PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 3, September 2026, page: 183-191
E-ISSN: 3047-2288
183
Niken Putri Rahmadani et.al (Representasi Identitas Budaya Lokal....)
Representasi Identitas Budaya Lokal Dalam Desain
Homestay Di Desa Wisata Wukirsari Bantul Daerah
Istimewa Yogyakarta
Niken Putri Rahmadani
a,1
, Rekta Deskarina
b,2
, Danang Prasetyo
c,3
a,b,c
Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta, Indonesia
1
nikenputri130@gmail.com;
2
rektadeskarina@gmail.com;
3
danangprasetyo@stipram.ac.id
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 28 Juli 2026
Direvisi: 9 Agustus 2026
Disetujui: 19 Agustus2026
Tersedia Daring: 1 September 2026
Keberadaan homestay dalam desa wisata menjadi ruang representasi nilai-nilai
budaya. Representasi budaya ini menjadi daya tarik tersendiri karena wisatawan
tidak hanya menikmati destinasi, tetapi juga merasakan atmosfer kehidupan sehari-
hari masyarakat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui bentuk representasi
identitas budaya lokal dalam desain homestay dan peran homestay yang
merepresentasikan budaya lokal dalam mengangkat daya tarik wisata di Desa Wisata
Wukirsari Bantul. Metode penelitian yang digunakan yakni kualitatif deskriptif
dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, serta dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi budaya lokal pada homestay
tercermin melalui bentuk bangunan bergaya tradisional Jawa, penggunaan material
lokal seperti kayu dan bambu, serta ornamen interior yang menampilkan unsur
batik. Ketiga homestay yang menjadi objek penelitian, yaitu Homestay Sekararum,
Homestay Sungsang, dan Homestay Adiluhung, memperlihatkan karakter berbeda,
namun sama-sama merepresentasikan nilai kearifan lokal. Temuan juga
menunjukkan bahwa homestay tidak hanya menjadi tempat menginap, tetapi
menghadirkan pengalaman budaya yang autentik, dan memperkuat citra Desa
Wisata Wukirsari sebagai destinasi wisata budaya. Simpulan penelitian ini
menegaskan bahwa homestay bukan sekadar tempat menginap, melainkan media
pelestarian budaya sekaligus pendukung daya tarik wisata berbasis kearifan lokal.
Saran dari penelitian ini ialah pemilik homestay harus meningkatkan kualitas
pelayanan dan fasilitas, mengoptimalkan promosi melalui konten digital untuk
memperluas cakupan segmen wisatawan, serta mempertahankan kearifan lokal
sebagai identitas utama agar homestay tetap diminati dan kompetitif. Serta untuk
penelitian selanjutnya agar dapat mengkaji lebih jauh hubungan antara representasi
budaya, pengalaman wisatawan, dan keberlanjutan desa wisata.
Kata Kunci:
Representasi
Desain
Homestay
Kearifan Lokal
ABSTRACT
Keywords:
Representation
Design
Homestay
Local Wisdom
The presence of homestays in tourist villages becomes a space for the representation
of cultural values. This cultural representation becomes a unique attraction because
tourists not only enjoy the destination but also experience the atmosphere of the
community's daily life. This research aims to understand the forms of representation
of local cultural identity in homestay designs and the role of homestays in
representing local culture to enhance tourist attraction in Wukirsari Tourism Village,
Bantul. The research method used is descriptive qualitative with data collection
techniques thru observation, interviews, and documentation. The research results
show that the representation of local culture in the homestays is reflected thru the
traditional Javanese architectural style, the use of local materials such as wood and
bamboo, and interior ornaments that feature batik elements. The three homestays
that are the subjects of the research, namely Sekararum Homestay, Sungsang
Homestay, and Adiluhung Homestay, exhibit different characters, yet all represent the
values of local wisdom. The findings also show that homestays are not just places to
stay, but they offer authentic cultural experiences and strengthen the image of
Wukirsari Tourism Village as a cultural tourism destination. The conclusion of this
research emphasizes that homestays are not merely places to stay, but also media for
cultural preservation and supporters of tourist attractions based on local wisdom. The
recommendation from this research is that homestay owners should improve the
quality of services and facilities, optimize promotion thru digital media, and maintain
local wisdom as the main identity so that homestays remain attractive and
competitive. Additionally, for future research, it is suggested to further examine the
relationship between cultural representation, tourist experiences, and the
sustainability of tourist villages.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 3, September 2026, page: 183-191
E-ISSN: 3047-2288
184
Niken Putri Rahmadani et.al (Representasi Identitas Budaya Lokal....)
