TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 162-168
E-ISSN: 3048-3093
162
Christi Koni Mandalika et.al (Dampak Tindakan Bullying Terhadap.)
Dampak Tindakan Bullying Terhadap Perkembangan
Mental Peserta Didik SMP Negeri 3 Tahuna Barat
Kabupaten Kepulauan Sangihe
Christi Koni Mandalika
a,1*
, Julien Biringan
b,2
, Wua Telly Delly
c,3
a,b,c
Universitas Negeri Manado, Jl. Kampus UNIMA, Tonsaru, Kecamatan Tondano Selatan, Kabupaten Minahasa,
Sulawesi Utara, KodePos 95618, Indonesia
Email: christimandalika6@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 20 Januari 2026
Direvisi: 18 Februari 2026
Disetujui: 17 April 2026
Tersedia Daring: 30 April 2026
Tindakan bullying merupakan fenomena yang semakin meningkat di
era modern ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-
faktor yang menyebabkan Tindakan bullying dan dampaknya terhadap
perkembangan mental peserta didik. Metode penelitian yang
digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil
penelitian menunjukan bahwa Tindakan bullying pada peserta didik
disebabkan oleh faktor internal dan eksternal, seperti, kurangnya
Pendidikan karakter, dan pengaruh lingkungan sekitar. Dampaknya
dapat berupa peningkatan kejahatan, penurunan nilai-nilai karakter
dan kerusakan hubungan sosial. Penelitian ini menyarankan
pentingnya Pendidikan karakter yang efektif dan peran aktif guru dan
orang tua dalam mencegah Tindakan bullying pada peserta didik SMP
Negeri 3 Tahuna. Penelitian ini menggunakan metode penelitian
kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan
wawancara. Berdasarkan hasil dari penelitian ini, dapat disimpulkan
bahwa strategi penanganan Tindakan bullying pada peserta didik Smp
Negeri 3 Tahuna yaitu dilakukan dengan melakukan teguran,
Pendidikan, ceramah, pendekatan, dan nasihat.
Kata Kunci:
Tindakan,
Bullying,
Tindakan Bullying,
Perkembangan Mental
ABSTRACT
Keywords:
Character Discipline,
Teacher Effort,
Character Education
Bullying is an increasing phenomenon in this modern era. This study aims
to analyze the factors that cause bullying and its impact on the mental
development of students. The research method used is qualitative with a
case study approach. The results of the study show that bullying in
students is caused by internal and external factors, such as lack of
character education, and the influence of the surrounding environment.
The impact can be an increase in crime, a decrease in character values
and a breakdown in social relationships. This study suggests the
importance of effective character education and the active role of
teachers and parents in preventing bullying in SMP Negeri 3 Tahuna
students. This study uses qualitative research methods. The data
collection technique was carried out by observation and interviews.
Based on the results of this study, it can be concluded that the strategy for
handling bullying in students of SMP Negeri 3 Tahuna is carried out by
conducting reprimands, education, lectures, approaches, and advice.
©2026, Christi Koni Mandalika, Julien Biringan, Wua Telly Delly
This is an open access article under CC BY-SA license
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 162-168
E-ISSN: 3048-3093
163
Christi Koni Mandalika et.al (Dampak Tindakan Bullying Terhadap.)
1. Pendahuluan
Pendidikan karakter memiliki peran penting dalam membentuk sikap dan perilaku siswa,
terutama dalam mengembangkan empati, toleransi, dan penghargaan terhadap orang lain
(Syawalia et al., 2024). Dengan mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam proses Pendidikan
diharapkan dapat menciptakan lingkungan sekolah yang lebih positif dan mencegah terjadinya
bullying. Perilaku bullying di sekolah merupakan masalah sosial yang serius dan dapat
berdampak negatif terhadap perkembangan psikologis dan emosional siswa. Bullying merujuk
pada Tindakan agresif yang dilakukan secara berulang oleh individua tau kelompok terhadap
korban yang lebih lemah, yang dapat berupa kekerasan fisik, verbal atau sosial (Yuliani,
2019). Sehubungan dengan Pendidikan karakter maka peserta didik dapat membangun sikap
saling menghargai dan tidak melakukan Tindakan yang merugikan orang lain, seperti
melakukan Tindakan bullying di sekolah.
