PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 123-135
E-ISSN: 3047-2288
123
Johan Subarkah (Candi Borobudur dalam Perspektif....)
Candi Borobudur dalam Perspektif Living
Monument: Integrasi Nilai Spiritual, Budaya, dan
Pariwisata Berkelanjutan
Johan Subarkah
Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta, Indonesia
Email: johansubarkah@stipram.ac.id
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 22 Maret 2026
Direvisi: 13 April 2026
Disetujui: 26 Mei 2026
Tersedia Daring: 29 Juni 2026
Candi Borobudur merupakan warisan budaya dunia yang tidak hanya memiliki nilai
historis dan arkeologis, tetapi juga nilai spiritual, budaya, dan ekonomi yang terus
berkembang dalam kehidupan masyarakat. Perkembangan pariwisata Borobudur
menghadirkan tantangan untuk menyeimbangkan kepentingan konservasi,
keberlanjutan fungsi spiritual, keterlibatan masyarakat, dan pemanfaatan ekonomi.
Meskipun berbagai penelitian telah mengkaji Borobudur dari perspektif konservasi,
pariwisata berkelanjutan, budaya, dan spiritualitas, kajian yang mengintegrasikan
dimensi tersebut dalam perspektif living monument masih terbatas. Penelitian ini
bertujuan menganalisis potensi Candi Borobudur sebagai living monument melalui
integrasi nilai spiritual, budaya, dan pariwisata berkelanjutan. Penelitian menggunakan
pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Data
diperoleh dari artikel jurnal ilmiah dan dokumen kebijakan yang relevan, kemudian
dianalisis menggunakan analisis isi dan sintesis tematik. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa Borobudur memiliki karakteristik kuat sebagai living monument melalui
keberlanjutan fungsi spiritual, vitalitas budaya masyarakat, reinterpretasi makna
dalam konteks kontemporer, serta pengembangan pariwisata berkelanjutan. Sintesis
literatur menghasilkan model konseptual yang menempatkan nilai spiritual sebagai
fondasi normatif, nilai budaya sebagai penghubung antara situs dan kehidupan
masyarakat, serta pariwisata berkelanjutan sebagai mekanisme pemanfaatan yang
mendukung keberlanjutan warisan. Penelitian mengidentifikasi empat indikator
konseptual liveness, yaitu kontinuitas spiritual, vitalitas budaya, partisipasi dan
kebermanfaatan masyarakat, serta keberlanjutan pemanfaatan wisata. Kebaruan
penelitian terletak pada pergeseran perspektif dari Borobudur sebagai objek warisan
dunia menuju Borobudur sebagai ekosistem warisan yang hidup. Temuan ini
memberikan implikasi bagi pengembangan kebijakan pengelolaan Borobudur yang
mengintegrasikan konservasi, spiritualitas, budaya, partisipasi masyarakat, dan
pariwisata berkelanjutan.
Kata Kunci:
Candi Bororbudur;
Living Monument;
Pariwisata Budaya;
Pariwisata Berkelanjutan;
Warisan Dunia
ABSTRACT
Keywords:
Borobudur Temple;
Living Monument;
Cultural Tourism;
Sustainable Tourism;
World Heritage
Borobudur Temple is a World Heritage Site that possesses not only historical and
archaeological value, but also spiritual, cultural and economic value that continues to evolve
within the lives of the local community. The development of tourism at Borobudur presents the
challenge of balancing the interests of conservation, the sustainability of its spiritual function,
community involvement and economic utilisation. Although various studies have examined
Borobudur from the perspectives of conservation, sustainable tourism, culture and spirituality,
research that integrates these dimensions within the perspective of a ‘living monument’
remains limited. This study aims to analyse the potential of Borobudur Temple as a ‘living
monument’ through the integration of spiritual, cultural and sustainable tourism values. The
study employs a qualitative approach using library research. Data were obtained from
scientific journal articles and relevant policy documents and were subsequently analysed using
content analysis and thematic synthesis. The results of the study indicate that Borobudur
possesses strong characteristics as a ‘living monument’ through the continuity of its spiritual
function, the cultural vitality of the local community, the reinterpretation of its meaning in a
contemporary context, and the development of sustainable tourism. The literature review has
produced a conceptual model that positions spiritual values as the normative foundation,
cultural values as the link between the site and community life, and sustainable tourism as a
mechanism for utilisation that supports the sustainability of the heritage. The research
identifies four conceptual indicators of ‘liveness’, namely spiritual continuity, cultural vitality,
community participation and benefit, and the sustainability of tourism utilisation. The novelty
of this research lies in the shift in perspective from Borobudur as a World Heritage site to
Borobudur as a living heritage ecosystem. These findings have implications for the development
of Borobudur management policies that integrate conservation, spirituality, culture,
community participation and sustainable tourism.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 123-135
E-ISSN: 3047-2288
124
Johan Subarkah (Candi Borobudur dalam Perspektif....)
©2026, Johan Subarkah
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Candi Borobudur merupakan salah satu warisan budaya dunia yang memiliki nilai
historis, arkeologis, filosofis, dan spiritual yang sangat penting bagi Indonesia maupun
masyarakat internasional. Sejak ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun
1991, Borobudur tidak hanya dipandang sebagai peninggalan peradaban masa lalu, tetapi juga
sebagai simbol identitas budaya yang merepresentasikan kebesaran peradaban Nusantara.
Dalam perkembangannya, Borobudur telah menjadi salah satu destinasi wisata unggulan
Indonesia yang menarik jutaan wisatawan domestik maupun mancanegara setiap tahunnya.
Posisi strategis tersebut menjadikan Borobudur sebagai ruang pertemuan antara kepentingan
pelestarian warisan budaya, praktik keagamaan, aktivitas sosial budaya masyarakat, dan
industri pariwisata (Nuryanti, 2026).
Beberapa dekade terakhir, pengelolaan situs warisan dunia mengalami pergeseran
paradigma. Jika sebelumnya warisan budaya lebih banyak dipandang sebagai objek konservasi
yang berorientasi pada perlindungan fisik bangunan, kini berkembang pendekatan yang
menempatkan warisan budaya sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang terus
berlangsung (living heritage). Pendekatan ini menekankan bahwa situs warisan budaya tidak
hanya memiliki nilai material, tetapi juga nilai sosial, spiritual, budaya, dan ekonomi yang terus
dipraktikkan oleh komunitas pendukungnya. Dalam konteks tersebut, konsep living monument
menjadi semakin relevan karena memandang suatu monumen sebagai ruang hidup yang
memiliki keterkaitan dengan praktik budaya, aktivitas keagamaan, serta kehidupan masyarakat
secara berkelanjutan (Latupapua et al., 2026).
Borobudur menunjukkan karakteristik yang menarik untuk dikaji melalui perspektif
living monument. Di satu sisi, candi ini merupakan monumen bersejarah yang memerlukan
perlindungan ketat guna menjaga keaslian dan kelestariannya. Namun di sisi lain, Borobudur
masih digunakan sebagai pusat kegiatan spiritual umat Buddha, terutama dalam perayaan
Waisak yang melibatkan ribuan umat dari berbagai negara. Selain itu, kawasan Borobudur juga
menjadi ruang ekspresi budaya masyarakat lokal melalui berbagai tradisi, festival budaya,
produk ekonomi kreatif, serta aktivitas pariwisata yang berkembang di sekitarnya. Kondisi
tersebut menunjukkan bahwa Borobudur tidak sepenuhnya berfungsi sebagai monumen statis,
melainkan memiliki dinamika kehidupan sosial dan budaya yang terus berlangsung (Riyadi et
al., 2026).
