TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 106-112
E-ISSN: 3048-3093
106
Sipangkar et al. (Implementasi Pendidikan Karakter.........)
Implementasi Pendidikan Karakter dalam
Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMP
Advent Remboken
Lidya Julita Sipangkar
a,1*
, Theodorus Pangalila
a,2
, Telly D. Wua
a,3
a
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Universitas Negeri Manado, Indonesia
1*
lidyajulita051@gmail.com;
2
theopangalila@unima.ac.id;
3
tellywua@unima.ac.id
*
Corresponding Author
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 20 Januari 2026
Direvisi: 08 Februari 2026
Disetujui: 25 Maret 2026
Tersedia Daring: 19 April 2026
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi pendidikan
karakter dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di SMP
Advent Remboken. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif
kualitatif, dengan pendekatan yang dipilih untuk memperoleh pemahaman
mendalam mengenai bagaimana nilai-nilai karakter diterapkan dalam
proses belajar mengajar. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi,
dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara sistematis menggunakan
reduksi data, penyajian data, dan penyimpulan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa guru PKn telah berupaya menanamkan nilai-nilai
karakter seperti disiplin, tanggung jawab, kejujuran, dan kerja sama dalam
setiap kegiatan pembelajaran. Meskipun demikian, penerapan pendidikan
karakter belum berjalan secara konsisten pada setiap pertemuan dan
masih bergantung pada metode pembelajaran yang digunakan. Selain itu,
strategi yang mendorong siswa untuk mempraktikkan nilai-nilai karakter
secara aktif dalam kehidupan nyata masih terbatas. Penelitian ini
menegaskan pentingnya penguatan metode pembelajaran dan keteladanan
guru untuk mendukung internalisasi karakter pada peserta didik secara
lebih optimal.
Kata Kunci:
Pendidikan Karakter;
Pendidikan
Kewarganegaraan;
Metode Pembelajaran;
Internalisasi Karakter.
ABSTRACT
Keywords:
Character Education;
Civic Education;
Teaching Methods;
Character Internalization.
The Implementation of Character Education in Civic Education Learning at
SMP Advent Remboken. This study aims to describe the implementation of
character education in Civic Education (PKn) learning at SMP Advent
Remboken. The type of research used is descriptive qualitative, with an
approach selected to obtain an in-depth understanding of how character
values are applied in the teaching and learning process. Data were
collected through interviews, observations, and documentation, then
analyzed systematically using data reduction, data presentation, and
conclusion drawing. The results of the study indicate that PKn teachers
have made efforts to instill character values such as discipline,
responsibility, honesty, and cooperation in every learning activity.
However, the implementation of character education has not been carried
out consistently in every meeting and still depends on the teaching
methods used. In addition, strategies that encourage students to actively
practice character values in real life are still limited. This study emphasizes
the importance of strengthening teaching methods and teacher
exemplarity to support the more optimal internalization of character in
students.
©2026, Lidya Julita Sipangkar, Theodorus Pangalila, Telly D. Wua
This is an open access article under CC BY-SA license
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 106-112
E-ISSN: 3048-3093
107
Sipangkar et al. (Implementasi Pendidikan Karakter.........)
1. Pendahuluan
Lingkungan adalah kesatuan ruang yang menjadi tempat berlangsungnya aktivitas
manusia, yang dapat terpengaruh oleh pengelolaan sampah rumah tangga dan berpotensi
mengalami pencemaran bila tidak dijaga dengan baik. Lingkungan adalah ruang hidup
masyarakat yang menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan warga, yang harus
dikelola secara berkelanjutan untuk mewujudkan kawasan yang bersih dan layak huni (Octavia
et al., 2025). Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, pengelolaan lingkungan yang baik
tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga pada kesadaran dan partisipasi masyarakat
dalam menjaga kualitas lingkungan hidup (Cahyono, 2020; Simorangkir et al., 2025).
Pendidikan merupakan fondasi penting bagi tegaknya suatu bangsa, karena melalui
pendidikan, bangsa dapat mempertahankan martabat dan integritasnya. Secara esensial,
pendidikan bertujuan membebaskan manusia dari berbagai permasalahan hidup yang
mengelilinginya. Salah satu mata pelajaran yang memiliki peran strategis dalam membentuk
karakter peserta didik adalah Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). PKn tidak hanya
menanamkan pengetahuan, tetapi juga membentuk kepribadian yang kuat dan mendorong
partisipasi aktif sebagai warga negara yang bertanggung jawab.