Perkembangan mental adalah serangkaian tahapan yang pasti dan terstruktur yang di lalui
individu sejak lahir hingga dewasa, dimana mereka mengkonstruksikan kemampuan berpikir
dan beradaptasi dengan lingkungan (Jean Piaget). Perkembangan mental merupakan hasil dari
penyelesaian konflik psikososial yang dialami individu setiap tahap kehidupan yang
mempengaruhi emosi, motivasi dan cara beriteraksi dengan orang lain (Erik erikson). Masa
remaja merupakan masa yang kritis dalam siklus perkembangan seseorang sebagai persiapan
memasuki masa dewasa. Perubahan psikologik, dan sosial terjadi pada masa ini. Pada saat
yang bersamaan dapat memicu terjadinya konflik antara remaja dengan diri sendiri maupun
dengan lingkungan sekitar. Apabilah konflik ini tidak dapat diselesaikan dengan baik maka
akan memberikan dampak negativ terhadap perkembangan remaja, termasuk masalah mental
emosional (IDAI, 2010). Menurut Kasingku & Sanger (2023), perkembangan mental pada
remaja dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya teknologi.
Berdasarkan hasil prasurvey yang dilakukan oleh peneliti di SMP Negeri 3 Tahuna,
penyimpangan yang dilakukan oleh siswa SMP Negeri 3 Tahuna disebabkan oleh beberapa
penyebab yaitu, adanya faktor ekonomi, dan kurangnya perhatian orang tua, serta pengaruh
dari lingkungan dan teman sebaya. Penyimpangan yang dilakukan oleh siswa Smp Negeri 3
Tahuna, tidak hanya berdampak pada individu, akan tetapi juga berdampak pada lingkungan
sekitar sekolah. Dampak sosial yang ditimbulkan dari penyimpangan sosial tersebut ialah
adanya pemberian cap yang buruk dari lingkungan sekitar dan munculnya kekhawatiran Guru
dan orang tua siswa terhadap peniruan perilaku menyimpang pada siswa.
Berbagai bentuk pelanggaran atau penyimpangan juga banyak dilakukan oleh siswa di
Smp Negeri 3 Tahuna. Adapun bentuk bullying yang dilakukan yaitu, menghina teman,
menjuluki nama orang tua, makian terhadap teman, dan memfitnah teman, serta melakukan
Tindakan yang tidak di inginkan dengan perilaku kekerasan fisik terhadap korban. Tentu
perilaku seperti ini membuat guru dan orang tua merasa resah karena akan menyebabkan
masalah sosial di sekolah. Diantara banyak perilaku bullying yang dilakukan oleh siswa Smp
Negeri 3 Tahuna yang meresahkan guru adalah menghina teman dengan menjuluki nama
orang tua sehingga menimbulkan perilaku aduh mulut dan sampai Tindakan kekerasan fisik,
tentu perilaku ini tidak baik untuk lingkungan sekolah karena dapat mempengaruhi siswa yang
lain dan dapat menyebabkan mental siswa terganggu.
Ketika siswa salah memilih pergaulan, tidak akan menutup kemungkinan mereka akan
melakkukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh orang-orang dilingkungan sekitarnya,
Ketika orang dilingkungannya melakukan hal buruk, maka besar kemungkinan mereka akan
menirunya begitupun sebaliknya. Keadaan ini membuat karakter siswa cenderung
memprihatinkan karena mengikuti pergaulan di lingkungan sekitar. Keadaan perilaku bullying
yang dilakukan oleh siswa Smp Negeri 3 Tahuna sudah masuk dalam tahap yang cukup
memprihatinkan. Sehingga jika hal ini tidak segera dicarikan jalan keluarnya.
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 162-168
E-ISSN: 3048-3093
164
Christi Koni Mandalika et.al (Dampak Tindakan Bullying Terhadap.)
Bullying adalah aktifitas yang sadar, disengaja, dan keji yang dimaksudkan untuk
melukai, menanamkan ketakutan melalui ancaman agresi lebih lanjut. Seperti hasil penelitian
para ahli, antara lain oleh Rigby (dalam Astuti, 2008) perilaku bullying yang banyak dilakukan
di sekolah umumnya mempunyai tiga karakteristik yang terintegrasi. Seperti
ketidakseimbangan kekuatan Perilaku yang ditunjukkan pelaku melibatkan ketidakseimbangan
kekuatan sehingga menimbulkan perasaan tertekan pada korban. Selanjutnya Coloroso (2007)
juga menyebutkan pelaku bullying biasanya merupakan orang yang lebih tua, lebih besar,
lebih kuat, lebih mahir secara verbal, lebih tinggi dalam status sosial dan berasal dari ras yang
berbeda. Perilaku agresi yang menyenangkan. Bullying menyebabkan kepedihan emosional
dan luka fisik, adanya Tindakan untuk dapat melukai, dan menimbulkan rasa senang di hati
pelaku saat menyaksikan penderitaan korban pada saat di bully (Coloroso, 2007).