Meningkatnya kunjungan wisatawan ke Borobudur juga menghadirkan tantangan baru
dalam pengelolaan situs warisan dunia. Aktivitas pariwisata yang masif berpotensi
menimbulkan tekanan terhadap daya dukung fisik bangunan, perubahan makna sakral situs,
serta komersialisasi nilai budaya yang melekat pada Borobudur. Berbagai kebijakan
pembatasan jumlah pengunjung, pengaturan akses ke struktur candi, dan pengembangan
kawasan penyangga menunjukkan adanya upaya untuk menyeimbangkan antara pelestarian
warisan budaya dan pemanfaatan ekonomi melalui sektor pariwisata. Oleh karena itu,
diperlukan perspektif yang mampu mengintegrasikan dimensi pelestarian, spiritualitas, budaya,
dan pembangunan pariwisata secara berkelanjutan (Rahmad & Wibowo, 2026).
Berbagai penelitian terdahulu telah membahas Borobudur dari beragam perspektif.
Sebagian besar penelitian berfokus pada pengelolaan destinasi wisata, konservasi cagar
budaya, pengembangan pariwisata berkelanjutan, dampak ekonomi pariwisata, maupun strategi
pengembangan kawasan super prioritas. Penelitian lain juga mengkaji nilai-nilai filosofis dan
spiritual Borobudur sebagai warisan budaya Buddha serta perannya dalam diplomasi budaya
Indonesia. Kajian mengenai pariwisata berbasis masyarakat dan keterlibatan masyarakat lokal
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 123-135
E-ISSN: 3047-2288
125
Johan Subarkah (Candi Borobudur dalam Perspektif....)
di kawasan Borobudur juga telah berkembang cukup luas. Dengan demikian, telah banyak
pengetahuan yang menjelaskan aspek pelestarian, pemanfaatan wisata, dan nilai budaya
Borobudur secara parsial (Darmawan, 2022).
Namun demikian, masih terdapat keterbatasan dalam literatur yang secara khusus
menempatkan Borobudur sebagai living monument yang mengintegrasikan nilai spiritual,
budaya, dan pariwisata berkelanjutan dalam satu kerangka konseptual yang utuh. Sebagian
besar kajian cenderung memisahkan dimensi konservasi, spiritualitas, budaya, dan pariwisata
sebagai isu yang berdiri sendiri. Akibatnya, belum banyak penelitian yang menjelaskan
bagaimana interaksi antara ketiga dimensi tersebut membentuk karakter Borobudur sebagai
monumen hidup yang tetap relevan bagi masyarakat kontemporer sekaligus memenuhi prinsip
pelestarian warisan dunia. Selain itu, konsep living monument masih relatif terbatas digunakan
dalam kajian pariwisata dan warisan budaya di Indonesia, khususnya pada konteks Borobudur
sebagai situs warisan dunia (Gustiawan et al., 2026).
Berdasarkan kondisi tersebut, terdapat research gap yang terletak pada belum adanya
sintesis konseptual yang komprehensif mengenai posisi Borobudur sebagai living monument
yang memadukan fungsi spiritual, budaya, dan pariwisata berkelanjutan. Kajian-kajian
sebelumnya umumnya berorientasi pada aspek sektoral, sedangkan hubungan integratif antar
unsur tersebut masih belum banyak dieksplorasi secara mendalam. Padahal, pemahaman
mengenai karakteristik living monument sangat penting untuk merumuskan model pengelolaan
warisan budaya yang tidak hanya berfokus pada konservasi fisik, tetapi juga menjaga
keberlanjutan nilai-nilai hidup yang terkandung di dalamnya.
Berangkat dari kesenjangan tersebut, artikel ini bertujuan untuk menganalisis Candi
Borobudur dalam perspektif living monument melalui studi kepustakaan. Kajian ini menelaah
berbagai literatur yang berkaitan dengan konsep living monument, living heritage, nilai
spiritual, budaya, dan pariwisata berkelanjutan guna memahami potensi serta tantangan
Borobudur sebagai monumen hidup di tingkat global.
Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan perspektif integratif yang
menempatkan Borobudur tidak hanya sebagai objek warisan budaya atau destinasi wisata,
tetapi sebagai living monument yang hidup melalui interaksi nilai spiritual, praktik budaya
masyarakat, dan aktivitas pariwisata berkelanjutan. Artikel ini menawarkan sintesis konseptual
yang memperluas diskursus pengelolaan warisan budaya dari pendekatan konservasi fisik
menuju pendekatan living monument yang berorientasi pada keberlanjutan nilai, makna, dan
fungsi sosial budaya. Dengan demikian, kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi
teoretis bagi pengembangan studi warisan budaya dan pariwisata berkelanjutan serta menjadi
referensi dalam perumusan kebijakan pengelolaan Borobudur sebagai warisan dunia yang
tetap hidup dan bermakna bagi generasi masa kini maupun masa mendatang.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan
(library research). Metode ini dipilih karena penelitian bertujuan untuk menganalisis dan
mengkonstruksi pemahaman konseptual mengenai Candi Borobudur dalam perspektif living
monument melalui penelaahan berbagai sumber literatur yang relevan. Studi kepustakaan
memungkinkan peneliti mengidentifikasi, mengkaji, membandingkan, dan mensintesis
berbagai konsep, teori, hasil penelitian, serta dokumen kebijakan yang berkaitan dengan
warisan budaya, living heritage, living monument, nilai spiritual, budaya, dan pariwisata
berkelanjutan.
Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas data sekunder yang diperoleh dari artikel
jurnal ilmiah nasional dan internasional serta dokumen kebijakan yang berkaitan dengan
pengelolaan Candi Borobudur sebagai situs warisan dunia. Literatur yang digunakan
diprioritaskan pada publikasi yang membahas konsep living monument, living heritage,
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 123-135
E-ISSN: 3047-2288
126
Johan Subarkah (Candi Borobudur dalam Perspektif....)
pelestarian warisan budaya, pariwisata berkelanjutan, spiritual tourism, cultural tourism, dan
pengelolaan situs warisan dunia. Pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran literatur
secara sistematis menggunakan basis data ilmiah seperti Google Scholar, Scopus, Web of
Science, dan portal jurnal nasional terakreditasi. Kata kunci yang digunakan antara lain
Borobudur, living monument, living heritage, world heritage, sustainable tourism, spiritual
tourism, cultural heritage tourism, dan heritage management. Literatur yang diperoleh
kemudian diseleksi berdasarkan relevansi tema, kredibilitas sumber, dan keterkaitan dengan
fokus penelitian.
Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis isi (content analysis) dan sintesis
tematik (thematic synthesis). Pada tahap pertama, peneliti melakukan identifikasi konsep-
konsep utama yang berkaitan dengan karakteristik living monument, nilai spiritual, nilai
budaya, dan prinsip pariwisata berkelanjutan. Tahap kedua dilakukan proses kategorisasi dan
pengelompokan tema-tema yang muncul dari berbagai sumber literatur. Tahap ketiga
dilakukan interpretasi dan sintesis untuk membangun pemahaman yang komprehensif
mengenai posisi Candi Borobudur sebagai living monument. Selanjutnya, hasil sintesis
digunakan untuk mengidentifikasi keterkaitan antara dimensi spiritual, budaya, dan pariwisata
berkelanjutan dalam pengelolaan Borobudur sebagai warisan dunia. Untuk menjamin
keabsahan data, penelitian menerapkan triangulasi sumber melalui perbandingan berbagai
jenis literatur, baik dari sumber akademik, dokumen internasional, maupun kebijakan
pemerintah. Selain itu, proses analisis dilakukan secara kritis dengan membandingkan
berbagai perspektif dan temuan penelitian terdahulu sehingga diperoleh interpretasi yang lebih
komprehensif dan objektif.