Namun, dalam praktiknya, penerapan pendidikan karakter melalui PKn di sekolah masih
menghadapi tantangan signifikan. Fenomena sosial yang muncul, seperti menurunnya
kedisiplinan, kurangnya rasa tanggung jawab, lemahnya toleransi, dan meningkatnya perilaku
negatif, baik di dalam maupun di luar sekolah, menjadi hambatan tersendiri. PKn dirancang
untuk memuat nilai moral, etika, dan kebangsaan, tetapi dalam praktik pembelajaran sering
terfokus pada hafalan materi dan aspek kognitif, sehingga nilai karakter tidak tertanam secara
optimal.
Faktor lain yang menjadi penghambat adalah minimnya keteladanan dari guru,
keterbatasan media pembelajaran yang relevan, serta waktu yang terbatas untuk
menginternalisasi nilai karakter. Pendidikan sejatinya merupakan proses membentuk
kepribadian dan mengembangkan individu secara utuhsecara sosial, moral, dan spiritual
sehingga peserta didik mampu menghadapi masalah yang semakin kompleks. Sayangnya, tren
kehidupan peserta didik saat ini menunjukkan adanya penurunan moral, yang memerlukan
perhatian serius.
Irzal Anderson dan Riana Sari (2016) menyoroti berbagai masalah yang terjadi di kalangan
pelajar, mulai dari tawuran, pencurian, menyontek, hingga bullying dan pelecehan. Perilaku ini
menunjukkan bahwa pendidikan moral di sekolah belum efektif, sehingga moralitas peserta
didik rendah. Sjarkawi (2008) menekankan bahwa perilaku yang tidak berlandaskan moral
disebabkan oleh rendahnya moralitas individu. Dalam konteks ini, pendidikan karakter menjadi
solusi penting untuk membentuk nilai moral dan akhlak peserta didik. Daryanto (2013)
menyatakan bahwa pendidikan karakter adalah upaya yang dilakukan oleh sekolah, orang tua,
dan masyarakat bersama-sama untuk menumbuhkan sikap peduli, bertanggung jawab, dan
berpendirian pada anak-anak.
Menurut Dharma Kesuma (2011), pendidikan karakter bertujuan mengembangkan nilai
moral yang dapat diwujudkan secara nyata melalui pembelajaran yang difasilitasi oleh institusi
pendidikan. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, yang
menegaskan bahwa pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan peserta didik,
membentuk watak, serta mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan karakter yang diterapkan
melalui PKn bertujuan menanamkan nilai-nilai Pancasila sehingga siswa dapat
menginternalisasi karakter yang baik dalam kehidupan sehari-hari, seperti yang diupayakan di
SMP Advent Remboken.
Pendidikan karakter mencakup penanaman nilai melalui pengetahuan, kesadaran, dan
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 106-112
E-ISSN: 3048-3093
108
Sipangkar et al. (Implementasi Pendidikan Karakter.........)
tindakan. Implementasinya harus melibatkan seluruh elemen sekolah, mulai dari kurikulum,
proses pembelajaran, penilaian, pengelolaan sekolah, hingga pemanfaatan sarana prasarana.
Pendidikan karakter membantu peserta didik memahami perilaku yang berhubungan dengan
Tuhan, diri sendiri, sesama, lingkungan, dan kebangsaan, yang tercermin dalam sikap,
perkataan, dan perbuatan sesuai norma agama, hukum, budaya, dan adat istiadat.
Namun kenyataannya, di SMP Advent Remboken, proses pembelajaran PKn masih
didominasi oleh metode ceramah. Siswa sering hanya mendengarkan penjelasan guru, tanpa
keterlibatan aktif dalam diskusi atau pemecahan masalah. Akibatnya, motivasi belajar rendah,
beberapa siswa tidak serius mengerjakan tugas, dan hasil belajar PKn kurang optimal. Hal ini
terlihat dari data nilai semester I tahun ajaran 2023/2024. Untuk mengatasi hal tersebut, guru
perlu menerapkan model pembelajaran yang interaktif dan kontekstual agar pendidikan
karakter dapat berjalan efektif.
