TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 176-183
E-ISSN: 3048-3093
176
Susi Julianti Kundimang et.al (Penguatan Kesadaran Warga Negara Tentang.)
Penguatan Kesadaran Warga Negara Tentang
Pentingnya Menjaga Kebersihan Lingkungan Di Desa
Kuma Kecamatan Tabukan-Tengah
Susi Julianti Kundimang
a,1*
, Apeles Lexi Lonto
b,2
, Julien Biringan
c,3
a,b,c
Universitas Negeri Manado, Jl. Kampus UNIMA, Tonsaru, Kecamatan Tondano Selatan, Kabupaten Minahasa,
Sulawesi Utara, KodePos 95618, Indonesia
Email: kundimangsusi81@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 20 Januari 2026
Direvisi: 18 Februari 2026
Disetujui: 17 April 2026
Tersedia Daring: 30 April 2026
Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui Mengapa Siswa-siswa di SMK Negeri
1 Siau Timur Masih di Temukan Memiliki Perilaku Kurang Disiplin serta Untuk
Mengentahui Upaya Guru Untuk Meningkatkan Karakter Displin Siswa SMK
Negeri 1 Siau Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kualitatif. Metode kualitatif adalah metode penelitian naturalistik karena
penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah. Dimana peneliti adalah
sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara
triangulasi (gabungan), analisis datanya juga bersifat induktif/ kualitatif, dan
hasil penelitiannya lebih menekankan pada makna dan generalisasi. Hasil
penelitian menunjukan Tingkat kesadaran masyarakat Desa Kuma terkait
kebersihan lingkungan secara umum dapat dikategorikan cukup baik,
meskipun hal ini belum tercapai secara merata di antara seluruh masyarakat.
Hal ini tercermin dari partisipasi sebagian masyarakat dalam upaya menjaga
kebersihan, seperti membuang sampah di tempat yang yang telah di sediakan,
membersihkan area di sekitar rumah mereka, serta berpartisipasi dalam
kegiatan bakti sosial yang diselenggarakan secara rutin. Namun masih ada
sebagian masyarakat yang kurang peduli, sebagaimana terlihat dari adanya
sampah yang dibuang sembarangan diberbagai lokasi, termasuk pantai, saluran
irigasi, halaman rumah, dan kawasan mangrove. Kondisi ini menunjukkan
perlunya meningkatkan pemahaman dan kesadaran bersama mengenai urgensi
menjaga kebersihan lingkungan melalui program-program pendidikan,
sosialisasi, dan peningkatan kapasitas yang berkelanjutan. Selain itu,
diperlukan kerja sama yang lebih erat antara pemerintah desa dan masyarakat
untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama, sehingga terwujudnya
lingkungan desa yang bersih, sehat, dan asri.
Kata Kunci:
Penguatan Kesadaran,
Warga Negara, Menjaga
Kebersihan
ABSTRACT
Keywords:
Strengthening Awareness,
Citizens,
Maintaining Cleanliness
This study aims to find out why students at SMK Negeri 1 East Siau are still found
to have less disciplined behavior and to find out teachers' efforts to improve the
disciplinary character of SMK Negeri 1 Siau Timur students. The method used in
this study is qualitative. The qualitative method is a naturalistic research method
because the research is carried out under natural conditions. Where the
researcher is the key instrument, the data collection technique is carried out in a
triangulation (combined) manner, the data analysis is also inductive/qualitative,
and the results of the research emphasize more on meaning and generalization.
The results of the study show that the level of awareness of the people of Kuma
Village regarding environmental cleanliness in general can be categorized quite
well, although this has not been achieved evenly among the entire community.
This is reflected in the participation of some people in efforts to maintain
cleanliness, such as throwing garbage in the places that have been provided,
cleaning the area around their homes, and participating in social service
activities that are held regularly. However, there are still some people who do not
care, as can be seen from the garbage that is thrown carelessly in various
locations, including beaches, irrigation canals, yards, and mangrove areas. This
condition shows the need to increase mutual understanding and awareness of the
urgency of maintaining environmental cleanliness through education,
socialization, and sustainable capacity building programs. In addition, closer
cooperation is needed between the village government and the community to
foster a sense of shared responsibility, so that a clean, healthy, and beautiful
village environment is realized.
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 176-183
E-ISSN: 3048-3093
177
Susi Julianti Kundimang et.al (Penguatan Kesadaran Warga Negara Tentang.)