Melalui pendekatan tersebut, penelitian ini diharapkan mampu menghasilkan konstruksi
konseptual yang menjelaskan potensi Candi Borobudur sebagai living monument yang
mengintegrasikan nilai spiritual, budaya, dan pariwisata berkelanjutan dalam kerangka
pengelolaan warisan dunia.
3. Hasil dan Pembahasan
Borobudur dan Karakteristik Living Monument
Konsep living monument berkembang dari paradigma living heritage yang memandang
warisan budaya tidak semata-mata sebagai peninggalan masa lalu yang harus dilestarikan
secara fisik, tetapi juga sebagai entitas yang tetap hidup melalui praktik sosial, budaya, dan
spiritual masyarakat pendukungnya. Dalam perspektif ini, suatu monumen dapat dikategorikan
sebagai living monument apabila masih memiliki fungsi, makna, dan keterhubungan dengan
kehidupan masyarakat kontemporer.
Hasil kajian literatur menunjukkan bahwa Candi Borobudur memiliki sejumlah
karakteristik yang mendukung posisinya sebagai living monument. Pertama, Borobudur masih
menjalankan fungsi spiritual sebagai tempat ibadah umat Buddha. Perayaan Hari Raya Waisak
yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun menjadi bukti bahwa Borobudur bukan hanya situs
arkeologi, tetapi juga ruang spiritual yang aktif digunakan oleh komunitas keagamaan.
Kehadiran ribuan umat Buddha dari Indonesia maupun berbagai negara menunjukkan bahwa
fungsi sakral Borobudur tetap hidup dan relevan hingga saat ini (Sukarti & Waisaka, 2026).
Kedua, Borobudur memiliki keterkaitan yang kuat dengan kehidupan budaya masyarakat
sekitar. Berbagai tradisi, festival budaya, pertunjukan seni, kerajinan rakyat, hingga praktik
ekonomi kreatif berkembang sebagai bagian dari ekosistem budaya kawasan Borobudur.
Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Borobudur tidak terpisah dari masyarakat,
melainkan menjadi sumber identitas budaya dan penggerak kehidupan sosial ekonomi lokal
(Siregar et al., 2025).
Ketiga, Borobudur terus mengalami proses reinterpretasi makna sesuai dengan
perkembangan zaman. Selain dipahami sebagai situs keagamaan dan warisan budaya,
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 123-135
E-ISSN: 3047-2288
127
Johan Subarkah (Candi Borobudur dalam Perspektif....)
Borobudur juga diposisikan sebagai simbol diplomasi budaya Indonesia, destinasi wisata
internasional, pusat edukasi sejarah, dan ruang refleksi spiritual. Kemampuan untuk
mempertahankan relevansi dalam berbagai konteks sosial menjadi salah satu indikator penting
dari karakter living monument (Yatno, 2022). Dengan demikian, berdasarkan karakteristik
tersebut, Borobudur tidak dapat dipandang semata-mata sebagai dead monument yang
berfungsi sebagai objek konservasi, tetapi memiliki atribut sebagai monumen hidup yang terus
berinteraksi dengan masyarakat, budaya, dan perkembangan pariwisata kontemporer.
Namun demikian, karakteristik tersebut tidak berdiri secara terpisah, melainkan
membentuk suatu hubungan yang saling memengaruhi antara dimensi spiritual, budaya, sosial,
dan pariwisata. Fungsi spiritual memberikan landasan makna dan kesakralan Borobudur,
sementara praktik budaya masyarakat memperkuat keterhubungan antara warisan budaya
dengan kehidupan komunitas di sekitarnya. Pada saat yang sama, aktivitas pariwisata
membuka ruang bagi Borobudur untuk dikenal, dipelajari, dan diapresiasi oleh masyarakat
yang lebih luas. Interaksi ketiga dimensi tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan
Borobudur sebagai living monument tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan
mempertahankan keutuhan fisik bangunan, tetapi juga oleh kemampuan mempertahankan
keberlanjutan makna, praktik, relasi sosial, dan fungsi yang melekat pada situs tersebut.
Dengan demikian, living monument perlu dipahami sebagai suatu proses yang dinamis, ketika
warisan budaya terus dipelihara sekaligus dimaknai kembali oleh masyarakat sesuai dengan
perkembangan sosial dan kebutuhan zaman.
Dalam konteks tersebut, status Borobudur sebagai living monument sekaligus
menghadirkan persoalan pengelolaan yang kompleks. Semakin luas pemanfaatan Borobudur
sebagai destinasi wisata, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan bahwa nilai
komersial dan ekonomi tidak menggeser fungsi spiritual serta makna budaya yang melekat
pada situs. Sebaliknya, orientasi konservasi yang terlalu menekankan perlindungan fisik juga
berpotensi membatasi akses komunitas untuk menjalankan praktik budaya dan spiritual yang
justru menjadi bagian dari karakter living heritage. Oleh karena itu, terdapat kebutuhan untuk
membangun keseimbangan antara conservation, community participation, spiritual continuity,
dan sustainable tourism. Keseimbangan tersebut menjadi penting karena keberlanjutan
Borobudur tidak hanya berkaitan dengan pertanyaan mengenai bagaimana candi tetap berdiri
secara fisik, tetapi juga bagaimana nilai dan makna yang dikandungnya tetap hidup,
dipraktikkan, diwariskan, dan dihargai oleh generasi berikutnya.
Dari perspektif pariwisata berkelanjutan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa Borobudur
perlu ditempatkan bukan sekadar sebagai tourist attraction, melainkan sebagai living cultural
landscape yang memiliki berbagai kepentingan dan aktor di dalamnya. Wisatawan
membutuhkan pengalaman yang autentik dan bermakna, masyarakat lokal membutuhkan
ruang untuk mempertahankan identitas serta memperoleh manfaat ekonomi, komunitas
keagamaan membutuhkan keberlanjutan fungsi spiritual, sedangkan pengelola memiliki
tanggung jawab untuk menjaga kelestarian warisan dunia. Keempat kepentingan tersebut dapat
saling mendukung apabila dikelola dalam kerangka partisipatif dan berorientasi pada
keberlanjutan. Dengan demikian, pengembangan Borobudur sebagai living monument tidak
seharusnya diarahkan pada peningkatan jumlah kunjungan semata, tetapi pada peningkatan
kualitas hubungan antara manusia, warisan budaya, lingkungan, dan pengalaman spiritual
yang dihasilkan dari keberadaan situs tersebut.