Menurut Wiyani (2012) korban bullying akan merasa tidak nyaman, takut, rendah diri,
serta merasa tidak berharga dalam lingkungan sosial dan berkeinginan untuk bunuh diri.
Perilaku yang berulang-ulang atau terus menerus. Bullying merupakan salah satu dari perilaku
agresif yang terjadi berulang kali, bersifat regeneratif, menjadi kebiasaan atau tradisi yang
mengancam jiwa korban (Astuti, 2008). Menurut Rigby (1995) bullying memiliki tiga bentuk.
Pertama, verbal bullying seperti mengejek/mencela, menyindir, memanggil nama dan
menyebarkan fitnah. Kedua, physical bullying seperti menendang, memukul, mendorong,
merusak atau mencuri barang milik orang lain atau menyuruh orang lain untuk menyerang
korban. Ketiga, non-verbal/non-physical bullying seperti mengancam dan menunjukkan sikap
yang janggal/ tidak seperti biasanya, melarang orang lain untuk masuk kedalam kelompok,
memanipulasi persahabatan dan mengancam via e-mail.
Sama dengan non-verbal/non-physical bullying, Coloroso (2007) menyebutnya dengan
bullying relasional. Bullying relasional merupakan bentuk bullying yang paling sulit untuk
dideteksi dari luar. Bullying relasional adalah pelemahan harga diri si korban yang secara
sistematis melalui pengabaian, pengucilan, pengecualian, atau penghindaran. Penghindaran
dan penyingkiran adalah alat bullying yang terkuat. Bullying verbal merupakan perundungan
verbal melibatkan komentar yang merendahkan, nama nama panggilan yang buruk dan
tindakan verbal lain yang bertujuan menyakiti perasaan. Bullying fisik merupakan
perundungan fisik termasuk memukul, menendang, mendorong dan meludahi korban. Bullying
sosial merupakan perundungan yang di lakukan dengan cara mengucilkan seseorang dan
kelompoknya (olweus). Berdasarkan beberapa kajian diatas yang dimaksud dengan
perundungan verbal, fisik, dan sosial adalah bentuk-bentuk utama dari ketiga jenis-jenis
bullying. Ketiga jenis perundungan ini melibatkan satu atau lebih pelaku yang secara sengaja
atau berulang kali menggunakan kekerasan atau paksaan untuk menyakiti korban yang
dianggap lebih lemah.
Menurut Elliot, berbagai permasalahan dalam keluarga seperti ketidakhadiran ayah, ibu
yang mengalami depresi, kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak, perceraian, serta
kondisi sosial ekonomi yang rendah menjadi faktor penting yang memicu perilaku agresif.
Selain itu, karakteristik individu pelaku juga turut berperan dalam terjadinya bullying.
Perasaan dendam dan iri hati, adanya budaya senioritas, serta kurangnya pengawasan dan
pembinaan etika dari guru turut memperbesar kemungkinan munculnya perilaku tersebut. Di
samping itu, lingkungan sekolah dengan disiplin yang terlalu kaku atau penerapan aturan yang
tidak konsisten juga dapat menjadi pemicu terjadinya tindakan bullying. Setiap korban
bullying pasti memiliki cerita yang berbeda untuk di bagikan. Dampak dari bullying dapat
berwujud dalam berbagai macam bentuk yang negative, dapat menyebabkan stress yang
mengarah pada kecemasan, kesepian, menarik diri, bertindak agresif dan depresi. Anak-anak
yang terlahir dengan kondisi mudah cemas akan sangat rentan untuk mengalami gangguan
kecemasan atau fobia. Korban bullying yang mengalami perlakuan serupa secara terus-
menerus akan memiliki akibat yang bersifat seumur hidup. Efek yang sering kali muncul pada
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 162-168
E-ISSN: 3048-3093
165
Christi Koni Mandalika et.al (Dampak Tindakan Bullying Terhadap.)
anak-anak korban bullying adalah terbentukya “mentalitas korban”, dimana mereka merasa
seakan-akan seluruh dunia melawan mereka dan kondisi ini dapat terbawa hingga mereka
menginjak usia dewasa. Korban bullying menurut Coloroso (2007) adalah pihak yang tidak
mampu membela atau mempertahankan dirinya karena lemah secara fisik atau mental ketika
mendapatkan perlakuan agresif dan manipulatif secara berulang-ulang. Remaja dapat terlibat
langsung dalam perilaku bullying sebagai pelaku maupun korban.
