TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 184-193
E-ISSN: 3048-3093
184
Resnika et.al (Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning.)
Implementasi Model Pembelajaran Problem Based
Learning Berbantuan Permainan Ular Tangga untuk
Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematis Siswa
Resnika
a,1*
, Asep Sahrudin
b,2
, Ika Yunitasari
c,3
a,b,c
Universitas Mathla’ul Anwar Banten, Indonesia
1
resresnika@gmail.com;
2
asskhru@gmail.com;
3
ikayunita@gmail
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 14 Februari 2026
Direvisi: 5 Maret 2026
Disetujui: 12 April 2026
Tersedia Daring: 7 Mei 2026
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah model pembelajaran
Problem Based Learning PBL dengan berbantuan permainan ular
tangga dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah
matematis siswa. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan
model kuantitatif melalui tahapan: merumuskan masalah, studi
pustaka, pengajuan hipotesis, menentukan metode, menyusun
instrumen penelitian, mengumpulkan dan menganalisis data serta
kesimpulan. Berdasarkan hasil uji analisis hipotesis kemampuan
pemecahan masalah matematis menggunakan uji t independent didapat
nilai sig.(2-tailed) adalah 0,000 < 0,05 sehingga dapat disimpilkan
bahwa model Problem Based Learning dengan berbantuan permainan
ular tangga dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah
matematis siswa. Hasil dari rata-rata N-Gain kemampuan pemecahan
masalah matematis adalah 0,7299 sehingga dinyatakan bahwa kelas
Problem Based Learning memiliki peningkatan dengan klasifikasi tinggi.
Sehingga dapat digunakan sebagai model alternatif dalam
pembelajaran matematika di tingkat SMK pada materi peluang.
Kata kunci : Problem Based Leraning (PBL), berbantuan permainan ular
tangga, pemecahan masalah matematis.
Kata Kunci:
Problem Based Leraning
(PBL)
berbantuan permainan ular
tangga
pemecahan masalah
matematis
ABSTRACT
Keywords:
Problem Based Learning
assisted by the snakes and
ladders game
mathematical problem
solving
This study aims to determine whether the Problem Based Learning (PBL)
model assisted by a snakes and ladders game can improve students'
mathematical problem-solving abilities. The study was conducted using a
quantitative model through the following stages: formulating the
problem, literature review, hypothesis submission, determining the
method, preparing research instruments, collecting and analyzing data,
and drawing conclusions. Based on the results of the hypothesis analysis
test of mathematical problem-solving ability using an independent t-test,
the sig. (2-tailed) value was 0.000 < 0.05, so it can be concluded that the
Problem Based Learning model assisted by a snakes and ladders game
can improve students' mathematical problem-solving abilities. The result
of the average N-Gain of mathematical problem-solving ability was
0.7299, indicating that the Problem Based Learning class had a high level
of improvement. So it can be used as an alternative model in mathematics
learning at the vocational high school level on probability material.
Keywords: Problem Based Learning, assisted by the snakes and ladders
game, mathematical problem solving.
©2026, Resnika, Asep Sahrudin, Ika Yunitasari
This is an open access article under CC BY-SA license
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 184-193
E-ISSN: 3048-3093
185
Resnika et.al (Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning.)
1. Pendahuluan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk menciptakan suasana belajar dan proses
pembelajaran dimana peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kelebihan dalam agama, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan
keterampilan yang baik. (Aliyan Ghifarina et al., n.d., 2022). Matematika adalah salah satu mata
pelajaran yang mempunyai peranan penting dalam pendidikan, Matematika merupakan ilmu
yang universal karena digunakan diberbagai disiplin ilmu.(Akbar et al., 2017). Permasalahan
yang sering ditemukan dalam pembelajaran matematika yaitu guru yang masih menggunakan
metode yang monoton dan kurang inovasi, peserta didik masih pasif dan malu bertanya, fokus
pembelajaran pada hafalan belum menunjukkan pada pemahaman konsep terutama dalam materi
peluang. Berdasarkan penelitian Sahrudin & Trisnawati, (2018) peserta didik saat ini memiliki
kemampuan yang bagus dan masuk pada kategori sedang dimana dalam setiap proses
pembelajaran yang dilakukan peserta didik mampu menunjukan kecenderungan berfikir positif,
dapat berfikir kritis, kreatif dan dapat menyelesaikan masalahnya dengan menggunakan
berbagai cara matematis.
