Bullying adalah aktifitas yang sadar, disengaja, dan keji yang dimaksudkan untuk
melukai, menanamkan ketakutan melalui ancaman agresi lebih lanjut. Seperti hasil penelitian
para ahli, antara lain oleh Rigby (dalam Astuti, 2008) perilaku bullying yang banyak dilakukan
di sekolah umumnya mempunyai tiga karakteristik yang terintegrasi. Seperti
ketidakseimbangan kekuatan Perilaku yang ditunjukkan pelaku melibatkan ketidakseimbangan
kekuatan sehingga menimbulkan perasaan tertekan pada korban. Selanjutnya Coloroso (2007)
juga menyebutkan pelaku bullying biasanya merupakan orang yang lebih tua, lebih besar,
lebih kuat, lebih mahir secara verbal, lebih tinggi dalam status sosial dan berasal dari ras yang
berbeda. Perilaku agresi yang menyenangkan. Bullying menyebabkan kepedihan emosional
dan luka fisik, adanya Tindakan untuk dapat melukai, dan menimbulkan rasa senang di hati
pelaku saat menyaksikan penderitaan korban pada saat di bully (Coloroso, 2007).
Menurut Wiyani (2012) korban bullying akan merasa tidak nyaman, takut, rendah diri,
serta merasa tidak berharga dalam lingkungan sosial dan berkeinginan untuk bunuh diri.
Perilaku yang berulang-ulang atau terus menerus. Bullying merupakan salah satu dari perilaku
agresif yang terjadi berulang kali, bersifat regeneratif, menjadi kebiasaan atau tradisi yang
mengancam jiwa korban (Astuti, 2008). Menurut Rigby (1995) bullying memiliki tiga bentuk.
Pertama, verbal bullying seperti mengejek/mencela, menyindir, memanggil nama dan
menyebarkan fitnah. Kedua, physical bullying seperti menendang, memukul, mendorong,
merusak atau mencuri barang milik orang lain atau menyuruh orang lain untuk menyerang
korban. Ketiga, non-verbal/non-physical bullying seperti mengancam dan menunjukkan sikap
yang janggal/ tidak seperti biasanya, melarang orang lain untuk masuk kedalam kelompok,
memanipulasi persahabatan dan mengancam via e-mail.
Sama dengan non-verbal/non-physical bullying, Coloroso (2007) menyebutnya dengan
bullying relasional. Bullying relasional merupakan bentuk bullying yang paling sulit untuk
dideteksi dari luar. Bullying relasional adalah pelemahan harga diri si korban yang secara
sistematis melalui pengabaian, pengucilan, pengecualian, atau penghindaran. Penghindaran
dan penyingkiran adalah alat bullying yang terkuat. Bullying verbal merupakan perundungan
verbal melibatkan komentar yang merendahkan, nama nama panggilan yang buruk dan
tindakan verbal lain yang bertujuan menyakiti perasaan. Bullying fisik merupakan
perundungan fisik termasuk memukul, menendang, mendorong dan meludahi korban. Bullying
sosial merupakan perundungan yang di lakukan dengan cara mengucilkan seseorang dan
kelompoknya (olweus). Berdasarkan beberapa kajian diatas yang dimaksud dengan
perundungan verbal, fisik, dan sosial adalah bentuk-bentuk utama dari ketiga jenis-jenis
bullying. Ketiga jenis perundungan ini melibatkan satu atau lebih pelaku yang secara sengaja
atau berulang kali menggunakan kekerasan atau paksaan untuk menyakiti korban yang
dianggap lebih lemah.
Menurut Elliot, berbagai permasalahan dalam keluarga seperti ketidakhadiran ayah, ibu
yang mengalami depresi, kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak, perceraian, serta
kondisi sosial ekonomi yang rendah menjadi faktor penting yang memicu perilaku agresif.
Selain itu, karakteristik individu pelaku juga turut berperan dalam terjadinya bullying.
Perasaan dendam dan iri hati, adanya budaya senioritas, serta kurangnya pengawasan dan
pembinaan etika dari guru turut memperbesar kemungkinan munculnya perilaku tersebut. Di
samping itu, lingkungan sekolah dengan disiplin yang terlalu kaku atau penerapan aturan yang
tidak konsisten juga dapat menjadi pemicu terjadinya tindakan bullying. Setiap korban
bullying pasti memiliki cerita yang berbeda untuk di bagikan. Dampak dari bullying dapat
berwujud dalam berbagai macam bentuk yang negative, dapat menyebabkan stress yang
mengarah pada kecemasan, kesepian, menarik diri, bertindak agresif dan depresi. Anak-anak
yang terlahir dengan kondisi mudah cemas akan sangat rentan untuk mengalami gangguan
kecemasan atau fobia. Korban bullying yang mengalami perlakuan serupa secara terus-
menerus akan memiliki akibat yang bersifat seumur hidup. Efek yang sering kali muncul pada