©2026, Niken Putri Rahmadani, Rekta Deskarina, Danang Prasetyo
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Pariwisata berbasis komunitas menjadi satu dari beberapa strategi pembangunan yang
berkelanjutan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Penerapan pariwisata berbasis
komunitas di Indonesia diimplementasikan melalui desa wisata. Desa wisata adalah destinasi
yang menawarkan gaya hidup masyarakat lokal sebagai daya tarik utamanya (Triyono,
2020). Salah satu kunci penting untuk mengembangkan desa wisata terletak pada penyediaan
akomodasi berupa rumah tinggal atau homestay, yang memungkinkan wisatawan mengenal
dan berinteraksi secara langsung dengan kehidupan masyarakat lokal (Kemenparekraf,
2020). Dalam konteks homestay, representasi budaya diwujudkan melalui desain interior
yang mencerminkan identitas, nilai dan tradisi kelompok masyarakat (Suriastuti &
Permatasari, 2025). Hal tersebut dapat ditemukan di Desa Wisata Wukirsari yang berlokasi
di Kapanewon Imogiri, Bantul, Yogyakarta. Desa Wisata Wukirsari menjadi salah satu
destinasi wisata budaya terkemuka di tanah air (Istiani, 2013). Desa ini dikenal dengan daya
tarik utama berupa aktivitas membatik di Kampung Batik Giriloyo. Desa ini berhasil
memperoleh gelar sebagai The Best Tourism Village 2024 dari Organisasi Pariwisata Dunia
Perserikatan Bangsa Bangsa (UNWTO). Selain itu, peningkatan data kunjungan wisatawan
turut mendorong penyediaan homestay yang standar. Homestay yang dikelola langsung oleh
warga memberikan pengalaman menginap yang berbeda, di mana wisatawan berkesempatan
untuk terlibat dalam aktivitas budaya seperti belajar membatik, menikmati kuliner
tradisional, dan merasakan suasana pedesaan secara langsung. Hal ini selaras dengan konsep
homestay yang dinyatakan oleh Kiswantoro et al., (2024) yang mencakup tiga aspek, yaitu
penyediaan akomodasi berbasis rumah tinggal yang masih ditempati oleh pemiliknya,
pemanfaatan ruang secara selektif untuk disewakan kepada wisatawan, serta terjalinnya
interaksi langsung antara pemilik rumah dengan tamu.
Penelitian oleh Suriastuti & Permatasari (2024) mengenai Hotel Episode Gading
Serpong dan Fikriyah et al., (2024) tentang Gedung Sarinah, fokus kajiannya yakni lebih
pada estetika interior dalam bangunan modern, bukan pada bangunan tradisional serta tidak
menyoroti partisipasi masyarakat. Adapun penelitian oleh Ridwan et al., (2024) mengkaji
representasi budaya pada rumah adat, sehingga belum membahas homestay sebagai media
representasi sekaligus sebagai akomodasi di desa wisata. Sementara itu, kajian tentang
homestay di Desa Mekarlaksana oleh Farhan et al., (2024), Desa Bayan oleh Vitasurya et al.,
(2024) dan Diro Sendangmulyo oleh Widyaningsih (2020) memang menyinggung peran
homestay sebagai identitas desa wisata, namun tidak menyoroti bagaimana bentuk
representasi budaya dalam desain arsitektur dan interiornya secara mendalam. Oleh karena
itu, penelitian ini memiliki kebaruan fokus penelitian yaitu eksplorasi bentuk representasi
budaya lokal dan peran homestay sebagai media representasi budaya lokal dalam
mengangkat daya tarik wisata. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bentuk representasi
identitas budaya lokal dalam desain homestay dan merepresentasikan budaya lokal mampu
mengangkat daya tarik wisata di Desa Wisata Wukirsari Bantul. Penelitian ini juga
berkontribusi pada tiga pihak. Pertama bagi pemerintah sebagai pedoman untuk menjaga
keberlangsungan warisan budaya dan sebagai ikon dalam media promosi. Kedua bagi
masyarakat setempat juga diuntungkan dari sisi perekonomian. Ketiga bagi wisatawan
memberikan pemahaman tentang sejarah, nilai, & tradisi masyarakat setempat.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 3, September 2026, page: 183-191
E-ISSN: 3047-2288
185
Niken Putri Rahmadani et.al (Representasi Identitas Budaya Lokal....)