Dari masalah di atas dapat disimpulkan bahwa harus ada pembaharuan cara pembelajaran
guna untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa, untuk meningkatkan hal
tersebut diperlukan metode pembelajaran yang aktif dan inovatif. Salah satunya adalah model
Problem Based Learning. Problem Based Learning (PBL) adalah suatu pendekatan pengajaran
yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai konteks bagi siswa untuk belajar berpikir kritis
dan keterampilan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari
materi pelajaran. Model pembelajaran PBL bertujuan agar dapat menumbuhkan keaktifan
peserta didik dalam berfikir dan berinteraksi secara ilmiah terhadap masalah yang dialaminya
(Rerung et al., 2017). Menurut (Mubarok, 2016) menyatakan bawah penting bagi Guru untuk
menciptakan lingkungan pembelajaran yang menarik dan interaktif, dan dalam konteks ini
penggunaan media pembelajaran juga menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan
pengalaman belajar yang menyenangkan dan efektif bagi peserta didik. Salah satu media
pembelajaran yang menarik dan dapat digunakan untuk mendukung implementasi PBL adalah
media ular tangga.
Media ular tangga merupakan permainan yang popular di kalangan anak anak dan dapat
diadaptasi menjadi alat pembelajaran yang menarik. Pada konteks pembelajaran PBL, media
ular tangga dapat digunakan untuk membangkitkan minat belajar peserta partisipasi aktif, didik,
dan memotivasi mendorong pemecahan masalah secara kolaboratif, sehingga berdampak pada
peningkatan prestasi belajar peserta didik. (Wati, 2021). Pemecahan masalah merupakan suatu
proses untuk mengatasi kesulitan- kesulitan yang dihadapi untuk mencapai tujuan yang
diharapkan. Dalam matematika, kemampuan pemecahan masalah harus dimiliki oleh siswa
untuk menyelesaikan soal-soal berbasis masalah. Menurut Sumarmo (2000) pemecahan masalah
adalah suatu proses untuk mengatasi kesulitan yang ditemui untuk mencapai suatu tujuan yang
diinginkan. Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih mengalami
kesulitan dalam memahami materi peluang. Hal ini terlihat dari nilai rata-rata 25 peserta didik
yang hanya mencapai 55, sedangkan Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KTP) kelas
XII adalah 75. Selain itu, respon siswa selama pembelajaran menunjukkan pemahaman yang
masih kurang optimal. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran pada
materi peluang belum tercapai.
2. Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan Quasi
Experiment. Menurut Lestari et al., (2017) Quasi Eksperiment Penelitian ini hampir sama dengan
eksperimen sebenarnya, namun pada kuasi eksperimen tidak dilakukan penugasan subjek secara acak.
Pengumpulan data dilakukan melalui tes awal (pretest) pada dua kelas menggunakan soal yang telah
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 184-193
E-ISSN: 3048-3093
186
Resnika et.al (Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning.)
divalidasi. Peneliti melakukan perlakuan pembelajaran di dua kelas yang akan dijadikan sebagai
subjek penelitian, kelas eksperimen menggunakan model Problem Based Learning dan kelas
kontrol menggunakan metode konvensional metode ceramah. elainkan menggunakan kelompok
yang ada.
Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian berupa tes kemampuan pemecahan masalah matematis. Tes ini
digunakan untuk mengukur kemampuan siswa secara individu dan dihitung persentasenya untuk
mengetahui nilai rata-rata.
1. Definisi Konseptual
Definisi konseptual merupakan unsur peneliti yang mengutarakan ciri-ciri masalah yang
akan diteliti.
