TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 2, Juli 2026, page: 272-279
E-ISSN: 3048-3093
272
Firda Nur Kumala et.al (Efektivitas LKPD Ramah Disleksia Berbasis....)
Efektivitas LKPD Ramah Disleksia Berbasis Visual
untuk Mendukung Keterampilan Membaca
Permulaan Siswa Kelas I Sekolah Dasar
Firda Nur Kumala
a,1*
, Nurul Istiq’faroh
b,2
, Jeanies Marlene Saputro
c,3
a,b,c
Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
1
24010644212@mhs.unesa.ac.id;
2
nurulistiqfaroh@.unesa.ac.id;
3
24010644217@mhs.unesa.ac.id
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 8 April 2026
Direvisi: 17 Mei 2026
Disetujui: 8 Juni 2026
Tersedia Daring: 1 Juli 2026
Rendahnya kemampuan membaca siswa disleksia dipicu oleh hambatan
dekoding simbol dan fenomena mirror invariance. Penelitian ini
bertujuan menganalisis efektivitas LKPD ramah disleksia berbasis
navigasi visual dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan
siswa kelas I SD. Menggunakan metode kualitatif deskriptif studi kasus,
data dikumpulkan melalui observasi dan tes. Hasil menunjukkan
peningkatan signifikan dengan skor subjek naik dari 50 menjadi 85
(kategori mandiri). Fitur navigasi visual dan optimalisasi white space
terbukti efektif meminimalisir kesalahan persepsi huruf simetris.
Simpulan penelitian menegaskan bahwa LKPD ini merupakan solusi
praktis untuk mengatasi hambatan literasi spesifik sekaligus
menumbuhkan kemandirian belajar siswa di sekolah inklusi.
Diseleksia
Kemampuan Membaca
Permulaan
LKPD Visual
Navigasi Visual
Pendidikan Inklusi
ABSTRACT
Keywords:
Dyslexia
Beginning Reading Skills
Visual Worksheets
Visual Navigation
Inclusive Education
Low reading skills in dyslexic students are caused by symbol decoding
obstacles and the mirror invariance phenomenon. This study aims to
analyze the effectiveness of visual navigation-based dyslexia-friendly
worksheets (LKPD) in improving beginning reading skills for first-grade
students. Using a descriptive qualitative case study method, data were
collected through observations and tests. Results showed a significant
increase, with the subject's score rising from 50 to 85 (independent
category). Visual navigation features and white space optimization
effectively minimized symmetrical letter perception errors. The study
concludes that these visual-based worksheets are a practical solution for
overcoming specific literacy barriers while fostering learning
independence in inclusive school.
©2026, Firda Nur Kumala, Nurul Istiq’faroh, Jeanies Marlene Saputro
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Kemampuan membaca merupakan fondasi utama dalam proses pendidikan yang tidak
diperoleh secara alami, melainkan melalui proses belajar yang kompleks dan terstruktur
(Budiantoro et al., 2024). Di era Society 5.0, keterampilan membaca permulaan menjadi
prasyarat mutlak bagi peserta didik untuk menguasai berbagai disiplin ilmu (Sumakul et al.,
2024). Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak peserta didik sekolah dasar
mengalami hambatan dalam mengenali huruf dan suku kata, yang sering kali berujung pada
rendahnya motivasi belajar (Woisiri & Biringan, 2025). Pemerintah sendiri telah menegaskan
pentingnya layanan pendidikan yang aksesibel bagi seluruh anak melalui kebijakan inklusi
untuk menjamin hak belajar setiap individu (Arriani et al., 2021).
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 2, Juli 2026, page: 272-279
E-ISSN: 3048-3093
273
Firda Nur Kumala et.al (Efektivitas LKPD Ramah Disleksia Berbasis....)