2. Metode
Peneliti menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif pada kajian ini. Sugiyono (2021)
menjelaskan bahwa penelitian deskriptif bertujuan menyajikan pemaparan yang sistematis
terkait fenomena yang diteliti berdasarkan fakta-fakta dari hasil pengamatan, tanya jawab,
dan studi dokumentasi. Metode ini digunakan untuk menganalisis representasi identitas
budaya lokal yang tercermin dalam desain homestay di Desa Wisata Wukirsari. Penelitian ini
dilakukan di Desa Wisata Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah
Istimewa Yogyakarta. Objek penelitian dipilih dikarenakan memiliki ciri khas budaya yang
kuat yakni batik tulis, serta adanya fasilitas homestay yang berfungsi sebagai akomodasi
wisatawan sekaligus menjadi media representasi budaya. Dengan pelaksanaan penelitian
dimulai pada bulan November 2025 hingga bulan Juli 2026. Data pada kajian ini didapat
melalui wawancara semi terstruktur, observasi dan dokumentasi. Dengan wawancara semi
terstruktur, peneliti berusaha memperoleh data mengenai latar belakang pembangunan
homestay, mengidentifikasi unsur-unsur tradisional pada desain homestay serta maknanya,
bagaimana representasi budaya lokal pada homestay dipersepsikan oleh wisatawan yang
berkunjung serta sejauh mana representasi tersebut mampu menjadi salah satu faktor yang
meningkatkan daya tarik wisata di Desa Wisata Wukirsari. Peneliti mewawancarai pemilik
homestay dan wisatawan yang berkunjung di Desa Wisata Wukirsari. Adapun analisis data
yang digunakan peneliti merujuk pada kerangka Miles & Huberman yakni data reduction,
data display, serta conclusion drawing (Fadilla & Wulandari, 2023).
3. Hasil dan Pembahasan
Bentuk Representasi Identitas Budaya Lokal Dalam Desain Homestay Di Desa Wisata
Wukirsari
Penelitian mengenai representasi identitas budaya lokal dalam desain homestay di Desa
Wisata Wukirsari menunjukkan bahwa homestay tidak hanya berfungsi sebagai akomodasi,
tetapi juga sebagai ruang budaya yang mempertemukan wisatawan dengan identitas dan
kehidupan masyarakat setempat. Berdasarkan observasi pada Homestay Sekararum,
Sungsang, dan Adiluhung serta wawancara dengan pemilik dan wisatawan, ditemukan
representasi budaya melalui arsitektur tradisional Jawa, material kayu dan bambu, tata ruang
tradisional, ornamen serta motif batik Wukirsari, dan ruang bersama yang mendukung
interaksi masyarakat dengan wisatawan.