2. Definisi operasional
Definisi operasional ini yang dimaksudkan agar menghindari hal-hal yang dapat
menimbulkan perbedaan interpretasi serta kesalahpahaman yang tentunya terkait dengan
istilah-istilah dalam judul penelitian.
3. Instrumen penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam suatu
penelitian. Instumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes. Tujuan dari
tes ini yaitu untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah matematis siswa sebelum
adanya perlakuan pembelajaran (pretest) dan sesudah dilakukan perlakuan pembelajaran
(postest) pada pembelajaran eksperimen dan kontrol.
a. Uji Validasi Instrumen
Uji validitas dilakukan untuk mengetahui validitas (valid atau tidaknya) item kuesioner
penelitian. (Utami, 2017) Instrumen yang akan dipakai dalam penelitian haruslah sudah
dinyatakan valid dan reliabel.
𝑛
𝑥𝑦 (
𝑥)
𝑦
𝑟 =
[
𝑛
𝑥
2
(
𝑥)
2
][∑
𝑦
2
(
𝑦)
2
]
Tabel 3.4 Validasi Hasil Uji Instrumen Tes
No Soal
Rhitung
Status
1
0,414
Valid
2
0,314
Tidak Valid
3
0,596
Valid
4
0,614
Valid
5
0,543
Valid
6
0,708
Valid
7
0,596
Vallid
8
0,376
Tidak Valid
Berdasarkan tabel penelitin menggunakan enam butir soal dari delapan soal yang ada
karena karena hanya enam soal yang termasuk dalam status valid yang nantinya akan digunakan
sebagai alat ukur tekait kemampuan pemecahan masalah matematis.
a. Reliabilitas
Uji reliabilitas dilakukan setelah uji validitas, hal ini untuk mengetahui apakah alat ukur dapat
digunakan atau tidak (Utami, 2017). Rumus yang digunakan dalam penelitian realibilitas yaitu
Cronbach’s Alpa:
Tabel 1, Validasi Hasil Uji Instrumen Tes
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 184-193
E-ISSN: 3048-3093
187
Resnika et.al (Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning.)
Tabel 3.6 Reliabilitas Hasil Uji Instrumen Tes
r11 Kriteria
0,631 Sedang
Berdasarkan pada tabel diatas didapat bahwa hasil pengujian relibilitas didapat dengan nilai
r11 = 0,631. Berdasarkan hasil yang didapatkan maka kesimpulan dengan nilai hitung 0,40
r11 < 0,631 sehingga tingkat kriteria instrumen tes pengujian ini dapat dikatakan reliabel dengan
kriteria sedang dan layak untuk digunakan terkait dengan proses pengambilan data penelitian
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.
b. Indeks Kesukaran
Tingkat kesulitan butir soal menunjukkan besarnya kemungkinan seberapa banyak responden
yang dapat menjawab suatu butir soal dengan benar (Akbar et al., 2017).
𝑃 =
𝑆
𝑇
𝐼
𝑇
Tabel 3.8 Indeks Kesukaran Hasil Uji Instrumen Tes
No Soal
Tingkat Kesukaran
Kriteria
1
0,65
Sedang
2
0,65
Sedang
3
0,65
Sedang
4
0,80
Mudah
5
0,70
Mudah
6
0,55
Sedang
7
0,65
Sedang
8
0,55
Sedang
Berdasarkan hasil dari perhitungan suatu indeks kesukaran butir tes menunjukan 6 butir soal
dengan kriteria yan sedang (0,65≤ 70, 0,65 70, 0,65 70, 0,55 70, 0,65 70 dan 0,55
70)yaitu soal no 1, 2, 3, 6, 7 dan 8. 2 butir soal dengan kriteria mudah (0,70 1,00 dan 0,80
1,00) yaitu no 4 dan 5.
c. Daya Pembeda
Kemampuan yang ditujukan dengan membedakan antara subjek yang mampu dan tidak
mampu merupakan data pembeda butir soal.