Perkembangan mental adalah serangkaian tahapan yang pasti dan terstruktur yang dilalui
individu sejak lahir hingga dewasa, dimana mereka mengkontruksi kemampuan berpikir dan
beradaptasi dengan lingkungan (Jean Piaget). Perkembangan mental adalah hasil dari
penyelesaian konflik psikososial yang dialami individu setiap tahap kehidupan yang
mempengaruhi emosi, motivasi, dan cara berinteraksi dengan orang lain (Erik Erikson).
Berdasarkan beberapa pengertian diatas maka yang dmaksud dengan perkembangan mental
adalah proses perubahan dan pertumbuhan yang dialami individu sepanjang hidupnya dalam
aspek pikiran, emosi, perilaku dan kognitif.
2. Metode
Metode penelitian yang akan digunakan yaitu jenis penelitian dengang menggunakan
metode penelitian kualitatif. Menurut Sugiyono (2018, hlm 3) yang mengatakan bahwa
meetode penelitian kualitatif digunakan untuk meneliti kondisi objek yang alamiah. Metode
Penelitian Kualitatif sering juga disebut metode penelitian naturalistic karena penelitiannya
dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting), disebut juga sebagai metode etnographi
karena pada awalnya metode ini lebih banyak digunakan untuk penelitian bidang antropologi
budaya. Disebut sebagai metode kualitatif karena data yang terkumpul dan analisisnya bersifat
kualitatif dalam Sugiyono, (2011:8). Peneliti adalah instrumen kunci, teknik pengumpulan
data dilakukan secara analisis, data bersifat induktif, dan hasil penelitian lebih menekankan
makna dari pada generalisasi.
Penelitian ini telah dilakukan di SMP Negeri 3 Tahuna, Kecamatan Tahuna Barat,
Kabupaten Kepulauan Sangihe padatahun akademik 2024-2025. Dalam penelitian ini yang
menjadi instrumen utama ialah peneliti itu sendiri atau anggota tim (Sugiyono 2011: 292). Dan
adapunpedoman instrumen lain yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:
Observasi, Wawancara, Dokumentasi. Bila dilihat dari segi cara atau teknik pengumpulan
data, pengumpulan data terdiri atas Sugiyono, (2011:137), yaitu teknik wawancara merupakan
kegiatan untuk memperoleh informasi secara langsung di SMP Negeri 3 Tahuna Barat agar
memperoleh informasi berhubungan dengan masalah yang diteliti. Dalam tahap ini peneliti
melakukan obsevasi atau pengamatan langsung di SMP Negeri 3 Tahuna Barat. Kemudian
hasil observasi untuk dijadikan bahan dan data untuk memperoleh gambaran riil suatu
peristiwa yang terjadi. Teknik dokumentasi merupakan metode pengumpulan data kualitatif
sejumlah besar fakta dan data yang berbentuk foto, surat-surat dan catatan. Menurut
Mudjiarahardjo dalam V. Wiratna Sujarweni Analisis data adalah sebuah kegaiatan untuk
mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, memberikan kode atau tanda, dan
mengkategorikannya sehingga diperoleh suatu temuan berdasarkan fokus atau masalah yang
ingin dijawab. Dalam Sujarweni, (2014:34).
3. Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang ditemukan, menunjukan bahwa nilai kesopanan peserta
didik di Smp Negeri 3 Tahuna masih tergolong tidak terlalu baik karena masih banyak siswa
yang sering melakukan perilaku-perilaku yang tidak sopan seperti mengacuhkan orang yang
sedang berbicara, mengejek, atau merendahkan orang lain. Dampak yang terjadi akibat
menurunnya nilai kesopanan pada siswa Smp Negeri 3 Tahuna membrikan beberapa kesan
negatif antara lain, sebagai berikut:
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 162-168
E-ISSN: 3048-3093
166
Christi Koni Mandalika et.al (Dampak Tindakan Bullying Terhadap.)
- Konflik antara siswa akibat kurangnya rasa hormat.
- Hubungan yang renggang antara anak dan orang tua.
- Turunnya wibawa guru dan lembaga pendidikan.