©2026, Susi Julianti Kundimang, Apeles Lexi Lonto, Julien Biringan
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Kebersihan lingkungan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam menciptakan
kondisi lingkungan yang sehat. Lingkungan yang bersih dapat mencegah munculnya berbagai penyakit,
seperti diare, demam berdarah, dan penyakit kulit. Selain itu, kebersihan lingkungan juga dapat
menciptakan suasana yang nyaman dan indah sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Menurut Notoatmodjo (2012:132), perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan sangat
dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan, sikap, serta kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga
kesehatan lingkungan. Menurut Azwar (2015:30), kesadaran seseorang terhadap suatu perilaku
dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pengetahuan, sikap, kebiasaan, serta lingkungan sosial di
sekitarnya. Apabila masyarakat memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik mengenai pentingnya
menjaga kebersihan lingkungan, maka masyarakat cenderung akan memiliki sikap dan perilaku yang
lebih peduli terhadap lingkungan. Kondisi kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan
lingkungan juga dapat ditemukan di berbagai daerah pedesaan, termasuk di Desa Kuma Kecamatan
Tabukan-Tengah dengan luas walayah kurang lebih 167,16 Ha. Wilayah ini mencakup hutan mangrove
seluas 11,82 Ha, area pantai seluas 1,29 Ha, dan area pariwisata seluas 5,70 Ha. Desa kuma terbagi
menjadi menjadi beberapa Lindongan, yaitu Lindongan I, Lindongan II, dan Lindongan III.
Berdasarkan pengamatan awal, masih terdapat sebagian masyarakat yang belum sepenuhnya menjaga
kebersihan lingkungan dengan baik. Beberapa masyarakat masih membuang sampah di tempat yang
tidak semestinya, seperti di selokan, rawa, atau di sekitar pemukiman. Kebiasaan tersebut dapat
menyebabkan lingkungan menjadi kotor dan berpotensi mencemari lingkungan sekitar.
Faktor penyebabnya meliputi rendahnya kesadaran masyarakat, kebiasaan membuang sampah
sembarangan, kurangnya fasilitas tempat sampah, serta minimnya kepedulian lingkungan. Kondisi ini
tampak dari sampah yang berserakan bahkan menumpuk di berbagai tempat. Jika dibiarkan,
penumpukan sampah tersebut akan menimbulkan bau tidak sedap dan berpotensi memicu munculnya
penyakit seperti demam berdarah dan malaria yang disebarkan oleh nyamuk. Oleh karena itu,
diperlukan kerja sama semua pihak untuk menjaga kelestarian lingkungan, karena tanggung jawab
tersebut berada pada diri kita masing-masing. (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2020).
Jadi, diperlukan upaya bersama dari seluruh masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan
pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Masyarakat perlu membiasakan diri untuk tidak
membuang sampah sembarangan serta mulai menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam
kehidupan sehari-hari. Selain itu, peran pemerintah desa juga sangat penting dalam menyediakan
fasilitas kebersihan seperti tempat sampah serta melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai
dampak buruk dari sampah terhadap kesehatan dan lingkungan. Dengan adanya kerja sama antara
masyarakat dan pemerintah desa, diharapkan lingkungan dapat menjadi lebih bersih, sehat, dan nyaman
untuk ditinggali. Lingkungan yang bersih tidak hanya menciptakan keindahan, tetapi juga dapat
mencegah timbulnya berbagai penyakit serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara
keseluruhan. Oleh karena itu, kita harus menyadari bahwa seluruh masyarakat wajib menjaga dan
melestarikan lingkungan hidup (Waskito dan Witono 2014).
Kesadaran adalah kesiapan (awareness) terhadap peristiwa yang ada di lingkungan sekitarnya dan
peristiwa kognitif yang terdiri dari memori, pikiran, perasaan dan sensasi fisik. kesadaran akan
melibatkan (a) pemantauan terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar sehingga persepsi, memori dan
proses berfikir direpresentasikan dalam kesadaran; dan (b) mengendalikan diri sendiri dan lingkungan
sekitar sehingga individu mampu memulai dan mengakhiri aktifitas perilaku dan kognitif. Kesadaran
sendiri berasal dari kata “sadar”, artinya tahu, mengerti, ingat, paham, serta terbuka hati dan pikirannya
untuk berbuat sesuai dengan hatinya. Kesadaran dapat pula berarti keinsyafan akan perbuatannya. Jadi
kesadaran adalah hati dan pikiran yang telah terbuka tentang apa yang telah dikerjakan. Berdasarkan
beberapa kajian di atas, yang dimaksud dengan kesadaran dalam penelitian ini adalah kondisi di mana
masyarakat memiliki pemahaman, keinsyafan, serta kemauan dari dalam diri untuk mengetahui,
memahami, dan menyadari pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Kesadaran tersebut tercermin
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 176-183
E-ISSN: 3048-3093
178
Susi Julianti Kundimang et.al (Penguatan Kesadaran Warga Negara Tentang.)