Disleksia merupakan kesulitan belajar yang berfokus pada hambatan proses dekoding
simbol dan pengenalan kata (Budiani & Putrayasa, 2023), yang mana kondisi ini sering kali
luput dari identifikasi awal pada anak usia sekolah dasar. Kesulitan belajar spesifik seperti
disleksia menjadi tantangan serius karena hambatan neurologis dalam memproses simbol tulisan
(Adah et al., 2023). Peserta didik disleksia sering kali mengalami fenomena mirror invariance,
yaitu kecenderungan perseptual yang menyebabkan mereka sulit membedakan huruf dengan
bentuk serupa seperti 'b-d' atau 'p-q' (Fernandes et al., 2025). Kondisi ini menyebabkan anak
memerlukan waktu lebih lama untuk melakukan dekoding kata dibandingkan teman sebaya
mereka (Budiani & Putrayasa, 2023). Jika tidak segera ditangani dengan strategi yang tepat,
hambatan ini berdampak negatif pada kepercayaan diri dan hasil belajar siswa secara
keseluruhan (Hidayati et al., 2026). Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan inovasi media
yang menarik. Sebagai contoh, pengembangan media literasi yang inovatif seperti pada
Pengembangan Media Buku Interaktif Bahasa Indonesia "Satu Titik" terbukti mampu
meningkatkan minat belajar peserta didik melalui penyajian materi yang interaktif dan visual
yang menarik (Salwa et al., 2025).
Penelitian terdahulu menawarkan berbagai solusi praktis untuk mengatasi hambatan
membaca pada siswa sekolah dasar. Dewi, Sujarwanto, & Murtadlo (2025) mengembangkan
media Flash Card LACA berbasis web yang mengandalkan kemudahan akses digital untuk
melatih pengenalan huruf secara interaktif. Sementara itu, Imam, Diange, & Pangalila (2024)
menyoroti efektivitas aplikasi Canva sebagai instrumen bagi guru untuk menciptakan desain
materi ajar yang lebih menarik dan variatif secara visual. Dari sisi metodologi, Triana dan
Minsih (2026) membuktikan bahwa strategi multisensori yang mengintegrasikan stimulasi
visual, auditori, kinestetik, dan taktil mampu meningkatkan retensi ingatan siswa disleksia
terhadap bentuk huruf secara signifikan. Sejalan dengan hal tersebut, Manuain, Istiq'faroh, &
Sukartiningsih (2024) menekankan pentingnya media interaktif seperti Articulate Storyline
untuk mengubah pola pembelajaran membaca yang konvensional menjadi lebih dinamis dan
responsif terhadap kebutuhan siswa. Terakhir, Ramadhani, Putra, Wanodiasari, & Minsih (2024)
menegaskan bahwa keberhasilan intervensi ini sangat bergantung pada strategi guru di kelas
inklusi dalam mengadaptasi materi agar sesuai dengan karakteristik unik setiap peserta didik.
Pemanfaatan media yang tepat tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis membaca,
tetapi juga berpengaruh besar terhadap kondisi psikologis siswa. Rendahnya kemampuan
membaca sering kali menurunkan kepercayaan diri siswa, padahal self-confidence memiliki
pengaruh yang sangat signifikan terhadap hasil belajar secara keseluruhan. Dampak psikologis
ini dikaji oleh (Hidayati et al., 2026). Oleh karena itu, diperlukan media pembelajaran yang tidak
hanya informatif tetapi juga ramah terhadap hambatan persepsi siswa, seperti penggunaan
navigasi visual
Meskipun penelitian mengenai media membaca sudah banyak dilakukan, terdapat
kesenjangan (gap analysis) yang signifikan dalam ketersediaan perangkat ajar yang secara
praktis menggabungkan navigasi visual eksplisit pada tingkat suku kata. Kebaruan (novelty)
penelitian ini terletak pada pengembangan LKPD ramah disleksia yang menggunakan
pendekatan visual sistematis, seperti penggunaan pembeda warna (color coding) untuk
membedakan fonem dan penunjuk arah baca pada setiap suku kata. Tujuan penelitian ini adalah
untuk menghasilkan LKPD Bahasa Indonesia Fase A yang valid dan efektif dalam membantu
siswa disleksia mengatasi hambatan membaca permulaan secara mandiri. Pengujian dilakukan
melalui mekanisme pretest untuk mengukur kemampuan awal dan posttest untuk melihat
peningkatan hasil belajar setelah intervensi diberikan sesuai dengan metode kuantitatif
deskriptif yang berlandaskan pada data angka objektif (Sugiyono, 2019). Kontribusi penelitian
ini mencakup penyediaan instrumen ajar yang aplikatif bagi guru di sekolah inklusi untuk
mempermudah proses intervensi membaca. Melalui pendekatan yang terstruktur dan sistematis,
diharapkan LKPD ini dapat memberikan efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan materi ajar
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 2, Juli 2026, page: 272-279
E-ISSN: 3048-3093
274
Firda Nur Kumala et.al (Efektivitas LKPD Ramah Disleksia Berbasis....)