Pendidikan karakter juga berperan sebagai upaya preventif terhadap penurunan moral
bangsa. Jika tidak segera ditangani, degradasi karakter dapat berdampak buruk pada kehidupan
di masa depan. Pendidikan karakter bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar
menjadi individu yang beriman, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri, serta menjadi
warga negara yang bertanggung jawab dan demokratis.
Seiring perkembangan zaman dan era globalisasi, sebagian peserta didik masih kurang
mempraktikkan tata krama dan sopan santun, termasuk dalam berbahasa dengan orang tua atau
guru. Aktivitas pembelajaran PKn yang hanya berbasis ceramah dan hafalan perlu diganti
dengan metode yang memungkinkan siswa berpikir kritis, berdiskusi, dan berpartisipasi aktif,
sehingga mereka lebih memahami materi dan hasil belajar meningkat.
Di SMP Advent Remboken, implementasi pendidikan karakter melalui PKn dapat
dilakukan dengan membiasakan siswa menanamkan nilai moral dalam kehidupan sehari-hari
dan menerapkan norma kebangsaan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003,
sistem pendidikan nasional dirancang untuk mengembangkan potensi penduduk secara
keseluruhan agar menjadi warga negara yang berkarakter, sehat, cakap, kreatif, mandiri, dan
bertanggung jawab. Sepanjang tahun 2013, terdapat 18 indikator pendidikan karakter, seperti
religius, jujur, toleran, disiplin, kerja keras, kreatif, berdikari, demokratis, cinta tanah air, dan
peduli. Berdasarkan hal ini, peneliti terdorong untuk meneliti penerapan pendidikan karakter
melalui pendidikan kewarganegaraan pada siswa SMP Advent Remboken.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi pendidikan karakter dalam
pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di SMP Advent Remboken.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menganalisis
implementasi pendidikan karakter dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di
SMP Advent Remboken. Pendekatan ini dipilih karena mampu memberikan pemahaman
mendalam terhadap fenomena sosial yang tidak dapat diukur secara kuantitatif, dengan
menekankan pada makna, pengalaman, dan konteks dalam interaksi pembelajaran. Penelitian
dilaksanakan di SMP Advent Remboken pada bulan April 2024 melalui tahapan persiapan,
pelaksanaan, dan penyelesaian laporan.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawancara
digunakan untuk memperoleh informasi secara langsung dari informan melalui tanya jawab
yang sistematis, sedangkan observasi dilakukan untuk memahami kondisi nyata di lapangan.
Dokumentasi digunakan sebagai pendukung data melalui berbagai sumber tertulis maupun
visual yang relevan dengan penelitian.
Analisis data dilakukan secara sistematis melalui tiga tahapan, yaitu reduksi data,
penyajian data, dan penyimpulan. Reduksi data bertujuan untuk menyaring dan memfokuskan
informasi yang relevan, kemudian data disajikan dalam bentuk yang terstruktur agar mudah
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 106-112
E-ISSN: 3048-3093
109
Sipangkar et al. (Implementasi Pendidikan Karakter.........)
dipahami dan dianalisis. Tahap akhir berupa penarikan kesimpulan dilakukan secara bertahap
untuk memastikan keakuratan temuan serta memberikan dasar bagi rekomendasi penelitian.
3. Hasil dan Pembahasan
Proses Pembelajaran PKn dalam Pembentukan Karakter di SMP Advent Remboken
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) memiliki peran strategis dalam membentuk karakter
peserta didik, terutama dalam menanamkan nilai demokrasi, toleransi, tanggung jawab, dan
moralitas. Sebagai mata pelajaran wajib, PKn tidak hanya berorientasi pada aspek kognitif,
tetapi juga diarahkan untuk membentuk sikap dan perilaku peserta didik yang sesuai dengan
nilai-nilai Pancasila (Biringan, 2014; Dewi et al., 2021). Hal ini menunjukkan bahwa PKn
merupakan salah satu instrumen utama dalam pendidikan karakter di sekolah.
Secara konseptual, pendidikan karakter dalam PKn menekankan integrasi nilai-nilai moral
dalam proses pembelajaran. Nilai-nilai tersebut tidak hanya diajarkan secara teoritis, tetapi juga
diinternalisasikan melalui pengalaman belajar yang bermakna (Aryani et al., 2022). Dengan
demikian, pembelajaran PKn menjadi sarana untuk membentuk kepribadian siswa secara utuh,
baik dari aspek pengetahuan, sikap, maupun keterampilan sosial.