Lebih lanjut, sintesis literatur memperlihatkan bahwa kekuatan utama Borobudur sebagai
living monument justru terletak pada kemampuannya mempertahankan kontinuitas sekaligus
mengalami adaptasi. Kontinuitas tercermin dari keberlanjutan nilai spiritual, praktik
keagamaan, dan identitas budaya yang melekat pada Borobudur, sedangkan adaptasi terlihat
dari berkembangnya fungsi edukasi, diplomasi budaya, ekonomi kreatif, dan pariwisata. Relasi
antara kontinuitas dan adaptasi tersebut menjadi pembeda penting antara monumen yang
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 123-135
E-ISSN: 3047-2288
128
Johan Subarkah (Candi Borobudur dalam Perspektif....)
hanya dilestarikan sebagai artefak sejarah dan monumen yang tetap hidup dalam kehidupan
masyarakat. Dalam kerangka ini, Borobudur dapat dipahami sebagai warisan budaya yang
tidak hanya diwariskan dari masa lalu, tetapi terus diproduksi kembali maknanya pada masa
kini melalui interaksi antara komunitas, pengelola, wisatawan, dan berbagai pemangku
kepentingan.
Berdasarkan sintesis tersebut, living monument pada konteks Borobudur dapat dirumuskan
melalui empat indikator utama, yaitu keberlanjutan fungsi spiritual, keberlanjutan praktik dan
identitas budaya, keterlibatan masyarakat dalam pemaknaan dan pengelolaan warisan, serta
pemanfaatan pariwisata yang menjaga keberlanjutan nilai dan kelestarian situs. Keempat
indikator tersebut memiliki hubungan yang bersifat interdependen. Lemahnya salah satu aspek
dapat memengaruhi keberlanjutan aspek lainnya. Oleh sebab itu, Borobudur sebagai living
monument sebaiknya tidak dinilai hanya berdasarkan kondisi fisik dan status formalnya
sebagai warisan dunia, tetapi berdasarkan sejauh mana nilai, fungsi, praktik, dan relasi sosial
yang membentuk makna Borobudur tetap hidup dan berkelanjutan. Perspektif ini sekaligus
memperluas pemahaman mengenai warisan dunia dari paradigma preservation of monument
menuju paradigma sustainability of living heritage.
Integrasi Nilai Spiritual dalam Pengelolaan Borobudur
Nilai spiritual merupakan dimensi utama yang membedakan Borobudur dari banyak situs
warisan budaya lainnya. Secara historis, Borobudur dibangun sebagai mandala raksasa yang
merepresentasikan perjalanan manusia menuju pencerahan. Struktur bangunan, relief, dan tata
ruang candi mengandung ajaran moral, filsafat hidup, dan nilai-nilai Buddhis yang mendalam.
ajian literatur menunjukkan bahwa nilai spiritual Borobudur tidak berhenti pada makna
historis yang terkandung dalam relief dan arsitekturnya, tetapi terus dihidupkan melalui
praktik keagamaan. Perayaan Waisak menjadi manifestasi nyata keberlanjutan fungsi spiritual
tersebut. Dalam konteks living monument, praktik keagamaan yang terus berlangsung
merupakan indikator penting bahwa warisan budaya masih memiliki hubungan organik dengan
komunitas pewarisnya (Yatno, 2026).
Di sisi lain, meningkatnya aktivitas pariwisata menghadirkan tantangan terhadap
pelestarian kesakralan situs. Borobudur tidak hanya dikunjungi oleh peziarah dan umat
Buddha, tetapi juga oleh wisatawan yang memiliki motivasi rekreasi, edukasi, maupun
fotografi. Kondisi ini berpotensi menimbulkan pergeseran makna dari ruang sakral menjadi
ruang konsumsi wisata apabila tidak dikelola secara proporsional. Oleh karena itu, pendekatan
living monument menuntut adanya keseimbangan antara aksesibilitas wisata dan perlindungan
nilai spiritual. Pengelolaan Borobudur perlu memastikan bahwa fungsi keagamaan tetap
menjadi bagian integral dari keberadaan situs, bukan sekadar pelengkap aktivitas pariwisata
(Mulyadi et al., 2026).
Lebih jauh, keberlanjutan nilai spiritual Borobudur tidak hanya berkaitan dengan
keberlangsungan ritual keagamaan, tetapi juga dengan kemampuan pengelola dan pemangku
kepentingan untuk mempertahankan sacredness dan autentisitas makna situs di tengah
meningkatnya aktivitas pariwisata. Dalam perspektif living monument, nilai spiritual bukan
merupakan atribut masa lalu yang bersifat tetap, melainkan nilai yang terus diproduksi dan
diwariskan melalui praktik keagamaan, pengalaman komunitas, interpretasi budaya, serta
interaksi antara umat, masyarakat, dan pengunjung. Dengan demikian, keberadaan wisatawan
tidak selalu harus dipandang sebagai ancaman terhadap kesakralan Borobudur. Apabila
dikelola melalui interpretasi yang tepat, pengaturan ruang dan waktu kunjungan, serta
penghormatan terhadap aktivitas keagamaan, pariwisata justru dapat menjadi medium edukasi
yang memperkenalkan nilai filosofis dan spiritual Borobudur kepada masyarakat global.
Dalam kerangka tersebut, terdapat hubungan dialektis antara fungsi sakral dan fungsi
wisata. Di satu sisi, pariwisata membutuhkan daya tarik, autentisitas, dan pengalaman yang
bermakna, sementara di sisi lain aktivitas wisata harus tunduk pada batas-batas yang
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 123-135
E-ISSN: 3047-2288
129
Johan Subarkah (Candi Borobudur dalam Perspektif....)
ditentukan oleh nilai kesakralan dan kepentingan pelestarian. Kondisi ini menunjukkan bahwa
pengelolaan Borobudur tidak cukup hanya menggunakan pendekatan visitor management,
tetapi juga memerlukan spiritual heritage management yang mempertimbangkan kebutuhan
komunitas keagamaan sebagai salah satu pemangku kepentingan utama. Pengaturan akses
terhadap ruang tertentu, pembatasan aktivitas yang berpotensi mengganggu kekhusyukan
ritual, penyediaan informasi mengenai etika berkunjung, serta pelibatan komunitas keagamaan
dalam proses pengambilan keputusan menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan
tersebut.
Dari perspektif living monument, keberadaan praktik keagamaan yang berkelanjutan
sekaligus menjadi indikator bahwa Borobudur memiliki living value yang melampaui nilai
material bangunan. Nilai tersebut tidak hanya melekat pada batu, relief, stupa, dan struktur
arsitekturnya, tetapi juga pada praktik, ingatan kolektif, keyakinan, dan pengalaman spiritual
yang terus berlangsung. Oleh karena itu, konservasi Borobudur seharusnya tidak berhenti pada
upaya mempertahankan materialitas candi, tetapi juga memastikan keberlanjutan intangible
heritage yang memberikan makna terhadap keberadaan fisiknya. Ketika aspek material dan
nonmaterial tersebut dapat dipertahankan secara bersamaan, Borobudur memiliki fondasi yang
lebih kuat untuk berkembang sebagai living monument yang relevan secara spiritual, budaya,
dan pariwisata.
Dengan demikian, nilai spiritual dapat ditempatkan sebagai fondasi utama dalam
konstruksi Borobudur sebagai living monument. Pariwisata berkelanjutan bukanlah tujuan
yang berdiri sendiri, melainkan instrumen yang harus mendukung keberlanjutan nilai spiritual
dan budaya. Relasi tersebut menghasilkan prinsip bahwa semakin tinggi intensitas
pemanfaatan Borobudur sebagai destinasi wisata, semakin kuat pula kebutuhan untuk
melindungi fungsi sakral, autentisitas, dan hak komunitas keagamaan untuk menjalankan
praktik spiritualnya. Perspektif ini menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan Borobudur
tidak seharusnya diukur hanya melalui jumlah kunjungan atau manfaat ekonomi, tetapi juga
melalui kemampuan menjaga kesinambungan hubungan spiritual antara situs, komunitas
pewaris, dan generasi mendatang.