konvensional, sebagaimana dikonfirmasi oleh penelitian (Tiwan, 2023) serta kajian (Triana &
Minsih, 2026) mengenai strategi multisensori berbasis digital.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui
efektivitas penggunaan LKPD ramah disleksia berbasis visual dalam mendukung keterampilan
membaca permulaan siswa kelas I sekolah dasar. Menurut (Sugiyono, 2019), penelitian
kuantitatif merupakan metode penelitian yang berlandaskan pada data berupa angka yang
dianalisis secara statistik untuk menggambarkan suatu fenomena secara objektif.
Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan melihat perubahan
kemampuan membaca siswa sebelum dan sesudah penggunaan LKPD. Data penelitian berupa
data kuantitatif yang diperoleh dari skor pretest dan posttest keterampilan membaca permulaan.
Sumber data dalam penelitian ini adalah satu siswa kelas I di salah satu sekolah dasar di
Mojokerto yang mengalami kesulitan membaca sebagai subjek penelitian.
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes membaca, yaitu pemberian pretest untuk
mengetahui kemampuan awal membaca dan posttest untuk mengetahui kemampuan membaca
setelah penggunaan LKPD. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan analisis
deskriptif kuantitatif dengan membandingkan skor pretest dan posttest guna mengetahui
peningkatan keterampilan membaca permulaan setelah penggunaan LKPD ramah disleksia
berbasis visual.
3. Hasil dan Pembahasan
Analisis Hambatan Membaca Awal
Sebelum intervensi dilakukan, subjek menunjukkan karakteristik disleksia yang khas,
terutama pada aspek persepsi visual dan orientasi arah. Data ini diperoleh melalui asesmen awal
dan observasi klinis. Penelitian ini melibatkan satu orang siswa kelas I sekolah dasar yang
mengalami kesulitan membaca permulaan. Subjek dipilih berdasarkan karakteristik yang sesuai
dengan tujuan penelitian, yaitu mengalami hambatan dalam mengenali huruf, membaca suku
kata, membaca kata, serta memahami bacaan sederhana. Penelitian ini dilakukan melalui pretest
dan posttest untuk mengukur kemampuan membaca sebelum dan sesudah penggunaan LKPD
ramah disleksia berbasis visual. Selain itu, data juga diperoleh melalui wawancara dengan siswa
untuk menggali permasalahan awal serta penilaian terhadap LKPD yang digunakan.
Tabel 1. Tabel Transkip Wawancara
Pertanyaan
Jawaban Siswa
Apakah kamu suka membaca?
Kadang suka, tapi sering kesusahan
Bagian mana yang paling sulit saat membaca?
Hurufnya suka bingung
Apakah kamu pernah tertukar huruf?
Iya, sering salah b sama d
Bagaimana saat membaca suku kata?
Sering berhenti dan bacanya pelan
Bagaimana saat membaca kata atau kalimat?
Susah, kadang tidak bisa lanjut
Apakah kamu mengerti isi bacaan?
Kadang tidak tau isinya
Bagaimana perasaanmu saat diminta membaca?