Penelitian ini menunjukan bahwa nilai kesopanan pada siswa mengalami penurunan
signifikan akibat pengaruh lingkungan, media dan perubahan pola asuh. Untuk mengatasinya,
diperlukan peran aktif keluarga, dan sekolah dalam menanamkan nilai nilai moral, etika, dan
kesopanan melalui pendidikan karakter, dan pengawasan perilaku siswa, baik di dunia nyata
maupun di dunia digital. Saling menghargai adalah sikap dan tindakan yang menunjukan
pengakuan, penghormatan, serta penerimaan terhadap hak pendapat perasaan, dan keberadaan
orang lain tanpa memandang perbedaan yang ada, seperti perbedaan suku, agama, ras dan
budaya atau pandangan hidup. Dalam konteks tata tertib sekolah, saling menhargai berarti
setiap individu berusaha untuk memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin diperlakukan,
dengan penuh ksopanan, empati dan keadilan. Saling menghargai terdapat beberapa unsur,
antara lain:
- Sikap empati, contohnya berusaha memahami perasaan, sudut pandang dan pengalaman
orang lain.
- Kesopanan dan tatakrama, contohnya menggunakan bahasa dan perilaku yang baik saat
berinteraksi.
- Keadilan dan kesetaraan, yang berarti memperlakukan semua orang secara adil tanpa
diskriminasi.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti di Smp Negeri 3 Tahuna,
Kebanyakan siswa memiliki nilai saling menghargai yang baik, tetapi ada juga beberapa siswa
yang memiliki nilai saling menghargai yang buruk. Nilai saling menghargai merupakan salah
satu aspek penting dalam pembntukan karakter sosial. Berdasarkan pengamatan yang
dilakukan oleh peneliti beberapa siswa di Smp Negeri 3 Tahuna terlihat melakukan perilaku
tidak menghargai, seperti ejekan, dan kurangnya empati dalam lingkungan sekolah maupun
pertemanan. Pengendalian emosi adalah kemampuan sesorang untuk mengatur, mengontrol,
dan menyesuaikan perasaan atau reaksi emosionalnya agar tetap wajar, tidak berlebihan dan
sesuai dengan situasi atau norma sosial. Pengendalian emosi berarti tidak membiarkan emosi
negatif seperti marah, sedih, atau takut menguasai tindakan, sehingga kita tetap bersikap
rasioal dan sopan. Beberapa faktor yang menyebabkan lemahnya pengendalian emosi, anatar
lain, sbagai berikut:
- Faktor psikologis: Rendahnya kepercayaan diri seperti, mudah tersinggung disaat guru
mengkritik.
- Faktor sosial dan lingkugan: Lingkungan yang tidak mendukung, seperti siswa dapat meniru
perilaku seseorang baik buruknya dalam lingkungan pergaulan.
Peneliti menyimpulkan bahwa pengendalian emosi pada siswa Smp Negeri 3 Tahuna
mengalami penurunan yang cukup signifikan, terutama akibat pengaruh rendahnya
kepercayaan diri. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengenali emosi yang muncul
dan belajar dari pengalaman seperti, marah, cemas atau sedih. Penurunan kepercayaan diri
adalah kondisi dimana seseorang merasa kurangng yakin terhadap kemampuan, keterampilan,
atau nilai dirinya sendiri dalam menghadapi berbagai situasi. Siswa yang mengalami hal ini
sering menggunakan kemampuan diri, takut gagal atau khawatir terhadap penilaian orang lain.
Kepercayaan diri yang rendah berbeda dengan sifat yang pemalu, ini lebih terarah pada
keyakinan internal trhadap kemampuan diri. Bentuk penurunan kepercayaan diri, antara lain,
sebagai berikut:
Berdasarkan hasil penelitian yang ditemukan, menunjukan bahwa penurunan kepercayaan
diri di SMP Negeri 3 Tahuna masih tergolong tidak terlalu baik karena masih banyak siswa
yang sering melakukan perilaku tidak percaya diri seperti, takut mengemukakan pendapatnya
sendiri. Dampak yang terjadi akibat penurunan kepercayaan diri pada siswa SMP Negeri 3
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 162-168
E-ISSN: 3048-3093
167
Christi Koni Mandalika et.al (Dampak Tindakan Bullying Terhadap.)