Di SMP Advent Remboken, pembelajaran PKn dilaksanakan dengan pendekatan yang
holistik. Guru tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga berupaya
mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam setiap kegiatan pembelajaran. Hal ini terlihat dari
upaya guru dalam menanamkan nilai disiplin, kejujuran, tanggung jawab, empati, dan
kepedulian sosial dalam interaksi sehari-hari di kelas.
Metode pembelajaran yang digunakan juga bervariasi, seperti diskusi kelompok, studi
kasus, kerja sama, dan refleksi. Metode ini memungkinkan siswa untuk aktif berpartisipasi
dalam proses pembelajaran sekaligus memahami nilai-nilai yang diajarkan secara kontekstual
(Fitriani & Dewi, 2021). Pendekatan ini sejalan dengan pandangan bahwa pembelajaran PKn
harus bersifat partisipatif dan berorientasi pada pengalaman nyata siswa (Suhardiyansyah et al.,
2016).
Selain itu, guru berperan sebagai teladan dalam membentuk karakter siswa. Keteladanan
guru menjadi faktor penting karena siswa cenderung meniru perilaku yang mereka lihat dalam
kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, konsistensi sikap dan perilaku guru sangat menentukan
keberhasilan pendidikan karakter di sekolah (Ulia & Ati, 2019).
Pembelajaran PKn di SMP Advent Remboken juga diintegrasikan dengan kegiatan
spiritual, seperti doa bersama dan ibadah pagi. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat nilai
religius yang menjadi dasar pembentukan karakter siswa. Integrasi antara pembelajaran
akademik dan kegiatan spiritual ini memperkuat proses internalisasi nilai (Farmawaty, 2021).
Dengan demikian, pembelajaran PKn di SMP Advent Remboken tidak hanya berfungsi
sebagai sarana transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai proses pembentukan karakter yang
berkelanjutan. Melalui pendekatan yang holistik dan integratif, siswa diharapkan mampu
menginternalisasi nilai-nilai moral dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Faktor Penghambat Pengembangan Karakter Siswa
Meskipun implementasi pendidikan karakter telah dilakukan, terdapat berbagai faktor yang
menghambat proses pengembangan karakter siswa. Salah satu faktor utama adalah kurangnya
dukungan dari lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga yang tidak memberikan keteladanan
yang baik dapat menyebabkan ketidaksesuaian nilai yang diterima siswa di sekolah dan di
rumah (Rohman, 2019).
Kurangnya pengawasan orang tua juga menjadi penyebab lemahnya pembentukan karakter
siswa. Siswa yang tidak mendapatkan perhatian yang cukup cenderung mengalami kesulitan
dalam mengontrol perilaku dan emosi. Hal ini menunjukkan bahwa peran keluarga sangat
penting dalam mendukung pendidikan karakter yang dilakukan di sekolah.
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 106-112
E-ISSN: 3048-3093
110
Sipangkar et al. (Implementasi Pendidikan Karakter.........)
Selain itu, pengaruh teman sebaya juga menjadi faktor yang signifikan. Siswa seringkali
menyesuaikan perilakunya dengan kelompok teman, sehingga apabila lingkungan pergaulan
tidak mendukung, maka nilai-nilai yang diajarkan di sekolah dapat terabaikan. Tekanan sosial
dari teman sebaya dapat memengaruhi sikap dan perilaku siswa secara negatif.
Pengaruh teknologi dan media sosial juga menjadi tantangan dalam pembentukan karakter
siswa. Akses yang tidak terbatas terhadap berbagai informasi dapat membawa dampak negatif
apabila tidak disertai dengan pengawasan yang memadai (Purwanti, 2017). Hal ini menuntut
adanya literasi digital yang baik agar siswa mampu menyaring informasi yang diterima.
Faktor lain yang menghambat adalah ketidakkonsistenan keteladanan guru. Guru yang
tidak menunjukkan perilaku yang sesuai dengan nilai yang diajarkan dapat menurunkan
kepercayaan siswa terhadap nilai tersebut (Ulia & Ati, 2019). Oleh karena itu, konsistensi
antara perkataan dan tindakan guru menjadi hal yang sangat penting.
Selain itu, keterbatasan metode pembelajaran juga memengaruhi efektivitas pendidikan
karakter. Pembelajaran yang terlalu berfokus pada aspek akademik tanpa mengintegrasikan
nilai moral dan spiritual menyebabkan proses internalisasi karakter menjadi kurang optimal
(Pertiwi et al., 2021).