Integrasi Nilai Budaya dan Kehidupan Masyarakat
Perspektif living monument menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam
keberlanjutan warisan budaya. Dalam konteks Borobudur, masyarakat sekitar memiliki
hubungan yang erat dengan keberadaan situs melalui aktivitas budaya, ekonomi, dan sosial
yang berkembang di kawasan penyangga. Berbagai literatur menunjukkan bahwa kawasan
Borobudur telah berkembang menjadi pusat aktivitas budaya yang melibatkan komunitas
lokal. Festival budaya, pertunjukan seni tradisional, pengembangan desa wisata, industri
kerajinan, serta berbagai kegiatan berbasis kearifan lokal menjadi bagian dari ekosistem
budaya yang menopang keberlanjutan kawasan. Kehadiran masyarakat sebagai pelaku utama
menunjukkan bahwa nilai budaya Borobudur tidak hanya tersimpan pada bangunan fisik
candi, tetapi juga hidup dalam praktik sosial masyarakat (Pravita & Pribudi, 2024).
Pendekatan ini sejalan dengan paradigma community-based heritage management yang
menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam pelestarian warisan budaya. Dalam
perspektif tersebut, masyarakat bukan hanya penerima manfaat dari pariwisata, tetapi juga
penjaga nilai-nilai budaya yang menjadi dasar keberadaan situs warisan dunia (Rahmad &
Wibowo, 2026).
Hasil kajian menunjukkan bahwa penguatan fungsi Borobudur sebagai living monument
memerlukan strategi yang mampu memperkuat hubungan antara situs dan komunitas lokal.
Semakin kuat keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan, semakin besar peluang
keberlanjutan nilai budaya yang terkandung dalam Borobudur (Sofianto, 2018).
Namun, keterlibatan masyarakat dalam konteks living monument tidak dapat dimaknai
sebatas keikutsertaan dalam kegiatan budaya atau penerimaan manfaat ekonomi dari
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 123-135
E-ISSN: 3047-2288
130
Johan Subarkah (Candi Borobudur dalam Perspektif....)
pariwisata. Partisipasi yang substantif mensyaratkan adanya ruang bagi masyarakat untuk
memiliki agency dalam menentukan bagaimana warisan budaya dimaknai, digunakan,
dipertahankan, dan dikembangkan. Dalam konteks Borobudur, masyarakat lokal memiliki
pengetahuan, pengalaman, tradisi, serta memori kolektif yang menjadi bagian dari ekosistem
warisan budaya. Pengetahuan tersebut tidak selalu dapat direpresentasikan melalui bangunan
fisik candi atau dokumen formal, tetapi hidup dalam praktik keseharian masyarakat. Oleh
karena itu, masyarakat perlu ditempatkan sebagai heritage bearer sekaligus heritage actor,
bukan sekadar sebagai objek pemberdayaan atau pelengkap dalam pengembangan destinasi
wisata.
Lebih lanjut, keterlibatan masyarakat juga berkaitan erat dengan persoalan distribusi
manfaat dan tanggung jawab dalam pengelolaan pariwisata Borobudur. Pengembangan
destinasi yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dapat memberikan peluang bagi
masyarakat melalui usaha homestay, kuliner, kerajinan, jasa wisata, pertunjukan seni, dan
ekonomi kreatif. Namun, manfaat tersebut perlu didistribusikan secara adil agar masyarakat
yang berada di sekitar situs tidak hanya menanggung konsekuensi sosial dan lingkungan dari
aktivitas wisata, tetapi juga memperoleh manfaat yang proporsional. Dengan demikian, prinsip
community participation perlu berjalan bersamaan dengan community empowerment dan
benefit sharing. Ketiganya menjadi penting karena keberlanjutan warisan budaya pada
akhirnya sangat dipengaruhi oleh sejauh mana masyarakat merasakan bahwa keberadaan
Borobudur memiliki nilai dan manfaat bagi keberlanjutan kehidupan mereka.
Pada sisi lain, hubungan antara masyarakat dan pengelolaan Borobudur juga tidak selalu
bersifat harmonis. Perbedaan kepentingan antara konservasi, pengembangan pariwisata,
kepentingan ekonomi lokal, kebutuhan ruang sosial masyarakat, dan kepentingan spiritual
dapat menghasilkan potensi konflik dalam pemanfaatan kawasan. Perspektif living monument
justru perlu mampu mengakomodasi dinamika tersebut melalui mekanisme tata kelola yang
inklusif dan dialogis. Artinya, pelestarian Borobudur tidak cukup dilakukan melalui
pendekatan top-down, tetapi membutuhkan proses negosiasi dan kolaborasi antara pemerintah,
pengelola situs, komunitas keagamaan, masyarakat lokal, pelaku usaha, akademisi, dan
wisatawan. Tata kelola kolaboratif menjadi penting agar keputusan mengenai pemanfaatan
warisan budaya tidak hanya ditentukan berdasarkan pertimbangan teknis konservasi atau
ekonomi pariwisata, tetapi juga mempertimbangkan nilai sosial dan budaya masyarakat yang
hidup di sekitar situs.
Dalam perspektif tersebut, masyarakat dapat dipahami sebagai penghubung antara
Borobudur sebagai warisan masa lalu dengan kebutuhan kehidupan masa kini. Praktik budaya,
tradisi, kesenian, pengetahuan lokal, dan aktivitas ekonomi masyarakat memungkinkan nilai
Borobudur terus mengalami reproduksi dan reinterpretasi dalam konteks kontemporer. Proses
tersebut menunjukkan bahwa living monument bukan berarti mempertahankan seluruh praktik
budaya dalam bentuk yang tidak berubah, melainkan memberikan ruang bagi keberlanjutan
nilai sekaligus memungkinkan adaptasi terhadap perubahan sosial. Dengan kata lain, yang
perlu dilestarikan bukan hanya bentuk praktiknya, tetapi juga nilai, makna, identitas, dan
hubungan sosial yang terkandung di dalamnya.
Dengan demikian, keterlibatan masyarakat merupakan salah satu indikator fundamental
Borobudur sebagai living monument. Keberadaan masyarakat sebagai heritage bearer,
heritage actor, dan penerima manfaat pariwisata menunjukkan bahwa keberlanjutan
Borobudur tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan kehidupan komunitas di sekitarnya.
Semakin besar ruang partisipasi, kontrol, dan manfaat yang diperoleh masyarakat secara adil,
semakin kuat pula hubungan antara warisan budaya dan kehidupan sosial kontemporer. Dalam
kerangka ini, masyarakat bukan hanya menjadi salah satu komponen dalam pengelolaan
Borobudur, tetapi merupakan bagian dari alasan mengapa Borobudur dapat disebut sebagai
monumen yang hidup.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 123-135
E-ISSN: 3047-2288
131
Johan Subarkah (Candi Borobudur dalam Perspektif....)
Borobudur dan Pariwisata Berkelanjutan
Sebagai salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia, Borobudur menghadapi tantangan
untuk menyeimbangkan antara konservasi dan pemanfaatan ekonomi. Jumlah kunjungan
wisatawan yang tinggi memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi masyarakat dan
daerah, tetapi juga menimbulkan tekanan terhadap kelestarian fisik bangunan (Nurhidayati et
al., 2025). Berbagai penelitian menunjukkan bahwa peningkatan jumlah wisatawan dapat
menyebabkan abrasi batuan, penurunan kualitas lingkungan, kepadatan pengunjung, dan
berkurangnya kualitas pengalaman wisata. Oleh karena itu, konsep pariwisata berkelanjutan
menjadi sangat penting dalam pengelolaan Borobudur.