Takut salah dan malu
Temuan ini mengonfirmasi bahwa hambatan utama subjek terletak pada kebingungan
simbolik, terutama fenomena mirror invariance pada huruf yang memiliki bentuk visual serupa
seperti b dan d. Secara teoretis, individu disleksia mengalami kecenderungan perseptual untuk
memproses gambar cermin sebagai objek yang identik, sehingga memerlukan intervensi visual
yang spesifik (Fernandes, Pascual, & Araújo, 2025). Kondisi teknis ini berimplikasi pada aspek
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 2, Juli 2026, page: 272-279
E-ISSN: 3048-3093
275
Firda Nur Kumala et.al (Efektivitas LKPD Ramah Disleksia Berbasis....)
afektif subjek yang merasa "takut dan malu", yang menunjukkan rendahnya self-confidence
akibat kegagalan berulang. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa kepercayaan diri memiliki
pengaruh krusial terhadap hasil belajar siswa; tanpa media yang akomodatif, siswa akan terus
terjebak dalam kecemasan akademik (Hidayati, Setiyaningsih, & Sagita, 2026). Oleh karena itu,
penanganan disleksia di tingkat sekolah dasar harus mengintegrasikan aspek kognitif dan
emosional melalui strategi pembelajaran yang inovatif. Hal ini selaras dengan pemikiran
(Ramadhani et al., 2024) mengenai perlunya pendekatan yang komprehensif dalam proses
intervensi. Selain itu, integrasi tersebut menjadi krusial mengingat kompleksitas hambatan
membaca yang dialami siswa pada rentang usia sekolah dasar, sebagaimana ditekankan dalam
kajian (Budiani & Putrayasa, 2023).
Transformasi Kemampuan Membaca melalui LKPD
Data kuantitatif yang diperoleh melalui skor pretest dan posttest menunjukkan peningkatan
kapasitas membaca subjek yang sangat signifikan setelah diberikan intervensi.
Tabel 2. Tabel Hasil Pretest dan Posttest
Aspek
Pretest
Membedakan huruf
2
Membaca suku kata
2
Membaca kata
2
Membaca kalimat
2
Pemahaman
2
Total Skor
10
Nilai
50
Hasil pretest menunjukkan bahwa kemampuan membaca permulaan subjek masih rendah.
Subjek memperoleh skor 2 pada seluruh aspek yang diukur, yaitu membedakan huruf, membaca
suku kata, membaca kata, membaca kalimat sederhana, serta pemahaman bacaan. Hal ini
menunjukkan bahwa subjek masih mengalami banyak kesalahan dalam mengenali huruf,
membaca secara terbata-bata, serta belum mampu memahami isi bacaan dengan baik. Secara
keseluruhan, skor total yang diperoleh adalah 10 dari 20 atau setara dengan nilai 50, yang
termasuk dalam kategori perlu bantuan. Hasil posttest menunjukkan adanya peningkatan
kemampuan membaca permulaan setelah penggunaan LKPD ramah disleksia berbasis visual.
Subjek memperoleh skor 4 pada aspek membedakan huruf dan membaca suku kata, yang
menunjukkan kemampuan sudah tepat dan lancar. Pada aspek membaca kata dan membaca
kalimat sederhana, subjek memperoleh skor 3, yang menunjukkan kemampuan sudah cukup
lancar. Sementara itu, pada aspek pemahaman bacaan, subjek memperoleh skor 4 yang
menunjukkan kemampuan memahami bacaan sudah tepat. Secara keseluruhan, skor total yang
diperoleh adalah 17 dari 20 atau setara dengan nilai 85, yang termasuk dalam kategori mandiri.
Berdasarkan hasil pretest dan posttest, terlihat bahwa seluruh aspek kemampuan membaca
permulaan mengalami peningkatan setelah penggunaan LKPD ramah disleksia berbasis visual.
Skor total meningkat dari 10 menjadi 17, atau mengalami kenaikan sebesar 7 poin. Jika diubah
ke dalam nilai, terjadi peningkatan dari 50 menjadi 85, atau meningkat sebesar 35 poin.
Peningkatan paling menonjol terjadi pada aspek membedakan huruf dan membaca suku kata,
yang berkembang dari kondisi banyak kesalahan dan terbata-bata menjadi tepat dan lancar.
Selain itu, kemampuan membaca kata dan kalimat sederhana juga mengalami peningkatan
menjadi cukup lancar, serta kemampuan pemahaman bacaan meningkat dari tidak tepat menjadi
tepat.
