....)
Dengan penuh kesadaran,
peserta didik melakukan suatu
tindakan atau mengambil suatu
keputusan yang berkaitan
dengan kehidupan sehari-hari
berdasarkan pemahamannya
terhadap kekayaan kearifan
lokal yang berlaku di
wilayahnya serta nilai-nilai
ilmiah dari kearifan lokal
tersebut.
Proses pembuatan tempe gembus dapat
dihubungkan dengan kearifan lokal dalam
pengolahan makanan dan menjaga
keberlanjutan sumber daya alam.
Keterampilan proses
Peserta didik mengamati
fenomena dan peristiwa secara
sederhana dengan menggunakan
panca indra, mencatat hasil
pengamatannya, serta mencari
persamaan dan perbedaannya.
Mengamati proses fermentasi tempe gembus,
mencatat perubahan yang terjadi pada kedelai,
dan mencari persamaan serta perbedaan
antara proses pembuatan tempe dengan
produk fermentasi lain.
Peserta didik dapat mengajukan
pertanyaan lebih lanjut untuk
memperjelas hasil pengamatan
dan membuat prediksi tentang
penyelidikan ilmiah.
Mengajukan pertanyaan tentang proses
fermentasi dan membuat prediksi mengenai
hasil akhir tempe gembus, seperti tekstur dan
rasa yang diharapkan.
Peserta didik merencanakan dan
melakukan langkah-langkah
operasional untuk menjawab
pertanyaan yang diajukan.
Menggunakan alat dan bahan
yang sesuai dengan
mengutamakan keselamatan.
Peserta didik menggunakan alat
bantu pengukuran untuk
mendapatkan data yang akurat.
Merencanakan langkah-langkah dalam
pembuatan tempe gembus, termasuk
pemilihan bahan, alat yang diperlukan, dan
prosedur yang harus diikuti untuk menjaga
keselamatan.
Peserta didik membandingkan
data dengan prediksi dan
menggunakannya sebagai bukti
dalam menyusun penjelasan
ilmiah.
Menyajikan data pengamatan (misalnya
waktu fermentasi, kondisi kedelai) dalam
bentuk tabel atau grafik, serta menganalisis
hasil pengamatan dengan membandingkannya
dengan prediksi.
Peserta didik mengevaluasi
kesimpulan melalui
perbandingan dengan teori yang
ada. Merefleksikan proses
investigasi, termasuk
merefleksikan validitas suatu
tes.
Mengevaluasi hasil pembuatan tempe gembus
dengan membandingkan hasilnya dengan
teori fermentasi yang ada, serta merefleksikan
proses yang telah dilakukan.
Peserta didik
mengomunikasikan hasil
penyelidikan secara utuh yang
ditunjang dengan argumen,
Mengomunikasikan hasil pembuatan tempe
gembus secara lisan atau tertulis,
menggunakan argumen yang didasarkan pada
data dan pengamatan yang telah dilakukan.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 1, Maret 2025, page: 24-32
E-ISSN: 3047-2288
31
Mia Lusy Ananda et.al (Kajian Etnosains Dalam Proses....)
bahasa, serta konvensi sains
yang umum sesuai format yang
ditentukan.
4. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dalam proses
pembuatan tempe gembus terdapat sains ilmiah yang merupakan hasil rekonstruksi dari
pengetahuan asli yang diperoleh secara turun-temurun. Dari sains ilmiah tersebut terkait
dengan materi IPA yaitu proses fermentasi pada tempe gembus. Dampaknya, hasil penelitian
ini dapat digunakan untuk memperkaya literatur dan praktik pembelajaran IPA. Akhirnya,
penelitian lebih lanjut mengenai kajian etnosains dalam konteks kearifan lokal di daerah lain
juga sangat dianjurkan untuk memperkaya literatur dan praktik pembelajaran IPA di Sekolah
Dasar.
5. Daftar Pustaka
Abdul Muizz, A. M., Suryanti, & Binar Kurnia Prahani. (2023). Literature Review :
Penggunaan Modul IPA Berbasis Etnosains untuk Meningkatkan Literasi Sains Pada
Siswa SD. Jurnal Elementaria Edukasia, 6(4), 19051914.
https://doi.org/10.31949/jee.v6i4.7574
Andayani, Y., Anwar, Y. A. S., & Hadisaputra, S. (2021). Pendekatan Etnosains dalam
Pelajaran Kimia Untuk Pembentukan Karakter Siswa: Tanggapan Guru Kimia di NTB.