Dalam perspektif living monument, pariwisata tidak diposisikan sebagai tujuan utama,
melainkan sebagai instrumen untuk mendukung keberlanjutan nilai spiritual, budaya, dan
sosial yang melekat pada situs. Dengan demikian, keberhasilan pengelolaan Borobudur tidak
hanya diukur dari jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga dari kemampuan menjaga keaslian
situs, mempertahankan fungsi spiritual, memperkuat budaya lokal, serta meningkatkan
kesejahteraan masyarakat (Purwohandoyo et al., 2018).
Kebijakan pembatasan jumlah pengunjung yang diterapkan dalam beberapa tahun terakhir
menunjukkan adanya pergeseran paradigma dari mass tourism menuju quality tourism.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip living monument karena memberikan ruang yang lebih
besar bagi pelestarian nilai dan pengalaman autentik dibandingkan orientasi pada kuantitas
kunjungan semata.
Namun, pergeseran dari mass tourism menuju quality tourism tidak semata-mata berarti
mengurangi jumlah wisatawan, melainkan mengubah orientasi pengelolaan dari kuantitas
menuju kualitas, kebermaknaan, dan keberlanjutan pengalaman. Dalam konteks living
monument, wisatawan perlu diposisikan sebagai bagian dari ekosistem warisan budaya yang
memiliki tanggung jawab untuk menghormati nilai spiritual, budaya, dan lingkungan situs.
Dengan demikian, pengalaman wisata yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh
kesempatan wisatawan untuk mengakses dan menikmati objek fisik Borobudur, tetapi juga
oleh kemampuan destinasi memberikan pemahaman mengenai sejarah, filosofi, nilai spiritual,
serta kehidupan masyarakat yang membentuk konteks warisan tersebut. Pendekatan ini
memungkinkan aktivitas wisata berkembang dari sekadar konsumsi visual menuju pengalaman
yang lebih edukatif, reflektif, dan autentik.
Selain aspek jumlah kunjungan, keberlanjutan pariwisata Borobudur juga perlu
mempertimbangkan daya dukung (carrying capacity) secara multidimensional. Daya dukung
tidak hanya berkaitan dengan kemampuan fisik struktur candi dalam menerima tekanan
wisatawan, tetapi juga mencakup daya dukung ekologis, sosial, budaya, dan psikologis.
Kepadatan wisatawan yang terlalu tinggi dapat menurunkan kualitas pengalaman pengunjung,
mengganggu kekhusyukan aktivitas spiritual, meningkatkan tekanan terhadap lingkungan,
serta mengurangi ruang sosial bagi masyarakat lokal. Oleh karena itu, pengelolaan kunjungan
perlu mempertimbangkan batas yang memungkinkan aktivitas pariwisata berlangsung tanpa
mengurangi kemampuan situs dan masyarakat dalam mempertahankan nilai-nilai yang
menjadi dasar keberadaan Borobudur.
Perspektif living monument juga menuntut agar manfaat ekonomi pariwisata tidak
dipisahkan dari agenda konservasi dan pemberdayaan masyarakat. Pendapatan yang dihasilkan
dari aktivitas wisata idealnya berkontribusi terhadap pemeliharaan warisan, pengembangan
kapasitas masyarakat, pelestarian seni dan budaya lokal, serta peningkatan kualitas kehidupan
komunitas di sekitar kawasan. Dengan demikian, hubungan antara konservasi dan ekonomi
tidak harus ditempatkan sebagai dua kepentingan yang berlawanan. Pariwisata justru dapat
menjadi mekanisme pendukung konservasi apabila manfaat ekonomi yang dihasilkan
dikembalikan untuk menjaga keberlanjutan situs dan komunitas pendukungnya. Sebaliknya,
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 123-135
E-ISSN: 3047-2288
132
Johan Subarkah (Candi Borobudur dalam Perspektif....)
ketika orientasi ekonomi terlalu dominan, pariwisata dapat mendorong komersialisasi
berlebihan yang berpotensi mengurangi autentisitas dan makna budaya Borobudur.
Lebih jauh, konsep quality tourism pada Borobudur perlu diarahkan pada pengembangan
pengalaman wisata yang berbasis nilai (value-based tourism). Wisatawan tidak hanya
ditawarkan untuk melihat kemegahan arsitektur candi, tetapi juga memperoleh kesempatan
memahami filosofi Borobudur, nilai-nilai Buddhisme, sejarah peradaban, budaya masyarakat
sekitar, serta prinsip pelestarian warisan dunia. Pendekatan tersebut dapat memperkuat
hubungan emosional dan intelektual antara wisatawan dengan situs sehingga pengalaman
berwisata tidak berhenti pada konsumsi destinasi, tetapi berkembang menjadi proses
pembelajaran dan penghargaan terhadap warisan budaya.
Dengan demikian, pariwisata berkelanjutan dalam perspektif living monument dapat
dipahami melalui keseimbangan antara konservasi, kualitas pengalaman wisata, keberlanjutan
lingkungan, keberlanjutan budaya, dan kesejahteraan masyarakat. Kelima aspek tersebut saling
berkaitan dan tidak dapat dikelola secara parsial. Borobudur dapat dikatakan berhasil sebagai
living monument apabila aktivitas pariwisata mampu memberikan nilai ekonomi dan
pengalaman bagi wisatawan tanpa menghilangkan kesakralan situs, mereduksi identitas
budaya masyarakat, atau mengancam kelestarian fisik dan lingkungan kawasan. Dengan
perspektif tersebut, keberlanjutan pariwisata Borobudur tidak lagi sekadar persoalan
mengelola wisatawan, tetapi merupakan upaya menjaga agar hubungan antara manusia,
warisan budaya, spiritualitas, masyarakat, dan lingkungan tetap berlangsung secara seimbang
dari generasi ke generasi.
Model Konseptual Borobudur sebagai Living Monument
Berdasarkan hasil sintesis literatur, penelitian ini mengusulkan model konseptual
Borobudur sebagai living monument yang dibangun melalui integrasi tiga dimensi utama, yaitu
nilai spiritual, nilai budaya, dan pariwisata berkelanjutan. Nilai spiritual berfungsi sebagai inti
(core value) yang menjaga makna sakral dan identitas historis Borobudur (Nugroho, 2025).
Nilai budaya berperan sebagai penghubung antara situs dan kehidupan masyarakat melalui
berbagai praktik sosial dan tradisi yang berkembang di kawasan sekitar (Zulhuda, 2025).
Sementara itu, pariwisata berkelanjutan berfungsi sebagai mekanisme pendukung yang
memungkinkan pemanfaatan situs secara ekonomis tanpa mengorbankan kelestarian nilai
spiritual dan budaya (Harsono, 2025).
Ketiga dimensi tersebut saling berinteraksi dan membentuk sistem yang berkelanjutan.
Apabila salah satu dimensi mendominasi secara berlebihan, maka keseimbangan fungsi
Borobudur sebagai living monument akan terganggu. Dominasi pariwisata berpotensi
menimbulkan komersialisasi warisan budaya, sedangkan pengabaian masyarakat lokal dapat
mengurangi relevansi sosial situs. Oleh karena itu, pengelolaan Borobudur perlu
mengedepankan pendekatan integratif yang menempatkan spiritualitas, budaya, dan pariwisata
sebagai satu kesatuan yang saling memperkuat.