Peningkatan nilai sebesar 35 poin membuktikan bahwa LKPD ramah disleksia efektif dalam
menyederhanakan proses dekoding simbol. Keberhasilan subjek mencapai kategori "Mandiri"
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 2, Juli 2026, page: 272-279
E-ISSN: 3048-3093
276
Firda Nur Kumala et.al (Efektivitas LKPD Ramah Disleksia Berbasis....)
pada aspek membedakan huruf dan suku kata dipicu oleh pendekatan navigasi visual yang
konsisten, yang membantu otak melakukan pengenalan pola secara terstruktur. Temuan ini
didukung oleh penelitian (Khoiro & Istiq’faroh, 2025). Temuan ini menjawab permasalahan
rendahnya literasi pada siswa disleksia yang sering kali disebabkan oleh penggunaan strategi
pembelajaran konvensional yang bersifat satu arah dan tidak interaktif. Hal tersebut selaras
dengan argumen yang dikemukakan oleh (Manuain et al., 2024) dan (Budiantoro et al., 2024).
Penggunaan media yang dirancang khusus untuk memetakan kemampuan membaca ini
memberikan efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan materi ajar umum. Pernyataan ini
diperkuat oleh hasil penelitian (Tiwan, 2023) dan juga temuan dari (Triana & Minsih, 2026)
mengenai pentingnya instrumen pembelajaran yang adaptif bagi siswa berkebutuhan khusus.
Kriteria Penilaian LKPD
Kualitas LKPD yang digunakan menjadi faktor penentu dalam keberhasilan intervensi ini.
Evaluasi terhadap kualitas media disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Tabel Kriteria Penilaian LKPD
Aspek
Skor
Kategori
Membedakan Huruf
3
Cukup
Membaca suku kata
4
Mandiri
Membaca kata
4
Mandiri
Membaca kalimat
3
Cukup
Pemahaman bacaan
4
Mandiri
Rata-rata Skor
3,6
Mandiri
Berdasarkan Tabel 3, LKPD ramah disleksia berbasis visual memperoleh rata-rata skor 3,6
mengategorikan LKPD ini sebagai media yang "Mandiri", yang berarti mampu memfasilitasi
belajar siswa dengan minim bantuan guru. Hal ini menunjukkan bahwa LKPD yang digunakan
memiliki kualitas yang baik dalam mendukung keterampilan membaca permulaan. Desain
visual yang lapang dan penggunaan instruksi taktil membantu subjek mempertahankan fokus,
yang merupakan kelemahan utama anak disleksia dalam memproses teks padat (Rosniwaty &
Istiq’faroh, 2025). Kebaruan (novelty) penelitian ini terletak pada integrasi navigasi visual yang
menawarkan stabilitas lebih tinggi bagi persepsi siswa dibandingkan media digital. Hal ini
menjadi keunggulan tersendiri karena platform seperti Canva terkadang memiliki tingkat
kompleksitas yang terlalu tinggi bagi siswa dengan hambatan fokus. Pernyataan mengenai
kompleksitas media digital tersebut sejalan dengan temuan (Imam et al., 2024)serta diperkuat
oleh hasil kajian (Fachrezy et al., 2025). Secara esensial, pencapaian subjek pada aspek
pemahaman bacaan yang mencapai skor maksimal 4 menunjukkan bahwa perkembangan fungsi
kognitif tingkat tinggi siswa dapat terjadi secara optimal apabila hambatan dekoding telah
teratasi melalui penggunaan media yang tepat. Fenomena keberhasilan kognitif ini selaras
dengan teori yang dikemukakan oleh (Purwandini & Istiq’faroh, 2025). Selain itu, efektivitas
penggunaan media adaptif dalam mendukung pemahaman siswa juga dikonfirmasi melalui hasil
penelitian (Woisiri & Biringan, 2025). Dengan demikian, peningkatan kemampuan membaca
yang terjadi dapat dikaitkan dengan penggunaan LKPD ramah disleksia berbasis visual yang
mampu membantu mengatasi kesulitan membaca pada subjek.