Tahuna memberikan beberapa kesan negatif antara lain, seperti meningkatnya risiko stres,
depresi dan kecemasan. Mengurangi motivasi untuk belajar atau berprestasi. Menarik diri dari
tanggung.jawab. Ganguan konsentrasi adalah kondisi dimana seseorang sulit memfokuskan
perhatian pada satu tugas atau kegiatan dalam jangja waktu yang diperlukan. Individu dengan
gangguan konsentrasi mudah terdistraksi oleh rangsangan pikiran sendiri dan lingkungan
sekitar. Berdasarkan hasil pengamatan yang ditemukan, menunjukan bahwa gangguan
konsentrasi di Smp Negeri 3 Tahuna masih tergolong tidak terlalu baik karena masih banyak
siswa yang mengalami gangguan konsentrasi seperti, tidak fokus pada saat pembelajaran
berlangsung, dan tidak mengerjakan tugas tepat waktu. Dampak yang terjadi akibat gangguan
kosentrasi pada siswa Smp Negeri 3 Tahuna memberikan beberapa kesan negatif antara lain,
sebagai berikut: Menurunnya prestasi belajar siswa. Penelitian ini menunjukan bahwa
konsentrasi pada siswa mengalami penurunan signifikan akibat akibat pengaruh lingkungan.
Untuk mengatasinya, diperlukan peran aktif sekolah dan keluarga dalam menciptakan
lingkungan yang mendukung dan menjaga kesehatan fisik dengan mengkomsumsi makanan
bergisi agar tidak mudah mengalami ganngguan konsentrasi pada siswa.
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa tindakan bullying masih terjadi di
lingkungan sekolah, baik dalam bentuk verbal, fisik, dan sosial. Bentuk bullying yang paling
dominan adalah bullying verbal berupa ejekan, hinaan, dan julukan yang merendahkan teman
sebaya. Bullying memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap perkembangan mental
peserta didik. Dampak yang dirasakan korban meliputi gangguan psikologis (seperti
kecemasan, rasa takut, depresi ringan, dan rendah diri), gangguan sosial (menarik diri dari
lingkungan pertemanan), serta penurunan prestasi akademik. secara bertahap. Upaya sekolah
dalam menangani Tindakan bullying sudah mulai dilakukan melalui program konseling, dan
sosialisasi. Namun, efektivitas program tersebut masih terbatas dan memerlukan perbaikan,
terutama dalam hal konsistensi pelaksanaan serta keterlibatan orang tua dan masyarakat.
5. Daftar Pustaka
Astuti, P. R. (2008). Meredam bullying: Cara efektif menanggulangi kekerasan pada anak.
Jakarta: Grasindo.
Astuti, P.R. (2008). Meredam Bullying: 3 Cara Efektif Menanggulangi Kekerasan Pada Anak.
Coloroso, B. (2007). Pelaku bullying, korban bullying, dan saksi: Dari prasekolah hingga
sekolah menengah.
Elliott, M. (2008). Bullying: Panduan praktis untuk penanganan di sekolah. London: Pearson
Education.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2010). Tumbuh kembang anak dan remaja di Indonesia.
Jakarta: IDAI.
Piaget, J. (2010). Psikologi perkembangan anak.
Riauskina, I.I., Djuwita, R., & Soesetio, S.R. (2005). “Gencet-gencetan di mata siswa/siswi kelas
1 SMA: Naskah kognitif tentang arti, scenario, dan dampak.” Jurnal Psikologi Sosial,
12(1), 113.
Rianti, N. (2023). Judul artikel atau buku tentang upaya mengurangi tingkat bullying.
Rigby, K. (2002). Bentuk-bentuk tindakan bullying.
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 162-168
E-ISSN: 3048-3093
168
Christi Koni Mandalika et.al (Dampak Tindakan Bullying Terhadap.)
SEJIWA. (2008). Bullying: Mengatasi kekerasan di sekolah dan lingkungan sekitar anak.
Jakarta: Grasindo.
Sugiyono. (2011). Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Sugiyono. (2018). Metode penelitian kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Sujarweni, V. W. (2014). Metodologi penelitian: Lengkap, praktis, dan mudah dipahami.
Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Syawalia et al., 2024. Pendidikan karakter memiliki peran penting dalam membentuk sikap dan
perilaku siswa.
Undang-Undang Dasar No. 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional
(SISDIKNAS).
Wiyani, N.A. (2012). Save Our Children From School Bullying. Yogyakarta: Ar.Ruzz Media.
Yuliani, N. (2019). Fenomena kasus bullying di sekolah dan dampaknya terhadap kesehatan.
Yuliani, N. (2019). Fenomena Kasus Bullying di sekolah.