Temuan ini menunjukkan bahwa Borobudur memiliki potensi yang kuat untuk diposisikan
sebagai living monument dunia. Keberadaan fungsi spiritual yang masih aktif, keterhubungan
dengan budaya masyarakat, serta penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan menjadi fondasi
penting dalam mewujudkan Borobudur sebagai warisan dunia yang tidak hanya lestari secara
fisik, tetapi juga tetap hidup, bermakna, dan relevan bagi generasi masa kini maupun masa
depan.
Model konseptual tersebut menunjukkan bahwa ketiga dimensi tidak memiliki posisi yang
sepenuhnya setara, tetapi membentuk hubungan yang bersifat hierarkis sekaligus
interdependen. Nilai spiritual dapat ditempatkan sebagai fondasi normatif karena memberikan
arah terhadap pemaknaan dan pemanfaatan Borobudur. Nilai budaya berfungsi sebagai
dimensi sosial yang menghubungkan nilai spiritual dengan kehidupan masyarakat melalui
praktik, tradisi, pengetahuan lokal, dan identitas komunitas. Sementara itu, pariwisata
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 123-135
E-ISSN: 3047-2288
133
Johan Subarkah (Candi Borobudur dalam Perspektif....)
berkelanjutan berfungsi sebagai dimensi pemanfaatan yang memungkinkan nilai-nilai tersebut
dikenalkan kepada masyarakat luas sekaligus menghasilkan manfaat ekonomi. Hubungan
tersebut membentuk suatu siklus: spiritualitas memberikan makna, budaya menghidupkan
makna tersebut dalam kehidupan masyarakat, sedangkan pariwisata menyediakan ruang
interaksi dan sumber daya untuk mendukung keberlanjutannya.
Dalam kerangka tersebut, living monument tidak dapat dipahami sebagai status yang
bersifat final, melainkan sebagai kondisi yang harus terus dipelihara melalui hubungan antara
situs, komunitas, praktik budaya, dan aktivitas pariwisata. Borobudur akan tetap menjadi
living monument apabila fungsi spiritualnya terus berlangsung, praktik budaya masyarakat
tetap memiliki ruang untuk berkembang, masyarakat memiliki peran dalam pengelolaan dan
memperoleh manfaat yang adil, serta aktivitas pariwisata dapat dikendalikan sesuai dengan
daya dukung situs dan lingkungannya. Dengan demikian, konsep living monument bersifat
dinamis karena keberlangsungannya sangat dipengaruhi oleh perubahan sosial, perkembangan
pariwisata, kebijakan konservasi, dan kemampuan berbagai pemangku kepentingan dalam
menjaga keseimbangan kepentingan.
Berdasarkan sintesis tersebut, penelitian ini mengidentifikasi empat indikator konseptual
yang dapat digunakan untuk membaca tingkat kelivingan (liveness) Borobudur, yaitu: (1)
kontinuitas spiritual, yang ditunjukkan oleh keberlanjutan fungsi keagamaan dan praktik ritual;
(2) vitalitas budaya, yang tercermin dalam keberlanjutan tradisi, identitas, pengetahuan lokal,
dan praktik budaya masyarakat; (3) partisipasi dan kebermanfaatan masyarakat, yang
ditunjukkan melalui keterlibatan dalam pengambilan keputusan, pengelolaan, serta distribusi
manfaat pariwisata; dan (4) keberlanjutan pemanfaatan wisata, yang ditunjukkan melalui
kemampuan mengendalikan tekanan wisatawan, menjaga daya dukung, mempertahankan
autentisitas, dan menghasilkan manfaat ekonomi tanpa mengurangi nilai spiritual serta budaya
situs.
Keempat indikator tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan Borobudur sebagai living
monument tidak dapat diukur hanya melalui keberhasilan konservasi fisik ataupun statusnya
sebagai Situs Warisan Dunia. Sebuah monumen dapat memiliki kondisi fisik yang sangat
terawat, tetapi belum tentu dapat disebut sebagai living monument apabila hubungan dengan
komunitas, praktik spiritual, dan kehidupan budaya telah terputus. Sebaliknya, keberlanjutan
praktik sosial dan spiritual tanpa sistem konservasi yang memadai juga dapat mengancam
keberlangsungan material situs. Oleh sebab itu, liveness Borobudur terletak pada kemampuan
mempertahankan kesinambungan antara material heritage dan intangible heritage, antara
konservasi dan pemanfaatan, serta antara kepentingan global dan kehidupan komunitas lokal.
Secara konseptual, temuan ini menawarkan pergeseran cara pandang dari “Borobudur
sebagai objek warisan dunia” menuju “Borobudur sebagai ekosistem warisan yang hidup”.
Pergeseran tersebut memiliki implikasi penting bagi pengelolaan pariwisata. Fokus
pengelolaan tidak lagi semata-mata diarahkan pada bagaimana menarik wisatawan sebanyak
mungkin atau menjaga bangunan secara fisik, tetapi pada bagaimana menciptakan kondisi
yang memungkinkan nilai spiritual, budaya, sosial, ekonomi, dan lingkungan berkembang
secara seimbang. Dalam kerangka ini, keberhasilan pengelolaan Borobudur dapat dilihat dari
kemampuannya mempertahankan hubungan timbal balik antara heritagecommunity
spiritualitytourismsustainability.
Dengan demikian, Borobudur memiliki dasar konseptual yang kuat untuk dikembangkan
sebagai living monument dunia, tetapi predikat tersebut tidak cukup hanya didasarkan pada
keberadaan praktik keagamaan atau aktivitas budaya yang masih berlangsung. Diperlukan tata
kelola yang memastikan keberlanjutan praktik tersebut, memberikan ruang bagi komunitas
sebagai pemilik dan pewaris nilai budaya, mengendalikan tekanan pariwisata, serta menjaga
integritas fisik dan makna nonmaterial situs. Perspektif ini menempatkan Borobudur bukan
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 123-135
E-ISSN: 3047-2288
134
Johan Subarkah (Candi Borobudur dalam Perspektif....)
hanya sebagai warisan yang harus dilestarikan untuk generasi mendatang, tetapi sebagai
warisan yang harus terus dihidupkan oleh generasi sekarang.
4. Kesimpulan
Hasil studi kepustakaan menunjukkan bahwa Candi Borobudur memiliki karakteristik
yang kuat untuk dipahami dan dikembangkan sebagai living monument. Statusnya sebagai
Situs Warisan Dunia tidak hanya merepresentasikan nilai historis dan arkeologis, tetapi juga
menunjukkan keberlanjutan fungsi sosial, budaya, dan spiritual yang masih hidup dalam
kehidupan masyarakat kontemporer. Keberadaan perayaan Waisak sebagai praktik keagamaan
yang rutin dilaksanakan, keterlibatan masyarakat dalam berbagai aktivitas budaya di kawasan
Borobudur, serta berkembangnya aktivitas pariwisata yang terintegrasi dengan kehidupan
lokal menjadi indikator bahwa Borobudur tidak sekadar berfungsi sebagai monumen statis,
melainkan sebagai warisan budaya yang terus dimaknai dan dihidupkan oleh berbagai
pemangku kepentingan.
Kajian ini menemukan bahwa konsep living monument pada Borobudur dibangun melalui
integrasi tiga dimensi utama, yaitu nilai spiritual, nilai budaya, dan pariwisata berkelanjutan.