Relefansi Terhadap Pendidikan Inklusif dan Karakter
Efektivitas media ini mendukung pencapaian tujuan kurikulum merdeka dalam memberikan
akomodasi yang adekuat bagi peserta didik berkebutuhan khusus sesuai dengan standar
operasional pendidikan inklusif (Arriani et al., 2021). Hasil penelitian ini memiliki implikasi
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 2, Juli 2026, page: 272-279
E-ISSN: 3048-3093
277
Firda Nur Kumala et.al (Efektivitas LKPD Ramah Disleksia Berbasis....)
luas terhadap implementasi pendidikan inklusif di sekolah dasar. Transformasi subjek dari
kondisi "Perlu Bantuan" menjadi "Mandiri" sejalan dengan visi pemerintah dalam memberikan
layanan pendidikan yang mengakomodasi kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus
(Arriani et al., 2021). Keberhasilan ini tidak hanya berdampak positif pada pencapaian nilai
akademik subjek, tetapi juga berkontribusi dalam memperkuat Profil Pelajar Pancasila,
khususnya pada dimensi mandiri dan bernalar kritis. Relevansi penguatan karakter ini sejalan
dengan kajian yang dilakukan oleh (Sinaga et al., 2026) serta didukung oleh temuan (Sumakul
et al., 2024). Intervensi menggunakan LKPD berbasis visual ini membuktikan bahwa strategi
pembelajaran yang berpusat pada kebutuhan spesifik siswa merupakan kunci utama dalam
mengatasi diskriminasi edukasi bagi anak disleksia. Hal tersebut dipertegas oleh hasil penelitian
(Jamin et al., 2025) dan selaras dengan argumen dari (Milala et al., 2024) mengenai pentingnya
strategi pembelajaran adaptif. Pemanfaatan media yang inovatif dan berbasis pada data
kebutuhan siswa menjadi fondasi penting bagi guru di sekolah inklusi untuk menciptakan
lingkungan belajar yang setara dan bermartabat. Urgensi penciptaan lingkungan inklusif ini
ditekankan oleh (Woisiri & Biringan, 2025). Selain itu, (Toni et al., 2024) juga mengonfirmasi
bahwa ketersediaan media yang tepat merupakan faktor krusial dalam keberhasilan
implementasi pendidikan bagi semua peserta didik. Secara sistematis, pembahasan di atas
menunjukkan bahwa LKPD ramah disleksia berbasis visual berhasil menjawab tujuan penelitian
dengan: (1) Mengurangi kesalahan persepsi huruf; (2) Meningkatkan kelancaran membaca dari
tingkat suku kata hingga kalimat; (3) Membangun kemandirian dan rasa percaya diri subjek
dalam proses literasi.
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa penggunaan
Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) ramah disleksia berbasis navigasi visual efektif dalam
meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa kelas I sekolah dasar. Intervensi ini
berhasil menjawab permasalahan utama subjek terkait hambatan mirroring huruf (seperti
tertukarnya huruf b dan d) serta rendahnya konsistensi arah membaca. Pemanfaatan fitur color
coding, panah petunjuk arah, dan optimalisasi white space pada LKPD mampu mereduksi beban
kognitif subjek, sehingga skor kemampuan membaca meningkat signifikan dari nilai 50
(kategori perlu bantuan) menjadi 85 (kategori mandiri). Secara khusus, peningkatan paling
menonjol terjadi pada aspek diskriminasi huruf dan membaca suku kata, yang menjadi fondasi
bagi kelancaran membaca kalimat sederhana dan pemahaman isi bacaan.
Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan literasi bagi siswa disleksia
di sekolah inklusi sangat bergantung pada akomodasi media ajar yang sesuai dengan profil
kognitif dan persepsi visual mereka. Penggunaan navigasi visual tidak hanya memperbaiki
aspek teknis membaca, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap aspek afektif, yaitu
meningkatnya rasa percaya diri dan kemandirian belajar siswa. Hal ini menegaskan bahwa
strategi multisensori yang terintegrasi dalam media cetak tetap memiliki relevansi tinggi sebagai
jembatan literasi di era digital.