Pada aspek arsitektur, identitas budaya terlihat melalui bentuk joglo dan limasan, soko
guru, serta struktur bangunan kayu. Unsur tersebut menunjukkan bahwa homestay masih
memiliki hubungan dengan karakter rumah masyarakat setempat. Temuan ini sejalan dengan
Lavenia dan Hidayati (2024) yang menyatakan bahwasannya arsitektur tradisional dapat
menjadi media pelestarian identitas budaya melalui unsur visual bangunan. Bentuk bangunan
tradisional yang masih dipertahankan mencerminkan filosofi kesederhanaan, keharmonisan,
dan kedekatan masyarakat dengan lingkungan sekitarnya. Homestay Sungsang
mempertahankan bentuk joglo dan atap tumpangsari, sedangkan Sekararum mempertahankan
bangunan kayu warisan keluarga.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 3, September 2026, page: 183-191
E-ISSN: 3047-2288
186
Niken Putri Rahmadani et.al (Representasi Identitas Budaya Lokal....)
Gambar 1. Struktur Bangunan Kayu Homestay Sekararum
Gambar 2. Bentuk Atap Joglo di Homestay Sungsang
Gambar 3. Atap Tumpangsari di Homestay Sungsang
Elemen-elemen tersebut merepresentasikan petanda (signified) yang berkaitan dengan
identitas Desa Wisata Wukirsari, nilai-nilai tradisional masyarakat Jawa, serta kearifan lokal
yang hingga kini masih dipertahankan. Struktur bangunan dan bentuk atap tradisional tidak
hanya berfungsi sebagai unsur arsitektural, melainkan juga menjadi simbol yang
mencerminkan keberlanjutan nilai budaya lokal serta memperkuat identitas homestay sebagai
bagian dari warisan budaya Jawa. Di samping itu, representasi identitas budaya lokal dalam
desain homestay di Desa Wisata Wukirsari juga terlihat pada tata ruang dan material lokal.
Teras, pendopo, dan ruang bersama mendukung interaksi sosial serta mencerminkan
keterbukaan dan kebersamaan masyarakat. Tata ruang turut membentuk pengalaman budaya
melalui keberadaan teras, pendopo, dan ruang bersama yang memungkinkan interaksi sosial.
Ruang bersama mencerminkan nilai kebersamaan dan keterbukaan masyarakat Jawa. Dengan
demikian, budaya tidak hanya dapat dilihat melalui bangunan, tetapi juga dialami melalui
aktivitas dan interaksi di dalam ruang tersebut.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 3, September 2026, page: 183-191
E-ISSN: 3047-2288
187
Niken Putri Rahmadani et.al (Representasi Identitas Budaya Lokal....)
Gambar 4. Pendopo Homestay Adiluhung
Di sisi lain, penggunaan kayu, bambu, dan bata juga memperlihatkan hubungan antara
desain homestay dengan kearifan lokal. Material tersebut menjadi bagian dari karakter
bangunan sekaligus menunjukkan hubungan masyarakat dengan lingkungan. Pada homestay
Sekararum, penggunaan kayu dan bambu merupakan bagian dari bangunan warisan keluarga.
Temuan ini sejalan dengan Andriansyah (2024) yang menjelaskan bahwa material lokal
dapat menjadi bagian dari representasi identitas budaya suatu daerah. Kayu, bambu, dan bata
digunakan sebagai bagian dari karakter bangunan, sementara bukaan seperti ventilasi dan
jendela di optimalkan untuk mendukung penghawaan serta pencahayaan alami sehingga bisa
meminimalisir penggunaan penghawaan buatan. Penyesuaian fasilitas modern, seperti kamar
mandi, dilakukan tanpa menghilangkan karakter utama bangunan tradisional.
Gambar 5. Material Kayu dan Bambu (Gedhek) di Homestay Sekararum
Gambar 6. Struktur Bangunan Kombinasi Kayu dan Bata Merah di Homestay Sungsang
Representasi identitas Wukirsari diperkuat melalui penggunaan batik klasik dan motif
batik Wukirsari pada interior homestay. Batik tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi, tetapi
menjadi penanda visual yang menghubungkan homestay dengan identitas Wukirsari sebagai
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 3, September 2026, page: 183-191
E-ISSN: 3047-2288
188
Niken Putri Rahmadani et.al (Representasi Identitas Budaya Lokal....)
sentra batik. Melalui penanda tersebut, homestay berupaya mengomunikasikan kekhasan batik
Wukirsari sebagai salah satu warisan budaya dan produk unggulan desa wisata kepada para
pengunjung. Temuan ini sejalan dengan Fikriyah et al., (2024) yang menjelaskan bahwa motif
batik dapat merepresentasikan identitas budaya melalui makna simboliknya.
