1. Pendahuluan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk menciptakan suasana belajar dan proses
pembelajaran dimana peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kelebihan dalam agama, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan
keterampilan yang baik. (Aliyan Ghifarina et al., n.d., 2022). Matematika adalah salah satu mata
pelajaran yang mempunyai peranan penting dalam pendidikan, Matematika merupakan ilmu
yang universal karena digunakan diberbagai disiplin ilmu.(Akbar et al., 2017). Permasalahan
yang sering ditemukan dalam pembelajaran matematika yaitu guru yang masih menggunakan
metode yang monoton dan kurang inovasi, peserta didik masih pasif dan malu bertanya, fokus
pembelajaran pada hafalan belum menunjukkan pada pemahaman konsep terutama dalam materi
peluang. Berdasarkan penelitian Sahrudin & Trisnawati, (2018) peserta didik saat ini memiliki
kemampuan yang bagus dan masuk pada kategori sedang dimana dalam setiap proses
pembelajaran yang dilakukan peserta didik mampu menunjukan kecenderungan berfikir positif,
dapat berfikir kritis, kreatif dan dapat menyelesaikan masalahnya dengan menggunakan
berbagai cara matematis.
Dari masalah di atas dapat disimpulkan bahwa harus ada pembaharuan cara pembelajaran
guna untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa, untuk meningkatkan hal
tersebut diperlukan metode pembelajaran yang aktif dan inovatif. Salah satunya adalah model
Problem Based Learning. Problem Based Learning (PBL) adalah suatu pendekatan pengajaran
yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai konteks bagi siswa untuk belajar berpikir kritis
dan keterampilan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari
materi pelajaran. Model pembelajaran PBL bertujuan agar dapat menumbuhkan keaktifan
peserta didik dalam berfikir dan berinteraksi secara ilmiah terhadap masalah yang dialaminya
(Rerung et al., 2017). Menurut (Mubarok, 2016) menyatakan bawah penting bagi Guru untuk
menciptakan lingkungan pembelajaran yang menarik dan interaktif, dan dalam konteks ini
penggunaan media pembelajaran juga menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan
pengalaman belajar yang menyenangkan dan efektif bagi peserta didik. Salah satu media
pembelajaran yang menarik dan dapat digunakan untuk mendukung implementasi PBL adalah
media ular tangga.
Media ular tangga merupakan permainan yang popular di kalangan anak anak dan dapat
diadaptasi menjadi alat pembelajaran yang menarik. Pada konteks pembelajaran PBL, media
ular tangga dapat digunakan untuk membangkitkan minat belajar peserta partisipasi aktif, didik,
dan memotivasi mendorong pemecahan masalah secara kolaboratif, sehingga berdampak pada
peningkatan prestasi belajar peserta didik. (Wati, 2021). Pemecahan masalah merupakan suatu
proses untuk mengatasi kesulitan- kesulitan yang dihadapi untuk mencapai tujuan yang
diharapkan. Dalam matematika, kemampuan pemecahan masalah harus dimiliki oleh siswa
untuk menyelesaikan soal-soal berbasis masalah. Menurut Sumarmo (2000) pemecahan masalah
adalah suatu proses untuk mengatasi kesulitan yang ditemui untuk mencapai suatu tujuan yang
diinginkan. Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih mengalami
kesulitan dalam memahami materi peluang. Hal ini terlihat dari nilai rata-rata 25 peserta didik
yang hanya mencapai 55, sedangkan Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KTP) kelas
XII adalah 75. Selain itu, respon siswa selama pembelajaran menunjukkan pemahaman yang
masih kurang optimal. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran pada
materi peluang belum tercapai.
2. Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan Quasi
Experiment. Menurut Lestari et al., (2017) Quasi Eksperiment Penelitian ini hampir sama dengan
eksperimen sebenarnya, namun pada kuasi eksperimen tidak dilakukan penugasan subjek secara acak.
Pengumpulan data dilakukan melalui tes awal (pretest) pada dua kelas menggunakan soal yang telah