Berdasarkan temuan tersebut, diajukan beberapa rekomendasi: (1) Bagi guru di sekolah
inklusi, disarankan untuk mengadaptasi materi ajar konvensional menjadi media ramah disleksia
dengan memperhatikan prinsip navigasi visual dan tata letak yang bersih; (2) Bagi pihak
sekolah, perlu adanya penyediaan sumber belajar yang lebih variatif guna mendukung
keberagaman gaya belajar siswa sesuai amanat pendidikan inklusif; dan (3) Bagi peneliti
selanjutnya, disarankan untuk menguji efektivitas media ini dalam skala populasi yang lebih
luas atau mengintegrasikannya ke dalam format digital interaktif yang tetap mempertahankan
prinsip-prinsip ramah disleksia untuk melihat konsistensi hasilnya pada berbagai karakteristik
subjek.
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 2, Juli 2026, page: 272-279
E-ISSN: 3048-3093
278
Firda Nur Kumala et.al (Efektivitas LKPD Ramah Disleksia Berbasis....)
5. Daftar Pustaka
Adah, Fadliansyah, F., & Putri, M. K. (2023). Analisis Kesulitan Membaca Anak Diseleksia Kelas
II SD Negeri Ciceri Indah. Arus Jurnal Pendidikan (AJUP), 3(2), 7581.
http://jurnal.ardenjaya.com/index.php/ajuphttp://jurnal.ardenjaya.com/index.php/ajup
Arriani, F., Agustiawati, Rizki, A., Widyanti, R., Wibowo, S., Tulalessy, C., & Herawati, F.
(2021). Panduan Pelaksanaan Pendidikan Inklusif. In Soraya (Ed.), Panduan Pelaksanaan
Pendidikan Inklusif (p. 74). Kemendikbudristek.
Budiani, L., & Putrayasa. (2023). Kesulitan Membaca Kata Anak Disleksia Usia 7-12 Tahun di
Sekolah Dasar. Journal of Education Action Research, 7(3), 376381.
https://doi.org/10.23887/jear.v7i3.66560
Budiantoro, E., Sukartiningsih, W., Hendratno, & Istiq’faroh, N. (2024). Analisis Kebutuhan
Awal Ketrampilan Membaca Pemahaman Siwa Sekolah Dasar Di Era Society 5.0. Jurnal
Ilmiah Pendidikan Dasar, 09, 231242.
Fachrezy, M. R., Effendi, B. T., Sari, E. S. L., Salsabillah, M. P., Maulidyanti, A., Istiq’faroh, N.,
& Zahroh, U. A. (2025). Pengembangan Media Pembelajaran Interaktif Berbasis
Powerpoint Untuk Meningkatkan Pemahaman Bilangan Cacah Siswa Kelas 6 SDN
Baratajaya. Tumoutou Social Science Journal, 2(1), 110.
https://doi.org/10.61476/m3n2z229
Fernandes, T., Pascual, M., & Araújo, S. (2025). Mirror invariance dies hard during letter
processing by dyslexic college students. Scientific Reports, 15(1), 112.
https://doi.org/10.1038/s41598-025-21092-5
Hidayati, S. I., Setyaningsih, E., & Sagita, P. A. rahma. (2026). Pengaruh Self-Confidence
Terhadap Hasil Belajar Siswa. Tumoutou Social Science Journal, 3(1), 18.
Imam, I. A., Diange, S., & Pangalila, T. (2024). Efektifitas Penggunaan Aplikasi Canva dalam
Pembuatan Materi Ajar oleh Guru di Sekolah SMK Negeri 1 Tondano. Tumoutou Social
Science Journal, 1(1), 17. https://doi.org/10.61476/732rm497
Jamin, F. Ben, Damayanti, A., Jelu, M. D., Hia, P. J. P. N., & Selvia. (2025). Peran Strategi
Pendidikan Pancasila Sebagai Fondasi Karakter dan Masa Depan Bangsa. Tumoutou Social
Science Journal, 2(2), 107115. https://doi.org/10.61476/nz53r153
Khoiro, A. N. W., & Istiq’faroh, N. (2025). Pengembangan Media Pembelajaran “Kartu Huruf
Multisensori” dengan Metode Orton-Gilingham untuk Pembelajarn Membaca Permulaan
Peserta Didik Kelas 1 Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar,
13(10), 27302740.