Hasil Uji Daya Pembeda Butir Soal Tes
No Soal
Daya Pembeda
Kriteria
1
0,210
Cukup
2
0,100
Buruk
3
0,396
Cukup
4
0,410
Baik
5
0,334
Cukup
6
0,539
Baik
7
0,396
Cukup
8
0,197
Buruk
Berdasarkan tabel diatas hasil dari pengujian daya beda butir tes menunjukan 2 butir soal
tergolong klasifikasi baik (0,41 < 0,41 dan 0,41< 0,539) yaitu soal no 4 dan 6. 4 butir soal
tergolong klasifikasi cukup (0,21 < (0,210), (0,396), (0,334), 0,396) < 0,40) yaitu soal no1, 3, 5
dan 7. 2 butir soal tergolong klasifikasi buruk (0,00 < (0,100), (0,197) < 0,20) yaitu soal no 2
dan 8.
d. Kesimpulan Hasil Coba Instrumen Tes Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematis
Hasil perhitungan dari beberapa pengujian mulai dari uji validitas, uji relibilitas, uji tingkat
Tabel 2, Reliabilitas Hasil Uji Instrumen Tes
Tabel 3, Indeks Kesukaran Hasil Uji Instrumen Tes
Tabel 4, Hasil Uji Daya Pembeda Butir Soal Tes
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 184-193
E-ISSN: 3048-3093
188
Resnika et.al (Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning.)
kesukaran dan uji daya pembeda yang telah dihasilkan dapat dilihat rangkuman dalam tabel.
Hasil Uji Coba Instrumen Tes Kemampuan Pemecahan
Masalah Matematis
No
Soal
Validitas
Reliabilitasi
IK
DP
Ket
1
Valid
Sedang
Cukup
2
Tidak
Valid
Sedang
Buruk
Tidak
Digunakan
3
Valid
Reliabel
Sedang
Cukup
Digunakan
4
Valid
Mudah
Baik
Digunakan
5
Valid
Mudah
Cukup
Digunakan
6
Valid
Sedang
Baik
Digunakan
7
Valid
Sedang
Cukup
Digunakan
8
Valid
Sedang
Buruk
Tidak
Digunakan
Berdasarkan hasil analisis uji validitas, reliabilitas, indeks kesukaran, dan daya
pembeda, dari delapan soal yang diuji cobakan terdapat enam soal yang dinyatakan
valid dengan tingkat kesukaran sedang dan mudah serta daya pembeda kategori baik.
Keenam soal tersebut layak digunakan sebagai pretest dan posttest pada kelas
eksperimen dan kontrol.
Teknik Pengumpulan Data
Peneliti ini mengunakan alat tes dan non tes sebagai teknik dalam pengumpulan data. Tes
yang diggunakan untuk mengevaluasi kemempuan pemecahan masalah matematis siswa berupa
tes dari soal-soal yang berhubungan dengan materi peluang. Peneliti melakuakan pengumpulan
data menggunakan teknik observasi, tes Kemampuan Pemecahan Masalah, dokumentasi.
Teknis Analisis Data
Data dalam penelitian ini dikumpulkan sebelum dan sesudah pembelajaran menggunakan
model Problem Based Learning (PBL) dengan berbantuan permainan ular tangga terhadap kelas
eksperimen dan pembelajaran metode PBL pada kelas kontrol merupakan data yang didapatkan
melalui pretest dan postest. Kedua sampel diberikan dengan cara yang berbeda, dan hasil
pengujian digunakan untuk mengumpulkan data berikut
a. Uji normalitas ini dilakukan untuk mengetahui apakah data berasal dari populasi dengan
distribusi normal atau sebaliknya. Uji normalitas dalam tes kemampuan pemecahan masalah
matematis siswa kelas eksperimn dan kelas kontrol ini menggunakan uji Shapiro Wilk
dengan rumus sebagai berikut. (Sintia et al., 2022)
b. Uji Homogenitas
c. Uji homogenitas dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah kedua data yang
diuji ini homogen. Uji homogenitas dalam penelitian ini mengunakan uji F dengan uji One
Way Anova.
Perhatikan kriteria pengambilan Keputusan dibawah ini:
1. Jika nilai sig > 0,05 (5%) maka Ho diterima dan Ha ditolak dengan kesimpulan tidak
ada perbedaan varian antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.