melalui sikap, perhatian, dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari, seperti tidak membuang
sampah sembarangan, menjaga kebersihan lingkungan sekitar, serta berpartisipasi dalam kegiatan
kebersihan di masyarakat. Dengan adanya kesadaran tersebut, masyarakat tidak hanya sekadar
mengetahui pentingnya kebersihan lingkungan, tetapi juga memiliki dorongan untuk bertindak secara
aktif dalam memelihara dan menjaga lingkungan agar tetap bersih, sehat, dan nyaman bagi kehidupan
bersama. Kesadaran ini juga melibatkan kemampuan individu untuk mengendalikan perilaku diri
sendiri serta memperhatikan kondisi lingkungan sekitar sehingga tercipta lingkungan yang bersih dan
terhindar dari berbagai masalah kesehatan maupun kerusakan lingkungan.
Masyarakat memiliki arti seluruh gabungan manusia yang terdiri atas sifat yang sangat luas.
Masyarakat merupakan solidaritas eksistensi manusia berkomunikasi berdasarkan tatanan kebiasaan
yang tidak henti-hentinya serta dibatasi dengan karakter yang sama. Masyarakat merupakan suatu
perkumpulan luas dan kecil tersusun dengan berbagai kelompok serta saling berhubungan, berkumpul
dan saling mempengaruhi. Saling berpengaruh berarti berpengaruh serta bertalian batin yang
berlangsung dengan Sendirinya dan membentuk komponen yang mesti terdapat dalam masyarakat.
Masyarakat tidak hanya jumlah manusia semata, namun diantaranya perlu adanya ikatan sesamanya
yaitu kepaduan yang senantiasa beralih serta tumbuh disebabkan metode dan mengakibatkan
transformasi yang bisa berlangsung pada hidup manusia. Masyarakat merupakan suatu kumpulan serta
mempunyai perasaan yang mirip, tergabung dengan lainnya atas dasar bahwa masing-masing
mempunyai kepribadian yang sama, minat yang mirip, rasa kepemilikan sebuah lokasi, dan biasanya
tempat yang sama. Masyarakat merupakan sebuah proses tradisi serta aturan dari otoritas dan
kolaborasi. Kemudian masyarakat adalah setiap kumpulan yang telah hidup dan bekerja cukup lama
sehingga dapat menyatukan diri dan memandang dirinya sebagai suatu kesatuan sosial yang
mempunyai batas-batas yang terbentuk. Dapat di katakan masyarakat itu merupakan suatu sistem,
kesatuan manusia yang mempunyai suatu interaksi, kebiasaan (adat-istiadat), tata cara hidup bersama
yang hidup dengan batasan-batasan (aturan-aturan) dan mengangagap diri mereka suatu kesatuan sosial
yang bersifat kontinyu dan terik (Rappang 2017).
Selain itu, Durkheim (dalam Tejokusumo, 2014:1) mengartikan masyarakat sebagai sebagai
kebenaran objektif dari orang-orang yang menjadi individu-individunya. Keberadaan masyarakat
umum merupakan suatu kerangka sosial dimana bagian-bagian yang ada di dalamnya saling
berhubungan satu sama lain dan menjadikan bagian-bagian tersebut menjadi satu kesatuan yang
terkoordinasi. Orang akan bertemu orang yang berbeda di masyarakat umum dengan pekerjaan yang
berbeda, misalnya ketika seseorang melakukan perjalanan berlibur, kita akan bertemu dengan sebuah
sistem wisata antara lain biro wisata, pengelola wisata, pendamping perjalanan wisata, rumah makan,
penginapan dan lain-lain. Berdasarkan beberapa kajian di atas, yang dimaksud dengan masyarakat
dalam penelitian ini adalah sekumpulan individu yang hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu,
memiliki hubungan sosial, kebiasaan, serta aturan yang disepakati bersama. Masyarakat tidak hanya
dipahami sebagai kumpulan manusia semata, tetapi sebagai suatu kesatuan sosial yang saling
berinteraksi, saling mempengaruhi, serta memiliki rasa kebersamaan dan tanggung jawab terhadap
lingkungan tempat tinggalnya. Dalam konteks penelitian ini, masyarakat dipandang sebagai kelompok
sosial yang memiliki peran penting dalam menjaga kebersihan lingkungan melalui perilaku, kebiasaan,
dan partisipasi bersama. Kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan akan terbentuk
melalui interaksi sosial, nilai-nilai yang dianut bersama, serta adanya kerja sama dalam memelihara
lingkungan agar tetap bersih, sehat, dan nyaman untuk ditinggali. Dengan demikian, masyarakat
menjadi unsur utama dalam upaya menciptakan dan mempertahankan kebersihan lingkungan melalui
tindakan kolektif dan tanggung jawab bersama.