Gambar 7. Pajangan Batik di Homestay Sekararum
Gambar 8. Pajangan Batik di Homestay Sungsang
Representasi budaya juga diwujudkan melalui pengalaman wisatawan selama berada di
homestay, seperti berinteraksi dengan masyarakat, menikmati suasana pedesaan, dan
mengikuti aktivitas membatik. Hal tersebut sesuai dengan Richards (2018) yang menjelaskan
bahwa wisata budaya tidak hanya berorientasi pada objek budaya, tetapi juga pengalaman
langsung terhadap kehidupan masyarakat lokal. Dengan demikian, kekuatan representasi
budaya pada homestay Wukirsari terletak pada keterpaduan arsitektur, material, tata ruang,
simbol budaya, dan pengalaman sosial.
Dengan demikian, desain homestay di Desa Wisata Wukirsari menunjukkan
bahwasannya representasi budaya lokal diwujudkan melalui berbagai unsur, meliputi
arsitektur, material bangunan, tata ruang, ornamen budaya, hingga pengalaman kehidupan
masyarakat. Berbagai elemen tersebut menunjukkan bahwa homestay bukan sekadar
amenitas ataupun fasilitas akomodasi, namun juga menjadi media yang merepresentasikan
identitas budaya lokal kepada wisatawan. Temuan ini konsisten dengan teori representasi
yang dikemukakan oleh Hall (1997) yang menjabarkan bahwasannya representasi adalah
proses pembentukan makna melalui tanda dan simbol yang dipahami bersama dalam suatu
masyarakat. Setiap unsur tersebut saling melengkapi dalam membentuk karakter homestay
yang mencerminkan identitas budaya Desa Wisata Wukirsari. Integrasi berbagai unsur
tersebut turut memperkuat posisi Wukirsari sebagai destinasi wisata budaya yang
berlandaskan pada kearifan lokal.
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 3, September 2026, page: 183-191
E-ISSN: 3047-2288
189
Niken Putri Rahmadani et.al (Representasi Identitas Budaya Lokal....)
Homestay yang Merepresentasikan Budaya Lokal Mampu Mengangkat Daya Tarik
Wisata
Homestay bukan sekadar berfungsi menjadi tempat menginap, namun juga menjadi
sarana bagi wisatawan untuk mempelajari budaya setempat melalui bentuk bangunan,
suasana lingkungan, serta interaksi langsung dengan masyarakat setempat. Pengalaman
tersebut memberikan kesan berbeda bagi wisatawan karena mereka dapat menikmati
kehidupan masyarakat desa secara lebih dekat dibandingkan dengan akomodasi modern.
Oleh karena itu, adanya homestay menjadi satu dari beberapa faktor pendukung yang mampu
memperkaya pengalaman wisatawan selama berkunjung. Wisatawan yang berkunjung ke
Desa Wisata Wukirsari sebelumnya belum mengetahui keberadaan homestay, namun setelah
memperoleh informasi menunjukkan ketertarikan untuk mencoba menginap di homestay
Wukirsari. Hal ini menunjukkan bahwasannya kontribusi homestay tidak hanya berupa
keputusan langsung untuk menginap, melainkan juga dapat membangun rasa ingin tahu
terhadap pengalaman budaya. Konidisi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa homestay
berpotensi menambah daya tarik wisata dan mendorong kunjungan kembali ke Desa Wisata
Wukirsari.
Aktivitas membatik masih menjadi daya tarik utama Wukirsari. Pengalaman membatik,
berkeliling lingkungan desa, menikmati kuliner, serta mengikuti aktivitas masyarakat dapat
dikembangkan bersama dengan homestay. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa homestay
sebaiknya tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari rangkaian pengalaman wisata desa.