2. Jika sig < 0,05 (5%) maka Ho ditolak dan Ha diterima dengan kesimpulan ada
perbedaan varian antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.
d. Uji Hipotesis
Uji hipotesis dilakukan dengan uji t yang digunakan untuk menentukan perbedaan dari rata-
rata antara dua populasi atau kelompok independent setelah uji normalitas dan uji
homogenitas. Data dari tes kemampuan pemecahan masalah matematis siswa di kelas
eksperimen dan kelas kontrol diuji dengan menggunakan rumus dari uji t sebagai berikut
Tabel 5, Hasil Uji Coba Instrumen Tes Kemampuan Pemecahan
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 184-193
E-ISSN: 3048-3093
189
Resnika et.al (Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning.)
(Sumoked et al., 2021)
e. Uji N-Gain
Data hasil pretest dan posttest kemampuan pemecahan masalah matematis siswa diolah
menggunakan N-Gain. N-Gain yang dinormalisasi akan terlihat peningkatan ini. Pengujian
ini didukung oleh sftware SPSS versi 25.
a. Uji Normalitas N-Gain
1. Mencari nilai maksimum, nilai minumum dan simpangan baku pada kelas
eksperimen serta kelas kontrol
2. Menguji normalitas hasil tes kemampuan pemecahan masalah matematis siswa
kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan uji Shapiro Wilk.
b. Uji Homogenitas N-Gain
Uji yang digunakan untuk menguji homogenitas antar dua kelas apakah sampel yang
diuji homogen atau tidak merupakan uji homogenitas. Uji F digunakan untuk
pengujian homogenitas dengan uji One Way Anova.
Perhatikan kriteria pengambilan keputusan dibawah ini:
1. Jika nilai sig > 0,05 (5%) maka Ho diterima dan Ha ditolak dengan kesimpulan
tidak ada perbedaan varian antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.
2. Jika sig < 0,05 (5%) maka Ho ditolak dan Ha diterima dengan kesimpulan ada
perbedaan varian antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.
c. Mann-Whitney N-Gian
Uji Mann-Whitney merupakan salah satu uji non-parametrik yang digunakan untuk
mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara dua kelompok yang
tidak saling berhubungan (independen) terhadap suatu variabel ordinal atau interval
yang tidak berdistribusi normal.
3. Hasil dan Pembahasan
Penelitian ini dilaksanakan pada 2629 Agustus 2025 pada mata pelajaran Matematika
kelas XII SMK Bina Insan Mandiri. Sampel terdiri dari dua kelas, yaitu XII AKL sebagai kelas
eksperimen dengan model Problem Based Learning (PBL) berbantuan permainan ular tangga,
dan XII DKV sebagai kelas kontrol dengan pembelajaran konvensional. Penelitian diawali
dengan pretest, kemudian dilanjutkan empat kali pertemuan sesuai perlakuan masing-masing
kelas, adalah sebagai berikut:
Deskripsi Data Pretest
Peneliti sebelumnya menggunakan pertanyaan pretest yang diberikan dan diujikan kepada
siswa sebelum kelas dimulai dengan tujuan untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah
matematis siswa khususnya terkait dengan materi peluang. Menghitung dara dari niali pretest
untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol penelitian dilakukan dengan SPSS 25. Bagian hasil
penelitian berisi paparan analisis data, sebagai berikut:
Tabel 6, Data Hasil Pretest dan Posttest Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematis Siswa pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 184-193
E-ISSN: 3048-3093
190
Resnika et.al (Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning.)
Deskripsi Data Skor Pretest Kemampuan Pemecahan Masalah Kelas
Eksperimen dan Kelas Kontrol
Kelas
N
Minimum
Maximum
Mean
Std Devation
Eksperimen
25
15
55
33,80
12,606
Kontrol
25
10
60
31,20
14,089
Hasil pretest kemampuan pemecahan masalah matematis pada kelas eksperimen
menunjukkan nilai minimum 15 dan maksimum 55, dengan rata-rata 33,80 dan standar deviasi
12,606. Pada kelas kontrol, nilai minimum 10 dan maksimum 60, dengan rata-rata 31,20 dan
standar deviasi 14,089. Jumlah siswa pada masing-masing kelas sebanyak 25 orang.