Manusia dan lingkungan adalah hal-hal yang umumnya berdampak satu sama lain. lingkungan
akan menjadi sebuah permasalahan bagi masyarakat, jika masyarakat mulai merasa ada masalah
dengan kondisi yang mereka alami saat ini. Menjaga lingkungan agar tetap bersih sangatlah berarti
untuk kita semua dikarenakan bisa mewujudkan kehidupan yang aman, bersih, segar serta sehat.
Adapun kegunaan memelihara kebersihan lingkungan yaitu lingkungan jadi sangat segar terlepas dari
sakit yang diakibatkan oleh lingkungan yang tidak sehat, bebas dari polusi udara, air bersih aman untuk
di minum dan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari lebih baik. Tingkat kesadaran masyarakat yang
kurang dalam menjaga kebersihan di lingkungan masyarakat, dapat kita lihat bagaimana mereka
membuang sampah. Oleh karena itu sebagai anggota masyarakat harus menampilkan Perilaku peduli
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 176-183
E-ISSN: 3048-3093
179
Susi Julianti Kundimang et.al (Penguatan Kesadaran Warga Negara Tentang.)
lingkungan hidup yang dapat di ditunjukkan salah satunya dengan kesadaran terhadap lingkungan
sekitar tempat tinggal. Jadi secara keseluruhan Kebersihan lingkungan merupakan hal yang tidak
terpisahkan dari kehidupan manusia dan merupakan unsur yang fundamental dalam ilmu kesehatan dan
pencegahan. Kebersihan merupakan sebuah cerminan bagi setiap individu dalam menjaga kesehatan
yang begitu penting dalam kehidupan sehari-hari Lastriyah (2011:38). Kebersihan lingkungan
merupakan suatu keadaan yang bebas dari segala kotoran dan penyakit, yang dapat merugikan segala
aspek yang menyangkut setiap kegiatan dan perilaku lingkungan masyarakat, dimana kehidupan
manusia tidak bisa dipisahkan baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Berdasarkan beberapa
kajian diatas, yang dimaksud dengan kebersihan lingkungan dalam penelitian ini adalah merupakan
suatu kondisi lingkungan yang terbebas dari segala bentuk kotoran seperti sampah, debu, dan bau yang
tercipta melalui kesadaran, sikap, serta perilaku manusia dalam menjaga dan memelihara lingkungan
sekitarnya sehingga menghasilkan lingkungan yang sehat nyaman, dan mendukung kualitas hidup
masyarakat.
2. Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Metode
kualitatif adalah metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi
yang alamiah. Dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data
dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis datanya juga bersifat induktif/kualitatif, dan
hasil penelitiannya lebih menekankan pada makna dan generalisasi Sugiyono, 2011). Adapun
jenis penelitian yang digunakan ialah bersifat deskriptif yakni menyajikan gambaran tentang
keadaan atau perilaku sosial secara rinci melalui hasil dan deskriptif yang berasal dari data
tertulis dan wawancara dari orang-orang yang diamati dalam hal ini mengenai kesadaran
masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Penelitian ini akan di lakukan di
Masyarakat di Desa Kuma Induk, Kecamatan Tabukan-Tengah, Kabupaten Kepulauan
Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara. Data jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan
menggunakan metode deskriptif. Alasan peneliti melakukan penelitian jenis ini adalah karena
mereka mencoba memecahkan masalah dengan cara mendeskripsikan masalah yang dihadapi.
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.