Nilai spiritual menjadi fondasi utama yang menjaga kesakralan dan makna filosofis Borobudur
sebagai pusat peribadatan umat Buddha. Nilai budaya tercermin dalam keterhubungan situs
dengan tradisi, identitas, dan kehidupan masyarakat sekitar. Sementara itu, pariwisata
berkelanjutan berperan sebagai instrumen yang mendukung pemanfaatan situs secara ekonomi
tanpa mengabaikan aspek pelestarian dan keberlanjutan nilai-nilai yang terkandung di
dalamnya.
Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan Borobudur sebagai living
monument tidak dapat hanya berorientasi pada konservasi fisik bangunan ataupun peningkatan
kunjungan wisatawan. Pengelolaan yang berkelanjutan perlu mengedepankan keseimbangan
antara pelestarian warisan budaya, perlindungan nilai spiritual, penguatan budaya masyarakat
lokal, dan pengembangan pariwisata yang bertanggung jawab. Dengan demikian, Borobudur
berpotensi menjadi model living monument dunia yang mampu mengintegrasikan fungsi
pelestarian, spiritualitas, budaya, dan pariwisata dalam satu kerangka pengelolaan yang
berkelanjutan.
Secara teoretis, penelitian ini memperluas diskursus mengenai living monument dalam
kajian warisan budaya dan pariwisata dengan menawarkan perspektif integratif yang
menghubungkan dimensi spiritual, budaya, dan keberlanjutan. Secara praktis, hasil penelitian
ini dapat menjadi referensi bagi pemerintah, pengelola kawasan, pelaku pariwisata, dan
masyarakat dalam merumuskan kebijakan serta strategi pengelolaan Borobudur yang tidak
hanya menjaga kelestarian fisik situs, tetapi juga mempertahankan fungsi dan makna hidup
yang melekat pada warisan budaya tersebut.
5. Daftar Pustaka
Darmawan, F. (2022). Konservasi vs pariwisata massal: Konflik kebijakan dan tantangan
Borobudur sebagai warisan budaya dunia UNESCO. Jurnal Vokasi Indonesia, 10(1), 22
28.
Gustiawan, W., Della Sari, W., Pricilla, S. P., Haries, A., Anugrah, S., Insani, F., Riesa, R. M., &
Lingga, W. P. (2026). MERAJUT DIALEKTIKA BUDAYA DAN PARIWISATA: Pilar
Pariwisata Berkelanjutan. PENERBIT KBM INDONESIA.
Harsono, I., Demung, I. W., Judijanto, L., Sari, H. P. R., & Ananti, D. D. (2025). Pariwisata
Berkelanjutan: Teori dan Penerapannya di Indonesia. PT. Sonpedia Publishing Indonesia.
Latupapua, Y. T., Hendra Halim, M. E., Nugraha, J. T., Sos, S., Dewi, I. K., Bratayasa, I. W., Par,
M., Junita, M., & Tohopi, R. (2026). Pelestarian Budaya Lokal melalui Pengembangan
Pariwisata. ADSS Press Indonesia.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 2, Juni 2026, page: 123-135
E-ISSN: 3047-2288
135
Johan Subarkah (Candi Borobudur dalam Perspektif....)
Mulyadi, K., Widiastuti, S., & Suryadjaja, R. (2026). Analisis Nilai Spiritual Budaya Terhadap
Tata Letak Candi Pada Sumbu Aksis Budaya Borobudur, Pawon, Dan Mendut. Jurnal
Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa), 8(1), 303312.
Nugroho, R. D., Andarwati, T. W., Pujimahanani, C., Suryawati, C. T., & Handoko, P. (2025).
Kearifan lokal dalam praktik spiritual dan arsitektur: studi komparatif Candi Borobudur
(Indonesia) dan Kuil Kiyomizudera (Jepang). SABANA: Jurnal Sosiologi, Antropologi,
dan Budaya Nusantara, 4(2), 271-281.
Nurhidayati, S. E., Muliani, L., Judijanto, L., Apriyanto, A., Haryanti, T., Darmayasa, D.,
Haryani, H., Rohmah, I. Y., Hadiati, M. S., & Arifiyanti, A. A. (2025). Pesona pariwisata
Indonesia: Potensi, pengembangan, dan inovasi membangun destinasi pariwisata
Indonesia. PT. Sonpedia Publishing Indonesia.
Nuryanti, W. (2026). Borobudur dan Kita. Kepustakaan Populer Gramedia.
Pravita, V. D., & Pribudi, A. (2024). Pergeseran Kebijakan Destinasi Wisata Massal Ke Wisata
Alternatif di Kabupaten Magelang. Journal of Indonesian Rural and Regional
Government, 8(2), 165177.
Purwohandoyo, J., Cemporaningsih, E., & Wijayanto, P. (2018). Pariwisata Kota Pusaka:
Mendayagunakan Aset Pusaka, Menyejahterakan Masyarakat. UGM PRESS.
Rahmad, M., & Wibowo, R. S. (2026a). Desa Wisata sebagai Ruang Keseimbangan: Strategi
Pembangunan Pariwisata dan Pelestarian Warisan Budaya. PARIWISATA: Jurnal Studi
Pariwisata Indonesia, 1(1), 4050.
Rahmad, M., & Wibowo, R. S. (2026b). Desa Wisata sebagai Ruang Keseimbangan: Strategi
Pembangunan Pariwisata dan Pelestarian Warisan Budaya. PARIWISATA: Jurnal Studi
Pariwisata Indonesia, 1(1), 4050.
Riyadi, D. A., Poetridewi, Y. S., & Aliyah, I. (2026). Kesesuaian Pengelolaan Pariwisata di
Candi Borobudur Terhadap Konsep Pariwisata Berkelanjutan dalam Mengatasi
Overtourism. Cakra Wisata, 27(1), 1441.
Siregar, A. A., Darmayasa, D., Rianty, E., Hamdani, M., Minarsi, A., Amirullah, A., Juansa, A.,
& Ery, A. P. (2025). Pariwisata kreatif: Mengembangkan pariwisata berbasis budaya dan
ekonomi kreatif. PT. Star Digital Publishing, Yogyakarta-Indonesia.
Sofianto, A. (2018). Strategi pengembangan kawasan pariwisata nasional borobudur. Jurnal
Litbang Provinsi Jawa Tengah, 16(1), 2744.
Sukarti, S., & Waisaka, G. R. (2026). Optimalisasi Pemanfaatan Candi Brahu sebagai Tempat
Ritual Keagamaan Umat Buddha. SIWAYANG Journal: Publikasi Ilmiah Bidang
Pariwisata, Kebudayaan, Dan Antropologi, 5(1), 1729.
Yatno, T. Y. T. (2022). Fungsi dan Nilai Candi Borobudur di Era Globalisasi. Sabbhata Yatra:
Jurnal Pariwisata Dan Budaya, 3(2), 7281.
Yatno, T. (2026). BCTM Borobudur Conflict Transformation Model: Model Transformasi
Konflik Berbasis Nilai Buddhis, Simbol Borobudur, dan Kearifan Lokal. Bait Ilmu
Nusantara.
Zulhuda, R., Delima, I. P., Oktavianti, W., & Azizah, F. (2025). Kearifan lokal sebagai sumber
inspirasi dalam pengembangan produk wisata budaya kreatif. Innovative: Journal Of
Social Science Research, 5(3), 2089-2100.