Peran tersebut sejalan dengan konsep community-based tourism yang menempatkan
masyarakat sebagai pelaku utama pariwisata. Farhan et al., (2024) menjelaskan bahwa
homestay dapat membentuk identitas desa wisata melalui budaya, tradisi, kearifan lokal, dan
karakter masyarakat. Dalam konteks Wukirsari, fungsi tersebut terlihat dari pemanfaatan
rumah masyarakat sebagai akomodasi sekaligus ruang interaksi dengan wisatawan. Hal itu
didukung dengan pernyataan Timothy et al., (2025) yang menjelaskan bahwa homestay yang
mempertahankan unsur budaya lokal dapat meningkatkan persepsi wisatawan terhadap
keaslian destinasi, yang selanjutnya berkontribusi terhadap kepuasan dan loyalitas
wisatawan.
Homestay juga berpotensi memperpanjang lama tinggal wisatawan. Wisatawan
umumnya menginap sekitar dua hari, sedangkan wisatawan yang mengikuti paket workshop
dapat tinggal hingga lima hari atau satu minggu. Hal ini menunjukkan bahwa keterhubungan
antara homestay dan aktivitas budaya dapat meningkatkan peluang wisatawan untuk
memperpanjang masa tinggal. Namun, penelitian menemukan bahwa representasi budaya
belum menjadi faktor utama keputusan wisatawan untuk menginap. Wisatawan belum
mengetahui keberadaan homestay sebelum memperoleh informasi dari peneliti. Kondisi ini
menunjukkan adanya kesenjangan antara potensi produk dan penyampaian informasi. Oleh
karena itu, keunikan budaya perlu didukung oleh kualitas amenitas, kenyamanan, harga,
aksesibilitas, dan promosi yang efektif sebagaimana dijelaskan Cooper et al., (2019).
Modernisasi fasilitas tidak harus menghilangkan identitas budaya. Fasilitas modern dapat
ditambahkan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan selama karakter utama bangunan tetap
dipertahankan. Pendekatan tersebut memungkinkan homestay memberikan kenyamanan
sekaligus mempertahankan keaslian budaya.
4. Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa identitas budaya lokal dalam desain homestay di
Desa Wisata Wukirsari direpresentasikan tidak hanya melalui arsitektur tradisional Jawa,
material lokal, tata ruang, serta ornamen dan motif batik Giriloyo, namun juga melalui
pengalaman wisatawan dalam berinteraksi dengan kehidupan dan aktivitas budaya
masyarakat. Representasi tersebut menjadikan homestay bukan sekadar tempat menginap,
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 3, September 2026, page: 183-191
E-ISSN: 3047-2288
190
Niken Putri Rahmadani et.al (Representasi Identitas Budaya Lokal....)
melainkan media untuk memperkenalkan nilai, filosofi, sejarah, dan karakter budaya lokal
sekaligus memperkuat citra Wukirsari sebagai destinasi wisata budaya. Meskipun demikian,
representasi budaya belum sepenuhnya menjadi faktor utama dalam keputusan wisatawan
untuk menginap karena masih dipengaruhi oleh kenyamanan, kualitas fasilitas, harga,
aksesibilitas, dan promosi. Oleh karena itu, pengembangan homestay perlu diarahkan pada
keseimbangan antara pelestarian identitas budaya dan peningkatan kualitas akomodasi
melalui perbaikan fasilitas, pelayanan, serta promosi digital yang menonjolkan pengalaman
budaya, disertai pengembangan paket wisata berbasis budaya agar homestay mampu
meningkatkan daya tarik wisata sekaligus mendukung keberlanjutan Desa Wisata Wukirsari.
5. Daftar Pustaka
Andriansyah, M. D. (2024). Pengaruh modernisasi pada arsitektur tradisional. Jurnal Media
Akademik (JMA), 2(11). https://doi.org/10.62281/v2i11.1027
Cooper, C., Fletcher, J., Fyall, A., Gilbert, D., & Wanhill, S. (2019). Tourism: Principles and
Practice (6th ed.). Pearson.