Mustari (2012:38), data primer merupakan data yang diperoleh dari sumber primer. Sumber
primer merupakan istilah yang di pakai didalam beberapa disiplin ilmu agar memberi
gambaran material sumber yang paling dekat dengan seseorang, informasi, periode waktu, atau
ide yang ditinjau.Data primer merupakan data hasil observasi dan wawancara. Dalam
penelitian ini data yang diperoleh peneliti didapat dari hasil obervasi secara langsung yang di
lakukan seorang peneliti di lapangan tepatnya di Desa Kuma Induk, Kecamatan Tabukan-
Tengah. Sujarweni (2014:74) menyatakan bahwa data sekunder adalah data yang diperoleh
dari catatan buku, artikel, buku berupa teori, jurnal, dan lain-lain. Data sekunder merupakan
data yang berasal dari sumber sekunder yang diperoleh dari dokumen-dokumen berupa buku,
majalah, blog, website serta arsip yang berkaitan pada maksud penelitian. Data ini mendukung
pembahasan peneliti. Salah satu aktivitas penelitian yaitu mengatur alat yang dipergunakan
yang biasa disebut alat mengumpulkan data. Instrumen penelitian adalah suatu alat yang dapat
memuat sejumlah data tertentu untuk menjawab pertanyaan dan menguji hipotesis penelitian.
Dalam penelitian kualitatif, alat atau instrumen penelitiannya adalah peneliti sendiri. Alat
penelitian yang digunakan peneliti adalah alat utama dan alat pendukung. Alat utamanya
adalah manusia, yakni dirinya sendiri sebagai peneliti serta alat pendukungnya. Seperti
kamera, handphone, perekam suara, buku tulis, dan pulpen.
Observasi merupakan suatu cara mengamati serta mencatat dengan analisis fenomena
yang sedang dipelajari. Observasi merupakan bagian dari cara mengumpulkan data jika
seimbang dengan target penelitian yang dimaksudkan dan ditulis dengan teratur serta bisa
didominasi kekuatan dan keabsahannya. Observasi memerlukan daya ingat atas pengamatan
yang telah dilaksanakan. Sebab manusia pada dasarnya sering lupa, oleh karena itu diperlukan
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 176-183
E-ISSN: 3048-3093
180
Susi Julianti Kundimang et.al (Penguatan Kesadaran Warga Negara Tentang.)
tulisan berupa catatan (checklist), kamera, video, dan lain-lain. Pengamat lebih cenderung
fokus pada data yang relevan, mengklasifikasikan gejala kedalam kelompok yang tepat,
menambahkan materi pada persepsi objek yang diamati. Wawancara merupakan suatu metode
bertanya dan menjawab secara verbal antara dua orang atau lebih yang saling bertatap muka,
satu orang bisa menatap wajah dan mendengar melalui telinganya. Wawancara dipakai agar
mengumpulkan data beserta info mengenai penelitian, cara ini dipakai dengan sistem bertanya
dan menjawab sesuai dengan ketentuan pihak yang terkait. Dalam hal ini sasaran wawancara
adalah warga Desa Kuma Kecamatan Tabukan-Tengah. Dokumentasi adalah metode
pengumpulan data kualitatif yang berbentuk dokumen, seperti: suarat, catatan harian, arsip
foto, koran dan lain sebagainya yang dapat memberikan informasi dan data yang valid serta
bersesuaian terhadap permasalahan yang coba di selesaikan dalam penelitian. Secara umum,
analisi data adalah keseluruhan upaya sistematis yang di lakukan oleh peneliti dalam
memahami data dan menemukan makna yang sistematis, rasional, dan argumentatif yang
mampu menjawab setiap pertanyaan penelitian dengan baik dan jelas, baik pertanyaan kecil
maupun pertanyaan utama menurut (MA Ibrahim, 2015). (Miles & Huberman, 1984)
mengemukakan bahwa aktivitas dalam menganalisis data kualitatif dilakukan secara interaktif.
Kegiatan analisis data yaitu data reduction (reduksi data), data display (penyajian data), dan
conclusion drawing/ verification (penarikan kesimpulan).