Deskripsi Data Posttest
Pada akhir proses pembelajaran, peneliti memberikan soal posttest kepada siswa untuk
mengukur kemampuan pemecahan masalah matematis pada materi peluang setelah
pembelajaran dilakukan. Data posttest pada penelitian yang dilakukan dihitung dengan
menggunakan SPSS 25. Hasil perhitungan ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Deskrpisi Data Skor Posttest Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematis Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Kelas
N
Minumum
Maximum
Mean
Std.Devation
Eksperimen
25
55
100
82,20
12,835
Kontrol
25
35
90
63,00
12,829
Hasil posttest menunjukkan bahwa kelas eksperimen memperoleh nilai minimum 55 dan
maksimum 100, dengan rata-rata 82,20 dan standar deviasi 12,835. Sementara itu, kelas
kontrol memperoleh nilai minimum 35 dan maksimum 90, dengan rata-rata 63,00 dan standar
deviasi 12,829. Nilai rata-rata tersebut menunjukkan bahwa hasil belajar kelas kontrol lebih
rendah dibandingkan kelas eksperimen.
Analisis Data
a. Uji normalitas
Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah sampel data pretest dan posstest
terhadap kelas eksperimen serta kelas kontrol dalam penelitian ini berdistribusi normal
atau tidak. Uji normalitas pada penelitian ini menggunakan uji Saphiro Wilk.
Berdasarkan uji normalitas, kelas eksperimen memperoleh nilai signifikansi 0,177 (pretest)
dan 0,330 (posttest), keduanya > 0,05 sehingga data berdistribusi normal. Pada kelas
kontrol, nilai signifikansi 0,123 (pretest) dan 0,114 (posttest) juga > 0,05, sehingga data
berdistribusi normal.
b. Uji Homogenitas
Uji yang dilakukan untuk mengetahui apakakah kedua kelas memiliki kriteria kelas setara
atau tidak merupakan uji homogenitas. Uji homogenitas data pretest berikut dengan
posstest pada kelas eksperimen serta kelas kontrol dihitung dengan SPSS 25. Hasil Uji
Homogenitas Data Pretest-Posstest pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol, adalah
Tabel 7, Deskripsi Skor Pretest Kemampuan Pemecahan Masalah
Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Tabel 8, Deskripsi Data Skor Posttest Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis
Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Tabel 9, Hasil Uji Normalitas Pretest-Posttest Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 184-193
E-ISSN: 3048-3093
191
Resnika et.al (Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning.)
sebagai berikut:
Tabel 10, Hasil Uji Homogenitas Data Pretest-Posstest pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Lavene Statistik
df1
df2
Sig.
Kesimpulan
0,010
1
48
0.923
Ho diterima
Nilai signifikansi uji homogenitas sebesar 0,923. Karena 0,923 > 0,05, maka H₀ diterima.
Dengan demikian, tidak terdapat perbedaan varians yang signifikan antara kelas
eksperimen dan kelas kontrol, sehingga kedua kelas dinyatakan homogen.
c. Uji Hipotesis
Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji Independent T-Test untuk mengetahui
perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada materi peluang antara
kelas eksperimen dan kelas kontrol. Perhitungan dilakukan dengan bantuan SPSS 25.