Kurangnya kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat juga menjadi hambatan
dalam pembentukan karakter siswa. Ketidaksinergian antar pihak menyebabkan nilai-nilai yang
diajarkan tidak diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari siswa.
Upaya Guru Mengatasi Hambatan Pembentukan Karakter
Untuk mengatasi berbagai hambatan tersebut, guru di SMP Advent Remboken melakukan
berbagai upaya strategis. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pembiasaan kegiatan rohani,
seperti doa pagi dan ibadah singkat. Kegiatan ini bertujuan untuk membentuk karakter religius
yang menjadi dasar bagi perilaku siswa (Siburian, 2012).
Selain itu, guru juga melakukan pendampingan dan konseling kepada siswa. Pendekatan ini
dilakukan untuk membantu siswa mengatasi permasalahan pribadi maupun sosial yang
memengaruhi perilaku mereka. Peran guru sebagai pembimbing sangat penting dalam proses
pembentukan karakter (Pitaloka et al., 2021).
Guru juga menjalin komunikasi yang aktif dengan orang tua siswa. Melalui komunikasi ini,
guru dapat menyampaikan perkembangan siswa serta bekerja sama dengan orang tua dalam
membentuk karakter anak. Kolaborasi antara sekolah dan keluarga menjadi kunci keberhasilan
pendidikan karakter (Rohman, 2019).
Upaya lain yang dilakukan adalah menciptakan lingkungan sekolah yang positif dan
kondusif. Sekolah memberikan penghargaan terhadap perilaku baik serta menerapkan aturan
disiplin secara edukatif. Lingkungan yang positif dapat mendorong siswa untuk berperilaku
sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan.
Selain itu, kegiatan ekstrakurikuler juga dimanfaatkan sebagai sarana pembentukan karakter.
Kegiatan seperti pramuka, olahraga, dan pelayanan sosial dapat mengembangkan nilai kerja
sama, kepemimpinan, dan tanggung jawab (Putri et al., 2021).
Guru juga secara konsisten menanamkan nilai disiplin melalui arahan, teguran, dan
pemberian contoh. Pembiasaan ini dilakukan secara terus-menerus agar menjadi bagian dari
karakter siswa. Disiplin merupakan salah satu nilai penting dalam pembentukan karakter yang
kuat.
Dengan berbagai upaya tersebut, guru memiliki peran yang sangat penting dalam
membentuk karakter siswa. Pendidikan karakter di SMP Advent Remboken dilakukan secara
berkelanjutan dan melibatkan berbagai pihak, sehingga diharapkan mampu menghasilkan
peserta didik yang berakhlak mulia, bertanggung jawab, dan memiliki kesadaran sosial yang
tinggi.
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 106-112
E-ISSN: 3048-3093
111
Sipangkar et al. (Implementasi Pendidikan Karakter.........)
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa implementasi pendidikan karakter
dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di SMP Advent Remboken telah
dilaksanakan secara cukup baik melalui pendekatan yang holistik dan integratif. Pembelajaran
tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga mencakup aspek afektif dan psikomotorik,
dengan menanamkan nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, kejujuran, empati, dan kerja
sama. Peran guru sebagai teladan, penggunaan metode pembelajaran yang variatif, serta
integrasi kegiatan spiritual menjadi faktor penting dalam mendukung proses internalisasi
karakter peserta didik.
Namun demikian, pelaksanaan pendidikan karakter masih menghadapi berbagai kendala,
seperti kurangnya dukungan keluarga, pengaruh negatif teman sebaya dan media sosial,
ketidakkonsistenan keteladanan, serta keterbatasan metode pembelajaran. Selain itu, kurangnya
kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat menyebabkan nilai-nilai karakter belum
sepenuhnya diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari siswa.
Untuk mengatasi hambatan tersebut, guru telah melakukan berbagai upaya, seperti
pembiasaan kegiatan rohani, pendampingan dan konseling, peningkatan komunikasi dengan
orang tua, penciptaan lingkungan sekolah yang positif, serta pemanfaatan kegiatan
ekstrakurikuler sebagai sarana pembentukan karakter. Oleh karena itu, diperlukan penguatan
sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat, serta inovasi dalam metode pembelajaran agar
pendidikan karakter dapat diimplementasikan secara lebih optimal dan berkelanjutan. Dengan
demikian, diharapkan peserta didik tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga
karakter yang kuat dan berakhlak mulia.