3. Hasil dan Pembahasan
Untuk pembahasannya peneliti fokuskan pada indikator yang sudah ditetapkan yakni: 1)
Pemahaman tentang kebersihan lingkungan, 2) Sikap dan perilaku masyarakat terhadap
kebersihan lingkungan, 3) Tanggung jawab masyarakat terhadap kebersihan lingkungan, 4)
Partisipasi masyarakat, 5) Ketersediaan tempat sampah, 6) Pengelolaan sampah, 7) Kondisi
Sampah. Pemahaman merupakan faktor penting yang mempengaruhi kesadaran seseorang
dalam berperilaku. Semakin baik pemahaman seseorang tentang pentingnya kebersihan
lingkungan, maka semakin besar kemungkinan individu tersebut memiliki sikap dan perilaku
yang peduli terhadap lingkungan. dan pemahaman menjadi dasar terbentuknya perilaku
kesehatan, termasuk dalam menjaga kebersihan lingkungan. Berdasarkan hasil wawancara,
sebagian besar masyarakat Desa Kuma telah memahami bahwa:
a. Kebersihan lingkungan sangat penting untuk kesehatan dan kenyamanan.
b. Lingkungan bersih dapat mencegah penyakit.
c. Pemerintah desa sudah melakukan sosialisasi melalui pertemuan dan kerja bakti.
Namun demikian, masih terdapat:
a. Kurangnya pemahaman merata di semua lapisan masyarakat.
b. Beberapa masyarakat masih membuang sampah sembarangan.
c. Keterbatasan fasilitas yang mempengaruhi pemahaman praktis masyarakat.
Penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pemahaman masyarakat Desa Kuma berada
pada kategori cukup baik namun belum optimal. Hal ini ditunjukkan oleh adanya kesesuaian
antara teori dan kondisi lapangan, dimana pemahaman memang telah dimiliki oleh
masyarakat, tetapi belum sepenuhnya diwujudkan dalam perilaku nyata. Peneliti melihat
adanya kesenjangan antara aspek kognitif mereka, (pengetahuan) dengan aspek praktis
(tindakan). Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan pemahaman saja belum cukup, tetapi
perlu diiringi dengan:
a. Pendekatan edukasi yang lebih aplikatif
b. Sosialisasi yang berkelanjutan
c. Penyediaan fasilitas yang mendukung
Dengan demikian, peneliti menilai bahwa peningkatan pemahaman masyarakat harus
dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan agar mampu mendorong perubahan perilaku
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 176-183
E-ISSN: 3048-3093
181
Susi Julianti Kundimang et.al (Penguatan Kesadaran Warga Negara Tentang.)
yang lebih nyata dalam menjaga kebersihan lingkungan. Sikap merupakan kecenderungan
seseorang dalam merespon suatu objek, sedangkan perilaku merupakan bentuk nyata dari
respon tersebut. sikap terdiri dari tiga komponen utama yaitu kognitif (pengetahuan), afektif
(perasaan), dan konatif (kecenderungan bertindak). Ketiga komponen ini saling berkaitan
dalam membentuk perilaku seseorang. Perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan
lingkungan tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan, tetapi juga oleh kebiasaan, budaya,
serta lingkungan sosial. Individu yang berada dalam lingkungan yang terbiasa menjaga
kebersihan cenderung akan memiliki perilaku yang sama. Selain itu, perilaku juga dipengaruhi
oleh faktor eksternal seperti ketersediaan fasilitas dan adanya aturan atau sanksi. Oleh karena
itu, perubahan perilaku memerlukan proses yang panjang melalui pembiasaan dan penguatan
dari lingkungan sekitar. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa sikap masyarakat
terhadap kebersihan lingkungan pada umumnya sudah cukup baik. Hal ini terlihat dari adanya
kesadaran sebagian masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumah,
membuang sampah pada tempatnya, serta mengikuti kegiatan kerja bakti. Namun, dalam
praktiknya masih terdapat perilaku yang kurang mendukung kebersihan lingkungan. Beberapa
masyarakat masih membuang sampah sembarangan, terutama di lokasi seperti pantai, selokan,
dan lahan kosong.
Selain itu, kondisi saluran air di beberapa tempat masih kurang terawat dan terdapat
penumpukan sampah yang dapat menghambat aliran air serta menimbulkan bau tidak sedap.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sikap masyarakat sudah cukup baik, namun belum
sepenuhnya tercermin dalam perilaku sehari-hari. Tanggung jawab merupakan bentuk nyata
dari kesadaran individu terhadap lingkungan sekitarnya. Menurut konsep kesadaran, seseorang
yang memiliki kesadaran tinggi akan menunjukkan sikap peduli dan bertanggung jawab
terhadap lingkungan. Tanggung jawab masyarakat dapat diwujudkan melalui berbagai
tindakan seperti menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, serta
berpartisipasi dalam kegiatan kebersihan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian
masyarakat telah memiliki rasa tanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan. Hal ini
terlihat dari keterlibatan masyarakat dalam kegiatan kerja bakti serta upaya menjaga
kebersihan di sekitar tempat tinggal. Namun demikian, masih terdapat masyarakat yang belum
menunjukkan tanggung jawab tersebut. Hal ini ditunjukkan dengan masih adanya perilaku
membuang sampah sembarangan serta kurangnya kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Partisipasi masyarakat merupakan keterlibatan aktif individu dalam kegiatan sosial.