Hail Uji Hipotesis
T Independent
T
-4,005
Df
46
Sig(2-tailed)
0,000
Kesimpulan
Ha Diterima
Hasil uji hipotesis menunjukkan nilai Sig. (2-tailed) = 0,000 (p < 0,05), sehingga Ha
diterima. Artinya, terdapat perbedaan signifikan antara kemampuan pemecahan masalah
matematis siswa kelas eksperimen dengan model PBL berbantuan permainan ular tangga
dan kelas kontrol dengan metode konvensional.
d. Uji N-Gain
Uji ini dilakukan untuk mengetahui peningkatan kemampuan pemecahan masalah
matematis siswa kelas eksperimen serta kelas kontrol matematika kelas XII (Fase F+)
SMK Bina Insan Mandiri. Uji ini dihitung dengan menggunakan SPSS 2S
Tabel 12, Hasil Uji N-Gain
Berdasarkan uji N-Gain, rata-rata kelas eksperimen 0,7299 (tinggi) dan kelas kontrol
0,4357 (sedang). Untuk mengetahui perbedaannya signifikan atau tidak, dilakukan uji t..
a. Uji Normalitas N-Gain
Uji Normalitas digunakan untuk mengetahui apakah kedua sampel berdistribusi
normal atau tidak. Dalam penelitian ini, uji normalitas menggunakan uji Shapiro-
Wilk dengan bantuan SPSS 25. Berikut rangkuman hasil uji normalitas N-Gain pada
tabel berikut.
Tabel 13, Hasil Uji Normalitas N-Gain Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematis Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Shaporo Wilk
Df
Sig.
Kesimpulan
Eksperimen
25
0,134
Ho diterima
Kontrol
25
0,004
Ho ditolak
Kelas
N
Min N-Gain
Max N-Gain
Rata-rata N-Gain
SD N-Gain
Eksperimen
25
0,22
1,00
0,7299
0,19970
Kontrol
25
-0,44
0,88
0,4357
0,24808
Tabel 11, Hasil Uji Hipotesis
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 184-193
E-ISSN: 3048-3093
192
Resnika et.al (Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning.)
Berdasarkan uji normalitas N-Gain, kelas eksperimen memperoleh signifikansi 0,134
(>0,05) sehingga data berdistribusi normal. Sementara itu, kelas kontrol memperoleh
signifikansi 0,004 (< 0,05) sehingga data tidak berdistribusi normal.
b. Uji Homogenitas N-Gain
Uji homogenitas N-Gain kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada
kelas eksperimen dan kelas kontrol dihitung menggunakan SPSS 25. Uji ini bertujuan
untuk mengetahui apakah kedua kelas memiliki varians yang sebanding (homogen)
atau tidak. Berikut rangkuman hasil uji homogenitas N-Gain pada tabel berikut:
Tabel 14, Hasil Uji Homogenitas N-Gain Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematis Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Lavene Statistik
Df1
Df2
Sig
Kesimpulan
0,229
1
48
0,634
Ho Diterima
Berdasarkan hasil uji homogenitas N-Gain, diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,634.
Karena 0,634 > 0,05, maka H₀ diterima. Dengan demikian, tidak terdapat perbedaan
varians yang signifikan antara kelas eksperimen dan kelas kontrol, sehingga kedua kelas
dinyatakan homogen.
e. Uji Maan Whitney N-Gain
Dalam penelitian ini digunakan uji Mann-Whitney untuk menguji perbedaan antara dua
kelompok independen. Uji ini dipilih karena salah satu data tidak berdistribusi normal
berdasarkan hasil uji normalitas sebelumnya. Perhitungan dilakukan menggunakan SPSS
25 untuk mengetahui perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis pada materi
peluang antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil uji dapat dilihat pada tabel
berikut.
Hasil Uji Maan-Whitney N-Gain Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematis Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Maan Whitney
Maan-Whitney
93,000
Wilcoxon W
410,000
Asymp. Sig.(2-tailed)
0,000
Z
-4,287
Kesimpulan
Ha Diterima
Berdasarkan uji Mann-Whitney, diperoleh Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,000 (p < 0,05),
sehingga H diterima. Artinya, terdapat perbedaan signifikan antara kemampuan pemecahan
masalah matematis siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol.
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan dan peningkatan
kemampuan pemecahan masalah matematis antara siswa yang memperoleh pembelajaran PBL
berbantuan permainan ular tangga dan siswa dengan pembelaajaran konvensional. Hal ini
didukung oleh hasil uji hipotesis dan uji N-Gain, yaitu hasil uji hipotesis menunjukkan nilai Sig.