Fadilla, A. R., & Wulandari, P. A. (2023). Literature Review Analisis Data Kualitatif: Tahap
Pengumpulan Data. Mitita Jurnal Penelitian, 1(3), Article 3.
Farhan, A., Malihah, E., & Andari, R. (2024). The Role of Homestays in Shaping the Identity
of Tourism Villages: A Case Study in Mekarlaksana Tourism Village. Satwika:
Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial, 8(1), 146-154.
https://doi.org/10/22210/satwika.v8i1.31329
Fikriyah, F. N., Koesoemadinata, M. I. P., & Trihanondo, D. (2024). Motif Batik sebagai
Representasi Budaya pada Revitalisasi Interior Gedung Sarinah Jakarta. Syntax
Literate Jurnal Ilmiah Indonesia, 9(11), 6110–6119. https://doi.org/10.36418/syntax-
literate.v9i11.16913
Hall, S. (1997). Representation: Cultural representations and signifying practices. London:
Sage Publications.
Istiani. Y. (2013). Perkembangan Desa Wisata Batik Tulis Giriloyo yang Berbasis
Masyarakat (Kajian dari Sudut Pandang Ekonomi Masyarakat). Jurnal Dirgantara,
Vol 6, 39-50. https://doi.org/10.56521/manajemen-dirgantara.v6i2.94
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. (2020). Pedoman Desa Wisata. Retrieved
from https://jadesta.kemenparekraf.go.id/getdata/file/Buku-Membangun-Desa.pdf
Kiswantoro, A., Sugiarto, S., Bahri, A. S., Hendratono, T., Susanto, D. R., Rohman, N., &
Irawati, N. (2024). A review of risk management in homestays. Ganaya Jurnal Ilmu
Sosial Dan Humaniora, 7(1), 73–88. https://doi.org/10.37329/ganaya.v7i1.2786
Lavenia, R., & Hidayati, R. (2024). Identifikasi Penerapan Prinsip Arsitektur Tradisional
Jawa Pada Objek Wisata Desa Kembang Arum. SIAR V 2024 : Seminar Ilmiah
Arsitektur.
Richards, G. (2018). Cultural Tourism: A Review of Recent Research and Trends. Journal of
Hospitality and Tourism Management, 36, 12–21.
Ridwan, I. M., Yuliansyah, H., & Rahadi, P. F. (2024). Representasi kultural dalam desain
Rumah Julang Ngapak: Analisis semiotika pada rumah adat Sunda. Wacadesain, 5(2),
52–61.
Sugiyono. (2021). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Vol. 3, No. 3, September 2026, page: 183-191
E-ISSN: 3047-2288
191
Niken Putri Rahmadani et.al (Representasi Identitas Budaya Lokal....)
Suriastuti, M. Z., & Permatasari, N. R. C. (2025). Representasi Budaya Baduy dan Peranakan
pada Estetika Interior Hotel Episode Gading Serpong. Waca Cipta Ruang, 11(1), 54–
61. https://doi.org/10.34010/wcr.v11i1.13541
Triyono, J. (2020). Strategi Pengembangan Desa Wisata Tenun Ikat Troso Di Jepara, Jawa
Tengah. Kepariwisataan Jurnal Ilmiah, 14(02), 84–92.
https://doi.org/10.47256/kepariwisataan.v14i02.21
Vitasurya, V. R., Suman, M. P., Pudianti, A., Setyonugroho, G. A., Rudwiarti, L. A.,
Shiraishi, H., & Wakita, Y. (2024). Development of a traditional-based homestay
typology in Bayan Village, North Lombok Regency, West Nusa Tenggara. ARTEKS
Jurnal Teknik Arsitektur, 9(2), 255–266. https://doi.org/10.30822/arteks.v9i2.3357
Widyaningsih, H. (2020). Pengembangan pengelolaan homestay dalam mendukung Desa
Wisata Diro Sendangmulyo, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman. Khasanah
Ilmu: Jurnal Pariwisata Dan Budaya, 11(1), 9–15.
https://doi.org/10.31294/khi.v11i1.7822