Menurut teori partisipasi, keterlibatan masyarakat sangat penting dalam keberhasilan program
kebersihan lingkungan. Partisipasi dapat berupa keterlibatan langsung seperti kerja bakti
maupun tidak langsung seperti mendukung kebijakan pemerintah. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa masyarakat Desa Kuma sudah berpartisipasi dalam kegiatan kebersihan
seperti kerja bakti dan kegiatan gotong royong. Namun, tingkat partisipasi masih belum
merata. Sebagian masyarakat aktif terlibat, sementara sebagian lainnya masih kurang peduli
dan tidak ikut serta dalam kegiatan tersebut. Peneliti menilai bahwa partisipasi masyarakat
masih perlu ditingkatkan. Rendahnya partisipasi dipengaruhi oleh kurangnya kesadaran,
kesibukan masyarakat, serta kurangnya motivasi. Oleh karena itu, pemerintah desa perlu
meningkatkan program yang melibatkan masyarakat secara langsung dan memberikan
dorongan agar masyarakat lebih aktif berpartisipasi. Kondisi sampah merupakan indikator
nyata dari tingkat kebersihan lingkungan. Lingkungan yang bersih ditandai dengan tidak
adanya penumpukan sampah dan pencemaran. Berdasarkan hasil observasi, masih ditemukan
sampah yang berserakan di beberapa lokasi seperti pantai, selokan, dan area pemukiman.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kebersihan lingkungan belum terjaga secara optimal. Hal
tersebut disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada
tempatnya, kurangnya fasilitas tempat sampah, serta belum maksimalnya pengelolaan sampah
oleh pihak terkait. Selain itu, kebiasaan masyarakat yang masih membuang sampah
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 176-183
E-ISSN: 3048-3093
182
Susi Julianti Kundimang et.al (Penguatan Kesadaran Warga Negara Tentang.)
sembarangan turut memperparah kondisi lingkungan. Jika hal ini terus dibiarkan, maka dapat
menimbulkan berbagai dampak negatif seperti pencemaran lingkungan, munculnya bau tidak
sedap, serta meningkatnya risiko penyakit. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama antara
masyarakat dan pemerintah dalam meningkatkan kesadaran, menyediakan sarana prasarana
yang memadai, serta melakukan pengelolaan sampah yang baik agar kebersihan lingkungan
dapat terjaga dengan optimal.
4. Kesimpulan
Tingkat kesadaran masyarakat Desa Kuma terkait kebersihan lingkungan secara umum dapat
dikategorikan cukup baik, meskipun hal ini belum tercapai secara merata di antara seluruh masyarakat.
Hal ini tercermin dari partisipasi sebagian masyarakat dalam upaya menjaga kebersihan, seperti
membuang sampah di tempat yang yang telah di sediakan, membersihkan area di sekitar rumah
mereka, serta berpartisipasi dalam kegiatan bakti sosial yang diselenggarakan secara rutin. Namun
masih ada sebagian masyarakat yang kurang peduli, sebagaimana terlihat dari adanya sampah yang
dibuang sembarangan diberbagai lokasi, termasuk pantai, saluran irigasi, halaman rumah, dan kawasan
mangrove. Kondisi ini menunjukkan perlunya meningkatkan pemahaman dan kesadaran bersama
mengenai urgensi menjaga kebersihan lingkungan melalui program-program pendidikan, sosialisasi,
dan peningkatan kapasitas yang berkelanjutan. Selain itu, diperlukan kerja sama yang lebih erat antara
pemerintah desa dan masyarakat untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama, sehingga
terwujudnya lingkungan desa yang bersih, sehat, dan asri. Terdapat beberapa faktor yang
menyebabkan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pemeliharaan kebersihan lingkungan. Faktor-
faktor tersebut mencakup pengaruh lingkungan sosial, tingkat pendidikan masyarakat, kebiasaan
masyarakat yang terbentuk sejak lama, keterbatasan infrastruktur kebersihan seperti tempat
pembuangan sampah, serta minimnya sosialisasi dan pengawasan dari pemerintah desa. Faktor-faktor
ini saling terkait dan secara signifikan membentuk perilaku masyarakat terkait kebersihan lingkungan.