(2-tailed) = 0,000 (p < 0,05), sehingga Hₐ diterima. Artinya, terdapat perbedaan yang signifikan
antara kemampuan pemecahan masalah matematis siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Dan hasil uji N-Gain menunjukkan rata-rata kelas eksperimen sebesar 0,7299 (kategori tinggi)
dan kelas kontrol sebesar 0,4357 (kategori sedang). Dengan demikian, peningkatan kemampuan
Tabel 15, Hasil Uji Maan-Whitney N-Gain Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis
Siswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
TUMOUTOU SOCIAL SCIENCE JOURNAL (TSSJ)
Vol. 3, No. 1, Januari 2026, page: 184-193
E-ISSN: 3048-3093
193
Resnika et.al (Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning.)
pemecahan masalah matematis siswa lebih tinggi pada kelas yang menggunakan model PBL
berbantuan permainan ular tangga.
5. Daftar Pustaka
Akbar, P., Hamid, A., Bernard, M., & Sugandi, A. I. (2017). Analisis kemampuan pemecahan masalah
dan disposisi matematik siswa kelas XI SMA Putra Juang dalam materi peluang [Analysis of
problem-solving abilities and mathematical dispositions of class XI SMA Putra Juang in the matter
of opportunities]. Jurnal Cendekia : Jurnal Pendidikan Matematika, 2(1), 144153.
Lestari, A. F., Pd, S., & Matematika, P. (2017). Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Matematis
Siswa Melalui Model Problem Based Learnng (PBL) (Penelitian Quasi Eksperimen terhadap
Siswa SMP Negeri 1 Tambakdahan). Biormatika Jurnal Ilmiah FKIP Universitas Subang, 3(1),
25806335.
Materi Peluang Kelas di SMK Kecamatan Kramat Jati Aliyan Ghifarina, P. X., Rindiani, D., Putri
Azzahra, H., Eka Rhmantika, L., & Dwi Meilani, S. (n.d.). Analisis Penggunaan Metode Problem
Based Learning untuk. Original Research, 2022, 235242.
Mayasari, A., Arifudin, O., & Juliawati, E. (2022). Implementasi Model Problem Based Learning (Pbl)
Dalam Meningkatkan Keaktifan Pembelajaran. Jurnal Tahsinia, 3(2), 167175.
https://doi.org/10.57171/jt.v3i2.335
Mubarok, M. S. (2016). Perbedaan Hasil Belajar Siswa Model Pembelajaran STAD dengan Strategi
Belajar Reciprocal Teaching dan Model Pembelajaran Konvensional dengan Metode Ceramah
pada Mata Diklat Dasar-Dasar Elektronika Digital Di SMK Sunan Drajat Lamongan. Jurnal
Pendidikan Teknik Elektro, 3(2).
Sintia, I., Pasarella, M. D., & Nohe, D. A. (2022). Perbandingan Tingkat Konsistensi Uji Distribusi
Normalitas Pada Kasus Tingkat Pengangguran di Jawa. Prosiding Seminar Nasional Matematika,
Statistika, Dan Aplikasinya, 2(2), 322333.
Sumoked, S. N., Sangkop, F. I., & Togas, P. V. (2021). Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran
Online Terhadap Hasil Belajar Simulasi Dan Komunikasi Digital Siswa Smk. Edutik: Jurnal
Pendidikan Teknologi Informasi Dan Komunikasi, 1(4), 332334.
https://doi.org/10.53682/edutik.v1i4.2078
Utami, S. S. (2017). Fakto-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Penggunaan E-Money (Studi pada
Mahasiswa STIE Ahmad Dahlan Jakarta). Balance, XIV(2), 2941.
Wati, A. (2021). Pengembangan Media Permainan Ular Tangga untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
Sekolah Dasar. Mahaguru: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar , 2(1), 6873.
https://doi.org/10.33487/mgr.v2i1.1728
Zhou, Yang, & Wang. (2020). Jurnal Pendidikan Biologi dan Sains.
File:///C:/Users/VERA/Downloads/Askep_Agregat_Aanak_and_Remaja_Print, 21(1), 19.