1. Pendahuluan
Indonesia adalah negara yang memiliki risiko bencana yang tinggi disebabkan oleh faktor
geografis, geologis, dan iklim yang mendukung terjadinya berbagai macam bencana alam,
termasuk banjir (Genika et al., 2022). Banjir menjadi jenis bencana yang paling sering terjadi di
tanah air dan berdampak besar bagi kehidupan sosial, ekonomi, dan pendidikan masyarakat
(BNPB, 2023). Tingginya jumlah kejadian banjir menunjukkan perlunya pendekatan yang
sistematis dalam pengurangan risiko bencana melalui berbagai sektor, termasuk pendidikan
(Suryadi et al., 2024). Pendidikan tentang kebencanaan di tingkat sekolah dasar memiliki
peranan krusial dalam meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan siswa terhadap potensi
bencana di sekitar mereka (Muhibah et al., 2024). Program mitigasi bencana yang diperkenalkan
sejak usia dini dapat membantu mereka memahami penyebab bencana, dampaknya, dan langkah-
langkah yang bisa diambil untuk menurunkan risiko yang ada (Susmini et al., 2024). Selain itu,
pendidikan yang berkaitan dengan kebencanaan juga berperan dalam membangun kesadaran
siswa akan pentingnya menjaga lingkungan dalam upaya pencegahan bencana (Setyorini dan
Purwanto, 2024).
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengintegrasikan pendidikan mitigasi bencana ke
dalam kurikulum sekolah dasar dapat meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan siswa untuk
menghadapi bencana alam (Hermalinda et al., 2024). Penelitian lain mengungkapkan bahwa
materi pembelajaran yang berfokus pada mitigasi bencana membantu siswa memahami konsep
kebencanaan dengan cara yang lebih kontekstual dan bermakna (Kurnia et al., 2023). Selain itu,
penggunaan media pembelajaran interaktif dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam
memahami fenomena bencana yang ada di sekitar mereka (Apriyani et al., 2024). Istiq'faroh
(2020) menegaskan bahwa penggunaan cerita rakyat berbasis konteks lokal secara signifikan
meningkatkan kemampuan membaca pemahaman dan motivasi siswa kelas IV sekolah dasar.
Temuan ini menunjukkan bahwa konteks narasi yang relevan dengan pengalaman siswa mampu
mendorong pemrosesan informasi yang lebih mendalam dibandingkan pendekatan konvensional
(Istiq'faroh, 2020). Relevansi tematik antara bahan bacaan dan kehidupan nyata siswa terbukti
menjadi faktor kunci dalam keberhasilan pembelajaran literasi di sekolah dasar.
Masalah ini juga teridentifikasi berdasarkan observasi awal di salah satu sekolah dasar yang
menunjukkan bahwa materi tentang bencana banjir belum terintegrasi dengan baik dalam
kurikulum tematik di kelas IV. Guru lebih memilih menggunakan metode ceramah dan buku
paket yang mengakibatkan kurangnya keterlibatan siswa secara aktif dalam mempelajari faktor
penyebab dan dampak banjir di sekitar mereka. Hasil wawancara dengan guru kelas IV juga
menunjukkan bahwa media pembelajaran yang dipakai masih terbatas dan kurang
mengintegrasikan literasi membaca dengan materi mitigasi bencana (Muhibah et al., 2024).
Salah satu alat pembelajaran yang dapat mendukung pengajaran mitigasi bencana adalah Lembar
Kerja Peserta Didik (LKPD) yang dirancang secara kontekstual dan interaktif, sehingga bisa
meningkatkan partisipasi aktif siswa dalam proses belajar (Kurnia et al., 2023). LKPD
memungkinkan siswa untuk terlibat dalam berbagai aktivitas menyenangkan seperti membaca,
mengamati, menganalisis, dan memecahkan masalah yang relevan dengan fenomena di sekitar
mereka (Apriyani et al., 2024). Menurut Istiq'faroh (2022), penerapan media flipbook pada
pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas IV sekolah dasar mampu meningkatkan minat dan hasil
belajar siswa secara signifikan, menunjukkan bahwa inovasi media ajar kontekstual memiliki
dampak positif nyata terhadap pencapaian kompetensi literasi peserta didik.
Istiq'faroh (2022) juga menemukan bahwa gerakan literasi sekolah yang diperkuat selama
masa pandemi memberikan dampak positif terhadap pembiasaan membaca dan menulis siswa
sekolah dasar. Internalisasi budaya literasi melalui program yang terstruktur terbukti
meningkatkan keterlibatan siswa dalam aktivitas berbahasa secara konsisten (Istiq'faroh, 2022).