Selain itu, kurangnya pemahaman masyarakat mengenai dampak negatif dari pencemaran lingkungan
terhadap kesehatan dan kualitas hidup merupakan penyebab utama rendahnya kepeduliaan terhadap
kebersihan lingkungan. Sebagian masyarakat masih memandang pemeliharaan kebersihan sebagai
tanggung jawab individu atau pihak tertentu, bukan kewajiban bersama. Rendahnya partisipasi
masyarakat dalam kegiatan bakti sosial atau program kebersihan lingkungan juga mencerminkan
kurangnya rasa tanggung jawab dan kepeduliaan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Jika kondisi
ini dibiarkan berlanjut, maka berpotensi menurunkan kualitas lingkungan secara keseluruhan serta
meningkatkan risiko penyakit akibat lingkungan yang tidak sehat. Oleh karena itu, diperlukan
kolaborasi intensif antara masyarakat, pemerintah desa, dan pemangku kepentingan terkait untuk
meningkatkan kesadaran dan menumbuhkan budaya hidup bersih dan di tingkat masyarakat.
5. Daftar Pustaka
Hardiana, D. (2018). Perilaku Masyarakat dalam Menjaga Kebersihan Lingkungan Pantai SSKecamatan
Sasak Ranah Pasisie Kabupaten Pasaman Brat. Jurnal Buana, 2(2), 495-495
Iskandar, Andi Arifuddin. 2018. Pentingnya Memelihara Kebersihan dan Keamanan Lingkungan Secara
Partisipatif Demi Meningkatkan Gotong Royong dan Kualitas Hidup Warga. Jurnal Ilmiah Pena.
Vol 1 (1): 79.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2020). Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat.
Jakarta: KLHK.
Lastriyah. 2011. Kebersihan Lingkungan. Jakarta: Rineka Cipta.
Lonto, A. L. (2015). Pengembangan model pendidikan karakter berbasis nilai sosio-kultural pada siswa
SMA di Minahasa. Mimbar: Jurnal Sosial Dan Pembangunan, 31(2), 319-327.
MA Ibrahim. (2015). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta
Miles, M.., & Huberman. (1984). Analisis Data Kualitatif. Jakarta: Balai Pustaka
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 176-183
E-ISSN: 3048-3093
183
Susi Julianti Kundimang et.al (Penguatan Kesadaran Warga Negara Tentang.)
Nazaruddin. 2014. Analisis Perilaku Masyarakat Dalam Menciptakan Kebersihan Lingkungan Di Kota
Pekanbaru. No 2. Vol 1: Hal 1.
Notoatmodjo, S. (2012). Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Palit, HF, Biringan, J., & Wua, T. (2025). Kesadaran Masyarakat Terhadap Kebersihan Lingkungan Di
Desa Tempang 3 Kecamatan Langowan Utara. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Dan Politik,
3 (1), 42-46.
Putra, Arman Syah. 2019. “Smart City: Konsep Kota Pintar Di DKI Jakarta.” Tekinfo 20(2): 73–79.
Rahmasari, B. (2017). Kebersihan dan Kesehatan Lingkungan dalam Perspketif Hadis. Jakarta: UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta: Pascasarjana Fakultas Ushuluddin.
Rappang, Sidenreng. 2017. “Partisipasi Masyarakat Dalam Musyawarah Rencana Pembangunan Di
Kelurahan Kanyuara Kecamatan Watang Sidenreng Kabupaten Sidenreng Rappang.” 5(2).
Rohmah, S. N. (2017). Konsep Kebersihan Lingkungan dalam Prespektif Pendidikan Islam. Salatiga:
IAIN Salatiga: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.
Sugiyono. (2011). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif dan R&D. Bandung:Afabeta
Sujarweni, Wiratna. (2014). Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Pustakabarupress
Tejokusumo, Bambang. 2014. “Dinamika Masyarakat Sebagai Sumber Belajar Ilmu Pengetahuan
Sosial.” III: 3843.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Walhidayah Siti. (2016). Pengertian Kesadaran Manusia Menurut Para Ahli Dalam Ilmu Psikologi.
Retrieved December 3, 2018, from http://hidayahnr18.blogspot.com/
Waskito, Jati, and Banu Witono. 2014. “Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup.” Jurnal Ekonomi dan
Bisnis 17(3): 116.