Manuain, Y., Istiq’faroh, N., & Sukartiningsih, W. (2024). Analisis Kebutuhan Awal
Pengembangan Media. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 09, 332346.
Milala, D., Walujan, M., & Pangalila, T. (2024). Pemanfaatan Youtube Sebagai Media
Pembelajaran Guna Meningkat Motivasi Belajar Peserta Didik. Tumoutou Social Science
Journal, 1(1), 1520.
Purwandini, S., & Istiq’faroh, N. (2025). PENGEMBANGAN MEDIA AUDIO VISUAL
BERBASIS ARTICULATE STORYLINE 3 DALAM MATERI MENENTUKAN IDE
POKOK PADA TEKS BACAAN KELAS VI DI SDN BULUSARI I GEMPOL
KABUPATEN Pendidikan Guru Sekolah Dasar , Universitas Negeri Surabaya
PENDAHULUAN Bahasa Indonesia memegan. Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah
Dasar, 13(5), 11981216.
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 2, Juli 2026, page: 272-279
E-ISSN: 3048-3093
279
Firda Nur Kumala et.al (Efektivitas LKPD Ramah Disleksia Berbasis....)
Ramadhani, N. A. P., Putra, I. N. I., Wanodiasari, M., & Minsih. (2024). Strategi Guru Pada
Penanganan Siswa Disleksia Di Sekolah Dasar. Jurnal Satya Widya, 40(2), 190201.
https://doi.org/10.24246/j.sw.2024.v40.i2.p190-201
Rosniwaty, & Istiq’faroh, N. (2025). Profil Literasi Membaca pada Materi Mitiggasi Bencana di
Sekolah Dasar. Jurnal Karya Ilmiah Guru, 10(1), 728734.
Salwa, U., Rhomadhona, L. P., Ervianto, D. N. P., Witono, M. H., Rahmawati, S., Istiq’faroh, N.,
& Zahroh, U. A. (2025). Pengembangan Media Buku Interaktif Bahasa Indonesia “Satu
Titik” Guna Meningkatkan Minat Belajar Peserta Didik Kelas IV Sekolah Dasar. Tumoutou
Social Science Journal, 2(1), 1826. https://doi.org/10.61476/45vdaz77
Sinaga, T. J., Lonto, L. A., & Biringan, J. (2026). Implementasi Penguatan Profil Pelajar Pancasia
yang Berkebhinekaan Global di Dalam Kelas SMP Advent Remboken. Tumoutou Social
Science Journal, 3(1), 4046.
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. In . (Number January).
Alfabeta.
Sumakul, H. I., Tendean, S. V., & Lonto, A. L. (2024). Pemanfaatan Teknologi Informasi dan
Komunikasi sebagai Media Pembelajaran. Tumoutou Social Science Journal, 1(1), 2130.
https://doi.org/10.61476/xy1xwh12
Tiwan, N. R. (2023). Pengembangan Perangkat Asesmen Kemampuan Membaca untuk Anak
Disleksia Kelas Rendah. Eduscotech, 1(2), 112.
https://doi.org/10.XXXX/eduscotech.xxxx.xxx
Toni, Karim, A., Bahari, Y., & Warneri. (2024). Model Pendidikan Berbasis Komunitas.
Tumoutou Social Science Journal, 1(2), 9299. https://doi.org/10.61476/xfvwr731
Triana, D., & Minsih. (2026). Strategi Multisensori Berbasis Media Digital Interaktif untuk
Meningkatkan Kemampuan Membaca Siswa Disleksia di Sekolah Dasar. Jurnal
Kependidikan, 15(1), 773788.
Woisiri, C. J., & Biringan, J. (2025). Strategi Pembelajaran Guru Dalam Meningkatkan Motivasi
Belajar Siswa Melalui Mata Pelajaran PPKn di SMA Advent Waropen Papua. Tumoutou
Social Science Journal, 2(2), 7479. https://doi.org/10.61476/r7xdmx91