Daftar Pustaka
Aryani, E. D., et al. (2022). Implementasi nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter.
Gema Keadilan, 9(3), 186198.
Barus, G. (2015). Menakar hasil pendidikan karakter terintegrasi di SMP. Jurnal Cakrawala
Pendidikan.
Biringan, J. (2014). Pendidikan kewarganegaraan sebagai pendidikan nilai moral dan budi
pekerti.
Dewi, R. R., Suresman, E., & Suabuana, C. (2021). Pendidikan kewarganegaraan sebagai
pendidikan karakter di persekolahan. ASANKA: Journal of Social Science and
Education, 2(1), 7184.
Farmawaty, W. (2021). Konsep pendidikan karakter dalam buku Educating for Character
karya Thomas Lickona untuk menumbuhkan karakter religius (Skripsi). IAIN
Ponorogo.
Fitriani, D., & Dewi, D. A. (2021). Pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dalam
pengimplementasian pendidikan karakter. Jurnal Kewarganegaraan, 5(2), 489499.
Hidayah, N. (2015). Penanaman nilai-nilai karakter dalam pembelajaran bahasa Indonesia di
sekolah dasar. TERAMPIL: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Dasar, 2(2), 190
204.
Pertiwi, A. D., Nurfatimah, S. A., Dewi, D. A., & Furnamasari, Y. F. (2021). Implementasi
nilai pendidikan karakter dalam mata pelajaran PKn di sekolah dasar. Jurnal Basicedu,
5(5), 43284333.
Pitaloka, D. L., Dimyati, D., & Purwanta, E. (2021). Peran guru dalam menanamkan nilai
toleransi pada anak usia dini di Indonesia. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak
Usia Dini, 5(2), 16961705.
Purwanti, D. (2017). Pendidikan karakter peduli lingkungan dan implementasinya. DWIJA
CENDEKIA: Jurnal Riset Pedagogik, 1(2).
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 106-112
E-ISSN: 3048-3093
112
Sipangkar et al. (Implementasi Pendidikan Karakter.........)
Putri, F. A., Dewi, D. A., & Furnamasari, Y. F. (2021). Implementasi pembelajaran PKn
sebagai pembentukan karakter peserta didik sekolah dasar. Jurnal Pendidikan
Tambusai, 5(3), 73627368.
Rahmawati, M., & Harmanto, H. (2020). Pembentukan nilai karakter toleransi dalam
pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan bagi siswa penyandang
disabilitas. Jurnal Kewarganegaraan dan Studi Moral, 5(1), 5972.
Rohman, M. A. A. (2019). Pendidikan karakter di sekolah menengah pertama (SMP): Teori,
metodologi dan implementasi. Qalamuna: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama,
11(2), 265286.
Sari, P. P. (2018). Penanaman nilai karakter gemar membaca. Jurnal Ilmiah Mahasiswa
Raushan Fikr, 7(2), 205217.
Siburian, P. (2012). Penanaman dan implementasi nilai karakter tanggung jawab. Jurnal
Generasi Kampus, 5(1), 85102.
Suhardiyansyah, M. Y., Budiono, B., & Widodo, R. (2016). Implementasi pendidikan karakter
melalui bidang studi Pendidikan Kewarganegaraan. Jurnal Civic Hukum, 1(1), 110.
Ulia, P., & Ati, A. (2019). Peranan guru dalam meningkatkan nilai karakter disiplin dan
kejujuran siswa. Jurnal Dedikasi Pendidikan, 3(2), 112122.
Urgiansah, T. H. (2022). Meningkatkan minat belajar siswa dengan media pembelajaran
konvensional dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan. Jurnal Pendidikan
dan Konseling, 4(3), 1529.
Wahyu, I., Yuliatin, Y., Sawaludin, S., & Alqadri, B. (2023). Implementasi pendidikan karakter
dalam pembelajaran PPKn di SMP Negeri 1 Batulayar. Jurnal Ilmiah Profesi
Pendidikan, 8(4), 20932103.
Zai, E. P., et al. (2024). Implementasi nilai pendidikan karakter dalam pembelajaran PKn di
sekolah dasar. Innovative: Journal of Social Science Research, 4(1), 66776691.