Jurnal Pijar Mipa, 16(1), 3943. https://doi.org/10.29303/jpm.v16i1.2269
Atmojo, S. E. (2018). Pengembangan Perangkat Pembelajaran Ipa Terpadu Berpendekatan
Etnosains. Jurnal Pendidikan Sains (Jps), 6(1), 5.
https://doi.org/10.26714/jps.6.1.2018.5-13
Hirawan, A. (2023). Implementasi Pembelajaran Kontekstual pada Mata Pelajaran IPA
Berbasis Etnosains Siswa Kelas VI MI Darussalam Pagergedog Desa Sepakung
Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang. Jurnal Pendidikan Tematik, 4(1), 1115.
https://journal.ugm.ac.id/kawistara/article/download/13660/10392
Januardi, A., Superman, S., & Nur, S. (2024). Integrasi Nilai-Nilai Tradisi Masyarakat Sambas
dalam Pembelajaran Sejarah. Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Indonesia (JPPI),
4(2), 794805. https://doi.org/10.53299/jppi.v4i2.604
Miles, M.B., Huberman, A. M., Saldana, J. (2014). Qualitative Data Analysis: A Methods
Sourcebook. In Sustainability (Switzerland) (Vol. 11, Issue 1).
http://scioteca.caf.com/bitstream/handle/123456789/1091/RED2017-Eng-
8ene.pdf?sequence=12&isAllowed=y%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.regsciurbeco.200
8.06.005%0Ahttps://www.researchgate.net/publication/305320484_SISTEM_PEMBET
UNGAN_TERPUSAT_STRATEGI_MELESTARI
Noventue, R., Ginanjar, S., & Astutik, A. (2024). Hakikat Pendidikan:Menginternalisasikan
Budaya Melalui Filsafat Ki HajarDewantara Dan Nilai-NilaiPancasila Pada Siswa.
Jurnal Review Pendidikan Dan Pengajaran, 7(1), 28092818.
Nurhadi, S. S. M., Ramadhani, A., & ... (2024). Keberagaman Budaya dan Kearifan Lokal di
Desa Gondang Mojokerto. Prosiding Patriot , 1871, 858872.
https://conference.untag-sby.ac.id/index.php/spm/article/download/3931/2164
Pangga, D., Prasetya, D. S. B., & Sanapiah, S. (2023). Pembelajaran Etnosains dalam
Meningkatkan Pemahaman Konsep Mahasiswa pada Fisika Zat Padat. Empiricism
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 2, No. 1, Maret 2025, page: 24-32
E-ISSN: 3047-2288
32
Mia Lusy Ananda et.al (Kajian Etnosains Dalam Proses....)
Journal, 4(2), 464470. https://doi.org/10.36312/ej.v4i2.1650
Rikizaputra; Lufri; Syamsurizal; Arsih, Fitri; Elvianasti, M. (2022). Analisis Etnosains Tradisi
Rantau Larangan Kampung Tandikat sebagai Sumber Belajar Biologi. 9(1), 90102.
Sari, N. T., Riayah, P. D., Fasya, N., A, A. M., B, N. F., & Nuryanti, N. (2017). Pengembangan
Formulasi Pasta Antiinflamasi Piroksikam Berbasis Ampas Tahu dalam Pemanfaatan
Limbah Tahu Di Purwokerto. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia, 15(2), 148.
https://doi.org/10.35814/jifi.v15i2.505
Subiyakto, B., & Mutiani, M. (2019). Internalisasi Nilai Pendidikan Melalui Aktivitas
Masyarakat Sebagai Sumber Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial. Khazanah: Jurnal Studi
Islam Dan Humaniora, 17(1), 137. https://doi.org/10.18592/khazanah.v17i1.2885
Suryanti, S., Prahani, B. K., Widodo, W., Mintohari, M., Istianah, F., Julianto, J., &
Yermiandhoko, Y. (2021). Ethnoscience-based science learning in elementary schools.
Journal of Physics: Conference Series, 1987(1). https://doi.org/10.1088/1742-
6596/1987/1/012055
Syazali, M., & Umar, U. (2022). Peran Kebudayaan Dalam Pembelajaran IPA Di Indonesia:
Studi Literatur Etnosains. Jurnal Educatio FKIP UNMA, 8(1), 344354.
https://doi.org/10.31949/educatio.v8i1.2099
Wijaya, J. C., & Yunianta, Y. (2015). Pengaruh Penambahan Enzim Bromelin Terhadap Sifat
Kimia Dan Organoleptik Tempe Gembus (Kajian Konsentrasi Dan Lama Inkubasi
Dengan Enzim). Jurnal Pangan Dan Agroindustri, 3(1), 96106.